Penerbangan dua belas jam menuju Kanada seharusnya menjadi awal hidup baru yang tenang bagi Aisya. Gadis sederhana yang hanya ingin mengejar mimpinya itu tidak pernah menyangka bahwa kursi economy class yang ia tempati akan membawanya masuk ke dalam pusaran hidup Cassian Noir.
Cassian, pria dengan aura mengintimidasi dan tatapan setajam silet, duduk di sana bukan untuk berlibur. Ia sedang melarikan diri dari pengkhianatan di organisasinya. Pertemuan singkat di atas Samudra Atlantik itu bermula dari sebuah ketidaksengajaan—sebuah bantuan kecil dari Aisya yang justru membuat Cassian melihat sesuatu yang berbeda di balik niqab gadis itu: Ketulusan tanpa rasa takut.
Namun, sebuah insiden di tengah penerbangan memaksa mereka untuk mendarat dalam situasi yang tidak terduga. Cassian yang terluka dan terpojok mengklaim Aisya sebagai "pengantinnya" demi menyelamatkan nyawa gadis itu dari musuh yang sudah menunggu di bandara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nurproject, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Cincin di Jemari dan Skenario Esok Hari
Di dalam aula Islamic Centre yang tenang, udara seolah bergetar pelan saat Aisya melangkah mendekati meja akad. Detik-detik pasca-ikrarnya Cassian masih menyisakan rasa tak percaya yang membubung tinggi di dalam dada gadis itu. Setiap langkahnya terasa ringan namun sarat akan takdir baru yang baru saja mengikatnya.
Cassian berdiri kokoh, berbalik sepenuhnya menghadap Aisya. Untuk pertama kalinya, tidak ada jarak dua meter di antara mereka. Pria itu menatap sepasang mata bulat Aisya yang bergerak gelisah di balik selembar niqab sutra.
Gadis yang naif, batin Cassian dingin di balik wajahnya yang setenang air.
Sepasang mata elang sang miliarder menatap Aisya tanpa riak emosi yang sesungguhnya. Hanya dengan sedikit penurunan nada suara dan gestur berpura-pura bersujud kemarin, gadis suburban ini langsung membatalkan niatnya untuk mundur. Begitu mudah disetir, begitu mudah dibohongi hanya dengan narasi ketulusan palsu. Cassian tidak peduli dengan kesakralan agama ini. Baginya, sertifikat mualaf resmi dari Imam Abdulaziz tak lebih dari selembar kertas izin operasional untuk menghancurkan rencana ayahnya. Dan Aisya? Gadis ini adalah bidak catur paling sempurna yang tunduk pada skenarionya tanpa menyadari bahaya di depannya.
"Tuan—maksud saya, Cassian," Paman Hamdan berdeham pelan, mencoba memecah kecanggungan sekaligus mengingatkan menantu barunya. "Sekarang kalian sudah sah secara agama dan hukum Kanada. Silakan pasangkan mahar cincin ini ke jemari istrimu."
Kevin dengan cekatan melangkah maju, membuka sebuah kotak beludru hitam kecil yang sejak tadi dipegangnya dengan hati-hati. Di dalamnya, sebuah cincin platinum bermata berlian soliter berkilau dengan anggun.
Cassian meraih cincin itu dengan jemarinya yang panjang dan kokoh. Ia kemudian mengulurkan telapak tangan, menunggu.
Aisya menarik napas dalam-dalam di balik niqabnya, mencoba meredakan gemuruh di dadanya. Perlahan, ia mengangkat tangan kanannya yang dibalut sarung tangan brokat putih bersih. Ketika jemari mereka saling bersentuhan, sebuah sengatan asing yang hangat mendadak menjalar ke seluruh tubuh Aisya, membuatnya sedikit tersentak.
Cassian menggenggam jemari Aisya dengan kepura-puraan yang teramat rapi. Dengan perlahan dan pasti, ia meloloskan cincin platinum itu ke jari manis Aisya. Ukurannya sangat pas, melingkar dengan sempurna.
"Sekarang, Aisya, cium tangan suamimu sebagai tanda hormat," bisik Bibi Salma lembut dari belakang.
Aisya menuruti instruksi tersebut dengan gerakan yang canggung namun anggun. Ia membungkuk sedikit, membawa telapak tangan Cassian yang hangat menuju keningnya, menciumnya dengan takzim penuh kepasrahan atas hak kepemimpinan yang kini telah berpindah.
Cassian mematung selama beberapa detik saat merasakan sentuhan lembut itu pada punggung tangannya, mempertahankan wajah datarnya agar kedoknya tidak pecah.
Setelah prosesi penandatanganan berkas pernikahan sipil Ontario selesai dikerjakan oleh Kevin dan Imam Abdulaziz, Cassian berbalik menghadap keluarga Aisya. Auranya kembali dipenuhi otoritas mutlak seorang Noir.
"Paman Hamdan, Bibi Salma," panggil Cassian, suaranya bariton dan rendah. "Mulai detik ini, kehidupan Aisya berada penuh di bawah tanggung jawab saya. Mobil Rolls-Royce di luar akan membawa Aisya dan seluruh barang-barangnya menuju apartemen privat saya di kawasan Penthouse Yorkville sore ini juga."
Aisya mendongak cepat, matanya membelalak. "Sore ini? Tapi, Cassian, walimah sederhana kita—"
"Walimah akan tetap berjalan tepat pukul dua belas siang ini sesuai dengan seluruh rincian yang kau tulis, Aisya," potong Cassian dengan ketenangan yang dingin. "Aku akan ikut duduk di sini dan menjamu komunitasmu. Aku tidak akan membatalkan agenda itu."
Cassian sengaja menjeda kalimatnya. Ia sama sekali tidak berniat membocorkan perang besar yang akan terjadi besok malam. Rahasia ini harus tetap menjadi miliknya seorang sampai bom atom hukum itu meledak di depan publik.
"Namun begitu jamuan selesai pukul tiga sore, kau harus ikut bersamaku ke Yorkville," lanjut Cassian, menatap Aisya dengan pandangan yang tak terbaca. "Ada beberapa urusan administrasi keluarga Noir yang membutuhkan kehadiranmu sebagai istri sahku besok. Kau butuh waktu untuk beristirahat dan menyesuaikan diri di tempat baru sebelum bertemu dengan lingkungan kerjaku."
Aisya tertegun, meremas jemarinya yang kini telah dihiasi cincin berlian dari Cassian. Ia mengangguk perlahan, merasa tenang karena penjelasan Cassian terdengar begitu masuk akal dan pelan. Gadis itu sama sekali tidak menyadari bahwa di balik ketenangan suaminya, Cassian sedang menghitung mundur jam menuju sebuah ledakan besar yang akan menyeret dunianya yang sunyi ke tengah medan perang elit Toronto esok malam.
Setelah berdiskusi sejenak dengan Kevin yang mencatat koordinasi keamanan, Cassian memutuskan untuk membawa Aisya ke kediaman pribadinya yang paling tertutup—sebuah mansion terpencil di kawasan elit The Bridle Path. Berbeda dengan penthouse di Yorkville yang dinding kaca raksasanya masih bisa diintai oleh lensa kamera paparazzi atau mata-mata sewaan Rebecca, mansion bergaya arsitektur Georgia modern ini dikelilingi oleh pagar besi setinggi tiga meter dan vegetasi pohon ek yang rapat. Ini adalah benteng pertahanan terbaiknya.
Pukul dua belas siang, walimah yang diminta Aisya berjalan dengan sangat bersahaja di aula Islamic Centre. Aroma nasi briyani kambing dan rempah-rempah yang hangat memenuhi ruangan.
Cassian duduk di atas kursi kayu yang telah disediakan, melepas jas hitam mahalnya dan hanya menyisakan kemeja putih dengan lengan yang digulung rapi. Di hadapan para pengurus yayasan, Paman Hamdan, Bibi Salma, dan anak-anak yatim dari komunitas imigran, Cassian menampilkan akting terbaiknya. Ia menerima piring anyaman berisi makanan dengan sopan, mengangguk takzim saat didoakan, dan sesekali menyuapkan makanan dengan ekspresi tenang.
Dari balik tirai pembatas tempat para wanita berkumpul, Aisya sesekali mencuri pandang ke arah suaminya. Dadanya menghangat.
“Masha Allah, Aisya... suamimu sungguh rendah hati. Seorang miliarder besar mau duduk di sini dan memakan hidangan kami tanpa canggung,” bisik salah satu ibu pengurus yayasan dengan mata berbinar.
Aisya hanya tersenyum di balik niqabnya, memilin ujung jilbabnya dengan perasaan lega yang membuncah. Ia merasa doanya di sajadah kemarin malam dikabulkan Tuhan. Cassian yang ia takuti ternyata bisa bersikap begitu lembut dan menghargai dunianya.
Aisya yang malang. Ia sama sekali tidak bisa membaca isi kepala Cassian.
Di bawah kunyahan tenangnya, Cassian sebenarnya sedang menahan rasa risih yang amat sangat. Baginya, aroma rempah yang pekat ini membuat kepalanya sedikit pening, dan basa-basi religius dari orang-orang di sekitarnya terasa seperti dongeng pengantar tidur yang membosankan. Namun, semua ketidaknyamanan ini adalah harga kecil yang sangat murah untuk membayar sebuah kemenangan mutlak. Topeng ini harus melekat sempurna sampai besok malam.
Tepat pukul tiga sore, Rolls-Royce Phantom VIII milik Cassian bergerak membelah jalanan rimbun The Bridle Path. Ketika gerbang besi raksasa itu terbuka otomatis, mata Aisya membelalak di balik niqabnya.
Mansion pribadi Cassian berdiri megah dengan dominasi batu alam abu-abu dan dinding-dinding asimetris yang elegan. Halamannya begitu luas, sangat kontras dengan rumah suburban paman dan bibinya yang berhimpitan.
"Turunlah. Mulai hari ini, ini rumahmu," ujar Cassian dingin saat Kevin membukakan pintu untuk mereka.
Aisya melangkah keluar dengan canggung, membawa sebuah tas jinjing kecil berisi pakaian dan mushaf Al-Qur'an miliknya—hanya itu harta berharga yang ia bawa. Begitu mereka melangkah masuk ke dalam lobi rumah yang berplafon tinggi, seorang wanita paruh baya berseragam pelayan rapi langsung membungkuk takzim.
"Selamat datang, Tuan Besar. Selamat datang, Nyonya Noir," sapa pelayan itu dengan nada hormat yang kental.
Panggilan 'Nyonya Noir' seketika membuat seluruh tubuh Aisya meremang canggung. Ia menoleh ke arah Cassian yang sedang menyerahkan kunci mobil pada Kevin.
"Bawa barang-barangnya ke kamar utama di lantai dua," perintah Cassian pada pelayan tersebut, sebelum beralih menatap Aisya datar. "Kau pasti lelah setelah acara tadi. Mandilah dan beristirahatlah. Aku harus kembali ke ruang kerja pribadi untuk menyelesaikan beberapa berkas administrasi bersama Kevin."
"Baik... Terima kasih, Cassian," bisik Aisya lembut, menatap suaminya dengan pandangan penuh rasa hormat dan kepatuhan.
Cassian hanya mengangguk tipis, lalu berbalik melangkah menuju ruang kerjanya di sayap barat mansion. Begitu pintu ruang kerja kedap suara itu tertutup rapat, kehangatan palsu di wajah Cassian menguap seketika, digantikan oleh raut sedingin es yang mematikan.
Ia menghempaskan tubuhnya di balik kursi kerja, menatap Kevin yang langsung membuka laptop di hadapannya. Lini masa menuju esok malam sudah berada di titik krusial.
"Bagaimana persiapan untuk Gala Dinner besok, Kevin?" tanya Cassian, suaranya berat dan sarat akan intrik yang berbahaya.
"Semua undangan resmi dari pihak kita sudah dipastikan hadir, Tuan. Media nasional Kanada, termasuk perwakilan hukum independen dari dewan pengawas warisan mendiang kakek Anda, sudah mengonfirmasi kehadiran mereka," jawab Kevin dengan senyum penuh arti. "Alexander Noir dan Rebecca Winston mengira besok adalah malam kemenangan mereka untuk mengumumkan merger dan pertunangan resmi. Mereka sama sekali tidak tahu bahwa berkas pernikahan sipil Anda dan Nona Aisya sudah terenkripsi aman di sistem pusat."
Cassian menyandarkan punggungnya, mengetuk-ngetukkan jemarinya yang kini dihiasi cincin pernikahan di atas meja dekoratif hitam. Sebuah senyuman sinis yang mengerikan terukir di bibirnya.
"Bagus. Biarkan mereka berdansa di atas rencana mereka malam ini," desis Cassian, matanya berkilat tajam memikirkan kehancuran ego ayahnya besok malam. "Besok, aku sendiri yang akan menghentikan musiknya dan mengenalkan 'Nyonya Noir' yang sesungguhnya di depan seluruh dunia."
semangat jg buat author nya 😍
di tunggu kelanjutannya Thor 😍
tegas dan bertanggung jawab
lanjut thor😍