❝Vina, bila kau ingin tahu siapa ayah kandung Baby El, datanglah ke rumah keluarga Archielo.❞
Malam ketika saudarinya meninggal kecelakaan. Davina Oswalden mengetahui kenyataan siapa ayah kandung Baby El (Eleanore Oswalden). Berbekal surat wasiat saudarinya, Davina nekad datang ke kota Vancouver, Canada - bersama Baby El; bayi laki-laki berusia lima bulan.
Davina mengetahui fakta yang tidak diketahuinya selama ini, ketika dia mengetuk pintu rumah keluarga Archielo ... pria itu---ayah kandung Baby El---mencium dan memeluknya, membisikkan kata ....
❝Ini bayi kita, Sayangku!❞
Di sisi lain...
Ketika penyesalan masa lalu menghantui seorang Mario Archielo ... tiba-tiba, suatu hari pintu rumahnya diketuk oleh seorang wanita manis nan mungil, lalu menyodorkan bayi laki-laki lucu padanya.
❝Ini bayi kandungmu...❞
Apakah ini saatnya membayar sebuah kesalahannya di masa lalu?!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Renny Ariesya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesempatan
“Istirahatlah.” Akhirnya Mario memberikan Baby El ke tangan Davina, setelah mereka berada di lantai dua di kondominium miliknya.
“Ini kamarmu.” lanjutnya seraya menunjuk lewat dagunya pada kamar tepat di belakang Davina.
Segera gadis itu mendekap erat keponakannya ketika bayi mungil ini telah berada dalam pelukannya. Dalam hati, dia mencatat dan mengingatnya, takkan lagi kecerobohan mengambil alihnya, hingga Baby El berada dalam genggaman Mario seperti tadi. Dirinya malah ketiduran.
“Masuklah.” Suara berat Mario membuyarkan lamunan Davina.
“Atau kau keberatan tidur sendirian? Mau tidur sekamar denganku?” sambung Mario berbisik serak menggoda tepat di telinga gadis ini. Sudut bibir sensualnya tersenyum miring, serta kedua tangan bersedekap di dada. Sementara tubuhnya tetap pada posisi condong ke bahu Davina yang tak bergerak sama sekali.
Mata Davina membelalak lebar. Terkejut. Sekilas dirinya bergidik, tubuhnya hampir menyusut mendengar suara Mario tepat di telinganya, belum lagi embusan napas mint pria ini menyapu tengkuknya.
Buru-buru Davina menjauh beberapa jengkal. Mendecak kesal. “Siapa yang mau sekamar, huh. Terus saja bermimpi, sekalian tak usah bangun-bangun!”
Blam
“Ups!” Mario memejamkan sejenak matanya saat embusan angin menerpa wajahnya, kala Davina menutup kasar pintu kamar. Bibir pria ini tersenyum tipis. Membenahi postur tubuhnya, menatap tak berkedip pada pintu yang tertutup rapat di depannya.
Sekali lagi, bibirnya mengumbar senyuman. Sekilas ekor matanya tadi sempat menangkap pendaran merah merona di wajah manis Davina. Ternyata bila tersipu begitu, gadis itu semakin manis dan menambah daya tarik tersendiri.
Mario menarik napas pendek seraya menggelengkan kepala saat sejumput penyesalan menghinggapinya. Ya, menyesal. Mengapa dari dulu dia tak mengenal lebih dekat Davina.
*This Is Your Baby*
“Apa ini?” Davina menautkan kedua alisnya. Menatap amplop coklat di tangannya. Baru saja gadis ini menidurkan Baby El, kemudian pintu kamarnya diketuk oleh pria mesum berengsek ini. Mengatakan ada pembicaraan sangat serius yang harus didiskusikan terkait dengan Baby El.
“Baca saja dulu.” Mario berujar tenang, menumpuk kaki kanannya di atas kaki kirinya.
Davina mengerjap sekilas, lalu membuka amplop di tangannya. Segera membaca isinya. Beberapa detik kemudian wajahnya merah padam, dadanya kembang kempis.
Sret Sret Sret
Mario terpaku di tempat, suara kertas yang dirobek kecil-kecil tersebut tepat dilakukan di depan matanya. Rasanya sakit sekali, seolah suara sobekan itu menyayat hatinya, menjadikan kepingan-kepingan kecil tak berbentuk.
Mario tertunduk menatap lantai, memperhatikan lekat-lekat potongan kertas tersebut, berjatuhan tepat di kakinya yang telanjang tanpa alas. Pria ini menggigit bibirnya dan meremat celana slim pit hitamnya. Berkali-kali pula telinganya mendengar deru napas tak beraturan di seberang sofa tak jauh darinya. Dia tahu sosok manis itu sangat marah padanya karena isi dari surat tersebut. Persetujuan rujuk kembali.
“Apa maksudnya ini, ha. Kau memang sudah gila.” Davina melotot tajam.
“Aku tidak gila. Aku masih waras. Itu kenyataannya yang terjadi selama setahun ini,” bantah Mario memberikan argumennya.
“Kau salah. Seharusnya surat rujukan itu ditujukan pada kakakku, Lan---”
“Jangan sebut nama kakakmu lagi di depanku! Sudah berkali-kali kukatakan aku tak punya hubungan pada perempuan itu!”
Davina terkesiap kaget akan bentakan Mario. Lalu tersenyum sinis, sakit rasanya kakak perempuannya tak diakui istri oleh Mario. Malah sebaliknya, mengajukan rujukan pada dirinya. Dasar lelaki aneh.
“Perempuan itu? Dia kakakku, juga Mommy dari Baby El,” tegas Davina berapi-api.
“Dia bukan Mommy Baby El, tapi kaulah ibu kandungnya,” sergah Mario tak mau kalah. Pandangannya menajam, seolah ingin merobek kulit lawan-lawannya.
“Cukup! Aku tak mau mendengar racauan aneh tak jelasmu. Niatmu sungguh licik,” hardik Davina. Beranjak dari duduknya dan mengentakkan kaki ke lantai. Berjalan meninggalkan Mario sendirian di ruang keluarga.
Sialan. Mario meninju kosong udara, meremat rambutnya begitu kuat. Rasa kesal, kecewa dan frustasi bercampur jadi satu. Mengapa susah sekali meyakinkan Davina. Sangat sulit rasanya membawa sosok manis-nya kembali ke dalam pelukannya lagi.
*This Is Your Baby*
Ketika Davina kembali ke kamar setelah bertengkar dengan Mario. Didapatinya Baby El telah terbangun sembari tengkurap dan menangis.
“Kau lapar Baby El? Ayo kita seduh susu untukmu.” Davina mengangkat sang keponakan dari tempat tidur, mendekapnya dan berjalan keluar dari kamar menuju ke dapur.
“Nah, ini susumu.” Davina menyodorkan botol susu ke mulut Baby El. Segera bayi berumur empat bulan itu mengemut dot tersebut, dan dengan lahap mengisap isinya.
Davina melirik sekelilingnya ketika berada di ruang keluarga. Sepi? Ke mana pria mesum itu? Semenjak dia turun membuatkan susu Baby El tadi, tak ada tanda-tanda Mario berada di sekitar sini.
Tunggu ... Tak ada Mario? Itu artinya ... Davina berputar cepat menuju ruang tamu. Irisnya segera mengarah ke pintu. Bila saja bisa membuka kode sandi pintu otomatis di depannya kini. Apakah dia bisa pergi dari sini bersama Baby El? Dan kalau tak dicoba mana tahu dirinya.
Davina kembali melihat situasi. Saat dirasa aman, pelan-pelan gadis ini memutar handle pintu berwarna gold tersebut.
“Sialan, ternyata benar dikasih kode.” Davina bersungut sebal seraya menggerak-gerakkan handle secara random. Ia berhenti sekilas. Menatap langit-langit, seolah mencari inspirasi kode di atas sana.
“Apa kodenya dari namanya? Mario atau Mario Archielo?” Davina bergumam sambil menatap mata bulat Baby El, bila melihat iris cokelat Baby El, seakan Davina bercermin pada dirinya sendiri.
Davina memasukkan kode nama Mario meski dirinya ragu-ragu. Dan ternyata benar dugaannya, salah sama sekali. Dua-duanya tak cocok dengan kode sandi tersebut.
“Apa jangan-jangan pakai namaku?” terka Davina kembali berdialog sendiri. Entah mengapa perkiraan itu malah muncul di benaknya begitu saja. Tanpa menunggu dua kali, takut kepergok oleh Mario, Davina buru-buru memasukkan namanya. Dan hasilnya kembali membuatnya kecewa. Kini segala nama yang ada di kepalanya telah dicoba semuanya, namun hasilnya tetap nihil.
“Atau namaku ditambahi tanggal lahirku? Davina18?” tebak Davina asal. Yup, gadis ini sudah menyerah dan terakhir kalinya dia hanya iseng saja. Sebab tak mungkin juga terbuka, karena dia telah menebak hasilnya.
Dan pada percobaan ketika Davina memasukkan kode terakhir kalinya yaitu angka delapan. Membuat gadis ini terngangga tak percaya. Ternyata kodenya cocok, di detik berikutnya terdengar bunyi klik dan pintu pun terbuka otomatis.
Senyum Davina mengembang bahagia. Menepuk pucuk kepala Baby El. Bayi ini masih berkutat dengan botol susunya.
“Baby El, kita bisa pulang menemui kakek dan nenekmu di desa,” bisik Davina gembira. Ingin rasanya dia memekik saking senangnya.
*This Is Your Baby*
“Vina?” Mario mengetuk pintu kamar di sebelahnya sembari memasang kaus ke tubuh atletisnya. Kakinya mengentak-entak kecil sembari menunggu jawaban dari balik pintu. Sunyi senyap. Mario mengernyit menatap pintu tertutup di depannya.
Tok-tok-tok!
“Vina? Kau di dalam?”
Tak ada sahutan dari balik pintu. Buru-buru Mario membuka pintu manakala firasat buruk menyergapnya. Benar saja, kamarnya tak dikunci dan ruangan telah kosong. Tak ada koper Davina di samping pintu.
“Shit, ternyata dia kabur.”
Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes 😍, kasih like dulu biar semangat nulis ceritanya 🤗😉, oke 👍.
Sampai lagi di chapter selanjutnya 🤗💜.