Biantara Imam Wijaya, seorang ketua genk motor The Moge yang melakukan perjalanan menuju kota Yogyakarta untuk mencari Fahri, bendahara keuangan The Moge yang membawa kabur uang senilai ratusan juta rupiah.
Dalam perjalanannya menuju mencari Fahri, ia di pertemukan dengan seorang gadis cantik yang bernama Annisa, yang merupakan seorang guru ngaji di kampungnya. Mampukah Bian menaklukan hati Annisa? dan mampukah Bian menemukan Fahri?
Cerita selengkapnya ada di Ride to Jogja
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13
Sebagai ungkapan syukur atas kelancaran perpanjangan project perusahaannya serta urusan di Solo, Bian memesan banyak makanan untuk ia makan bersama Annisa dan keluarganya.
"Tadi aku belikan ice cream strawberry stracciatella untukmu," Bian mengulurkan ice cream yang sama ketika kemarin mereka berbelanja di Ambarukmo Plaza.
"Terima kasih mas," Annisa menerimanya dengan malu-malu.
Sementara Annisa menikmati ice creamnya, dan bu Sekar masih beristirahat. Bian dan Fahri menikmati sate klathak yang terkenal di Jogja. Sembari makan dan ngobrol bersama Fahri, Bian mencuri-curi pandang, memandangi Annisa yang begitu cantik dengan balutan hijab yang Bian hadiahkan kemarin.
Rupanya tak hanya Bian yang kedapatan oleh Fahri memandangi Annisa, namun Annisa pun beberapa kali kedapatan memandangi Bian. Bahkan terang-terangan Annisa membuatkan teh hangat untuk Bian seolah ingin menunjukan perhatiannya pada pria itu. "Di minum dulu mas teh hangatnya untuk netralisir pedasnya," Annisa menaruh teh hangat buatannya di hadapan Bian.
"CUKUP!!" Fahri menggebrak meja makan, ia menatap tajam ke arah Annisa. "Apa kamu lupa dengan peraturan di rumah kita yang melarangmu berpacaran?" tanya Fahri dengan nada tinggi.
"Mas Fahri nuduh aku sama mas Imam pacaran? Kami sama sekali enggak pacaran mas!!" elak Annisa, mencoba membela dirinya.
"Kalau enggak pacaran apa namanya? Dari tadi mas perhatikan kamu curi-curi pandang padanya, kamu buatkan teh hangat untuknya dan kau memakai hijab seperti itu untuk menarik perhatiannya, apa kau sedang menjadi wanita penggoda untuk menarik perhatiannya??"
Bujan hanya tingkah laku Annisa dan Bian yang menjadi perhatian Fahri, ia juga sedari tadi memperhatikan hijab yang di kenakan Annisa tak sebesar dan sepolos biasanya. Hijab yang kini di pakai Annisa hanya sebatas menutup dada dan terdapat motif bunga, serta payet di pinggirannya, dan rasanya Fahri belum pernah melihat Annisa mengenakan itu.
"Wait.. Wait..." Bian langsung menengahi pertikaian kedua kakak beradik itu. "Kali ini loe udah bener-bener kewatan Fah. Nissa bahkan masih mengenakan hijabnya dengan baik, lalu apa salahnya sampai kau mengatakan hal itu?"
Tatapan tajam itu beralih ke Bian, Fahri bersiap menumpahkan kemarahannya yang sejak kemarin saat ia mengetahui adiknya seharian jalan berduaan dengan Bian. "Susah payah kami mendidiknya agar menjadi wanita yang terhormat, yang bisa menjaga pandangan dan ***********, tapi dalam waktu tiga hari kau merusaknya. Gue memang berhutang banyak sama loe, tapi gue enggak berniat menggadaikan adik gue sama pria brengsek macem loe!! Gue bakal bayar semua hutang-hutang gue, jadi enggak ada hutang budi di antara kita. Ngerti!!!"."
Bian pun menatap Fahri dengan tatapan tang tak kalah menakutkannya. "Hei, apa loe ini enggak punya kaca? Loe menganggap apa yang di lakukan Nissa salah, loe mengagap gue pria beengsek, padahal kita sama brengseknya. Loe manusia paling munafik yang pernah gue kenal!!" ia beranjak dari tempat duduknya, sekilas Bian menatap Annisa sebelum ia menyambar tasnya dan pergi dari ruang rawat inap ibunda Annisa.
"Gue bakal bayar semua hutang-hutang gue!!"
Dari balik pintu yang baru saja ia tutup, Bian masih bisa mendengar suara teriakan Fahri. Malam itu juga Bian pergi meninggalkan Jogja dan kembali ke Jakarta. Kali ini Bian pulang dengan menggunakan helikopternya, ia menyuruh orang untuk membawanya ke Jakarta.
...****************...
Tiba di kediamannya Bian langsung di sambut oleh Caroline, dari informasi yang di dapatkan dari asisten rumah tangganya. Setiap hari Caroline datang untuk mencari dirinya, dia bahkan berlagak seperti tuan rumah di kediaman Bian.
"Sayang... Kamu kemana saja sih enggak ada kabar?" Caroline melingkarkan tangannya di leher Bian. Pakaiannya yang super mini dengan belahan dada rendah, membuat payuda*anya hampir tumpah di dada Bian. "Aku kangen banget sama kamu, Bi. Kamu bilang cuma beberapa hari, tapi nyatanya kamu pergi hampir seminggu," ia mendongak menciumi dagu Bian.
"Aku capek banget, Kar. Aku mau istirahat!!" Bian dengan wajah kesalnya, melepas pelukan Caroline. Setelah berhasil lepas dari jeratan Caroline, Bian berjalan menuju kamarnya, namun Caroline tetap mengejarnya hingga ke kamar. "Aku temani ya, atau mau aku pijat?" Caroline bersiap membuka pakaiannya, namun dengan cepat Bian menahannya. "Stop!!"
Bian menatap Caroline lekat-lekat. "Kita sudah putus, Car. Kamu sudah tidak perlu lagi melayaniku, dan bahkan aku berharap kamu tidak tidur dengan siapun sebelum kamu menikah. Carilah kebahagiaanmu sendiri dan pria yang tulus menyayangimu, aku yakin kau pasti akan menemukannya." ia mengelus lengan Caroline dengan lembut agar wanita itu bisa menerima keputusannya.
Sayangnya, dari mata Caroline justru memancarkan kilatan kemarahan. "Apa kau lupa Bi dengan apa yang pernah kau lakukan padaku? Kau pernah menyuruhku menggugurkan anakmu sendiri dan kau berjanji tidak akan pernah meninggalkanku. Sekarang, setelah apa yang sudah ku berikan, kau membuangku seperti sampah!" teriak Caroline.
"Tidak. Aku tidak pernah melanggar janjiku sebelum pengkhianatan yang kau lakukan pada malam itu. Tapi aku akan tetap berusaha bertanggung jawab, aku akan melunasi cicilan apartement dan mobilmu, aku juga akan selalu ada untukmu tapi hanya sebagai kakakmu, bukan kekasihmu lagi, jadi tolong pergilah." Bian meminta Caroline untuk keluar dari kamarnya.
Caroline menghentakkan kakinya dengan kesal. "Dasar pria beesngsek," ia pun meninggalkan kamar Bian dengan hati yang masih panas. "Kakak? Siapa juga yang mau menjadi adiknya. Sampai kapan pun aku tidak akan pernah melepaskanmu BIANTARA," gumam Caroline sebelum ia pergi meninggalkan kediaman Bian.
Setelah Caroline pergi, Bian menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur. Bayangan wajah sedih Annisa yang ia lihat sebelum meninggalkan ruang rawat inap memenuhi pikirannya. "Seharusnya aku memang tidak mendekatinya, aku tidak cukup pantas untuk memilikinya," gumam Bian. "Ah lagi pula Nissa pun belum tentu menyukaiku, mungkin saja dia mengenakan kerudung yang aku berikan hanya untuk menghargai pemberianku, dan teh hangat itu.... Ya dia memang wanita yang baik, tapi pria sepertiku pasti bukan tipenya."
Lama Bian beradu argumen dengan dirinya sendiri, hingga akhirnya ia pun tertidur dalam kamarnya yang sangat nyaman.
kirain ada kelanjutannya lagi
padahal masih seru ,
pengin tau anak²nya setelah pada dewasa tuh gimana .
tapi best banget , happy ending.
sukses selalu kak author nya
haduh.
250jt dibilang uang receh
haduh...
receh tuh yg koin² itu Bambang itu mah kertas semua
Banyak pesan juga dari novel ini...👍👍
Terimakasih Ka Irma untuk karyanya...semngat terus untuk karya selanjutnya...