Bagaimana jadinya jika seorang Mafia berhati dingin memiliki tawanan cantik namun bermulut tajam?
“Arabella, nama yang cukup indah,” gumam Axton dengan nada mengejek. Memang benar nama itu cukup indah, namun tidak dengan nasibnya.
“Nama ku tidak lagi indah saat kau yang menyebutkannya,” desis Arabella dengan tatapan tajam.
Axton tersenyum miring, ia menatap Arabella dengan tatapan kagum. “Tawanan yang cukup menarik, mari kita lihat setajam apa mulut ini dibawah kendali ku.”
Dengan percak-percik yang mewarnani setiap pertemuan mereka, akankah Arabella bertahan dari godaan sang Mafia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhea Novita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12. Laura
Senyum Arabella mengembang. “Setidaknya hidup ku akan tenang selama 3 hari ini,” gumam Arabella pelan. Sarah baru saja mengatakan jika Axton pergi ke Paris selama 3 hari, dan sebelum Axton kembali Arabella harap James ataupun Daniel dapat membantunya keluar dari sini.
Arabella menatap Sarah yang sedang membereskan beberapa tempat makanan di atas meja, ia menggigit pelan bibirnya, Arabella sedikit ragu untuk bertanya. “Maaf, apakah aku boleh berjalan-jalan ditaman depan? Aku sedikit bosan jika hanya disini,” ucap Arabella pelan.
Sarah menoleh kearah Arabella dan tersenyum dengan lembut, tanpa disangka Sarah menganggukkan kepalanya. “Tentu saja boleh Nona, Tuan Axton tak pernah melarang itu, hanya saja jika kau keluar dari gerbang aku tak bisa memberikan ijin, Tuan Axton akan marah besar” jawabnya dengan tenang.
Tentu saja, karena jika Arabella sudah menginjakkan kakinya keluar dari gerbang ia akan mudah mendapatkan celah untuk kabur dari sini, namun itu hanyalah sebuah mimpi, semua itu tidak akan semudah yang ia bayangkan. “Baiklah, kalau begitu aku akan berjalan-jalan kecil didepan, jika aku sudah bosan aku akan kembali lagi ke kamar ku,” ucap Arabella sambil berdiri dari duduknya.
Untuk pertama kalinya Arabella melewati pintu rumah ini, ia menatap sebuah halaman luas dengan beberapa mobil yang terparkir disana, kakinya melangkah pada sebuah taman indah yang terdapat di sebelah kanan halaman, beberapa tanaman yang indah membuat mata Arabella berbinar. Dulu, saat ia kecil, ia sangat menyukai keindahan seperti ini, namun semenjak ia mengenal sulitnya mendapatkan uang, harinya hanya dipenuhi oleh pekerjaan yang tak pernah mengenal waktu.
Sebuah pancuran dengan patung berbentuk manusia yang dikelilingi merpati membuat Arabella terdiam, patung yang berukuran hanya 100cm itu merupakan gambaran sebuah wanita berumur 50 tahunan yang tengah tersenyum kecil, benar-benar indah. “Aku pikir rumah ini akan menyeramkan seperti pemiliknya,” gumam Arabella pelan, ia duduk disebuah kursi taman dan menghirup udara segar.
“Huh! Jangan menikmati ini Bella, kau seharusnya mencari cara untuk cepat keluar!” Gerutu Arabella kesal. Namun dimana ia bisa mendapatkan ponsel? Bagaimana ia bisa keluar dari rumah yang sangat tertutup ini? Bahkan dari jarak sejauh ini Arabella bisa melihat para penjaga rumah berjalan-jalan kecil di sekitaran gerbang.
“Hai, jangan kabur!” Terikan anak kecil membuat Arabella menoleh dengan terkejut, ia melihat seorang anak kecil tengah menangkap sebuah kelinci yang ia dapatkan. “Aku hanya ingin memeluk mu Bunny,” kekeh gadis kecil itu pada kelinci putihnya.
Kerutan dikening Arabella semakin terlihat, siapa anak kecil itu? Apakah Axton sudah memiliki anak? Arabella menggelengkan kepalanya dengan cepat, itu jelas tidak mungkin! Mengapa tak mungkin? Karena pria mana yang membawa wanita lain jika dirumahnya ada seorang istri dan anaknya sendiri!
“Astaga, jangan-jangan pria gila itu menahan anak kecil ini juga sebagai jaminan ayahnya yang berjudi,” gumam Arabella pelan, betapa kasihannya gadis itu.
Arabella bangkit dari duduknya dan berjalan kearah gadis yang ceria itu, wajahnya tak sedikitpun tertekan seperti Bella. “Hai, nama mu siapa gadis kecil yang cantik? Dan berapa umur mu?” Tanya Arabella.
“Hai Nona,” jawabnya dengan sopan sambil membungkuk kecil. “Nama ku Laura, aku baru 11 tahun, kau memang cantik seperti yang diceritakan ibu ku,” kekeh Laura.
“Ibu mu? Siapa ibu mu? Kalian menceritakan aku?” Tanya Arabella bingung, ia tak pernah melihat gadis ini sebelumnya.
“Ibu ku Sarah, kepala pelayan disini, kau pasti mengenalnya.”
Arabella mulai mengerti, ia menganggukkan kepalanya. “Kau selalu ditaman? Mengapa aku tak pernah melihat mu?” Tanya Arabella mulai mengutarakan kebingungannya.
Laura menggelengkan kepalanya pelan. “Tidak Nona, aku hanya boleh bermain di taman ini dan rumah ku ada disana,” jawab Laura sambil menunjuk kearah belakang rumah yang dapat Arabella lihat terdapat sebuah bangunan rumah satu lantai yang lebar, namun dari jendela kamar Arabella ia tak bisa melihat bangunan itu, atau Arabella tak pernah menyadarinya?
“Itu adalah rumah untuk para pelayan, kami semua tidur disana,” ucap seseorang dari belakang Arabella.
\~
Siapa nih?