Scarlet adalah gadis yatim piatu yang kuliah sambil berkerja. Pada suatu hari dia kesandung masalah memecahkan Guci antik dan disuruh mengganti dengan uang seratus juta tunai.
Dalam kebingunannya akhirnya Scarlet ke Club malam dan menjual kegadisannya dengan pemilik Club. Karena merasa terhina Scarlet tidak mau menerima uang dari pemuda itu.
Tapi pemuda yang bernama David itu malah jatuh cinta kepada Scarlet, dan mulai membantu keuangan Scarlet secara diam-diam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LEBIH BAIK MENJAUH
"Trimakasih." sahut Scarlet pendek menerima makanan itu. Matanya berkabut, kehormatannya hanya dinilai dengan sepaket makanan. pikir Scarlet marah dalam hati. pria ini bahkan terlihat sangat bahagia.
David mengantarkan Scarlet hingga ke toko bunga, tempat wanita itu bekerja.
"Aku akan mengirim makan siang lewat gofood, kamu mau makan apa?" tanya David saat Scarlet akan membuka pintu mobil. Scarlet menoleh, matanya tajam menatap David tanpa ekspresi.
"Aku tidak butuh sesuatu darimu, trimakasih." sahut Scarlet tercekat. Dia sangat muak dengan pria ini. David malah tidak peduli saat ini tetap bekerja memakai baju baby doll. Tidak ada empaty.
David merasa ada yang berbeda dari Scarlet saat ini. Tenggorokannya tercekat, melihat mata Scarlet mengeluarkan sinar kebencian. Tapi David pura-pura tidak mengerti.
Saat Scarlet mau membuka pintu mobil, David menahan tangan Scarlet dan meraih bahunya. Secepat kilat David mendaratkan kecupan di kening dan bibir Scarlet. Muachh..
Scarlet tidak menyahut, tangannya mendorong dada David.
"Selamat bekerja sayank." kata David membiarkan Scarlet turun dari mobil David memperhatikan Scarlet yang berjalan pelan masuk ke Toko Bunga. Pakaiannya yang tipis transparan di timpa Mentari pagi, memperlihatkan lekuk tubuhnya yang sexy. Setelah Scarlet masuk ke Toko, barulah David pergi.
Scarlet berbalik cepat memandangi mobil David yang mulai menjauh. Sampai mobil itu menghilang di telan jalanan, Scarlet masih berdiri disana. Ada satu hal yang memberontak dalam pikirannya, mengapa dia begitu mudah menyerahkan diri pada David? Dia seharusnya menjauh dan lenyap dari kehidupan pria itu.
Dia menghela napas dalam berusaha menghilangkan rasa sedih. Scarlet membuka pintu toko kemudian menghempaskan dirinya di sebuah kursi kayu yang berada di belakang meja kasir. Lelah, itulah yang dirasakannya. Ada rasa tidak nyaman pada bagian intinya. Dan itu semua karena David yang tidak pernah puas terus menerus menghujaminya.
Wajah Scarlet tiba-tiba memerah membayangkan kegiatan panasnya pagi tadi. Scarlet menggelengkan kepalanya mengusir bayangan erotis itu. Dia mulai menyibukan diri dan memeriksa keuangan.
"Mat pagi nyonya besar....." sapa Yuki yang baru datang.
"Pagi juga nyonya kecil." sahut Scarlet menimpali. Mereka berdua biasa bercanda dan saling ejek.
"Aku ingin memberimu hadiah, Aku kemarin ke Mall, ikut undian disana. Ternyata aku beruntung dapat baju dua buah. Tapi bajunya ke gedean aku kasi kamu aja ya, daripada kamu memakai baju tidur begitu, malu tahu." kata Yuki mengeluarkan bungkusan.
"Yang benar saja, baju sebagus ini, hadiah? aku cobain ya." sahut Scarlet menghilang di balik bilik.
"Pas sekali, baju ini seperti mahal."
"Kamu cantik sekali Scarlet, baju itu pas di badanmu, seolah yang memberi hadiah sering mengukur badanmu."
"Idihhh...emangnya tukang jahitnya tetanggaku. Yuki, apa hadiah ini untukku?"
"Ini seratus persen untukmu."
"Trimakasih Yuki, kamu adalah teman di dalam kesulitan saja, tapi kalau aku lagi senang kamu jadi musuhku."
"Scar...gimana rasanya punya pacar ganteng, tidak takut di rebut orang atau kamu cuma...." Yuki sengaja menggantung ucapannya.
"Jangan dibahas, aku sama dia hanya teman ngobrol." sahut Scarlet berdiri dan mengambil beberapa buket bunga untuk diantar ke sebuah Restoran ternama di jalan Gatot Subroto. Yuki dan karyawan lain ikut membantu menaikan bunga ke mobil box.
"Aku pergi dulu ya, aku mengucapkan trimakasih untuk Yuki atas bajunya. Kapan-kapan aku ikut denganmu mencari hadiah."
"Cepat jalan nanti kamu terlambat memberi bunga." Yuki mendorong Scarlet naik ke mobil. Scarlet tertawa dan duduk di belakang stir.
Seandainya kamu tahu bahwa baju itu pemberian pacarmu, apakah kamu mau memakainya. bisik Yuki dalam hati. Yuki adalah orang yang disuruh memata-matai Scarlet. Yuki terpaksa sering berbohong, supaya Scarlet mau menerima barang darinya.
Hari ini Scarlet bertugas mengantar bunga ke sebuah restoran bintang lima di kawasan jalan Gatot Subroto. Tapi sebelumnya Scarlet membawa karangan bunga ke Seorang pria yang akan melamar kekasihnya. Pria itu meminta harus Scarlet yang mengantarkannya.
Scarlet mengambil ponsel dari sakunya, dan menghubungi kliennya itu. dia memutus sambungan telepon setelah mendapatkan posisi sang klien. Scarlet turun dari mobil membawa sebuah buket bunga mawar putih.
Scarlet membuka pintu restoran lalu masuk, matanya mulai mencari dan dia menemukannya. Scarlet berjalan ke arah kliennya dan menyerahkan buket bunga tadi.
"Tuan, ini pesanan anda. Selamat berbahagia." kata Scarlet sopan.
" Trimakasih nona, pacar saya lagi ke toilet. Kalau kami jadi menikah bulan depan, saya akan mengambil bunga dari nona." Kata pria itu menatap Scarlet.
"Trimakasih atas kepercayaan anda kepada Toko kami." sahut Scarlet senang.
Setelah menyerahkan buket bunga Scarlet langsung berniat pergi. Dia kemudian berhenti saat melihat David baru masuk ke restoran dan bergandengan tangan dengan seorang wanita cantik.
Scarlet terpaku di tempatnya, jantungnya bergemuruh kencang. Dia melihat David menarik kursi untuk si wanita. Scarlet menggigit bibirnya tidak tahan melihat kemesraan David Scarlet berusaha berjalan memutar, dan keluar dari Restoran.
Kenapa rasanya hatiku sakit? apakah aku cemburu? gerutu Scarlet sambil memegang dadanya yang berdenyut.
Bukakah David menganggap dirinya hanya teman tidur? Scarlet tertawa sendu.
Dia menoleh berharap David melihat dirinya dan mengejarnya, tapi itu tidak terjadi.
Memangnya kamu siapa Scarlet, kamu adalah anak haram yang di buang ke Panti Asuhan. Bisiknya pada diri sendiri.
Scarlet melangkah meninggalkan tempat itu. Berjanji dalam hati tidak akan jatuh cinta pada David dan akan menjauh dari pria itu. Dia terlalu bodoh, begitu gampangnya diajak tidur, bahkan dia belum mengenal laki-laki itu, hanya tahu kalau namanya adalah David.
Sebelum dia jatuh terlalu dalam, dia harus mencari pria yang akan menjadi ayah dari calon anaknya.
Scarlet kembali ke toko dengan hati yang terluka. Yuki menyambutnya dengan bergairah.
"Scarlet, kami dapat kiriman paket makanan dari pacarmu. Dia sungguh orang yang sangat baik, ini sangat langka, makanya orang begini perlu di pertahankan. Ini untukmu, bagian kami sudah habis."
Dia mengambil kotak makan itu dan membaca alamat Restoran, dia sudah menduga bahwa David membeli makanan itu di Restoran yang tadi dia datangi. Mungkin saja teman wanitanya bertanya, mau dibawa kemana makanan itu, dan David akan menjawab untuk anak Panti Asuhan.
Scarlet mengambil kotak makan itu dan membuangnya ke tempat sampah.
"Scar, ada apa? kenapa kamu membuang makanan, orang lain banyak kelaparan, sedangkan kamu seenaknya membuang makanan. Apa masalahmu." Yuki menatap Scar dengan tajam. Dia tidak mengerti pikiran Scarlet.
"Aku sudah kenyang!!"
"Aku tidak yakin, belajarlah menghargai pemberian orang lain, orang itu memeras keringat supaya bisa membeli makan untukmu. Tapi kamu seenaknya membuang, dimana akal sehatmu?"
"Kadang pikiran kita berbeda melihat orang lain, aku mungkin salah menilai orang, tapi aku punya alasan tertentu untuk membuang makanan yang diberikan oleh pria itu. Jika kamu merasa aku terlalu arogan, silahkan kamu kasitahu orangnya dan katakan aku tidak sudi menerima makananannya lagi." kata Scarlet datar. Dia lalu kembali bekerja dan mengenyampingkan pikiran tentang David.
Scarlet membereskan pekerjaannya dan mau pulang. Sudah pukul 17.00 malam. Saat dia melangkah keluar Scarlet melihat mobil David memasuki halaman parkiran toko. Dengan cepat Scarlet mengambil tasnya berlari melalui pintu belakang.
****
SEMOGA MAKIN SUKSES KARYA NYA
GOOD JOB👍👍👍