Mikael Wijaya, putra milyuner dari Surabaya Wijaya Agra mengalami kecelakaan di Dubai setelah memergoki calon istrinya berselingkuh. Kecelakaan fatal itu membuatnya hilang ingatan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23 Sedikit tentang masa lalu Kael
"Kael benar benar tidak bisa mengingat apa pun selain namanya?" tanya Opa Jaya Pangestu sambil menatap lelah mantan besannya Opa Adi Nugraha.
"Kita adalah ingatan terburuknya, ya?" lirih Opa Nugraha berkata dengan nada sakit. Mereka sekarang duduk dengan akur, tidak lagi bertengkar atau berdebat seperti biasanya.
Mereka sama berdebarnya menunggu hasil operasi Kael. Sudah satu jam berlalu, tapi belum ada tanda tanda operasi akan selesai.
"Seandainya saja putramu tidak mengkhianati putriku," kecam Opa Jaya Pangestu tanpa bermaksud menghujat seperti biasanya. Dia sudah lelah mengatakannya. Bahkan menyumpahinya.
"Maaf." Dada Adi Nugroho terasa sesak. Dia selalu saja jadi pihak yang disalahkan gara gara perbuatan putranya.
"Kalo.ada apa apa dengan Kael, hidupku rasanya sudah tidak berguna lagi. Kamu masih punya Arsa." Opa Jaya Pangestu menatap pintu ruang operasi dengan tatapan kosong.
"Jangan berkata begitu. Arsa bukan siapa siapa," desis Opa Adi Nugraha ngga terima dengan ucapan besannya. Baginya, mereka tetap besannya walaupun mami kandung Kael sudah tiada. Hanya saja setelah putranya ketahuan berselingkuh dan meninggal, orang tua maminya Kael sudah menolak mengakunya sebagai besannya lagi.
Hubungan mereka hanya diisi dengan pertengkaran setelahnya. Ditambah Kael yang jadi anak yang semakin tidak bisa diatur.
"Tapi aku senang Kael bertemu Levi dan Adelia selama dia menghilang dari kita. Dia sepertinya kembali menjadi cucu yang manis seperti dulu," Ada senyum getir terukir di bibir Jaya Pangestu.
"Ya, kata Levi, dia banyak membantunya. Oh ya, ternyata dia bisa romantis juga, mengirimkan bunga mawar pada Adelia. Mereka sudah jadi kekasih, ya?" Opa Adi Nugraha merasa hatinya seolah disiram dengan air yang sangat dingin.
"Mungkin."
Dalam hati keduanya bersyukur karena selama enam bulan ini, cucu mereka menjalani hidup dengan lebih baik.
Di tempat lain Wijaya Agra yang berjalan menjauh menelpon istrinya.
"Kael kecelakaan."
"Ke keadaannya bagaimana? Dia meninggal?" suara Latifa terdengar panik.
"Masih di kamar operasi."
Sunyi. Senyap. Istrinya belum berkomentar lagi.
"A apa operasinya akan berhasil?" suara istrinya terdengar terbata bata.
"Semua berharap begitu."
Senyap lagi.
"Sekarang kamu di mana?" tanya Latifa.
"Di rumah sakit. Menunggu operasi Kael."
"Aku akan meminta Arsa ke sana menemanimu. Dia juga di Jakarta. Sebentar lagi aku juga akan ke sana."
Agra menghembuskan nafas panjang.
"Jangan."
"Kenapa? Dia dan aku bagian keluargamu juga, kan?" Suara Latifa mulai meninggi.
Agra menghembuskan nafas panjang.
"Rencanamu untuk menjodohkan Adelia dengan Arsa....., sebaiknya lupakan saja."
"Kenapa?"
Agra terdiam mendengar suara istrinya masih meninggi.
"Kael dan Adelia saling mencintai."
Kening Agra mengerut mendengar tawa sumbang istrinya.
"Kael akan melupakannya kalo dia bisa selamat dari operasinya."
Agra tidak menjawab.
"Itu juga kalo dia selamat. Bukannya kecelakaannya sangat parah."
Agra masih terdiam.
"Agra, salahkah kalo aku berharap operasi Kael gagal...... Kenapa? Karena aku ingin kedua orang tua kamu melihat kelebihan Arsa yang selalu tertutup bayang bayang ngga jelas Kael."
Agra menghela nafas.
"Aku tunggu kedatanganmu." Tanpa menunggu jawaban istrinya, Agra memutuskan telponnya.
Agra menghembuskan nafas lagi. Dia mulai melihat galeri fotonya. Saat dia masih rukun dengan Kael dan mendiang istrinya.
Kael, dia selalu menganggap putranya itu sebagai saingannya. Dia akui, Kael lebih bersinar dari pada dirinya.
Tapi Kael memilih kehancuran buat dirinya setelah perselingkuhannya terkuak dan Istrinya pun meninggal. Kael menjadi tambah hancur.
Sekarang putranya sedang terbaring di meja operasi. Apakah dia juga harus berharap yang sama dengan istrinya?
Hembusan nafasnya terasa berat
Ketika dia akan kembali ke tempat ruang operasi, langkahnya terhenti karena melihat Fathan yang sedang menuju ke arahnya.
"Bang," tegurnya sopan.
Fathan menganggukkan kepalanya.
"Bisa kita bicara, bang?" tanya Agra.
Fathan meletakkan kedua tangannya di saku celananya. Berdiri santai menatap Agra yang terlihat banyak pikiran.
"Ini tentang anak anak kita, bang."
Fathan masih menyimak.
Agra menghela nafas. Dia agak segan dengan Fathan. Beda dengan Daniel, dia bisa lebih santai, seperti dia menghadapi Alexander. Tapi Fathan lebih serius dan kaku. Belum lagi istrinya yang selalu tampak jutek. Agra ngga yakin kalo istrinya bisa mengambil hati istri Fathan.
"Bang, kalo misalnya Kael selamat dan dia melupakan Adelia.... Bang Fathan akan tetap memaksa mereka menikah?"
Fathan tersenyum miring. Kalo bukan karena Adelia menyukai Kael, pasti sudah dia acuhkan teman adiknya ini.
"Tentu saja tidak."
Agra tersenyum tipis.
"Ya..... Memang kalo dipaksa akan tidak baik akhirnya," jawabnya lega.
Fathan mengangguk. Dia masih menebak maksud laki laki tua di depannya ini.
"Bang, aku juga punya putra yang lain. Namanya Arsa. Mungkin..... mereka bisa berkenalan?"
Fathan hampir saja menyemburkan tawanya.
"Kalau pun Kael bisa mengingat putri Bang Fathan, aku takut putri Bang Fathan akan sakit hati nantinya. Kael berubah sejak lima tahun yang lalu. Dia suka mabuk dan selalu mangkir dari pekerjaan pekerjaannya. Juga maen perempuan. Terakhir perempuan yang dijanjikan mau dinikahinya, malah ditinggalkan tanpa alasan."
Agra menatap wajah Fathan yang tetap datar.
"Aku hanya mengungkapkan fakta tentang Kael saja, bang. Agar Bang Fathan tidak menyesalinya."
Fathan akhirnya tersenyum samar.
"Kita lihat saja nanti. Oh ya, Sorry, terpaksa aku tinggal, ya. Aku ada sedikit urusan." Tanpa menunggu jawaban Agra, Fathan melangkah pergi meninggalkan papinya Kael.
Dia sudah muak mendengar semua cerocosan Agra.
Adelia sayang, kenapa kamu kasih papi cobaan berat, keluhnya dalam hati.
*
*
*
Oma Hastuti dan Oma Diana mendekati Adelia yang masih duduk bersama maminya.
"Kael pasti sembuh. Dia anak yang kuat," ucap Oma Hastuti dengan senyum lembutnya.
Adelia dan Nidya tersenyum.
"Oma yakin, kalo bersama kamu, Kael akan kembali lagi seperti lalu." Sepasang mata Oma Diana berkaca kaca.
"Sabar, tante," bujuk Nidya lembut.
Kedua omanya Kael tersenyum.
"Nidya, cucu tante sudah sangat menderita," lirih Oma Hastuti bersuara.
"Iya. Dulu dia tetap tegar walaupun papinya tidak menpedulikannya, karena masih ada maminya yang sangat dia sayang. Tapi sejak maminya tiada, anak itu kehilangan semua arti hidupnya," curhat Oma Diana dengan suata bergetar.
Adelia meraih tangan keriput kedua omanya, menggenggamnya dengan lembut. Adelia sekarang mulai mengerti sedikit tentang Kael.
"Jadi menantu oma, ya.....," ucap Oma Hastuti penuh harap.
"Oma yakin, kamu pasti bisa membahagiakan Kael," sambung Oma Diana.
Adelia bingung harus menjawab apa. Mungkin kalo nanti Kael yang menginginkannya, dia akan menerimanya.
Kyknya Kael ingat Adel deh