Dijual oleh ayah kandung sendiri adalah luka terdalam Aluna. Namun, saat ia terjebak dalam pernikahan kontrak dengan pria asing, takdir memainkan leluconnya. Aluna mengalami regresi ingatan!
Ingatan Aluna kembali ke usia 17 tahun—masa di mana dia belum dihancurkan oleh dunia. Baginya, suaminya hanyalah "Paman Mesum". Sanggupkah pria itu menghadapi Aluna versi remaja yang liar, atau justru ini kesempatan kedua bagi mereka untuk memulai segalanya dengan cinta, bukan lagi kontrak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon apelcantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32. BUNGA MAWAR YANG KOSONG
Manda memberitahu guru BK tentang rekaman di ponsel miliknya. Ia memperlihatkan kejadian asli saat itu; nampak jelas bukan Aluna yang membuat masalah, melainkan geng Anjani. Padahal, perilaku geng itu sudah menjadi hal lumrah bagi para guru yang biasanya memilih untuk mengabaikannya—siapa yang memiliki donasi lebih banyak, itulah pemenangnya, bukan? Guru BK tetap membantah walau sudah mendengar isi video tersebut. Padahal jelas di sana Anjani yang melakukan kekerasan terlebih dahulu, tapi Aluna tetap menjadi tersangka utama. Datanglah siswa kemarin yang juga tak terima; ia tak mau mengakui kesalahannya yang jelas-jelas sudah melanggar privasi.
Dion menatap ibu dari siswa klub fotografi tersebut. Sempat Dion mengepal tangan marah, menahan emosi yang sudah menjamur dalam otaknya. "Saya tidak setuju, Bu. Ini tidak adil! Mengapa Anda malah membela siswa yang bersalah itu dan tidak mempercayai apa yang sudah jelas di depan mata? Apa Kepala Sekolah tahu akan semua hal ini, Bu?"
Guru itu langsung terdiam, lalu berdehem singkat untuk mencairkan suasana yang sangat kaku. "Salah saya? Dari mana coba? Jelas saya membela yang anakmu sakiti itu! Kau tak lihat bagaimana keadaan siswa itu, Mas? Tolong bedakan mana yang benar dan mana yang salah. Makanya adik kalian jadi bandel seperti itu. Katanya anak pintar pindahan karena beasiswa, tapi jelas sifatnya tak mencerminkan seorang perempuan sama sekali, banyak ulah," komentar guru BK sangat pedas. Pharita langsung menggedor meja kaca di depannya, tak peduli bahwa Manda, Aluna, bahkan siswa dari klub fotografi itu melotot terkejut. Pharita menaikkan sebelah kakinya ke atas meja; seolah ada kobaran api yang membara di dadanya, tentu dia tak akan tinggal diam.
"Jangan banyak omong deh, nenek bau tanah! Bikin kesel aja. Gara-gara sifat busukmu, kau bilang 'adik Anda tidak mencerminkan perempuan' bla, bla, bla. Tolong ya, ini tuh sekolah untuk mencari tempat aman bagi siswanya. Kalau Anda berlaku seperti anak kecil, bagaimana nanti mindset anak-anak yang kau ajar itu? Apa mereka juga akan meniru kedongoanmu?"
BLARR! Seolah ada petir besar menyambar. Guru itu langsung terdiam tak dapat berkata-kata, cukup menggigit bibir saja agar dia tak terpancing emosi. "Tolong ya, jaga omongan Anda. Ini sekolah. Di mana tata letak etika Anda saat orang yang lebih tua sedang berbicara? Apa kalian tak pernah diajari sopan santun oleh orang tua kalian?" skakmat guru BK. Pharita semakin kesal; dia tak peduli sandalnya meninggalkan bekas injakan di atas meja kaca. Kini amarahnya ikut naik turun. "Kau tanya aku diajari ortuku atau tidak? Jawabannya aku ini anak—"
Segera tangan Dion mencengkeram bibir Pharita sekuat tenaga. Pria itu sudah tak sanggup lagi dengan kelakuan wanita tomboi itu yang malah memperpanas suasana. Dion berbisik di sampingnya, "Tolol, tahan dulu emosimu! Kau mau membongkar kalau kita itu bukan keluarga, hah? Kalau tidak kuhentikan, malah menjadi-jadi kau itu..." Pharita langsung mengepal tangan erat; dia akhirnya terpaksa duduk kembali dengan wajah masam. Dion menunduk dengan postur tubuh sopan, "Maafkan saya, Bu. Biar saya lap meja kesayangan Ibu ini... Maaf kalau kami membuat masalah, sekaligus adik kita yang tak bisa diabaikan dalam sekejap saja. Saya mohon untuk tetap memberi adik kami ketulusan hati Anda. Saya benar-benar memohon sedalam-dalamnya, Bu, bahkan saya bisa bersujud di depan Anda kalau Anda menginginkannya..." ucap Dion, bahkan dia sudah membungkuk bersiap melakukan apa yang dikatakannya.
Tentu orang-orang di sana kaget semua, termasuk Pharita yang malu sendiri bahkan di depan wali murid lain. Pintu ruang BK diketuk cepat dan keras. Guru BK mengira itu adalah Anjani bersama orang tuanya, tapi yang datang adalah Pak Taufik, guru agama Islam yang sudah berkeringat basah. "Bu, maaf, hari ini Anjani dan teman-teman dkk-nya tak bisa kemari."
"Loh, kenapa begitu, Pak?"
Aluna dan Manda menguping pembicaraan mereka berdua. Pak Taufik terlihat gelisah, tak bisa tenang. "Ada apa sih, Pak? Bisa gak gak usah buru-buru begitu?"
"Ya maunya begitu, tapi sekarang kita harus ke rumah sakit cepat. Baru saja tadi pagi Anjani ditemukan pingsan di dalam kolam ikan, Bu. Sampai sekarang masih belum ada tanda bangun sama sekali! Orang tua Anjani juga meminta pertanggungjawaban, Bu!"
"Ya Tuhan! Itu baru saja atau bagaimana?"
Pak Taufik mengangguk. "Iya, itu baru saja! Kata Sony, Doni, sama Evan sih, Anjani dan ibunya mau ke ruang BK. Tapi pas Anjani izin ke toilet kok belum kembali. Ibunya curiga dan yah, begitulah..."
Manda menutup bibir nampak tak percaya, begitupun Aluna yang tak bisa memunculkan ekspresi yang tepat di waktu seperti ini. Pharita yang ikut mendengar pun berbisik, "Gak mungkin ada orang yang sengaja, kan?"
"Jangan berpikir seperti itu, Pharita!" sentak Dion cepat. Wanita itu pun terdiam seribu bahasa.
Aluna segera berlari keluar. Guru BK memegang tangannya. "Mau ke mana kamu?"
"Jelas aku mau menjenguk temanku dong!"
Guru BK langsung mendelik, "Temanmu? Jelas kemarin kau baru saja disakiti. Sekarang kau mau bertingkah laku empati pada keadaan Anjani?" ucap guru BK. Sepertinya wanita ini di setiap kalimatnya suka sekali menuduh dan memfitnah.
Aluna menunduk, "Terserah Ibu mau ngomong apa, TERSERAH!" jawab Aluna. Perempuan itu langsung ngacir entah ke mana dia akan pergi. Dion dan Pharita di belakang mengekor Aluna, bahkan tak memedulikan bahu guru BK yang kesenggol karena ulah mereka berdua. Di dalam hanya ada tiga orang tersisa. Senyum menekuk di bibir Manda; yang awalnya turun seperti badai hujan, sekarang terlihat secerah matahari usai tertutup awan tebal.
'Akhirnya... akhirnya... hahahahaha. Tak ada lagi yang menggangguku, siapapun itu... Terima kasih telah membantu mewujudkan apa yang kuharapkan, Mr. Z.'
.....
Dion sibuk bertelepon dengan tuannya, siapa lagi kalau bukan Arkan? Di balik telepon, Arkan langsung memarahinya habis-habisan. "Dasar tak becus kau jadi asisten! Cepat urus sampai selesai! Jangan ada masalah lagi! Kau paham atau tidak???"
"Iya, tentu Tuan Arkan!"
Setelah telepon mati, Pharita yang duduk di sebelahnya merenungi kesalahannya barusan di ruangan BK. Dalam dada wanita itu sungguh menyesal. "Dion, kau masih marah soal tadi? Maaf ya..." Kini mereka ada di dalam taksi kuning yang fokus mengejar mobil kuning di depan mereka yang diisi Aluna. Entah wanita itu akan pergi ke mana, mereka terus mengarahkan si sopir untuk mengikuti.
Dion mendesah berat. Dia tak menjawab sama sekali, justru ia malah tersenyum tak jelas saat gundah gulananya hilang karena mendapat balasan dari Edola. Si pemandu honeymoon di Maldives itu kini suka bertukar cerita dengan Dion akhir-akhir ini. Melihat Dion tertawa tak jelas, Pharita sudah menganggapnya pria aneh plus-minus gak jelas.
Mereka berdua mengikuti Aluna sampai ke rumah sakit. Di sana terlihat Aluna terus melangkah tanpa pasti melewati lorong rumah sakit. Pak Samuel yang kebetulan merawat pasien di sebelah kamar UGD melihat keberadaan Aluna yang jalannya sangat cepat. Sempat Samuel akan memanggil tapi terlambat. Dia melihat Dion dan segera menghentikan langkah mereka berdua. "Kenapa kalian ke sini? Jadwal kontrolnya masih Senin depan lho?" tanya Samuel, dia cukup penasaran.
Dion tak menjawab, tapi Pharita seolah terhipnotis ketampanan Samuel yang berdiri di depannya, bak cowok-cowok fiksi yang selalu dia dambakan sejak dulu. Dion melihat Pharita seperti ayam betina kepincut, langsung menjentikkan jari di depan wanita itu seketika. "Jaga pandanganmu itu, dokter ini sudah menikah. Samuel, jangan suka mencopot cincinmu! Kau mau wanita salah paham mengira kau masih lajang?"
Samuel menggaruk belakang kepalanya tanpa rasa bersalah, "Hei, maafkan aku..."
Mendengar dokter tampan itu sudah menikah, seketika Pharita langsung lesu. Dia memilih lanjut berjalan saja daripada harus tersakiti.
"Kau belum menjawab, apa yang terjadi hah? Aku tanya baik-baik lho, Dion. Siapa yang mengizinkan Nyonya Aluna pulang kalau bukan aku?"
"Ck, ya sudah ikut saja denganku. Nanti kau tahu..."
Pharita melihat dari balik kaca UGD; nampak keadaan Anjani kritis hingga banyak sekali selang pernapasan yang coba disalurkan padanya. Di belakang terlihat ibunya menangis terus-menerus. Agaknya ibunya Anjani menyesali sesuatu yang tak orang lain ketahui. Aluna berdiri di hadapan ibunya Anjani, dia menatap raut wajah wanita itu. "Apa Anda menunggu anak Anda sadar?"
"Siapa kau? Oh, aku ingat! Kau kan pelakunya! Saya tahu, kau dendam dengan putri cantikku, kan?"
Aluna menunduk, lalu tersenyum. "Kalau aku pelakunya, apa kau rela membayar polisi untuk menangkapku? Kalau aku bersalah karena mencoba membalas dendam atas sifat anakmu kemarin padaku, apa kau juga akan mengurungku?"
Mendengar omongan yang terdengar dalam tersebut membuat Pharita merinding; seolah Aluna benar-benar dikurung dan dia menumpahkan semua itu pada orang asing. Ibunya Anjani berdiri, akan menampar pipi Aluna namun untungnya Dion lekas datang dan dialah yang menggantikan Aluna agar nyonyanya itu tidak ditampar. Pharita menutup mulut, Aluna mendelik. "Apa yang Mas Dion lakukan? Minggir Mas—"
Dion meludah sembarangan; dia merasakan pipinya kebas karena tamparan tersebut. "Maaf, tapi aku harus melindungimu, bagaimana dan kapanpun situasinya sampai ini semua berakhir..."
Pharita juga ikut maju ke depan, "Tenang Dion, kau tak sendirian."
Tatapan Pharita jatuh ke ibu Anjani. Tatapan yang selalu dia berikan kepada orang yang sangat dia benci kini muncul juga. "Mungkin Anda belum tahu tentang video itu, tapi setelah Anda tahu, tolong benahi sifat yang sudah mendarah daging dari dirimu itu. Agar anakmu tak mencontoh perbuatan ibunya."
Aluna tersenyum seketika; dia merasa melihat keberadaan kedua orang yang selalu dia butuhkan di pundaknya. "Bibi, Bang Zion... Ada dua orang yang persis sekali dengan kalian berdua... Aku rindu kalian... Aku ingin bertemu kalian..."
Ibunya Anjani tak lagi bicara; dia jatuh duduk tak berdaya lemas sendiri. Di sini kedatangan mereka bukan untuk meributkan hal yang sudah berlalu tapi memperbaiki kesalahan masa lalu yang sudah hampir berkarat. Melihat situasi telah aman, Samuel akhirnya memisahkan mereka bertiga dari ibunya Anjani agar keadaan tidak semakin kacau.
Di dalam mobil, Aluna terus melihat kaca. Dia mendesah berat melihat Dion sebagai sopirnya dan Pharita yang juga akan diantarkan pulang. Dion cerewet saat jalanan macet, "Aluna, sekarang kamu dapat skors tiga hari, bahagia? Senang?"
"Sudah Dion, cukup... Biarkan Aluna istirahat..." tegur Pharita di belakang, tak mau tidur siangnya diganggu. Di samping kaca mobil, cerminan wajah sedih Aluna tertampil. Dia menanggapi pelan, "Aku tidak bahagia Mas Dion. Skors? Itu adalah pengalaman pertama yang pernah aku dapatkan selama menjalani masa sekolah. Marah karena tak adil, iya. Tapi setiap orang pasti punya alasan, dan tujuanku barusan menghampiri Anjani di rumah sakit karena aku khawatir dengannya, itu saja. Dia mengejekku kemarin, kalau saja aku tak mencekal kerahnya atau melempari pot ke siswa cowok itu, pasti Anjani tak akan masuk rumah sakit, kan?"
Pharita mendengarnya seketika kesal sendiri; dia melihat bahwa Aluna kembali ke mode pabrik. Tak bisa menahan amarah, pintu mobil Dion jadi sasaran empuknya.
Brak!
"DIAMMMM!!!!"
"Kapan kau akan berubah, Aluna? Jadi ini yang dirasakan Arkan karena muak denganmu?—"
Dion mencoba menghentikan, namun tak berhasil. "Sudah cukup!—"
"Cukup? Hah, gila! Kau juga sama saja, cebol! Jangan hanya membela nyonyamu itu kalau kau lemah begini, Dion. Coba pikirkan bagaimana saat Aluna yang tak selemah dulu kini dengan ajaib berubah jadi sedikit lebih pemberani dari yang kita duga. Tapi dia malah kembali ke dirinya yang sebelumnya?"
"Kau tak suka karena itu?" tanggap Dion tak paham. Aluna menaikkan sebelah alis tak paham sama sekali, "Kak Pharita, apa aku memang senaif itu sebelumnya? Aku tak ingat, memang aku yang dulu bagaimana? Padahal aku yakin kalau aku itu masih tinggal dengan bibiku, tapi semakin lama seolah ada yang mengelupas dari otakku. Apakah aku adalah diriku? Tolong jawab, kalau tidak bisa cepat pertemukan aku dengan bibiku atau abangku, aku mohon!!!"
Dion menoleh ke belakang, tak tahu harus merespon apa.
"Eh, Dion, kita mampir bentar ke kafe ku mau nggak?" topik langsung dialihkan. Dion ikut menjentikkan jari, suka dengan ide wanita itu yang berbuah cemerlang di saat-saat seperti ini. "Oh, boleh juga tuh. Traktir untuk kita berdua."
"Iya, iya deh..."
Aluna tak jadi memikirkan keberadaan bibi dan abangnya karena dia sudah merasa lebih tenang. Saat mereka berhenti di depan kafe, Dion izin memarkirkan mobil sedangkan mereka berdua masuk ke dalam lebih dulu. Di sana Nana, si gondrong, bahkan Pinu sudah menunggu kedatangan Pharita yang suka memendekkan waktu kerja shiftnya. "Dari mana saja kau itu hah? Sana kerja! Oh, siapa dia? Kayak kenal..." gumam Pinu. Pharita langsung mencegah pikiran Pinu karena cowok narsis itu sangat detail bila sudah penasaran. "Eh, buatkan es krim porsi besarnya tiga! Dan ehm—" Pharita membaca menu di atas meja mencari makanan apa yang enak disantap siang-siang. Kalau teman-teman karyawan sampai tahu bahwa itu adalah Aluna, pasti mereka akan menganggap aneh wanita itu karena memakai seragam dan banyak sekali hiasan yang tersampir di rambutnya, tentu itu akan jadi hal gawat.
"Rame juga ya..." basa-basi Pharita agar Pinu tidak lagi curiga. Tanpa Pharita sadari, Aluna sudah mondar-mandir tak jelas. Dia melihat banyak sekali lukisan Eropa yang terpajang, salah satunya membuatnya terdiam. "Kenapa wanita itu dikelilingi pria? Kasihan sekali dia, apa judulnya?" gumam Aluna. Dia membaca judul bahasa Inggrisnya dari lukisan asli Eropa tersebut. "The dark flower roses with no habit, but empty. Kekosongan yang tidak bisa dijangkau siapapun, harapan untuk terus hidup sudah pupus... Lalu di mana dia akan berteduh?" monolognya, membaca sesuai deskripsi yang dia terjemahkan sendiri dalam bahasa.
"Itu kamu, Aluna? Akhirnya!"
Aluna menoleh ke belakang, dia melihat pria yang sangat asing baginya tapi terasa familiar.
Terlihat raut wajah kebingungan dari Reno. Dia melihat penampilan Aluna yang sangat cocok dengan seragam elegan milik SMA Diamond 2. Siapapun tahu jas kebanggaan orang lain itu. Bahkan Reno alumni di sana, dan Reno menganggap Aluna juga alumni di sekolah itu.
'Siapa dia?'
Bersambung...