"Aku membelimu seharga 10 miliar. Jadi, jangan harap bisa melarikan diri dariku, bahkan ke sekolah sekalipun."
Gwen (18 tahun) hanyalah siswi SMA tingkat akhir yang bercita-cita kuliah seni. Namun, dunianya runtuh saat ayahnya kabur meninggalkan hutang judi sebesar 10 miliar kepada keluarga terkaya di kota itu.
Xavier Aradhana (29 tahun), CEO dingin yang dijuluki 'Iblis Bertangan Dingin', memberikan penawaran gila: Hutang lunas, asalkan Gwen bersedia menjadi istri rahasianya.
Bagi Xavier, Gwen hanyalah "alat" untuk memenuhi syarat warisan kakeknya. Namun bagi Gwen, ini adalah penjara berlapis emas. Ia harus menjalani kehidupan ganda: menjadi siswi lugu yang memakai seragam di pagi hari, dan menjadi istri dari pria paling berkuasa di malam hari.
Sanggupkah Gwen menyembunyikan statusnya saat Xavier mulai menunjukkan obsesi yang tak masuk akal? Dan apa yang terjadi saat cinta mulai tumbuh di tengah kontrak yang dingin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Awph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Ketika Sang Pimpinan Perusahaan Menjadi Wali Murid
Membawa sebuah rahasia besar, pria muda itu melangkah masuk dengan napas yang terengah-engah dan wajah yang sangat pucat. Ia memegang sebuah amplop cokelat dengan logo sekolah menengah atas milik Gwenola yang terlihat sangat resmi sekaligus mengancam. Seluruh anggota keluarga besar Xavier terdiam saat pria muda itu meletakkan surat panggilan tersebut tepat di tengah meja makan yang mewah.
"Ada masalah serius di sekolah dan pimpinan sekolah meminta wali dari siswi bernama Gwenola hadir esok pagi," ucap pria muda itu dengan nada suara yang bergetar.
Gwenola merasa jantungnya seolah berhenti berdetak saat melihat surat panggilan wali murid tersebut berada di depan mata Xavier. Ia teringat akan keributan di kelas serta kecurigaan Maya yang mungkin saja telah sampai ke telinga para guru. Rasa takut yang sangat mendalam membuat tubuhnya lemas hingga ia harus berpegangan pada sandaran kursi milik Xavier agar tidak terjatuh.
"Masalah apa yang telah kau perbuat di sekolah hingga mereka memanggil wali muridmu?" tanya Xavier dengan nada yang sangat dingin dan menusuk.
Gwenola hanya bisa menggelengkan kepala dengan air mata yang mulai menetes secara perlahan-lahan membasahi pipinya yang kuyu. Ia tidak sanggup memberikan penjelasan apa pun di depan kerabat Xavier yang kini menatapnya dengan pandangan yang sangat meremehkan. Suasana di ruang makan tersebut menjadi sangat mencekam seolah ada badai yang sedang bersiap untuk menghancurkan segalanya tanpa sisa.
"Lihatlah, pelayan yang kau bela ini ternyata hanya membawa masalah dan aib bagi keluarga kita," cibir bibi Xavier dengan senyuman yang sangat sinis.
Xavier berdiri dari kursinya dengan gerakan yang sangat lambat namun mengandung aura intimidasi yang sangat kuat bagi siapa pun di ruangan itu. Ia mengambil surat tersebut lalu membacanya dengan sangat teliti sementara matanya yang sehitam jelaga sesekali melirik ke arah Gwenola. Sebuah keputusan yang sangat mengejutkan nampak sedang muncul di balik pikiran pria yang dikenal sangat dingin tersebut.
"Aku sendiri yang akan datang ke sekolah itu sebagai wali murid sekaligus penanggung jawab tunggal atas dirinya," tegas Xavier dengan suara yang menggelegar.
Pernyataan itu membuat seluruh ruangan menjadi sunyi senyap karena tidak ada yang menyangka pimpinan perusahaan besar akan mengurusi masalah sekolah seorang siswi. Gwenola menatap Xavier dengan penuh rasa tidak percaya dan rasa cemas yang semakin membuncah di dalam dadanya yang sesak. Ia membayangkan kekacauan yang akan terjadi jika pria paling berpengaruh di kota ini menginjakkan kaki di koridor sekolahnya yang sederhana.
"Xavier, kau gila jika harus merendahkan dirimu dengan datang ke sekolah menengah atas itu!" seru bibinya dengan wajah yang nampak sangat beringas.
Xavier tidak memedulikan protes tersebut dan justru menarik tangan Gwenola untuk mengikutinya keluar dari ruang makan yang sangat pengap tersebut. Ia membawa Gwenola menuju ruang kerja pribadinya yang sunyi, meninggalkan kerumunan keluarga yang masih diliputi oleh rasa heran yang sangat besar. Di dalam ruangan itu, Xavier melepaskan cengkeramannya lalu menatap Gwenola dengan pandangan yang sangat menuntut sebuah kejujuran.
"Katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi atau aku akan membiarkan sekolah itu mengeluarkanku sekarang juga," ancam Xavier dengan suara yang sangat rendah.
Gwenola meremas ujung seragam pelayannya dengan sangat kuat hingga tangannya terasa sangat kaku dan sangat sakit secara bersamaan. Ia akhirnya menceritakan tentang insiden cincin serta kecurigaan Maya yang telah menyebar ke seluruh penjuru kelas dengan sangat cepat. Xavier mendengarkan setiap detail cerita itu dengan ekspresi wajah yang sangat keras seolah sedang menyusun sebuah rencana pembalasan yang sangat kejam.
"Besok kau harus bersiap karena aku akan menunjukkan siapa sebenarnya pelindung di balik hidupmu yang malang ini," ucap Xavier sambil mengusap bibirnya dengan jari.
Keesokan paginya, sebuah mobil mewah berwarna hitam legam berhenti tepat di depan gerbang utama sekolah menengah atas dengan suara mesin yang sangat halus. Seluruh siswa yang sedang berada di lapangan seketika menoleh dan terpaku melihat sosok pria berjas sangat mahal turun dari kendaraan tersebut. Xavier melangkah dengan penuh wibawa, mengabaikan bisik-bisik yang mulai terdengar secara berulang-ulang dari arah koridor sekolah yang ramai.
Gwenola berjalan di belakang Xavier dengan kepala yang tertunduk sangat dalam, berusaha agar wajahnya tidak dikenali oleh teman-teman sekelasnya. Mereka menuju ke ruang pimpinan sekolah di mana Maya dan orang tuanya sudah menunggu dengan wajah yang penuh dengan kemenangan yang semu. Namun, saat Xavier masuk ke dalam ruangan itu, pimpinan sekolah seketika berdiri dengan tubuh yang gemetar hebat karena mengenali siapa sosok yang baru saja datang.
"Selamat pagi, Tuan Xavier, sebuah kehormatan yang sangat besar bagi kami atas kedatangan Anda di sekolah ini," sapa pimpinan sekolah dengan nada yang sangat gugup.
Maya dan ibunya terbelalak tidak percaya melihat reaksi pimpinan sekolah yang nampak sangat tunduk dan sangat takut kepada wali murid Gwenola tersebut. Xavier duduk di kursi tamu dengan gaya yang sangat angkuh, sementara Gwenola berdiri di sampingnya dengan perasaan yang sangat tidak menentu. Pimpinan perusahaan itu kemudian meletakkan sebuah dokumen di atas meja yang membuat wajah Maya seketika berubah menjadi sangat pucat pasi.