Hani Ravenna Arclight memiliki IQ 278 dan hidup dengan dua wajah. Di balik layar dunia digital, ia dikenal sebagai The Velvet Phantom, hacker profesional yang bergerak tanpa jejak. Di dunia nyata, ia menyembunyikan identitasnya dan menjalani hidup sederhana di sebuah kampung, menutupi masa lalu dan nama besar keluarganya.
Pertemuannya dengan Darren Maximilian Vireaux mengguncang ketenangan yang ia bangun. Darren memaksanya kembali menghadapi dirinya sendiri bukan sebagai bayangan, melainkan sebagai Hani Ravenna Arclight yang sesungguhnya.
Di antara rahasia dan pilihan, Hani harus menentukan: tetap bersembunyi, atau berani kembali ke cahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon woonii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
APA?! MAFIA?
"Akhh! " ringis Hani yang sudah sadar dari pingsan nya,ia menyentuh dahi nya yang terluka akibat benturan.
"Aku dimana? kok preman-preman nya jadi ganteng?!"
...****************...
'Wanita aneh' batin Darren ketika mendengar kata kata Hani setelah sadar dari pingsannya.
"Anda sudah bangun nona?" tanya jack sambil fokus menyetir mobil yang ia kendarai.
"Ah iya, Anda mau membawa saya kemana om? apa anda yang memerintahkan preman-preman tadi untuk mencelakai saya? apa salah saya? dan kenapa kepala saya terluka?" tanya Hani secara berturut-turut hingga membuat konsentrasi Darren pada bisnis nya terganggu.
"Brisik! " satu kata dari Derren disertai tatapan tajam pada Hani.
"Maaf tuan karena telah mengganggu konsentrasi anda. Nona kami ini mobil yang tadi tidak sengaja menabrak anda ketika sedang berlari, dan kami akan membawa anda ke apartemen pribadi milik tuan untuk melakukan pengobatan." jelas jack pada hani.
Hani diam, berfikir, memperhatikan dan mencari celah kebohongan. Ia bahkan sampai memperhatikan penampilan Darren dari atas sampai bawah 'Wow orang kaya' batin Hani.
"Kenapa kau memperhatikan ku seperti itu? " tanya Darren dengan suara berat nya kepada Hani disertai tatapan tajam.
Hani yang ditatap tajam seperti itu pun merasa tertantang untuk menatap kembali mata Darren, hingga posisi mereka saling tatap tatapan dan hani menjawab pertanyaan dari darren dengan santai tanpa rasa takut "Karena anda tampan." pernyataan tersebut membuat darren membeku beberapa saat dan langsung mengubah posisi nya kembali fokus kepada ponsel nya.
'berani sekali wanita ini kepada tuan' batin jack yang sedari tadi hanya mendengarkan sambil fokus kepada jalanan.
"Ya ampun muka cantik ku, lihat nih dahi ku jadi berdarah
gini. Huh dasar preman sialan awas aja kalo ketemu lagi, biar ku kasih pelajaran kalian." ucap Hani pada diri sendiri yang mengeluarkan bahasa tidak formal nya, ia hanya berbahasa formal ketika diperusahaan atau bertemu dengan orang-orang penting. Ia terus menggerutu sembari melihat wajah cantik yang ia miliki dari kamera ponsel nya, Hingga ia tak sadar bahwa jack dan darren bisa mendengarkan penuturan dirinya itu.
"ehkem" darren berdehem karena merasa sedikit terganggu.
"Oh iya lupa ada om tampan, terima kasih om baik anda telah menolong saya tadi, dan om supir tolong antarkan saja saya ke apartemen di jalan melati no 10,tidak perlu membawa saya ke apartemen pribadi anda" ucap hani sambil tersenyum manis.
"Apakah anda tidak perlu biaya pengobatan nona jika saya langsung mengantarkan anda ke apartemen tersebut? " tanya Jack pada Hani.
"Tidak perlu om nanti saya akan meminta tolong pada teman saya saja untuk mengobati lukanya, kebetulan apartemen kami bersebelahan"ucap Hani yang menjawab pertanyaan Jack.
"Baiklah kalau begitu nona, dan tidak perlu memanggil kami om karena saya pikir umur kita tidak berbeda jauh. Panggil saja saya Jack dan tuan Darren yang duduk di sebelah anda" protes Jack.
"baiklah nama saya Hani, dan emm... umur anda berapa?,seperti nya memang cocok untuk di panggil om." tanya hani dengan sedikit ragu kepada jack.
"saya 25 tahun nona" jawab jack kepada Hani.
"hah? anda memang cocok di panggil om, umur saya saja masih 19 tahun. " jawab Hani kepada Jack. Hani memang sudah bekerja selama 3 tahun di kota tersebut, karena setelah lulus kuliah ia langsung meninggalkan kedua orang tuanya untuk pergi bekerja dikota.
Belum sempat Hani mengajukan beberapa pertanyaan lagi ternyata mobil yang ia tumpangi telah sampai didepan apartemen yang ia sewa berserta teman nya. "sudah sampai nona" ucap jack memberi tau Hani.
"Baiklah, terima kasih om jack karena sudah mengantarkan saya, dan terima kasih juga om tampan."ucap hani lalu keluar dari mobil. Ia bersama teman nya hanya menyewa apartemen studio sehingga harga sewa nya murah dan dapat ia bayar dari gaji hasil kerja kerasnya.
"hmm kok ada yang aneh ya, tapi apa? " ucap hani pada diri sendiri ketika ada merasakan sesuatu yang aneh ketika ia berjalan.ia kemudian masuk kedalam lift dan menuju ke lantai 5.
ting
Ketika pintu lift terbuka ia segera menuju ke apartemen milik teman dekat nya yang bernama Sinta. Apartemen milik nya bernomor 120 dan milik teman nya bernomor 121.
ting tong
Hani menekan tombol bel di samping pintu apartemen milik sinta sambil menunggu teman nya keluar.
ceklek
Sinta keluar dari dalam apartemennya dengan menggunakan piyama tidur, "Astaga hani!, apa yang terjadi padamu? " tanya sinta ketika melihat penampilan hani dari atas sampai bawah.
"Aku di kejar oleh preman-preman brengsek tadi, aku melarikan diri hingga ditabrak oleh mobil yang di kendarai om Jack" jawab Hani.
"Ya sudah masuklah, aku akan mengobati luka keningmu itu" ucap Sinta yang mempersilahkan Hani masuk ke dalam apartemen nya.
"Oke oke, kau memang yang terbaik Sinta" ucap Hani dengan mengacungkan dua jempol tangannya dan disertai senyuman manis yang ia miliki.
Hani masuk ke apartemen tersebut dan langsung duduk di tepian kasur milik Sinta, ia dan Sinta memang sangat akrab sehingga menganggap apartemen Sinta adalah apartemen nya sendiri, begitupun sebaliknya. Kemudian Sinta datang dengan membawa kotak P3K di tangannya dan langsung menghampiri Hani.
"Kau berhutang cerita padaku, setelah ku obati lukamu kau harus menceritakan kejadian yang menimpamu!" timpal Sinta seraya mulai membersihkan luka di kening Hani dan beberapa lecet di bagian kaki.
"hmm baiklah, aku akan menceritakan nya nanti" jawab Hani.
Setelah selesai membersihkan luka Hani pun mulai menceritakan kejadian yang tadi menimpanya kepada Sinta.
"ah ya ampun lain kali kau harus lebih hati-hati, kau bisa menghubungi ku jika lembur, nanti aku akan menjemput mu" ucap sinta setelah mendengar cerita hani.
"hmm baiklah lain kali aku akan menghubungi mu".jawab Hani.
"eh kenapa kau tidak mengenakan sendal ke apartemen ku? apa kau sudah lebih dulu pulang ke apartemen mu untuk bersih bersih? " tanya Sinta pada Hani, pasalnya sewaktu ia melihat kondisi Hani dari atas sampai bawah,Hani tidak mengenakan sendal heels kantoran nya melainkan tanpa alas kaki dengan luka di beberapa bagian.
"ASTAGA SENDAL HEELS TERBARU KU! " teriak Hani ketika mengingat bahwa sendal nya terletak di bawah kursi mobil darren yang ia tumpangi tadi,karena saat berlari hingga kecelakaan Hani memang menenteng sendal heels nya agar tidak keseleo saat berlari.
"huh pantas saja aku merasa ada yang janggal ketika turun dari mobil tadi, rupanya sandal heels ku tertinggal" sesal Hani karena tidak mengingat nya.
"lalu bagaimana? apa kau akan menghubungi om Jack itu agar mengembalikan sandal mu? " tanya Sinta yang tidak habis fikir dengan teman nya itu, Hani memang sangat pintar tapi ia sedikit ceroboh tentang penampilan dirinya, karena ia selalu mementingkan pekerjaan dibandingkan dirinya, bahkan ia tidak pernah menggunakan make up ketika ke kantor hanya sekedar menggunakan lip balm untuk melembabkan bibir. Tapi meskipun tanpa make up bagi Sinta teman atau lebih tepat sahabatnya itu memang sudah sangat cantik, bahkan banyak laki-laki di kantor yang mengagumi kecantikan temannya tersebut.
"Aku tidak menanyakan nomor ponselnya tadi sin, tapi ia tadi seingatku bersama bos nya yang bernama Darren Maximilian Vireaux" ucap Hani pada Sinta.
"H-hah? kamu serius ketemu tuan Darren?" timpal Sinta pada Hani karena merasa tak percaya akan ucapan temannya tersebut.
"Iya tadi dia yang menabrak ku sewaktu berlari, apakah dia pemilik perusahaan Cakrawala Holdings yang menepati urutan 1 itu sin? karena ku pikir-pikir nama nya sama dengan pemilik perusahaan tersebut" timpal Hani yang mengingat nama pemilik perusahaan Cakrawala Holdings.
"Sepertinya kamu melewatkan keberuntungan hari ini han, ia memang pemilik perusahaan Cakrawala Holdings. Seharusnya kamu meminta biaya pengobatan saja yang banyak tadi, karena kekayaan nya tidak akan habis sampai 20 turunan pun! " seru Sinta dengan nada semangat.
"Ah sudalah sin, aku tidak akan memanfaatkan situasi. Luka yang ku dapat juga sudah kau obati tadi. Sekarang aku hanya memikirkan bagaimana nasib sandal heels terbaru ku, padahal aku baru memakai 3 kali huh... " keluh Hani ketika mengingat sandal heels miliknya.
"Sandal mu kan tidak terlalu mahal, kau masih bisa beli yang lebih bagus dari itu lain waktu, anggap saja sandal mu itu sebagai kenang kenangan untuk tuan Darren bahwa kau pernah 1 mobil dengan nya, bisa saja setelah itu tuan darren jatuh hati padamu ahahaha... " ucap Sinta sembari bercanda dengan teman dekat nya itu.
"Sinta...sinta dari dulu kau memang susah sekali di ajak bicara serius. Sudahlah aku akan pulang ke apartemen ku untuk beristirahat. " ucap Hani yang sudah bangkit dari duduknya.
"Eh tunggu, ada satu hal lagi yang belum aku beri tahu padamu! " tahan Sinta agar Hani mau mendengarkan nya terlebih dahulu sebelum pulang.
"Apa lagi sin? " tanya Hani dengan posisi berdiri.
"Aku pernah mendengar percakapan bos kita ketika sedang menghubungi seseorang melalui telepon, sewaktu itu aku sedang mengantarkan berkas yang harus ditanda tangani langsung, jadi aku menunggu di ruangan bos kita, aku mendengar bos kita bilang pada seseorang yang sedang ia telepon 'ingat kau harus hati-hati pada Darren Maximilian Vireaux, dia adalah mafia kelas kakap yang tidak akan membiarkan mu pergi dengan keadaan selamat jika sudah mengusik hidupnya' apa kamu tahu kalau tuan Darren adalah mafia? ucap Sinta panjang, lebar,dan tinggi ahaha.
"APA?! MAFIA? "
•
•
Sementara itu, tepat saat Darren tiba di apartemen nya.
Jack dengan sedikit ragu untuk berbicara dengan tuan nya. "Emm... maaf tuan sepertinya sandal heels yang dikenakan oleh gadis tadi tertinggal di mobil" ujar Jack.
Darren menghela nafas, lalu berkata. "Kau urus saja Jack, ntah akan kau buang atau kau akan menyimpan nya, aku tidak peduli"
"Baik tuan, saya permisi dulu" ucap Jack lalu segera pergi meninggalkan apartemen Darren.
drett.. drett
Selepas kepergian Jack ponsel Darren berdering, dengan raut muka malas ia mengeluarkan ponsel dari saku nya dan menatap layar ponsel tersebut. Rupanya sang mama tercinta yang menghubunginya.
"Halo Darren kau ini susah sekali dihubungi, sudah berapa kali mama telepon tapi tidak kau angkat" ujar mama Darren yang bernama Diana itu dari sambungan telepon.
"Halo ma, hari ini aku sangat sibuk. Tidak sempat mengangkat telepon dari mama." ujar Darren jujur, ia memang sangat sibuk di usia nya yang tergolong sebentar lagi akan memasuki kepala 3.
"Baiklah baiklah mama faham, besok pulang lah ke mansion. Mama akan mengajakmu makan malam sekaligus memperkenalkan mu dengan anak teman mama" ucap mama Diana.
"Ck mama selalu saja menyuruh ku pulang hanya untuk menjodohkan ku dengan anak dari kerabat mama" gerutu Darren kesal akan tindakan mama nya.
"Tidak usah membantah perintah mama Darren, cukup datang saja besok malam ke mansion. Jika kamu tidak datang maka mama tidak akan menanggap mu sebagai anak mama lagi. " protes mama Diana.
"Hmm baiklah aku akan datang besok" pasrah Darren lalu mematika sambungan telepon. Ia memang selalu menuruti kemauan mama tercinta nya itu. Tapi setiap kali dijodohkan ia hanya beralasan bahwa sudah memiliki calon istri dan menolak perjodohan tersebut.
Darren yang sedang pusing akan tindakan mama nya itu memejamkan mata nya sejenak sambil bersandar di kursi apartemen nya.
'mengapa tiba-tiba aku mengingat gadis aneh tadi' batin Darren.