NovelToon NovelToon
Penghubung Tiga Dunia (The Envoy Of Three Realms)

Penghubung Tiga Dunia (The Envoy Of Three Realms)

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: waseng

Di alam semesta, eksistensi terbagi menjadi tiga: Alam Langit (Tempat para Dewa), Alam Manusia, dan Alam Bawah (Tempat Iblis dan Roh). Selama jutaan tahun, ketiga alam ini dipisahkan oleh segel kuno yang kini mulai retak.

Jiangzhu, seorang yatim piatu di desa kecil Alam Manusia, lahir dengan "Nadi Spiritual yang Lumpuh". Namun, ia tidak tahu bahwa di dalam jiwanya tersimpan Segel Tiga Dunia, artefak yang mampu menyerap energi dari ketiga alam sekaligus. Ketika desanya dihancurkan oleh sekte jahat yang mencari artefak tersebut, Jiangzhu bangkit dari kematian dan memulai perjalanan untuk menaklukkan langit, menguasai bumi, dan memimpin neraka. Ia bukan sekadar penguasa; ia adalah jembatan—atau penghancur—tiga dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14: Jembatan Kematian dan Bangkitnya Darah Raja Iblis

Hawa panas yang naik dari jurang di bawah jembatan gantung itu bukan sekadar panas api biasa. Itu adalah Api Karma, jenis api yang tidak membakar kulit, melainkan membakar dosa dan penyesalan yang tersimpan di dalam sukma. Jiangzhu berdiri di ujung jembatan, menghirup udara yang terasa seperti menelan serbuk gergaji yang membara.

"Jembatan ini disebut Sirathul Maut," Yue bersuara, napasnya sedikit terengah-engah. Topeng peraknya memantulkan cahaya jingga dari bawah. "Setiap langkah yang kau ambil akan terasa seberat satu gunung jika hatimu dipenuhi keraguan. Dan lihat ke bawah... mereka yang gagal tidak akan mati, mereka akan menjadi bahan bakar abadi bagi api itu."

Jiangzhu melirik ke bawah. Di antara lidah api yang menjilat-jilat, ia melihat ribuan tangan manusia yang menggapai-gapai, mengeluarkan suara rintihan yang menyayat hati.

"Kakak... ada suara tangisan," Awan mencengkeram tangan Jiangzhu, wajahnya pucat pasi.

"Jangan didengar, Awan. Itu hanya angin," bohong Jiangzhu. Ia tahu betul itu bukan angin. Itu adalah jeritan jiwa-jiwa yang haus akan penebusan.

Jiangzhu melangkah maju. Krieeet. Kayu jembatan yang sudah menghitam itu berderit, berayun berbahaya di atas jurang yang tak berdasar. Begitu kakinya menyentuh jembatan, sebuah beban raksasa mendadak menghantam pundaknya. Lututnya gemetar, hampir saja ia jatuh tersungkur.

Bocah, jangan gunakan kekuatan ototmu! Penatua Mo memperingatkan. Api di bawah sana bereaksi terhadap egomu. Semakin kau melawan dengan kekuatan fisik, semakin berat beban itu. Kosongkan pikiranmu!

"Mudah bagimu bicara, Pak Tua! Kau hanya roh yang tidak punya kaki!" umpat Jiangzhu dalam hati.

Namun, sesuatu yang lain mulai bangkit. Di dalam ruang jiwanya, menara hitam tempat Li'er berdiam mulai bergetar hebat. Kabut hitam yang biasanya tenang kini berubah menjadi pusaran yang lapar. Li'er tidak lagi diam; dia berdiri di puncak menaranya, menatap ke arah api di bawah jembatan dengan tatapan haus darah.

"Darah... Ayah..." bisik Li'er di kepala Jiangzhu.

"Apa?" Jiangzhu tersentak.

Tiba-tiba, dari tengah jembatan, kabut api mengental dan membentuk sesosok prajurit raksasa setinggi tiga meter. Prajurit itu mengenakan zirah hitam legam yang retak-retak, dan di kepalanya terdapat dua tanduk melengkung yang memancarkan aura kehancuran murni. Di tangannya, ia memegang sebuah kapak raksasa yang masih meneteskan cairan merah seperti lava.

"Siapa yang berani melintasi jembatan ini dengan darah campuran yang kotor?" suara prajurit itu menggelegar, membuat jembatan gantung bergoyang hebat.

Yue langsung menarik belatinya, wajahnya tampak sangat tegang. "Penjaga Garis Keturunan... Jiangzhu, ini bukan tes biasa. Dia adalah proyeksi dari leluhurmu sendiri! Menara ini memanggil bayangan dari darah yang kau bawa!"

Prajurit bertanduk itu menatap Jiangzhu, lalu matanya tertuju pada Awan. "Dan kau membawa Jantung Roh Biru? Pencurian! Penodaan!"

Prajurit itu mengayunkan kapaknya. Satu tebasan mendatar yang membawa gelombang api hitam.

"Awan, lari ke belakang Yue!" teriak Jiangzhu.

Ia mengangkat pedang hitamnya. BUM! Benturan itu begitu kuat hingga Jiangzhu terdorong mundur lima meter, kakinya hampir tergelincir dari pinggiran jembatan. Tangannya mati rasa, pedang hitamnya mengeluarkan suara berdenting seolah-olah akan patah.

"Kau lemah! Darah Raja Iblis di tubuhmu membeku karena ketakutanmu sebagai manusia!" prajurit itu mengejek, suaranya penuh dengan penghinaan.

Jiangzhu bangkit perlahan, memuntahkan darah hitam yang mengental. Rasa panas di dadanya kini bukan lagi karena api di bawah sana, melainkan karena kemarahan yang meluap. Ia benci dihina. Ia benci disebut lemah. Dan ia paling benci saat seseorang menyebut darahnya "kotor".

"Darah kotor, katamu?" Jiangzhu tertawa, suara tawanya terdengar parau dan gila. "Darah ini yang memberiku kekuatan untuk membantai musuh-musuhku. Jika kau menyebutnya kotor, maka aku akan mencuci jembatan ini dengan darahmu!"

BOOM!

Sebuah ledakan energi hitam-ungu meletus dari tubuh Jiangzhu. Kali ini, auranya berbeda. Ada garis-garis merah tua yang merayap di kulit wajahnya, membentuk pola kuno yang menyerupai tanduk di dahinya. Matanya sepenuhnya berubah menjadi merah menyala dengan pupil vertikal layaknya binatang buas.

Peringatan: Sinkronisasi Darah Raja Iblis mencapai 20%.

Mode Berserk Terdeteksi. Kesadaran Manusia Menurun.

"Hancurkan... semuanya..." gumam Jiangzhu.

Ia melesat. Kecepatannya kini berada di level yang mustahil untuk Tahap Inti Bumi. Ia bukan lagi berlari, ia seolah-olah menjadi bayangan yang berpindah tempat.

SLASH!

Pedang hitamnya menebas bahu prajurit raksasa itu. Alih-alih darah, cahaya merah keluar dari luka tersebut. Prajurit itu meraung dan mencoba menghantam Jiangzhu dengan kapaknya, tapi Jiangzhu menangkap gagang kapak raksasa itu dengan tangan kirinya yang kini ditutupi sisik hitam keras.

KREKKK!

Jiangzhu meremukkan gagang kapak kayu purba itu hanya dengan kekuatan cengkeramannya.

"Ini... tidak mungkin! Bagaimana manusia bisa menampung kekuatan Iblis Primordial?!" prajurit itu berteriak kaget.

Jiangzhu tidak menjawab. Ia melompat ke pundak raksasa itu, pedangnya bersinar dengan api hitam yang dingin. "Matilah, hantu masa lalu."

Ia menghujamkan pedangnya tepat ke ubun-ubun prajurit raksasa itu. Energi Li'er dan energi Iblis Jiangzhu menyatu, meledak di dalam tubuh proyeksi tersebut.

KABOOM!

Prajurit raksasa itu hancur menjadi serpihan energi merah yang terbang liar. Jiangzhu berdiri di tengah jembatan, terengah-engah, dengan aura hitam yang masih mengepul dari tubuhnya. Pola merah di wajahnya perlahan memudar, namun matanya tetap berwarna merah untuk beberapa saat.

Yue menatap Jiangzhu dengan ngeri. Ia menyadari satu hal: Jiangzhu bukan sekadar "penghubung", dia adalah bom atom yang sedang berjalan.

"Jiangzhu... kau baik-baik saja?" Yue mendekat dengan hati-hati.

Jiangzhu menoleh, tatapannya sangat dingin hingga Yue refleks mundur satu langkah. "Jangan dekati aku sekarang, Yue. Jika kau tidak ingin aku membelahmu juga."

Awan berlari mendekat dan memeluk kaki Jiangzhu. "Kakak... Kakak sangat keren."

Mendengar suara Awan, aura merah di mata Jiangzhu meredup, kembali menjadi mata hitam yang kelam. Ia mengusap kepala Awan dengan tangannya yang masih gemetar. "Ayo pergi. Kita tidak bisa berlama-lama di sini."

Mereka melintasi sisa jembatan dan sampai di depan sebuah pintu gerbang emas yang kontras dengan suasana menara yang gelap. Di atas gerbang itu tertulis: Lantai 15: Aula Penobatan dan Ujian Alkemis.

"Lantai selanjutnya adalah tempat para elit berkumpul," bisik Yue, mencoba mengembalikan ketenangannya. "Di sana, kau tidak bisa hanya menggunakan otot. Kau harus menunjukkan bakatmu dalam mengolah energi atau kau akan dianggap sebagai binatang buas yang harus dikurung."

Jiangzhu menatap pintu emas itu. Ia merasakan kekuatannya meningkat pesat setelah mengalahkan bayangan leluhurnya.

Jiangzhu berlutut di ujung jembatan, tangannya mencengkeram pinggiran kayu yang kasar hingga serpihannya menusuk ke bawah kukunya. Ia memuntahkan cairan kental berwarna abu-abu sisa-sisa energi kotor dari proyeksi leluhurnya yang sempat ia telan paksa. Rasanya seperti menelan pecahan kaca yang dicelupkan ke dalam empedu. Pahit, panas, dan membuat kerongkongannya terasa seperti disayat sembilu.

"Kau melihatnya, kan?" Jiangzhu mendongak, menatap Yue dengan mata yang masih menyisakan guratan merah darah. "Kau melihat apa yang ada di dalam diriku. Jangan berpura-pura terkejut sekarang."

Yue tidak langsung menjawab. Ia berdiri mematung, jemarinya masih gemetar di atas gagang belati. Ia baru saja menyaksikan seorang pemuda yang seharusnya menjadi mangsa, mendadak berubah menjadi pemangsa yang bisa merobek bayangan Dewa Iblis. "Aku melihat sesuatu yang seharusnya sudah punah, Jiangzhu," jawab Yue dengan suara yang sedikit parau. "Tapi jangan pikir kekuatan itu gratis. Lihat tanganmu."

Jiangzhu menunduk. Sisik hitam yang tadi menutupi lengannya memang sudah menghilang, tapi meninggalkan bekas luka bakar yang melepuh di sepanjang nadinya. Kulitnya terasa kencang, seolah-olah daging di bawahnya telah menyusut. Menggunakan kekuatan Raja Iblis adalah seperti meminjam api untuk membakar rumah sendiri kau mungkin menang, tapi kau tetap akan kehilangan tempat tinggalmu.

"Kakak... sakit?" Awan mendekat, air mata menggenang di matanya yang biru. Ia mencoba menyentuh luka bakar itu, tapi Jiangzhu menarik tangannya dengan kasar.

"Jangan! Kau bisa terluka," bentak Jiangzhu, namun segera menyesal saat melihat wajah Awan yang tersentak kaget. Ia menghela napas panjang, mencoba mengusir sisa-sisa haus darah yang masih berdenyut di pelipisnya. "Maaf. Hanya saja... energinya masih terlalu panas untukmu."

Bocah, jika kau terus memaksakan diri seperti itu, jiwamu akan pecah menjadi ribuan keping sebelum kau sempat melihat matahari lagi, bisik Penatua Mo, kali ini tanpa nada ejekan. Ada nada keprihatinan yang nyata dalam suara roh tua itu.

Jiangzhu bangkit berdiri, menyeka keringat dingin di dahinya. Ia menatap pintu emas di depan mereka yang memancarkan aroma herbal yang tajam dan wangi dupa yang memuakkan.

"Lantai lima belas," gumam Jiangzhu. Ia merasakan kepalanya berdenyut seirama dengan detak jantung menara ini. "Jika di lantai sebelumnya mereka mencoba membunuh tubuhku, di lantai ini mereka pasti ingin membedah jiwaku. Mari kita beri mereka kejutan."

Ia melangkah maju, membiarkan pedang hitamnya tetap terhunus. Di dunia ini, satu-satunya cara untuk tidak menjadi budak adalah dengan menjadi tuan atas rasa sakitmu sendiri. Dan Jiangzhu baru saja belajar bagaimana cara menikmatinya.

1
Nanik S
Monsternya sekarang Jiangzhu sendiri
christian Defit Karamoy: ikutin terus ya bang🙏
total 1 replies
Nanik S
Jangan sampai tersesat karena hasutan Iblis
christian Defit Karamoy: ikutin terus alur ceritanya bang ,trimakasih
total 2 replies
Nanik S
B urunan langit dan Bumi
christian Defit Karamoy: ikutin terus ya bang🙏
total 1 replies
Nanik S
Awal yang sangat bagus 👍
christian Defit Karamoy: trimakasih🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!