Richard Alexander, anak pertama pasangan Rayyan Alexander dan Nabila Ihnaz.
Dengan segala kerumitan kisah cintanya.
Tidak seperti apa yang dulu pernah dilakukan oleh Rayyan. Meski profesi mereka berdua sama, ialah seorang photographer. Tapi sifat dan perilaku mereka berdua jauh berbeda.
Jika dulu Rayyan dikenal sebagai mantan playboy, tapi tidak dengan Rich. Lelaki itu justru terkesan dingin dan anti perempuan.
Akan tetapi, disaat Rich merasakan jatuh cinta, tidak pada perempuan yang tepat. Karena perempuan yang Rich sukai sudah memiliki calon suami.
Demi kebaikan bersama, terpaksa Nabila memaksa putranya agar mau dia jodohkan dengan putri salah satu sahabatnya.
Bagaimana perjalanan selanjutnya kisah percintaan seorang Richard Alexander , juga kisah asmara kedua adiknya yang tak lain adalah Zayn dan Zoey Alexander ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heni Heni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13
Pagi ini Rayyan yang baru saja selesai mandi, keluar dari dalam kamar mandi hanya dengan handuk yang melilit tubuh bagian bawahnya hingga setengah paha. Senyum terbit di wajahnya. Nabila sudah menyiapkan baju untuk dia pakai bekerja . Beginilah enaknya punya istri, semua ada yang mengurusi.
Rayyan mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamarnya tapi tidak mendapati keberadaan Nabila. Rayyan tahu mungkin saja istri nya sedang membuatkan nya sarapan.
Dengan cepat ia pakai baju nya. Lalu merapikan dirinya, menyisir rambutnya dan setelah semua selesai dengan cepat Rayyan keluar dari dalam kamar nya.
Nabila tidak terlihat di meja makan. Rayyan segera menuju ke dapur dan Nabila ada di dalam sana sedang berkutat dengan pekerjaan nya.
"Pagi sayang....!" sapa Rayyan.
Nabila menoleh mengetahui keberadaan suaminya. Dengan cepat Rayyan mengecup bibir istri nya, hanya sekilas karena saat ini sang istri sedang memasak.
"Tunggulah di meja makan. Sebentar lagi selesai." pinta Nabila.
"Baiklah."
Rayyan menurut dan menunggu di meja makan. Nabila datang dengan Membawa sarapan untuk mereka berdua.
Menikmati sarapan dengan diselingi obrolan seputar kehamilan Nabila. Mama Silvya sempat meminta pada Nabila agar kembali ke rumah mertuanya itu, mengingat kehamilan Nabila yang sudah semakin besar dan mendekati persalinan.
"Aku terserah kau saja, sayang. Asalkan kamu merasa nyaman, maka aku akan menurut saja," ucap Rayyan.
Sebenarnya Nabila nyaman berada di rumah nya sendiri akan tetapi Nabila tak menampik jika dia merasa was was juga jika masih tetap tinggal disini. Takut jika sewaktu waktu melahirkan dan dia sedang sendirian. Asisten Rumah Tangga yang bekerja di rumah ini memang tidak menginap. Akan datang di pagi hari dan pulang di sore hari.
"Aku pikirkan dulu lagi. Sebenarnya aku juga tidak masalah jika kita berdua kembali tinggal di rumah mama. Tapi sayang juga jika rumah ini kita kosongkan."
"Hanya untuk sementara saja. Tapi coba kamu pikirkan lagi. Bagaimana baik nya."
Nabila mengangguk, dia akan kembali mempertimbangkan akan permintaan mama Silvya.
"Sayang....!"
"Ya...."
"Kemarin, Firza datang ke kantorku."
"Firza? Buat apa dia datang ke kantormu."
"Seperti kau tak tahu saja bagaimana Firza. Apalagi yang akan dia ributkan jika bukan tentang pernikahan kita. Dia masih tidak terima jika aku dan kamu sudah menikah. Ada-ada saja. Sudah berbulan-bulan masih saja dia mencari keributan."
"Ray...! Jangan begitu. Firza itu juga hanya manusia biasa saja. Dia seperti itu mungkin karena dia tidak rela kehilangan mu. Aku sadar itu Ray. Dimata Firza, aku ini adalah perebut kekasihnya."
"Tapi kau kan tahu sendiri sayang bagaimana kelakuan Firza. Dia itu tidak akan puas hanya dengan satu pria. Dan aku baru menyadari jika Firza itu berpacaran dengan ku selama ini karena hanya menginginkan uangku saja."
"Ray! Kenapa kamu berpikiran seperti itu. Tidak baik berprasangka buruk pada orang lain. Apalagi itu adalah mantan kekasihmu."
Sekalipun Nabila tahu jika apa yang Rayyan katakan adalah benar adanya, karena Firza sendiri pernah mengatakan hal itu pada Nabila. Akan tetapi Nabila tak akan membuka aib teman nya sendiri. Biarlah hanya dia yang tahu jika memang Firza itu bukanlah perempuan baik dan memang tidak tulus mencintai Rayyan.
"Aku tidak tahu kenapa kamu selalu membela Firza."
"Bagaimana pun juga Firza itu pernah menjadi sahabatku Ray. Kau jangan melupakan itu."
"Oke fine. Kita tak perlu lagi membahas tentang Firza. Membuat mood ku jadi jelek saja. Baiklah, aku berangkat dulu. Kau berhati-hatilah di rumah. Jangan kemana-mana sebelum ART kita datang."
Nabila mengangguk. Mereka berdua beranjak berdiri. Nabila mengikuti Rayyan keluar. Sampai di ruang tamu, Rayyan menarik lembut pinggang Nabila. Berdiri saling berhadapan dan Rayyan menunduk mempertemukan bibir mereka berdua. Ciuman yang cukup lama hingga terpaksa Nabila memukul dada suaminya agar Rayyan melepaskan ciuman mereka.
Dengan tertawa Rayyan mencium kedua pipi Nabila yang semakin gembil. Lalu dia pamit untuk berangkat ke kantor.
***
Siang hari nya, Nabila yang merasa bosan berada di rumah, ingin sekali pergi keluar. Mungkin hanya ingin berjalan-jalan saja atau pergi makan. Dan kebetulan nya lagi, ART nya mengatakan jika banyak kebutuhan dapur yang sudah habis. Baiklah, mungkin sebaiknya Nabila ijin saja pada suaminya untuk pergi keluar sebentar.
Nabila harus berterimakasih pada Rayyan, karena suaminya itu mengijinkan nya. Meskipun sebenarnya Rayyan merasa khawatir membiarkan Nabila pergi seorang diri. Akan tetapi saat Nabila memohon dan mengatakan jika hanya akan pergi ke supermarket saja, pada akhirnya Rayyan pun tak kuasa untuk tidak memberi izin pada istri nya.
Nabila harus mengingat pesan-pesan yang Rayyan berikan untuk nya. Diantara nya berhati-hati saat membawa mobil karena perut Nabila yang sudah cukup besar hingga sedikit menyulitkan nya. Lalu dilarang berlama-lama. Dilarang banyak jalan - jalan dan masih ada beberapa yang tidak bisa Nabila ingat satu per satu.
Akan tetapi Nabila memang benar-benar menjaga dirinya. Tidak ingin meengecewakan suamjnya yang telah percaya dan memberikan nya ijin untuk keluar.
Dan benar saja, Nabila membawa mobil nya untuk mengunjungi sebuah supermarket yang berada di dalam kawasan sebuah Mall besar yang tak jauh dari tempat tinggal nya. Hanya membutuhkan waktu tiga puluh menit untuk Nabila bisa sampai di tempat itu.
Tujuan pertama Nabila adalah jalan-jalan sembari cuci mata. Siapa tahu saja ada baju hamil lucu yang bisa ia beli. Sejak hamil memang Nabila suka sekali mengoleksi baju hamil yang ternyata banyak sekali model nya. Selain itu terkadang Nabila juga mulai menyicil membeli perlengkapan untuk calon buah hati nya.
Pandangan Nabila menyisir beberapa tenant yang memajang koleksi-koleksi aneka model baju.
Saat itulah tanpa Nabila tahu, Rega melihat nya. Rega yang memang berada di sana karena selesai bertemu dengan klien nya di salah satu kedai kopi terkenal yang juga berada di dalam mall ini, menajamkan penglihatan nya demi melihat Nabila yang sedang berjalan seorang diri. Rega sempat tidak percaya jika Nabila benar-benar sendirian tanpa Rayyan yang menemani.
Dengan cepat Rega menghampiri Nabila karena dia tidak ingin kehilangan jejak Nabila.
"Nabila....!" panggil Rega.
Tubuh Nabila menegang demi mendengar seseorang memanggil namanya. Dia menoleh dan mendapati Rega yang sudah berdiri di belakang nya dengan senyuman lebar.
" Rega...!"
"Ya, ini aku. Kenapa? Apa kau merindukanku." setelah mengatakan itu Rega tergelak.
"Maaf aku bercanda." ucap nya lagi membuat Nabila merasa lega luar biasa.
" Kau sendirian, Nabila?"
Nabila mengangguk.
"Tumben kau sendirian?" tanya Rega lagi. Dan Nabila hanya tersenyum menanggapi.
tau g rasanya ??????
yg jomblo minggir dulu
koq gk up.. up..😔