Vanila didesak keluarganya untuk segera menikah. Arshaka Bimantara tiba-tiba saja menggantikan Seno, pacarnya yang tiba-tiba kabur saat Vanila meminta melamarnya. Ketampanan dan sikap manis Shaka membuat Vanila tak berpikir lama untuk mengiyakan ajakannya, dari pada harus menunggu Seno yang tak ada kabar.
"Vanila, apa begitu susahnya membuka hatimu sedikit saja untukku?" ~Shaka
"Jangankan membuka hati, membuka baju pun aku rela, Mas!" ~Vanila
Siapa laki-laki yang bernama Shaka itu sebenarnya?
Bab 1-63 (End)
***
Empat tahun menjaga jodoh orang, membuat Junior Reynand Winata atau biasa disapa Jr merasa dirinya terpuruk saat mengetahui kekasih yang ia pacari selama ini hamil dengan teman dekatnya sendiri. Seolah ditusuk dari belakang, Jr menyesal selama ini telah menjaga kehormatan gadis yang ia pacari itu.
Mencoba mencari pelampiasan, tapi yang ada hidupnya semakin jungkir balik saat bertemu Bia, gadis yang dijual oleh kakaknya sendiri untuk menemani Jr malam itu sebagai penebus utang padanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Okta Diana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berdenyut
"Mas Shaka makan dulu, ya?" tanyaku setelah calon suamiku yang tampan memesona ini keluar dari kamar mandi. Aku bisa menerawang kalau di dalam lambungnya pasti kosong.
Dengan wajah lemas dia menatapku. Ya ampun, wajah lemas aja masih ganteng loh dia. "Boleh," jawabnya singkat tanpa ekspresi dan kembali tidur tengkurap di ranjangku.
Aku berjalan mendekatinya. "Mau aku buatin apa?"
"Apa saja."
Ini jawaban kenapa seuprit-uprit gini bikin aku kesel aja deh. Langsung ke intinya aja gitu, mau makan apa. Walaupun sebenarnya aku gak bisa masak juga. Berharap Mas Shaka minta mie instan aja. Aku nyeplok telur aja takut, gimana masak yang lainnya.
"Mau mie?" tanyaku yang hanya membuat dia mengernyit. Baiklah sepertinya dia gak suka mie. "Atau soto?" tanyaku lagi.
"Kamu pasti butuh waktu lama untuk memasaknya," jawabnya dengan suara serak dan berat. Sumpah, tambah seksi aja guys.
"Kalau gitu rendang aja gimana biar cepat?"
"Rendang itu masaknya lebih lama lagi, Vanila!" ketusnya.
Aku memundurkan kepala tak mengerti. Yang aku tau, penjual nasi Padang dekat rumah, otomatis lebih cepat dapetinnya. Siapa juga yang mau masak rendang? Bumbunya apa aja aku gak tau.
"Apa aja yang kamu buat aku pasti suka," tegasnya lagi. Sepertinya dia belum mencoba masakanku seperti apa? Papa sama Mama aja sampai kapok.
Matanya terpejam. Aku mengecek suhu tubuhnya dengan punggung tangan. Menempelkan pada dahi, leher, dan juga pipinya. Hangat, gak terlalu panas.
Dia membuka sedikit matanya dan menyunggingkan bibir atas. Tanganku yang masih mengecek suhunya langsung saja diraih dan dicium dong. Mataku membola, ini badan kok jadi ringan gini, ya.
"Aku beliin nasi Padang, ya?"
Sumpah aku gak kuat lagi guys. Menghindar adalah salah satu cara lepas dari denyutan gak jelas di bawah sana. Rasanya nunggu sebulan kok lama banget, ya? Mas Shaka mengangguk dan melepas tanganku. Syukurlah! Kalau pun ditarik sepertinya aku gak sanggup buat nolak.
Aku meninggalkannya sendirian di rumah. Mengambil motorku dan langsung tancap gas membeli nasi Padang langganan yang sebenarnya berjarak dua rumah saja.
Tin tin tin
"Vanilaaaaaaaa!"
Eh buset.
Aku hampir aja oleng mengendarai motorku mendengar teriakan itu. Bunga dan Claudia berboncengan menyalipku. Mereka memarkir motornya di carport dan berjalan nyelonong masuk dalam rumah tanpa menungguku. Udah kebiasaan, gak punya sopan santun.
Saat aku memarkir motorku dan akan masuk ke dalam, Pak RT tiba-tiba memanggilku. "Nila, Papamu ada?"
Aku berjalan mendekati Pak RT yang berada di pintu gerbang. "Papa lagi di mini market sepertinya, Pak!"
"Oh, kalau begitu, ini saya cuma mau ngasih undangan." Pak RT memberikan secarik kertas dan dengan lancang aku membacanya.
"Loh, Indah mau nikah, Pak?" tanyaku tak percaya. Padahal tuh bocah baru aja lulus SMA. Aku udah disalip aja.
Pak RT mencebikkan bibirnya. "Biasa, Nil! Hamil duluan."
Waduh. Musim banget ya hamil duluan.
"Mawar, Melati, semuanya Indah hamil duluan," bisik Pak RT dengan bibir dimanyun-manyunkan seolah ahli dalam pergosipan. Apakah dalam hati kalian seperti sedang bernyanyi?
"Eh. Kamu, katanya mau nikah juga, ya?"
"I-iya, Pak!" jawabku dengan cengengesan.
"Jangan mau dihohohihe dulu! Ntar nasibmu kayak Melati, loh!" Aku mengernyit mendengar nasehat Pak RT. Berharap aku dan Mas Shaka kuat iman sampai bulan depan. Aamiin kan ya netizen!
Pak RT akhirnya berpamitan pulang. Aku masuk ke dalam rumah membawa dua bungkus nasi Padang. Berjalan dengan riang, dan terlihat Bunga dan Claudia sedang memasang wajah tegang duduk di sofa.
"Kalian, kenapa?" tanyaku bingung.
"Cowok telanjang yang tidur di kamarmu itu siapa, Nil?" tanya Bunga dengan terus memerhatikanku dari atas ke bawah. "Kalian habis ...." Dia gak mampu meneruskan ucapannya. Bener-bener nih dua orang, pasti mereka tadi niat nyelonong masuk juga ngacak-ngacak kamar. Aku kerjain aja, seru kali, ya?
"Iya semalam aku sama dia habis dari puncak, sebenarnya badanku kayak dipukulin warga satu komplek." Aku memijat tengkuk leherku. "Tapi, gimana lagi ya, kayaknya Mas Shaka ketagihan banget. Jadi pagi ini kita ngulangin lagi di rumah," timpalku lagi.
Mulut mereka ternganga lebar. Gemes deh, pengen nyemplungin bola kasti.
"Kalian belum menikah, loh!" kecam Claudia.
"Ya, habisnya gak tahan!" ucapku dengan menahan tawa. "Gimana menurut kalian, calon suamiku? Lebih ganteng dari Seno, kan?"
Mereka mengangguk kompak. "Papa sama Mamamu gak marah?" bisik Bunga.
"Gak lah," jawabku santai dengan memainkan ujung kuku.
"Sakit gak, Nil?" bisik Bunga lagi. Wajah mereka menjadi tegang gak jelas gitu.
"Banget." Aku mencebikkan bibir dan memasang raut wajah sedih. "Bayangin aja, seprei tuh sampai basah semua! Darah berceceran di mana-mana."
"Hiii!" Mereka memelototkan mata dan bergidik kompak.