"Dulu aku berjanji di depan Tuhan untuk menjaganya, namun dunia seolah memaksaku untuk ingkar."
Tian hanyalah seorang pria sederhana yang dianggap 'tidak berguna' oleh keluarga besar istrinya, Mega. Pernikahan mereka yang didasari cinta suci harus berhadapan dengan tembok tinggi bernama kemiskinan dan penghinaan. Saat Mega divonis mengidap penyakit langka yang membutuhkan biaya miliaran, Tian tidak menyerah.
Ia menjadi kuli di siang hari, petarung jalanan di malam hari, hingga terseret ke dalam pusaran dunia gelap demi satu tujuan: Melihat Mega tersenyum kembali. Namun, saat harta mulai tergenggam, ujian sesungguhnya datang. Apakah kesetiaan Tian akan tetap utuh saat godaan wanita lain dan rahasia masa lalu Mega mulai terkuak?
Ini bukan sekadar cerita tentang cinta, tapi tentang pembuktian bahwa bagi seorang suami, istri adalah surga yang layak diperjuangkan meski harus melewati neraka dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3: Darah di Atas Pasir
Bunyi hantaman daging bertemu daging menggema di gudang tua itu, tenggelam di antara teriakan liar para penjudi yang haus darah. Tian merasakan rahangnya bergeser. Rasa amis darah memenuhi rongga mulutnya, namun ia menolak untuk ambruk. Di depannya, Si Jagal tertawa menyeringai, otot-otot lengannya yang sebesar paha manusia tampak berkilat oleh keringat dan minyak.
"Hanya segini kemampuanmu, Macan? Kau sudah tumpul!" Si Jagal menerjang lagi, sebuah pukulan hook kiri menghujam ulu hati Tian.
Bugh!
Napas Tian terhenti seketika. Paru-parunya seolah mengempis paksa. Ia terjatuh dengan satu lutut menyentuh lantai ring yang kasar. Dunianya mulai berbayang. Di tengah kaburnya penglihatan, ia melihat ponselnya yang tergeletak di meja juri, layarnya terus berkedip terang. Panggilan dari rumah sakit.
Mega...
Nama itu bergema di relung jiwanya seperti sebuah mantra. Ia teringat pagi itu, sebelum badai ini dimulai. Mega terbangun dengan wajah pucat, namun masih sempat mengelus pipi Tian dan berbisik, "Jangan terlalu lelah bekerja, Mas. Aku cukup memilikimu, itu sudah lebih dari cukup."
Kebohongan yang indah. Mega menderita dalam diam agar Tian tidak merasa gagal, dan sekarang, kegagalan itu justru sedang menghantam Tian di atas ring ini.
"Bangun, Pecundang! Aku belum selesai mematahkan tulangmu!" Si Jagal mencengkeram kerah baju batik Tian yang sudah robek-robek, mengangkat tubuhnya yang jauh lebih kurus, lalu membantingnya ke sudut ring.
Punggung Tian menghantam tiang besi dengan keras. Rasa sakit yang menjalar di sarafnya luar biasa, namun rasa sakit itu justru memicu sesuatu yang gelap di dalam dirinya. Selama tiga tahun ini, ia menahan diri. Ia mengubur sisi beringasnya demi menjadi suami yang lembut untuk Mega. Ia membiarkan dirinya dihina mertua, diinjak Adrian, dan diludahi kemiskinan.
Tapi malam ini, ketika nyawa Mega dipertaruhkan, Tian melepaskan rantai yang membelenggu monster di dalam dirinya.
Saat Si Jagal melayangkan pukulan terakhir yang ditujukan untuk menghancurkan tengkoraknya, Tian bergerak dengan kecepatan yang tak masuk akal bagi orang yang baru saja dipukuli habis-habisan. Ia merunduk, membiarkan tinju raksasa itu menghantam tiang besi.
Krak!
Si Jagal meraung kesakitan saat tulang tangannya retak. Tian tidak memberi ampun. Dengan sisa tenaga yang meledak, ia meluncurkan serangan beruntun ke titik-titik vital lawan. Pukulan sikut ke arah pelipis, hantaman lutut ke arah rusuk, dan sebuah tendangan memutar yang mendarat telak di leher Si Jagal.
Raksasa itu terhuyung, matanya membelalak tak percaya sebelum akhirnya tumbang seperti pohon beringin yang tumbang. Senyap sesaat melanda gudang itu sebelum akhirnya sorak-sorai pecah sebagian besar adalah makian dari mereka yang kalah taruhan.
"Cukup! Hentikan!" Bara turun ke ring, menahan tangan Tian yang masih mengepal siap menghabisi lawan yang sudah pingsan. "Kau menang, Tian. Kau gila, tapi kau menang."
Tian tidak peduli pada kemenangan itu. Ia melompat keluar ring, menyambar ponselnya dan meraih tumpukan uang tunai yang dilemparkan Bara ke atas meja. Tangannya yang gemetar dan bersimbah darah berusaha menekan tombol panggil kembali.
"Halo... Rumah sakit? Ini suami Mega..." suara Tian terputus-putus, ia berlari keluar menuju jalan raya tanpa peduli pada badannya yang remuk.
"Pak Tian? Segera ke ruang resusitasi! Kondisi istri Anda kritis, detak jantungnya sempat berhenti dua menit yang lalu!" suara suster di seberang telepon terdengar panik.
Dunia seolah runtuh menimpa kepala Tian. Ia terus berlari, mengabaikan rasa sakit di rusuknya yang mungkin patah. Ia mencegat motor yang lewat, melemparkan selembar uang seratus ribu tanpa meminta kembalian. "Rumah Sakit Harapan! Cepat!"
Sesampainya di lorong rumah sakit, ia melihat kerumunan perawat di depan ruang Mega. Di sana, Dewi dan Adrian berdiri dengan wajah tegang. Melihat Tian datang dengan kondisi hancur-hancuran, wajahnya penuh darah dan pakaiannya compang-camping, Dewi menjerit histeris.
"Lihat! Pembunuh ini datang!" Dewi menunjuk Tian dengan jari gemetar. "Gara-gara kau, Mega menyerah! Dia tidak mau lagi berjuang karena punya suami menjijikkan sepertimu!"
Tian mengabaikan mertuanya. Ia menerjang masuk ke dalam ruangan. Di sana, dokter sedang meletakkan alat pacu jantung defibrillator. Layar monitor menunjukkan garis lurus yang panjang dan suara berdenging yang menyayat telinga.
Tettt....
"Dokter, tolong sekali lagi!" seru suster.
"Sudah tiga kali, Sus. Pasien tidak merespons. Waktu kematian..."
"TIDAK!" Tian meraung. Ia menyingkirkan para perawat, menjatuhkan uang berdarah itu ke lantai, dan menggenggam tangan Mega yang sudah sedingin marmer. Ia menempelkan dahinya ke dahi Mega, air matanya jatuh membasahi pipi istrinya.
"Mega... bangun... Aku sudah bawa uangnya. Aku sudah menang. Kau bilang aku surgamu, kan? Jangan tinggalkan aku di neraka ini sendirian!" bisik Tian dengan suara yang begitu hancur hingga membuat para suster di ruangan itu memalingkan wajah, tak kuasa menahan tangis.
Tiba-tiba, jari Mega yang berada dalam genggaman Tian bergerak sedikit. Sangat pelan, namun Tian merasakannya.
Layar monitor yang tadinya menunjukkan garis lurus, tiba-tiba memunculkan satu dentuman kecil. Bip. Lalu Bip lagi. Dokter terperangah dan segera kembali memeriksa nadi. Namun, di saat harapan mulai muncul, pintu ruangan terbuka kasar. Polisi masuk bersama Adrian yang tersenyum tipis di belakangnya. "Itu orangnya, Pak. Dia terlibat perjudian ilegal dan penganiayaan berat di gudang tua tadi. Tangkap dia sekarang."
Tian menoleh, ia harus memilih: Tetap di samping Mega yang baru saja kembali dari ambang maut, atau lari agar tidak masuk penjara dan kehilangan kesempatan membiayai pengobatan istrinya?
Tian menatap borgol perak yang berkilat di tangan petugas, lalu beralih pada wajah Mega yang masih terpejam dengan alat bantu napas di mulutnya. Hatinya seperti dibelah kapak tumpul. Jika ia menyerah sekarang, uang hasil bertarungnya akan disita sebagai barang bukti, dan Mega akan kehilangan satu-satunya harapan untuk operasi besok pagi. Adrian berdiri di ambang pintu, menyesap kopi dengan tenang seolah nyawa manusia hanyalah bidak catur yang bisa ia mainkan.
"Pilihannya mudah, Tian," gumam Adrian tanpa suara, hanya gerakan bibir yang bisa dibaca Tian. "Masuk penjara, atau biarkan aku yang memiliki Mega."
Tian menarik napas dalam, mengabaikan rasa sakit di paru-parunya. Ia tidak akan membiarkan iblis berbaju sutra itu menang. Dengan satu gerakan cepat, Tian menyambar tas berisi uang di lantai dan menatap jendela ruang perawatan di lantai dua itu. Ia harus menjadi buronan demi tetap menjadi seorang suami.
Tian menarik napas dalam-dalam, merasakan dinginnya malam merasuk ke dalam paru-parunya. Ia tahu ia tidak punya banyak waktu. Setiap detik yang terbuang berarti peluangnya semakin kecil. Di kejauhan, sirene polisi mulai terdengar samar, mendekat perlahan. Ia harus bergerak, dan bergerak cepat.
Ia bangkit dengan susah payah, kakinya berdenyut sakit. Melompat dari ketinggian itu bukanlah ide terbaik, tetapi itu adalah satu-satunya cara untuk keluar dari situasi tersebut. Dengan uang di tangan, ia merasa ada sedikit harapan, sedikit kesempatan untuk memperbaiki segalanya. Tapi ia juga tahu bahwa jalan di depannya tidak akan mudah. Ia telah mengambil langkah berani, dan konsekuensinya akan mengikuti. Sekarang, yang bisa ia lakukan hanyalah berlari dan berharap.
Lanjut bab 4...