"Aku bukan orang baik buat kamu."
Diputuskan dengan sebuah sms dan dengan alasan superklasik, membuat Andara marah.
Buana Semesta, lelaki yang sudah membagi rasa dengannya selama hampir setahun belakangan tiba-tiba mengiriminya sms itu. Andara sebenarnya sudah tahu kalau peristiwa itu akan terjadi. Dia sudah prediksi kalau Buana akan mencampakkannya, tetapi bukan Andara jika bisa dibuang begitu saja.
Lelaki itu harus tahu siapa sebenarnya Andara Ratrie. Andara akan pastikan lelaki itu menyesal seumur hidup telah berurusan dengannya. Karena Andara akan menjadi mimpi buruk bagi Buana, meskipun cowok itu tidak sedang tertidur.
Banyak cara disusunnya agar Buana menyesal, termasuk pura-pura memiliki pacar baru dan terlihat bahagia.
Tetapi bagaimana jika akhirnya Buana malah terlihat cemburu dan tidak suka dengan pacar barunya?
Juga bagaimana jika Andara bermain hati dengan pacar pura-puranya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nadyasiaulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
You're Beautiful Liar
"Tersenyum dengan banyak orang tetapi tidak memercayai satu pun secara utuh."
🔥🔥🔥
Andara adalah orang yang gampang berteman. Ketika dia masuk ke kelas Hukum, meski tidak ada yang dikenalnya satu pun, dia tidak segan untuk mengembangkan senyum. Dari pertemuan satu ke pertemuan lain yang membuat Andara mudah dikenali adalah gayanya cuek dan nyentrik. Hal itu membuat orang akan menoleh kedua kali saat berpapasan dengan Andara, apalagi untuk melihat sepatu boots-nya.
Padahal menurutnya, Dr. Martens bukanlah barang baru dan juga dia bukan satu-satunya orang yang pernah memakai sepatu ini. Ada banyak pemakai Docmart (singkatan untuk Dr. Martens) di Indonesia, apalagi Jakarta. Tetapi tetap saja, teman seangkatannya di Fakultas Hukum menandai Andara dari Docmart-nya. Selain itu, boots Andara sebenarnya bukan Docmart saja, dia memiliki beberapa boots lain, hanya saja si Docmart hitam itu kesukaannya
Dari teman-teman sekelas, ada beberapa orang yang sering berbincang akrab dengan Andara, salah satunya Buana. Semua yang dekat dengannya kebanyakan laki-laki dan memang murni berteman. Mereka akan bercakap tentang sepatu, musik atau mengerjakan tugas bersama. Kaum hawa agak takut-takut dekat dengan Andara, mungkin karena boots-nya, mungkin karena jaket kulit hitamnya, mungkin juga karena dia perokok dan menilai miring seorang perokok atau mungkin karena mereka mengira kalau Andara lesbian dan berbahaya? Entahlah. Andara juga tidak peduli itu.
Saat itu dia sudah memiliki Rossa sebagi teman dekat, berteman dengan Rossa yang sama gila saja sudah cukup. Apalagi setelah dia masuk Best FM dan kenal dengan Natha, sahabat ceweknya bertambah satu lagi. Dua Serigala Gila itu sudah lebih dari cukup baginya. Toh dari yang pernah dia baca, kawanan serigala jarang merekrut anggota lain. Ikatan yang kuat di antara mereka dalam satu kelompok membuat mereka mengisi peran satu sama lain.
Jadi dianggap atau tidak dianggap oleh kaum hawa di kelasnya, itu bukan urusan Andara. Dia memilih menyibukkan diri dengan siarannya, dengan kegiatan off air Best FM daripada sekadar ikut aktivitas para kaum hawa Fakultas Hukum yang sukanya kumpul-kumpul tidak jelas dan membicarakan orang. Namun bagaimanapun, Andara menghormati mereka, begitu juga mereka menghormati kedaulatan Andara, mereka tidak pernah usil dengan urusan Andara.
Karenina Julianti. Nama itu tidak asing untuk Andara. Di awal dekat dengan Buana, dia sudah tahu kalau Buana sedang dalam hubungan yang sulit dengan Nina. Kedekatan mereka bermula saat Buana yang kebetulan mau ke Best FM bersedia ditebengi oleh Andara yang juga sedang terburu-buru hendak siaran. Marionette yang saat itu mengikuti beberapa kali audisi Indiebest menjadi sering bolak-balik ke Best FM. Sering bertemu, sering bersama ke Best, membuat Andara dan Buana jadi lebih dekat.
Sebelum menjadi pacar Buana, dia lebih dahulu berteman dengan cowok itu. Cowok itu mulai bercerita hal-hal yang pribadi. Dari cerita Buana juga, Andara mengerti kalau hubungan Buana dan Nina itu hubungan yang tinggal status. Komunikasi keduanya tidak baik dan masing-masing tidak ada yang mau memperbaiki. Keretakan itu berasal dari kelulusan Nina di SNMPTN. Setelah kuliah Nina seperti merasa malu berpacaran dengan Buana, yang tidak lulus SNMPTN juga SBMPTN. Apalagi ketika Buana lebih memilih tidak kuliah, menikmati masa liburannya setahun alias gap year. Kehadiran cowok itu ibarat keset kaki, diinjak dan tidak dianggap. Buana sendiri yang bilang ke Andara kalau cowok itu bahkan pernah mendengar Nina menyebutkan dirinya sebagai tukang ojek, ketika ditanya teman sekampus Nina perihal siapa yang mengantar cewek itu.
Buana memang akhirnya lulus SBMPTN tahun selanjutnya dan seangkatan dengan Andara, tetapi hal itu tidak membuat Nina melirik kembali. Mungkin cewek itu malu berpacaran dengan seseorang yang statusnya adalah adik kelas. Takut dibilang main sama berondong, mungkin? Atau mungkin sudah menyukai cowok lain yang lebih pintar dan lebih menarik? Cerita miris itu ditertawai Andara, tetapi sebagai teman, dia juga mendukung Buana agar bertahan. Walaupun Buana acap kali mengeluh, Andara merasa Buana masih menyayangi Nina.
Lama kelamaan hubungan mereka semakin dekat, tidak bisa dibilang pacar, juga tidak bisa dibilang teman lagi. Andara sadar posisinya. Dia juga tidak pernah memaksa Buana untuk memilih. Jika mereka sedang jalan berdua dan Nina menelepon Buana, dengan lapang dada, Andara menyuruh Buana untuk mengangkat teleponnya.
Sampai di satu malam, Buana datang ke rumah. Muka cowok itu tampak lelah dan layu. Sambil menyandarkan kepala di bangku, Buana berkata, "Ra, kita pacaran, yuk?"
Andara tidak bodoh untuk gagal menyadari apa yang baru saja dialami Buana, tetapi sisi hatinya yang lain seperti melihat diri sendiri di diri Buana, saat itu. Dia tahu rasanya dibuang, tidak dianggap, dikucilkan. Meski dirinya selama ini sudah cukup kebal, malam itu, dia seperti melihat kerapuhannya sendiri. Mungkin rasa sayangnya pada Buana, mungkin juga karena merasa senasib sepenanggungan, yang membuat Andara menerima Buana, cowok yang diam-diam dia kagumi semenjak mengantarkannya pertama kali ke Best FM.
Yang Andara tahu, setelah itu antara Buana dan Nina sudah putus karena Buana mulai memasukkan foto Andara di setiap akun cowok itu, dan memanggilnya dengan nama sayang. Buana juga tidak malu untuk mengandengnya ke mana-mana, meski dia adalah seorang cewek dengan gaya aneh dengan sepatu boots yang mengerikan. Begitu pula Andara, dia dengan bangga mengakui kalau Buana adalah pacarnya. Dia selalu mendukung dan membantu Buana juga Marionette, termasuk diam-diam sering menambahkan lagu Marionette di daftar lagu yang akan diputar saat dirinya siaran.
Karir Marionette lambat laun merangkak naik, begitu juga Buana, perlahan cowok itu dikenali banyak orang termasuk anak-anak di kampusnya. Marionette yang akhirnya terpilih sebagai bagian dari Indiebest sering mengisi acara off air Best FM, mulai dari sekadar bermain akustik di depan OB Van sampai menjadi band pembuka konser-konser artis. Buana dikenal semua orang sebagai pacar Andara. Bagaimanapun Andara lebih dahulu mengenal orang-orang dunia hiburan, dan dia mengenalkan Buana ke banyak pihak mulai dari DJ langganan Best FM sampai orang-orang industri rekaman.
Jika Buana ingat, Andara-lah yang membuatnya sampai sehebat ini. Dan Andara yang terlihat malaikat, bisa menjadi iblis hanya dengan satu alasan; ditinggalkan. Sebagai orang yang ditikam dari belakang, Andara tidak akan memperlihatkan air matanya saat menahan rasa sakit itu, tetapi dia bersumpah akan menikam sang penikam di tempat yang sama dengan lubang yang lebih banyak. Tidak perlu ada yang tahu sumpah itu, Andara menyembunyikan rapi dari balik senyumannya.
Andaratrie: Jangan chat, lagi sama Kin.
Akhirnya, Andara membalas pesan Buana dengan tersenyum simpul. Buana yang memerlukan dirinya pasti akan mengikuti permainannya. Tidak sulit karena cowok itu akan takluk karena satu janji mereka. Begitu memang kalau otak ditaruh di s*langkangan, cacinya dalam hati.
"Eh, jadwal luang lo kapan? Biar bisa gue atur schedule."
Suara Kin menyadarkan Andara, membuatnya membuka jadwal siaran. "Gue Rabu sama Kamis free."
"Kuliah?" tanya Kin. Dari gaya Andara mengedikkan bahu, cowok itu sudah mengerti jawabannya.
***
Ada yang bilang bukanlah orang lain yang mengecewakan kita, tetapi ekspektasi terlalu tinggi kepada orang lain itulah yang membuat kita akhirnya kecewa. Tidak ada yang tahu meski Andara melepas senyum atau mau menegur, mau ikut bercerita, atau mau berteman, sesungguhnya Andara tidak percaya penuh dengan orang lain. Separuh komposisi di hidupnya adalah waspada dan curiga.
Awal mengenal Rossa dan Natha juga dia tidak langsung percaya. Andara dengan caranya sendiri, mengetes mereka, menilai keloyalan dan kelayakan mereka untuk dipercaya. Begitu juga dengan Buana, cowok itu sudah melewati audisi yang Andara bikin. Andara menyeleksi orang-orang dekatnya. Dengan Buana, meski percaya, Andara juga tidak memberi kepercayaan itu utuh. Apalagi di dua bulan terakhir sebelum hubungan mereka berakhir, Andara hampir tidak pernah jujur sedang apa atau sedang di mana jika ditanya Buana. Dan benar saja, dia mendapati kenyataan pahit jika orang yang lulus seleksi pun bisa sewaktu-waktu menjadi pengkhianat, seperti Buana.
Andara merenggangkan tubuhnya yang terasa kaku. Malam ini, Natha belum juga pulang. Dia sendiri sampai di rumah ketika hari sudah menggelap. Matanya mulai terasa berat, karena merasa masih kurang tidur. Biasanya jika mabuk, dia atau Natha akan bangun siang, itu pun karena perut terasa lapar.
Ponselnya mulai bergetar-getar. Nama peneleponnya membuat Andara mau tak mau kembali berpikir keras walaupun sudah mengantuk. Dengan langkah berat, akhirnya ia paksakan tubuhnya bangun dan mempersiapkan sesuatu yang kira-kira bisa menyelamatkannya nanti.
Good night, Buana. Telepon aja sampai capek! ejeknya sambil memejamkan mata. Malam ini, ketegangan dalam hidupnya dan kadar sedih karena diputuskan oleh Buana berkurang. Andara tersenyum menatap langit-langit, mungkin tidurnya akan nyenyak malam ini.
Rumah yang ditempati Andara dan Natha adalah rumah sewaan. Rumah kecil yang memiliki dua kamar, ruang tamu yang tersambung dengan ruang keluarga, juga ruang makan yang menyatu dengan dapur. Setiap kamarnya memiliki kamar mandi kecil di dalam. Sebagaimana suasana perumahan, kanan dan kiri mereka diisi oleh pasangan baru yang semuanya adalah pekerja pagi dan pulang malam, malah terkadang pulang dini hari. Tidak ada tetangga usil yang mau tahu atau mencampuri urusan orang lain. Itu mengapa rumah ini cocok untuk mereka berdua.
Awalnya hanya Andara yang menempati, dia memilih rumah ini karena tidak terlalu ribut seperti kost-kostan atau rumah sewa di sekitar kampus. Jarak perumahan ini ke kampus sekitar dua kilometer, tidak dihitung jarak gerbang kampus ke Fakultas Hukum tentunya. Namun, Andara yang butuh ketenangan lebih memilih rumah itu daripada rumah di sekitar kampus. Saat kenal dengan Natha, cewek itu bercerita kalau sedang mencari kamar kost. Karena merasa cocok, Andara menawari rumah sewaannya dan mengajak Natha membagi biaya sewa.
Tengah malam, terdengar suara anak kunci diputar dan pintu terbuka. Dalam keadaan setengah tidur, dia masih dapat mengerti kalau penghuni rumah satunya lagi sudah kembali. Kunci milik Natha memang sudah lama hilang dan belum sempat membuat kunci ganti. Kunci satu-satunya milik Andara menjadi akses masuk. Tadi, karena dia pulang lebih dahulu daripada Natha, setelah mengunci pintu, ditaruhnya anak kunci di pinggir jendela, tempat rahasia kunci mereka berdua.
Tak lama, pintu kamarnya terdengar didorong dan membuka. Pintu itu memang selalu ditutup tetapi tidak dikunci. Mungkin Natha ingin mengecek apakah dirinya sudah tidur atau tidak, pikir Andara. Ia yang sudah bergelung dibalik selimut malas bereaksi lebih dan akan kembali ke alam mimpi sampai ada sebuah tangan melingkar dari belakang pinggangnya. Andara heran. Bukan tidak pernah Natha ikut tidur di kamarnya, tetapi Natha tidak akan pernah memeluknya seperti itu. Embusan yang terdengar dari balik telinga semakin menyadarkan Andara kalau seseorang di belakangnya bukan Natha. Badannya menegang.
Andara mulai mengumpat dalam hati. Rasa kantuknya berubah jadi waspada tingkat tinggi. Dia tetap tenang seolah masih tertidur walaupun sudah terjaga penuh. Tubuhnya terasa kaku mengalahkan beton ketika orang di belakang mulai mengendus-endus rambutnya. Sialan, ini benar-benar bukan Natha. Ini pasti Buana.
"Ra..." Cowok itu mencoba memanggil dirinya sambil menciumi kepala dan tengkuknya. Andara makin mencaci sekuat tenaga di dalam benak. Kenapa dia bisa lupa kalau Buana tahu tempat persembunyian kunci?! Kenapa?!
"Ra..." Buana mengencangkan pelukannya. Dada lelaki itu sudah menempel di punggungnya. Penyelinap tak tahu diri itu mulai menaruh kepalanya di bahu Andara dan mengecup pipinya. "Ra... Capek banget ya sampai pulas gitu tidurnya. Ra..."
Bodo amat, anjiiir!
Didiamkan dirinya tidak membuat Buana menyerah. Cowok yang tahu kalau Andara mudah sekali terbangun karena mendengar bunyi lantas mulai berbisik-bisik di telinga Andara. "Ra... Tidur banget, nih? Ra... Andara..."
"Ra..."
Diam kau, Setan!
"Andara..."
Berisiknya Anda, Jingan!
"Sayang..." Panggilan-panggilan itu makin menuntut, meminta Andara untuk sadar. Bukan hanya berbisik, Buana juga mulai meniup dan mengecup telinganya. "Yang... Padahal kangen."
Yang, Yang, My As*!
Tangan Buana sudah mengelus perutnya, masuk ke balik kaos oblong kebesaran yang menjadi baju tidur favorit untuk Andara. Tangan itu mulai merembet naik dan menangkup di dadanya.
Ini gawat. Pura-pura tidur akan diganggu terus seperti ini atau bangun sekalian dan hadapi si Bedebah ini? Andara mulai panik. Saat Buana akan meremas pelan miliknya, Andara pura-pura mengulet dan mengucek mata. Sebenarnya dia gemas sekali dan ingin meneriaki cowok itu maling biar dibakar warga. Namun, mengingat Buana masuk memakai kunci, rasa-rasanya meneriakkan maling hanya akan mempermalukan diri sendiri.
Buana membalikkan badannya agar menghadap cowok itu. Sambil menyelipkan rambutnya ke belakang telinga, Buana bertanya lagi, "Capek, ya? Nyenyak banget tidurnya."
Setan memang tugasnya mengganggu manusia, sih, ya! Andara menarik napas dan mengangguk. Dia mulai menutup matanya lagi, malas harus meladeni Buana.
"Aku kangen."
Bodo am...
Makian diam-diam itu terhenti karena Buana sudah menarik dagunya dan mulai menciumi di seluruh wajah, mulai dari kening, kedua mata, hidung, pipi, dagu dan berakhir di bibir. Tubuh cowok itu semakin rapat, membawa Andara ke dalam pelukannya.
"Ra," panggil Buana lagi, membuat mata Andara membuka. Cowok itu menatap matanya. "Kok nggak dibalas?"
Alis Andara terangkat tidak mengerti.
"Tadi pagi, kamu balas ciuman aku. Sekarang kok enggak?" desis Buana. "Karena sudah ada Kin? Karena ciuman Kin lebih jago?!"
Tatapan itu merajamnya. "Iya, 'kan?"
"Lo bisa diam, nggak?! Gue ngantuk!"
Buana tertawa lirih sembari berdengkus. "Andara yang kukenal nggak pernah ngantuk kalau lagi berduaan."
Itu dulu, Taik Babì. Ah, rasanya enak sekali mengumpat seperti itu ke depan Buana. Jika tidak ingat rencana bergerilyanya, ribuan hinaan sudah akan Andara hadiahkan buat Buana seorang.
"Gue ngantuk!" keluh Andara sembari berpura-pura menguap.
Cowok itu mulai tersenyum. Senyum yang dulu pernah Andara suka dan pernah menyejukan jiwanya. Senyum yang tidak dia sukai lagi karena ternyata bukan diberikan kepada dia seorang tetapi juga kepada Nina. "Aku tahu gimana bikin kamu nggak ngantuk lagi."
Tangan Buana kembali merengkuhnya. Bibir cowok itu mulai membelai muka, telinga dan leher Andara, mengecup rahangnya dengan ciuman kecil yang menjalar turun. Tentu Andara tahu apa yang dimau Buana. Apalagi ketika napas cowok itu terdengar semakin memberat dan Buana terus memanggilnya dengan nada membujuk seperti anak meminta permen.
"Buan." Andara kembali membuka mata. Dia menarik tangan Buana, membimbing tangan itu untuk menyentuh belakangnya, seakan memberi tahu kalau saat ini celana dalamnya lebih tebal dari biasa. Raut muka Buana berubah. Cowok itu tahu apa maksudnya. Tidak sia-sia tadi sebelum tidur dia membekali diri dengan memasang pembalut yang sudah ditetesi Betadine. Kalau Buana ingin bukti sekalipun, ia dengan santai akan membuka celana dalam dan menunjukkannya. Laki-laki mana mengerti dengan darah haid. "Gue lagi dapat."
Selamat!
Buana menarik badannya mundur, berdecak sambil mengacak rambutnya. Muka cowok itu tampak frustasi, membuat Andara terkekeh dalam hati.
Mampus lo!
"Ra," bisik Buana kembali mendekat. "Tapi masih ada cara lain, 'kan?"
keep on writing yaaa.. pasti bisa jadi one of the best Indonesian author deh, yaqiinn.. thank you for sharing this roller coaster story of Andara, Buana dan Kin :)