Novel ini berdasarkan kisah nyata.
Nama tokoh, nama tempat, atau nama daerah sudah diganti demi menjaga kerahasiaan identitas asli.
Apabila terdapat kesamaan nama tokoh, tempat, laku tirakat tertentu, profesi tertentu, atau latar daerah tertentu dengan para pembaca semua, mohon dimaklumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERTAMA KALI DALAM HIDUPKU
Aku terpaku, diam, tak bisa kugerakkan tubuhku. Dan mulutku seakan terkunci saat melihat sosok itu di hadapanku.
Aku ingin bersuara, seperti ingin bertanya, siapa dia?
Namun tak kuasa kugerakkan mulutku. Hanya terdiam, terasa seperti dikunci dengan paksa.
Sedetik kemudian sosok itu perlahan menolehkan kepalanya. Perlahan ia menoleh ke belakang. Dan betapa terkejut dan herannya, aku melihat wajahnya yang pucat pasi. Wajahnya sama persis dengan wajahku!
Dan sosok itu tersenyum dingin dengan tatapan halus namun terasa seperti tajam menusuk.
Kemudian sosok itu berdiri pelan-pelan. Aku hanya bisa menatapnya dengan tubuh dan mulut yang kaku sembari terduduk. Ia berjalan perlahan mendekat kepadaku. Tubuhku terasa mulai lemas. Dan ketika sosok itu sudah cukup dekat, ia perlahan duduk di hadapanku. Dan kedua tangannya bergerak ingin menyentuh pundakku.
Tapi, aku melihat kedua tangan itu pucat pasi, dengan kukunya yang hitam. Dan saat ia hampir menyentuh pundakku...
"Bu! Bu Nisa! Kenapa Bu?!"
Aku terkejut, seperti tersadar, dan seketika sosok itu berubah menjadi sosok Hanum. Ia menggoyangkan pundakku, dengan penuh rasa heran melihatku. Dan terengah-engah nafasku.
"Astaghfirulloohal 'azhiim... Astaghfirulloohal 'azhiim... Ha-Hanum?!"
Ucapku seketika saat mulutku kembali dalam kendali. Segera aku memegang tangan Hanum. "Ibu... Ibu gak apa-apa Num... Ibu gak apa-apa..." Jawabku sambil gemetar kedua tanganku.
Dan aku segera dikerumuni murid-muridku. Mereka saling memandang dengan penuh rasa heran. Saling bertanya apa yang terjadi pada diriku barusan....
--------------------
Singkat waktu, aku diajak oleh anak-anak menuju ke rumah Ustadz Furqon. Dan di sana aku disambut dengan heran namun lemah lembut oleh istrinya, Bu Fatimah. Aku diberikan air putih dan ditenangkan oleh Bu Fatimah yang duduk di sebelahku.
Bu Fatimah bertanya kepada anak-anak apa yang terjadi sebenarnya. Dan mereka pun menjawab seperti yang mereka lihat. Aku seperti ketakutan, gemetar, dan tak mampu bicara apalagi bergerak. Hanya terduduk di belakang mereka yang selesai sholat. Kemudian Bu Fatimah menyuruh anak-anak untuk segera pulang ke rumah masing-masing, tak lupa juga berpesan untuk hati-hati di jalan, dan jangan sampai ada yang bermain dahulu. Karena waktu juga sudah hampir jam 5 sore.
"Pokoknya ingat pesan Ibu ya, kalian harus langsung pulang ke rumah. Jangan ada yang main atau keluyuran. Udah sore." Ucap Bu Fatimah, disusul anak-anak menjawab, dan mereka satu persatu mencium tangan Bu Fatimah untuk pamit pulang.
Bu Fatimah segera menghampiriku, dan kembali duduk di sebelahku yang masih cukup lemas setelah apa yang kualami barusan di pendopo.
"Nis, kamu kenapa?" Tanyanya kepadaku. Namun aku seperti enggan untuk menjawab yang sebenarnya. Aku tak ingin membuat Bu Fatimah menjadi khawatir, atau malah menjadi takut.
"Gak apa-apa Bu, Nisa... Gak apa-apa kok..." Jawabku mencoba menenangkan Bu Fatimah.
"Kalo kamu gak apa-apa, masa iya anak-anak sampe panik? Tadi Farhan sama Haris sampe lari loh ke sini, katanya kamu kayak ketakutan gitu." Bu Fatimah jelas saja seperti tak yakin dengan jawabanku. Ditambah juga ekspresi atau kepanikan Farhan dan Haris. Namun lagi-lagi, aku enggan menceritakan kejadian yang sebenarnya. Aku pun merasa takut, sekaligus heran dengan apa yang aku lihat.
Aku malah bertanya-tanya dalam pikiranku sendiri. Apakah yang aku lihat itu nyata? Atau hanya halusinasi semata? Kenapa wajah sosok perempuan bermukena lusuh itu sangat mirip dengan wajahku?
"Nis? Nisa? Nisa?!" Bu Fatimah memecah lamunanku.
"Kok malah ngelamun sih?" Tambahnya.
"Eh, gak apa-apa kok Bu Fatimah, beneran, saya gak apa-apa." Jawabku sambil tersenyum yang terasa berat di kedua bibirku.