Sheila Adalah Gadis Cantik Dengan Kepribadian Bar-Bar Dan Ceria Yang Menjalani Kehidupan Remajanya Dengan Penuh Warna. Namun, Warna Itu Memudar Sejak Ia Mengenal Devano, Seorang Laki-Laki Tampan Bertangan Dingin Yang Memiliki Kendali Penuh Atas Hati Sheila. Selama Dua Tahun Menjalin Hubungan, Sheila Selalu Menjadi Pihak Yang Mengalah Dan Menuruti Segala Keinginan Liar Devano, Meskipun Cara Berpacaran Mereka Sudah Jauh Melampaui Batas Kewajaran Remaja Pada Umumnya.Selama Itu Pula, Sheila Mati-Matian Menjaga Satu Benteng Terakhir Dalam Dirinya, Yaitu Kehormatan Dan Keperawanannya. Namun, Devano Yang Manipulatif Mulai Menggunakan Senjata Janji Suci Dan Masa Depan Untuk Meruntuhkan Pertahanan Tersebut. Devano Memberikan Pilihan Sulit Menyerahkan Segalanya Sebagai Bukti Cinta Atau Kehilangan Dirinya Selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Devano masih bersimpuh, menundukkan kepalanya hingga menyentuh lantai rumah sakit yang dingin. Tamparan Bunda Rini tidak ada apa-apanya dibandingkan rasa sakit yang mencabik dadanya saat mengetahui bahwa Sheila dan anaknya berada di ambang kematian karena kesalahannya.
"Maafkan saya, Bunda... Maafkan saya," suara Devano terdengar parau dan tercekik isak tangis. "Bunuh saya jika itu bisa mengurangi sakit hati Bunda, tapi saya mohon... biarkan saya menyelamatkan anak itu!" Rini tidak breaksi apa-apa ia melenggang pergi meninggalkan Devano, ia menuju ruangan Sheila.
Tuan Narendra berdiri diam menatap putranya yang merendahkan diri di depan orang biasa. Ia melangkah maju, sepatu pantofelnya mengeluarkan suara menegangkan di lantai sunyi itu.
"Bangun, Devano! Jangan mempermalukan nama Narendra hanya demi wanita dan janin lemah itu!" ucap Tuan Narendra dengan nada merendahkan.
Devano mendongak, matanya merah dan penuh kilatan amarah yang kini bercampur dengan air mata. "Nama Narendra sudah busuk sejak Papa menggunakan kekuasaan untuk menindas wanita hamil! Pergi dari sini, atau aku akan melakukan sesuatu yang membuat Papa menyesal pernah memiliki aku sebagai putra!"
Tuan Narendra menyempitkan matanya, menyadari bahwa Devano benar-benar sudah di luar kendalinya. Tanpa kata, ia berbalik dan pergi bersama para pengawalnya, meninggalkan aura cekam yang perlahan mulai memudar.
Setelah kepergian Tuan Narendra, Risma melangkah mendekat. Ia merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan sebuah benda kecil berwarna hitam—lensa kamera yang dicabut paksa oleh Sheila sebelum ia pingsan.
"Vano... lihat ini!" suara Risma bergetar. Ia melemparkan lensa kamera itu ke depan Devano. "Sheila menemukan ini di jam dindingnya. Dia juga menemukan foto-foto dirinya saat sedang tidur. Dia merasa seperti binatang di dalam kandang, Vano! Dia hancur karena merasa kamu melecehkan privasinya!"
Devano tertegun melihat lensa kecil itu. Jantungnya seakan berhenti berdetak. "Aku... Aku cuma mau pastiin dia aman, Ris. Aku gak maksud—"
"Aman?!" potong Risma dengan sinis. "Dia masuk ke ruang operasi sambil mengutuk namamu, Vano! Dia bilang dia menyesal pernah mencintaimu! Kamu bukan melindunginya, kamu sedang membunuhnya secara perlahan dengan dalih caramu menjaganya!"
Devano meraih lembaran foto-foto yang tercecer di lantai. Tangannya bergetar hebat saat membalikkan foto tersebut. Ia tertegun membaca tulisan tangan yang begitu ia kenali—gurat tulisan Tuan Narendra yang dingin dan tajam.
"Monster kecil itu tidak boleh lahir ke dunia ini."
Darah Devano serasa berhenti mengalir. Ia menyadari bahwa selama ini papanya tidak hanya mengawasi, tetapi juga melakukan sabotase psikologis terhadap Sheila dengan mengatasnamakan dirinya. Kamera itu, foto-foto itu, semuanya dirancang agar Sheila membenci Devano sedalam mungkin.
" Aku tidak ingin membiarkan kamu pergi lagi, Sheila. Maafkan aku," ucap Devano dengan suara tercekik sambil menatap sayu ke arah ruangan di mana Sheila sedang berbaring, ditemani oleh Bunda Rini yang terus terisak.
Devano melangkah dengan berat menuju ruang NICU. Di balik kaca besar, ia melihat sosok bayi mungil berjenis kelamin laki-laki yang begitu rapuh di dalam inkubator. Anak itu terlihat sangat kecil, dengan kulit kemerahan dan berbagai selang yang membantunya bernapas.
"Maafkan Daddy, Nak..." bisik Devano sambil menempelkan telapak tangannya pada kaca dingin yang memisahkan mereka. "Daddy ingin menjagamu, tapi Daddy malah menjadi alasan kamu harus berjuang seperti ini bahkan sebelum kamu melihat dunia."
Air mata Devano jatuh membasahi pipinya. Ia melihat detak jantung di monitor yang masih belum stabil. Ia menyadari bahwa papanya benar-benar ingin memutus garis keturunannya hanya demi sebuah reputasi dan kekuasaan.
Devano berpaling dari kaca dan menatap dua orang keamanan pribadi yang baru saja tiba—orang-orang kepercayaannya yang tidak bisa disuap oleh Tuan Narendra.
"Jaga ruangan ini! Jangan biarkan satu orang pun masuk, termasuk Papa saya sendiri! Jika ada yang mencoba menyentuh anak saya atau Sheila, jangan ragu untuk bertindak!" perintah Devano dengan nada yang sangat dingin dan tegas.
"Siap, Tuan Muda!" jawab mereka serempak.
Devano kembali ke depan ruangan Sheila. Ia tidak berani masuk karena tahu kehadirannya hanya akan memperburuk keadaan. Ia duduk di kursi koridor, menutup wajahnya dengan kedua tangan. Di dalam sana, ia mendengar suara Bunda Rini yang sedang membisikkan doa.
Ia mengeluarkan ponselnya, mengetik sesuatu kepada Risma yang masih berada tak jauh dari sana:
"Ris, tolong temani Sheila. Jangan biarkan dia tahu aku di sini jika itu membuatnya tertekan. Aku akan menjaga mereka dari balik pintu ini. Aku tidak akan pernah membiarkan Papa menyentuh mereka lagi."
Tanpa ia sadari, di dalam ruangan, jemari Sheila mulai bergerak sedikit. Matanya yang masih tertutup rapat seolah sedang berusaha keluar dari mimpi buruk tentang kamera dan mata-mata tak terlihat.
Mata Sheila perlahan terbuka, namun tidak ada cahaya kehidupan di dalamnya. Ia menatap langit-langit putih rumah sakit dengan tatapan yang kosong dan dingin. Suara monitor jantung yang berbunyi statis seolah menjadi satu-satunya hal yang menemaninya di tengah kesunyian batinnya.
Bunda Rini, yang sejak tadi menggenggam tangan putrinya, langsung terlonjak saat melihat kelopak mata Sheila bergerak. Wajah Bunda sangat sembab. ia baru saja mengetahui seluruh kenyataan dari Risma tentang kehamilan dan penderitaan Sheila di kota seberang.
"Nak! Kamu sudah bangun, Sayang," isak Rini sambil menciumi tangan Sheila yang terasa sangat dingin. "Kenapa tidak memberitahu Bunda? Kenapa kamu simpan ini sendirian? Kamu hamil, Sayang... dan Bunda baru tahu sekarang."
Sheila tidak menjawab. Ia bahkan tidak menoleh ke arah bundanya. Ingatannya kembali pada lensa kamera kecil di balik jam dinding dan foto-foto kejam yang dikirimkan ayah Devano. Rasa dilecehkan itu masih sangat segar, menghancurkan seluruh rasa aman yang tersisa di hartinya.
"Maafkan Sheila, Bun..." suara Sheila terdengar begitu kering dan parau. Ia masih menatap lurus ke depan. "Sheila hanya ingin melindungi Bunda dari rasa malu. Tapi ternyata, dunia ini terlalu jahat untuk orang seperti kita."
"Jangan bicara begitu, Nak! Bunda tidak malu. Bunda hanya sedih karena kamu berjuang sendiri di tengah monster-monster itu," ucap Rini sambil terus menangis, meratapi nasib putrinya yang kini tampak begitu terasing.
Tiba-tiba, tangan Sheila bergerak refleks menyentuh perutnya yang kini terasa kosong dan rata. Matanya yang tadi dingin seketika berubah menjadi ketakutan yang luar biasa.
"Bun... di mana dia?" suara Sheila mulai bergetar. "Anak Sheila... di mana?!"
Bunda Rini tertegun. Ia bingung harus menjawab apa karena kondisi sang bayi yang masih sangat kritis di ruang inkubator. Sebelum Bunda sempat menjawab, pintu ruangan sedikit terbuka.
Dari celah pintu tersebut, Sheila melihat sosok pria berdiri di sana. Meski hanya bayangan, Sheila mengenali postur tubuh itu. Itu adalah Devano.
Seketika, tubuh Sheila menegang dan napasnya menjadi pendek-pendek. Trauma tentang kamera dan pengintaian itu kembali menyerang. "Suruh dia pergi, Bun! Suruh dia pergi!" teriak Sheila histeris hingga alat medis di sampingnya berbunyi keras.
"Sheila, tenang Sayang! Ini rumah sakit!" Bunda Rini berusaha menenangkan.
"DIA MELIHATKU, BUN! DIA SELALU MELIHATKU DARI BALIK DINDING! AKU TIDAK MAU LIHAT DIA!" jerit Sheila sambil menutup telinganya dan meringkuk. Ketakutan hebat melanda dirinya saat menyadari bahwa Devano masih ada di sekitarnya.
Devano yang berada di luar pintu tertegun mendengar teriakan histeris Sheila. Ia ingin masuk dan memeluknya, ingin memohon maaf hingga napasnya habis, namun ia tahu bahwa kehadirannya sekarang adalah racun terburuk bagi kesembuhan Sheila.
Devano melangkah mundur, air matanya jatuh menetes ke lantai koridor. Ia bersandar di dinding, merasakan dadanya sesak seolah dihantam gada besar. "Maafkan aku, Sheila... maafkan aku yang sudah menjadi mimpi burukmu," bisiknya putus asa di balik pintu tertutup.
Dia pakai tangan kosong aku pakai kapak/Doge/