Floryn menemukan suaminya selingkuh di rumah mereka sendiri. Rasa sakit hati membuatnya ingin meninggalkan laki-laki itu dengan segera. Sayang, Floryn terlalu takut untuk kehilangan kenyamanan hidup yang selama ini diberikan oleh sang suami. Apalagi, satu-satunya anak yang mereka miliki masih kecil dan memerlukan figur lengkap orang tuanya.
Floryn memang bisa bertahan di dalam pernikahan itu demi Alvin—sang buah hati—meski tidak lama. Pada akhirnya ia menyerah. Floryn memutuskan untuk menceraikan Enrik dan mendapatkan hidup yang lebih baik.
Sayangnya, untuk mencapai kebebasan itu, Floryn menghadapi banyak hal yang membuatnya terpuruk berkali-kali. Belum lagi dengan Enrik yang pandai memutarbalikkan fakta. Akankah semua berjalan dengan baik?
Note: Tulisan ini tidak mewakili individu atau instansi manapun. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat, dan lain-lain, hal itu bukan suatu kesengajaan. Semua hal di dalam tulisan ini bersifat fiktif, murni hasil halu penulis saja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mayanov, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alvin Hilang!
Setelah melewati pintu tol, akhirnya Enrik bilang ke mana tujuan mereka siang ini. Floryn sedikit kecewa dengan pilihan tempat yang akan mereka datangi. Karena, kemarin Floryn berpikir jika mereka akan piknik di tempat seperti taman atau pantai. Mereka akan gelar tikar dan makan bekal yang sudah dibuat oleh Mira.
“Beneran banyak mainan, Yah?” Alvin kembali bertanya untuk yang kesekiankalinya.
“Iya … Ayah tidak bohong. Kalau tidak percaya, Alvin bisa minta Bunda untuk memperlihatkan fotonya …,” terang Enrik dengan pandangan fokus ke arah depan. Sebenarnya, ia bahkan tidak boleh bicara saat menyetir.
“Bun! Apakah di sana ada lego?” tanya Alvin pada bundanya yang duduk di depan.
“Iya, Nak. Namanya Museum Of Toy. Artinya museum mainan. Pasti semua jenis mainan ada di sana …,” sahut Floryn.
Anak itu kembali tersenyum bahagia. Untuk sejenak, Floryn juga merasa senang karena Enrik berhasil membuat anak mereka bahagia. Setidaknya, tidak semua orang merasa tersakiti.
***
Setelah setengah jam perjalanan, mereka sampai di tempat yang dimaksud. Ternyata, untuk bisa masuk ke dalam sana, mereka harus membeli tiket terlebih dahulu. Karena sudah akhir pekan, antriannya lumayan panjang.
“Seharusnya kita beli tiket online saja kemarin …,” kata Enrik yang terlihat tidak menyangka dengan antrian panjang di depan mereka.
“Jadi bagaimana?” tanya Floryn yang juga merasa bingung dan khawatir jika acara mereka gagal.
“Kita tidak mungkin pergi dari sini. Alvin pasti tidak akan diam saja. Kalau begitu, kalian tunggu di sini, aku akan mengantri untuk mendapatkan tiketnya, bagaimana?” tanya Enrik ayng sepertinya sudah tidak punya pilihan lain.
“Ya, aku rasa itulah jalan satu-satunya. Kalau begitu, kami tunggu di sini saja, ya …,” kata Floryn.
Enrik mengangguk dan turun dari mobil. Alvin yang melihat ayahnya pergi tanpa mereka, langsung saja memborbardir Floryn dengan berbagai pertanyaan.
“Bun … kenapa ayah tidak mengajak kita?” tanyanya dengan pandangan yang tidak lepas dari sang ayah.
Di situ Floryn malah membayangkan jika nanti ia harus berpisah dengan Enrik. Bagaimana jika Alvin lebih memilih ayahnya ketimbang ia? Ketakutan itu cukup membuatnya gentar. Apa ia memang harus melaporkan perselingkuhan suaminya kepada sang mertua?
“Buuuun …,” rengek Alvin yang tidak mendapat jawaban dari bundanya.
“Kita tunggu di sini dulu, ya … ayah akan membeli tiket agar kita bisa masuk. Kalau tidak ada tiket, kita tidak bisa masuk ke dalam sana …,” terang Floryn dengan lembut. Ia ingin anaknya paham dan merasa baik-baik saja.
Alvin mengangguk. Untungnya anak itu mengerti dan kembali terlihat ceria. Ia mengambil sebuah mainan berbentuk gajah dari belakang jok mobil dan memainkannya sendiri.
Floryn terus mengawasi anaknya dari pantulan kaca spion. Netra Floryn juga tidak sengaja menangkap bayangan tas piknik yang disiapkan Mira tadi pagi. Mereka tidak mungkin masuk dengan membawa makanan. Dan jika makanan itu tidak segera di makan, pasti rasanya tidak akan enak lagi.
Jadi, Floryn memutuskan untuk memberikan makanan itu kepada orang-orang di sekitar sana. Sepertinya tadi ia melihat ada beberapa tukang sapu jalanan dan tukang parkir yang sedang bekerja.
Floryn membuka pintu mobil dan turun dari sana. Tanpa menunggu lama, ia membuka pintu belakang dan menurunkan keranjang piknik miliknya.
“Kita mau ke mana, Bun?” tanya Alvin saat Floryn juga menurunkannya dari dalam mobil. "Ayah belum datang ...."
“Kita akan memberikan makanan ini kepada om dan tante yang ada di sana,” terang Floryn seraya menunjuk ke arah beberapa tukang sapu.
“Kenapa, Bun? Nanti kita makan apa?” tanya Alvin bingung.
Floryn tersenyum dan mengelus rambut Alvin dengan lembut. “Makanan ini untuk mereka saja. Kita tidak boleh membawanya masuk ke dalam. Nanti, di dalam ada tempat makan juga. Alvin bisa makan di sana kalau lapar,” terang Floryn.
Alvin membulatkan mulutnya. Menandakan jika ia baru saja paham.
Floryn dan Alvin meninggalkan mobil yang telah dikunci. Alvin mengikuti langkah Floryn kemana pun wanita itu bergerak. Floryn mulai membagi-bagikan semua bungkusan roti lapis yang dibuat Mira. Begitu juga dengan buah-buahan yang sudah dipotong-potong dan siap untuk dimakan.
Setelah semuanya habis, Floryn berpaling untuk membawa anaknya kembali ke mobil. Akan tetapi, ia malah tidak bisa menemukan Alvin dimanapun.
“Loh? Alvin? Kamu dimana, Nak?” tanya Floryn dengan suara lantang.
Hal itu membuat orang-orang yang ada di sana berpaling. Floryn semakin panik karena anaknya itu tidak muncul juga, bahkan setelah Floryn memanggilnya berkali-kali.
“Kenapa, Mbak?” tanya seoorang tukang sapu yang tadi Floryn berikan roti isi.
“Anak saya, Pak! Apa kalian melihatnya?” tanya Floryn bingung. Ia buru-buru mengelurakan ponselnya untuk memperlihatkan foto Alvin yang diambil tadi siang, sebelum mereka pergi dari rumah.
Akan tetapi, orang-orang itu hanya menggeleng. Namun, kemudian ada satu orang yang mendekati Floryn dan memperhatikkan foto di dalam ponsel itu dengan lebih teliti.
“Anak ini tadi mengejar seorang laki-laki dengan baju berwarna biru langit bertuliskan ‘Daddy’. Saya sempat menyapanya, tapi ia tidak peduli,” terang orang itu.
Floryn terdiam. “Itu kan baju yang dikenakan Mas Enrik ….”
Bersambung.