Naoto Raiden, seorang tentara yang tewas dalam konspirasi militer, bereinkarnasi ke masa perang klan di dunia Naruto sebagai bagian dari keluarga Senju. Namun, identitas aslinya jauh lebih agung: ia membawa darah murni Otsutsuki beserta mata Tenseigan yang legendaris.
Memilih untuk hidup santai namun tetap melindungi keluarga angkatnya, Raiden tumbuh sebagai kakak dari Hashirama dan Tobirama. Setelah melewati hibernasi panjang demi berevolusi di planet asing dan mengalahkan Momoshiki, ia kembali ke era Naruto dengan kekuatan yang melampaui dewa. Kini, dengan identitas sebagai suami Tsunade dan mentor rahasia bagi Naruto, Raiden bergerak di balik bayang-bayang untuk membersihkan Konoha dari kegelapan dan menghadapi ancaman klan Otsutsuki yang mulai mengintai bumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Orpheus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
unknown
Setelah duduk sekian lama dalam keheningan tanpa ada yang memulai pembicaraan, Raiden akhirnya berdiri. Ia melangkah keluar, hendak menuju makam Hashirama. Sementara itu, Tsunade masih duduk terdiam; pikirannya terus berputar mengingat kejadian tak terduga antara dirinya dan Raiden tadi.
Raiden menghela napas panjang. "Haahh... Hei, Gadis Kecil! Sampai kapan kau ingin melamun seperti itu? Cepat ikuti aku!"
Raiden kembali berjalan. Tsunade tersentak, lalu berlari kecil mengekor di belakangnya. Sesampainya di area pemakaman Hashirama, Raiden menyuruh Tsunade untuk menunggunya sebentar. Tanpa penjelasan lebih lanjut, Raiden melesat pergi menuju kantor Hokage.
Tok... Tok... Tok...
"Masuklah. Ada apa?" sahut Hiruzen dari dalam.
Raiden memasuki kantor Hokage dan tanpa basa-basi langsung mengutarakan tujuannya. "Yoo, Hiruzen! Berikan aku gulungan jutsu terlarang yang dibuat oleh Tobirama."
Hiruzen sedikit mengangkat alisnya. Baru kali ini ada orang yang memanggil namanya secara langsung dengan begitu santai. Namun, ia sadar bahwa di depannya adalah sosok yang ikut andil dalam pembangunan Konoha dan jauh lebih senior darinya.
"Haaah... Untuk apa Anda meminta gulungan tersebut?" tanya Hiruzen ragu.
"Tidak usah banyak tanya. Jika kau tidak mau memberikannya, aku akan mengambilnya sendiri!" tegas Raiden.
Hiruzen menghela napas panjang, menyadari bahwa mendebat Raiden adalah tindakan sia-sia. "Baiklah, silakan tunggu sebentar."
Raiden mengambil kursi dan duduk dengan tenang. Tak lama kemudian, Hiruzen kembali membawa beberapa gulungan jutsu dan meletakkannya di atas meja. "Silakan."
Raiden memeriksa gulungan itu satu per satu. Namun, di luar dugaan Hiruzen, Raiden hanya mengambil satu gulungan saja.
"Aku pinjam yang ini. Tenang saja, besok akan kukembalikan," ucap Raiden.
Dalam sekejap mata, Raiden menghilang dari pandangan. Hiruzen hanya bisa terdiam sembari menggelengkan kepala. "Sebenarnya apa yang ia rencanakan? Dan jutsu apa yang ia ambil tadi?" gumamnya heran. "Ah, sudahlah. Lebih baik aku simpan kembali gulungan ini dan melanjutkan pekerjaanku. Haisss..."
Setelah meninggalkan kantor Hokage, Raiden tidak langsung kembali ke makam. Ia melesat keluar dari desa Konoha untuk mencari sesuatu. Tak butuh waktu lama bagi insting tajamnya untuk menemukan target: lima orang ninja pelarian yang tengah bersembunyi di sebuah gua buatan.
Tanpa mereka sadari, Raiden muncul di belakang mereka dan menghantam tengkuk mereka dengan keras. Lima orang itu tumbang seketika. Raiden hanya mengambil dua orang di antara mereka sebagai tumbal, lalu melesat kembali ke tempat Tsunade menunggu.
Di makam Hashirama, Tsunade tampak mondar-mandir gelisah sembari menyilangkan tangan di depan dada. "Kenapa lama sekali?! Apa maksudnya menyuruhku menunggu di sini sendirian?!"
Tiba-tiba, ia terkejut mendapati Raiden sudah berdiri di sampingnya sembari membawa dua orang asing yang tak sadarkan diri. "Siapa mereka? Kenapa kau membawa mereka ke sini?"
Raiden tidak menjawab. Ia fokus membaca gulungan yang ia ambil dari Hiruzen. Dengan kecerdasan jeniusnya, Raiden langsung memahami cara kerja teknik tersebut dalam waktu singkat. Ia kemudian merapal segel tangan, memanggil peti mati milik Hashirama dan Mito ke permukaan.
Raiden menggambar pola rumit di tanah, meletakkan dua tawanan tadi di tengah lingkaran besar, lalu mengambil sampel rambut dari jenazah Hashirama dan Mito. Ia juga menyiapkan gulungan kosong dan menggambar segel pengikat yang sangat kompleks.
Tsunade hanya bisa menonton dengan mata menyipit, berusaha memahami apa yang sedang dilakukan pria itu. Raiden kemudian menempelkan helai rambut tersebut pada gulungan segel dan meletakkannya di pusat pola.
"Edo Tensei no Jutsu!"
Seketika, pola lingkaran itu bersinar terang. Debu dan kertas mulai menyelimuti tubuh dua tawanan tersebut, hingga akhirnya terbentuklah sosok Hashirama Senju dan Mito Uzumaki. Tsunade terbelalak, tak kuasa menahan air mata yang mulai jatuh.
"Hmmm? Kenapa aku ada di sini?" Hashirama kebingungan, lalu menoleh ke samping dan mendapati istrinya. "Heeeeee?! Mito-chan?!"
"Ara-ara, Sayang. Hentikan tingkah konyolmu itu. Lihat siapa yang ada di sana," ucap Mito sembari tersenyum lembut ke arah Tsunade.
"Ka-kakek... Ne-nenek... hiks... hiks..." tangis Tsunade pecah.
Raiden menghela napas. "Hah, dramatis sekali," gumamnya pelan.
Hashirama mendekati cucunya. "Tsuna? Hahahaha! Kau sudah besar ternyata. Bagaimana? Apakah kemampuan judimu ada kemajuan? Hahaha!" Hashirama tertawa lepas sembari menepuk-nepuk pundak Tsunade.
Mito sedikit geram dengan suaminya, namun perhatiannya teralih pada sosok asing di samping Tsunade yang memancarkan aura hitam pekat yang mengintimidasi.
"Ehhh?" Hashirama ikut menoleh ke samping.
Di sana berdiri Raiden yang sedang meremas jari-jari tangannya dengan wajah gelap. "Yooo! Adikku yang bodoh! Lama tidak bertemu. Aku sangat merindukanmu... hehehe."
BAMMMM!
Raiden menghantam kepala Hashirama hingga adiknya itu terpental ke belakang Mito. "Dasar idiot! Bisakah kau bersikap sedikit berwibawa?! Hah?! Aku heran kenapa gadis Uzumaki ini bisa menyukaimu!"
Hashirama yang melihat Raiden murka langsung menggigil ketakutan. Ia berjongkok di belakang Mito sembari memegangi kakinya. "Hikksss... Mito-chan, selamatkan aku!"
Tsunade yang tadinya terharu langsung mengernyitkan dahi. Ia baru tahu bahwa kakek yang selama ini ia idolakan ternyata bisa bersikap se-ciut itu di depan kakaknya.
Mito menggelengkan kepala melihat kelakuan suaminya. "Jadi... sebenarnya siapa Anda, Tuan? Kenapa Hashirama tidak pernah menceritakan tentang Anda padaku?"
Hashirama bangkit berdiri dengan canggung. "Ekhem! Perkenalkan, dia adalah kakakku. Untuk lebih jelasnya... hmmm, Kak, silakan perkenalkan dirimu sendiri, ahahaha!"
Raiden mendengus. "Cih... Namaku Raiden Otsutsuki. Dan jangan tanya kenapa margaku berbeda, aku bukan kakak kandung si bodoh ini."
Mito sedikit terkejut mendengar nama "Otsutsuki", namun ia segera bersikap sopan. "Salam, Kakak Ipar."
"Hmmm," Raiden mengangguk singkat. "Sebelumnya maaf aku membangkitkan kalian. Hal ini kulakukan karena ada sesuatu yang ingin cucu kalian utarakan."
Raiden memberi isyarat agar Tsunade berbicara.
"Ehh? Ba-baiklah. Ja-jadi begini Kakek, Nenek... sebenarnya aku... aku..." Tsunade mendadak gugup.
"Ada apa, Tsuna? Tidak biasanya kau segugup ini," ucap Mito lembut.
Tsunade mengambil napas dalam-dalam. "Sebenarnya, aku ingin menikahinya!" serunya sambil menunjuk Raiden. "Tapi dia adalah kakak dari Kakek... ja-jadi, apakah boleh?"
Mito dan Hashirama saling bertatapan sejenak. "Ahahahahaha! Kau yakin ingin menikahinya?" goda Hashirama.
Raiden menatap tajam ke arah adiknya, membuat tawa Hashirama terhenti seketika. "Ekhem! Maksudku, tidak apa-apa jika kau memang sungguh mencintainya. Kami berdua setuju-setuju saja. Ya kan, Mito-chan?"
Mito mengangguk dan tersenyum tulus. Mereka berempat kemudian duduk bersama, membahas masa lalu dan keadaan desa saat ini. Namun sebelum pembicaraan berlanjut lebih jauh, Raiden terlebih dahulu mengembalikan peti mati kosong milik mereka ke tempat asalnya agar tidak mengundang kecurigaan.