Lima tahun yang lalu dia mengubah identitasnya, membuang jauh masa lalunya karna rasa kecewa pada suaminya.
Dan kini di saat dua buah hatinya menanyakan sang ayah, apakah yang akan di lakukan ALEA, akankah dia berkompromi pada hatinya demi kebahagian buah hati tercinta. Atau dia mengabaikan demi gengsi dan harga dirinya walau sebenarnya dia masih sangat mencintai pria tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvi Barta Jadul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Konferensi pers
"Mom sedih ?" tanya Aiden melihat air mata yang mengalir di pipi ibunya.
"Tidak sayang" jawab Leea sembari menghapus air matanya.
"Lalu mengapa Mom menangis ?" tanya Aiden lagi, bocah kecil itu penasaran mengapa ibunya mengeluarkan air mata saat melihat tayangan di televisi.
"Mom menangis karna bahagia sayang" jawab Leea.
"Sekarang Aiden sudah bertemu dengan Daddy. Apa Aiden tidak bahagia ?" tanya Leea kemudian.
"Aiden bahagia Mom, sangat bahagia. Akhirnya Aiden bisa bilang pada semua teman teman kalau Aiden dan Zeline punya Daddy yang tampan" jawab Aiden polos.
Leea tersenyum mendengar jawaban putranya.
"Apa Daddy tampan?" tanya Leea tergelitik dengan ucapan Aiden.
"Ya, Daddy tampan tapi tentu saja Aiden lebih tampan. Buktinya teman Aiden di sekolah sering memberi Aiden coklat dan permen. Mereka bilang Aiden yang paling tampan di sekolah" celoteh Aiden.
Lagi lagi Leea tersenyum mendengar jawaban putranya. Selama ini memang setiap pulang sekolah Aiden selalu membawa beberapa coklat dan permen pemberian dari para penggemarnya. Aiden memang selalu menerima pemberian tersebut tapi dia jarang sekali memakannya. Kebanyakan coklat dan permen tersebut berakhir di dalam perut Zeline yang selalu mendapat untung dari pemberian para penggemar kakaknya tersebut.
"Sekarang Aiden istirahat, besok Aiden sudah bisa pulang ke rumah" ucap Leea yang telah mendapat hasil tes Aiden ternyata tidak ada masalah.
Aleea merebahkan tubuh Aiden kemudian menyelimutinya. Tak lupa dia memberikan kecupan di kening putranya tersebut.
"Mom" panggil Aiden.
"Ya sayang" jawab Leea.
"Apa Daddy tinggal bersama kita ?" tanya Aiden.
Leea terdiam mendengar pertanyaan Aiden, dia bingung harus menjawab apa. Hari ini pertama kalinya setelah lima tahun dia bertemu dengan Ziga. Walau sikap Ziga baik dan dapat menerima kehadiran buah hatinya tetapi Leea masih belum bisa memaafkan kesalahannya lima tahun lalu. Akan tetapi Leea juga tidak dapat berfikir egois, dia masih harus mempertimbangkan perasaan kedua buah hatinya. Apa lagi kedua anak itu sangat senang dapat bertemu dengan Ayah kandungnya.
"Kita lihat nanti ya sayang. Aiden tahu benar kalau Daddy punya banyak pekerjaan, jadi mungkin agak susah kalau Daddy tinggal bersama kita" jawab Leea pada akhirnya, dia tidak dapat memikirkan alasan lain lagi selain pekerjaan yang membebani Ziga.
Aiden terdiam, dia merasa sedikit kecewa. Tadinya dia berharap setelah hari ini bertemu dengan ayahnya mereka dapat tinggal bersama. Tapi jawaban ibunya telah mematahkan harapannya.
Leea yang melihat perubahan ekspresi Aiden ikut merasa sedih, dia tidak tega melihat Aiden menjadi murung.
"Nanti Aiden tanyakan sendiri pada Daddy. Apakah Daddy bisa tinggal bersama kita" ucap Leea, dia memutuskan untuk menyerahkan keputusan pada Ziga. Andai kata Ziga dapat memenuhi keinginan anak anaknya dia akan rela menurutinya. Bukan berarti dia menerima Ziga kembali, Leea hanya tak ingin anak anaknya bersedih.
Aiden mengangguk cepat, dia menyetujui usul ibunya untuk menanyakan langsung pada ayahnya.
"Sekarang Aiden tidur ya !" ucap Leea.
Aiden pun menurut, dia memejamkan matanya. Tak lama dengkuran halus terdengar dari ranjang pertanda bocah kecil tersebut telah terlelap dalam tidurnya.
Tak lama setelah Aiden tertidur, ponsel Leea berdering. Sekilas Leea menatap layar ponselnya dan nama Maureen yang tertera di sana. Maureen pasti menanyakan perihal Zeline yang muncul di TV bersama ayahnya. Leea menghela nafas kemudian dia pun mengangkat panggilan dari Maureen.
"Lee, jelaskan padaku bagaimana bisa Zeline berada di televisi bersama dengan Ayahnya ?" tanya Maureen cepat tanpa basa basi lagi.
"Ya, oke. Akan aku jelaskan pelan pelan" jawab Leea. Kemudian dia pun menceritakan tentang Aiden yang sedang sakit lalu di bantu oleh Ziga untuk mendapatkan perawatan. Bahkan tentang Ziga yang telah mengetahui identitas Aiden dan Zeline juga di ceritakannya. Tak luput bagaimana Ziga meminta maaf dan memohon untuk di berikan kesempatan juga di ceritakannya secara gamblang.
"Lalu bagaimana kau menanggapinya ?" tanya Maureen setelah mendengar semua cerita Leea.
"Entahlah, aku belum memikirkannya" jawab Leea.
"Yang terpenting bagiku adalah perasaan anak anak" tambah Leea.
"Jika Ziga meminta hak asuhnya, apa yang akan kau lakukan ?" tanya Maureen khawatir, karna dia tahu sahabatnya itu takkan sanggup untuk berpisah dengan kedua buah hatinya.
"Itu takkan terjadi" jawab Leea cepat.
"Aku takkan membiarkan hal tersebut terjadi. Jika Ziga menginginkan aku kembali bersama anak anak mungkin masih bisa aku pertimbangkan. Tapi jika dia berniat merebut hak asuh dariku dan membawa anak anak pergi menjauh dariku, aku takkan tinggal diam. Aku akan melakukan apa pun asalkan anak anak tetap berada di sisiku dan merasa bahagia" ucap Leea panjang lebar.
"Ya, aku juga pasti akan membantumu jika Ziga memang berniat seperti itu. Dan lagi Demyan pasti tak akan tinggal diam jika Ziga sampai berbuat seperti itu" balas Maureen.
"Terima kasih Maureen, kau memang yang terbaik" ucap Leea terharu.
"Kau bilang tadi Aiden sakit?" tanya Maureen.
"Bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Maureen lagi.
"Aiden demam, tapi sekarang sudah tidak apa apa. Besok dia sudah bisa keluar dari rumah sakit" jawab Leea.
"Ya sudah, besok aku akan kesana" kata Maureen.
"Sekarang istirahatlah, sampaikan salamku pada si kembar" tambah Maureen.
"Oke, bye" jawab Leea.
Dia pun mengakhiri panggilan dari Maureen.
Sementara itu di hotel Ziga sedang di hadang oleh beberapa wartawan yang berusaha mencari informasi tentang siapa sebenarnya bocah kecil yang bernama Zeline Zakeisha Pratama.
Ziga akhirnya menggelar konferensi pers untuk memperkenalkan Zeline pada dunia.
Ziga yang di dampingi oleh Erik dan juga beberapa pengacara serta staf hotel telah berada di ruangan konferensi yang di penuhi oleh para wartawan. Sementara itu Zeline yang duduk di pangkuan Ziga tampak sibuk dengan lolypopnya.
"Selamat malam" sambut Erik yang memulai konferensi pers.
"Sekali lagi terima kasih atas kehadiran saudara semua di acara pembukaan ZA hotel hari ini" ucap Erik.
"Bersamaan dengan ini CEO kami pemilik dari The Rose Wood company, Tuan Ziga Rahardian Pratama akan menjelaskan beberapa hal yang mungkin telah menjadi pertanyaan di dalam benak kalian semua" ucap Erik.
"Untuk itu kami persilahkan Tuan Ziga memulai penjelasannya" tambah Erik.
"Selamat malam semuanya" sapa Ziga ramah.
"Hari ini di hadapan kalian saya akan memperkenalkan putri saya yang cantik jelita, Zeline Zakeisha Pratama" ucap Ziga.
"Bagaimana anda bisa memiliki seorang putri sedangkan menurut berita yang beredar anda telah kehilangan istri anda lima tahun yang lalu ?" tanya salah seorang wartawan yang hadir.
"Anda benar, karna sebuah kesalahpahaman istri saya telah menghilang lima tahun yang lalu" jawab Ziga tenang.
"Lalu darimana datangnya anak itu ?" tanya wartawan yang lain.
"Darimana datangnya anak ini?" balas Ziga sambil membelai rambut Zeline.
Zeline sendiri tampak tak perduli pada keadaan sekitar, dia hanya berfokus pada lolypopnya.
"Tentu saja dari ibunya, tidak mungkin saya yang mengandung anak ini" jawab Ziga yang menimbulkan gelak tawa semua yang hadir di sana.
"Maksud saya, apakah anda telah menikah lagi?" tanya wartawan itu lagi malu malu karna tadi dia mengajukan pertanyaan yang tak tepat.
"Saya tidak pernah menikah lagi dan tak akan menikah lagi" jawab Ziga.
"Saya hanya menikah sekali dan satu satunya yang menjadi istri saya adalah ibu dari anak ini" tambah Ziga.
"Sebenarnya saya mempunyai dua anak kembar, tapi anak laki laki saya kembaran dari Zeline saat ini sedang sakit" ucap Ziga.
"Untuk itu saya mohon kesediaan dari saudara semua untuk mendoakan kesembuhan putra saya" kata Ziga lagi.
"Hanya itu yang bisa saya sampaikan. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih dan selamat malam. Silahkan nikmati jamuan yang telah di sediakan" kata Ziga, kemudian dia pun membawa Zeline dalam gendongannya dan pergi meninggalkan ruangan konferensi.
Setelah keluar dari ruangan konferensi Ziga langsung menuju mobilnya. Dia bermaksud untuk kembali ke rumah sakit menemui Via
Tapi Zeline yang kelelahan tertidur di pangkuan Ziga saat perjalanan pulang.
"Kita ke rumah Via" perintah Ziga pada Erik.
Erik pun melajukan mobilnya menuju rumah Via membawa Zeline yang tengah terlelap.