NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Sang Ratu,Dari Buruk Rupa Menjadi Penguasa

Reinkarnasi Sang Ratu,Dari Buruk Rupa Menjadi Penguasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Reinkarnasi / Time Travel
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Fitrika Shanty

​Di kehidupan sebelumnya, Li Hua adalah wanita yang dihina, dikucilkan, dan dianggap "buruk rupa" oleh dunia. Ia mati dalam kesunyian tanpa pernah merasakan cinta. Namun, takdir berkata lain. Ia terbangun di tubuh seorang Ratu agung yang terkenal kejam namun memiliki kecantikan luar biasa, mengenakan jubah merah darah yang melambangkan kekuasaan mutlak.
​Kini, dengan jiwa wanita yang pernah merasakan pahitnya dunia, ia harus menavigasi intrik istana yang mematikan. Ia bukan lagi wanita lemah yang bisa diinjak. Di balik kecantikan barunya, tersimpan kecerdasan dan tekad baja untuk membalas mereka yang pernah merendahkannya. Apakah merah jubahnya akan menjadi lambang kemuliaan, ataukah lambang pertumpahan darah di istana?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitrika Shanty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ikatan Dua Nyawa

​Menara Sunyi bergetar hebat saat energi emas dari Mata Emas Li Hua berbenturan dengan aura hitam pekat yang memancar dari tubuh Selir Yue. Ruangan itu kini menjadi medan pertempuran antara cahaya murni dan sihir terlarang.

​Selir Yue tidak lagi tampak seperti manusia. Tato hitam di wajah dan lengannya berdenyut seperti pembuluh darah yang hidup, memberinya kekuatan fisik yang tidak wajar. Dengan raungan yang menyerupai binatang buas, ia menerjang ke arah Li Hua.

​"Mati kau, pencuri takdir!" teriak Yue.

​Duel Cahaya dan Kegelapan

​Li Hua mengayunkan Pedang Naga Hitam yang kini telah bersatu dengan energinya. Setiap kali pedang itu beradu dengan cakar hitam Yue, percikan energi keemasan meledak, menghancurkan pilar-pilar batu di sekeliling mereka.

​Namun, ada sesuatu yang aneh. Setiap kali Li Hua berhasil melukai Yue, Tian Long yang berdiri di sudut ruangan mengerang kesakitan dan memegangi dadanya.

​"Tian Long!" teriak Li Hua, nyaris kehilangan fokus.

​"Jangan berhenti, Li Hua!" seru Mo Ran dari balik meja altar. "Inilah risiko Penyatuan Jiwa. Karena pedang itu membagi kekuatanmu dengan tubuhnya, rasa sakit dari pertempuran ini mengalir di antara kalian berdua! Kau harus menyelesaikannya dengan cepat!"

​Ibu Suri tertawa melihat penderitaan putranya sendiri. "Lihatlah, Tian Long! Kau mati perlahan karena wanita yang kau puja! Lepaskan dia, atau kau akan binasa bersamanya!"

​Tian Long bangkit berdiri, meski peluh dingin membasahi wajahnya. Ia mengambil sebuah busur panah dan membidik pengawal Ibu Suri. "Aku lebih baik mati dalam kebenaran daripada hidup dalam penindasanmu, Ibu!"

​Retaknya Sang Pedang

​Selir Yue menyadari kelemahan ini. Ia berhenti menyerang Li Hua secara langsung dan mulai mengeluarkan kabut hitam yang diarahkan untuk mencekik Tian Long.

​"Pilih, Li Hua!" ejek Yue. "Selamatkan dirimu atau selamatkan kekasihmu!"

​Li Hua merasakan amarah yang luar biasa. Ia memusatkan seluruh sisa energi Mata Emasnya ke ujung pedang. Cahaya itu begitu menyilaukan hingga Ibu Suri harus menutupi matanya. Li Hua melakukan tebasan vertikal yang membelah kabut hitam tersebut.

​CRACK!

​Suara retakan nyaring terdengar. Pedang Naga Hitam, yang tidak kuat menahan beban energi Mata Emas yang terlalu murni, mulai retak dari pangkal hingga ujungnya. Bersamaan dengan itu, Tian Long terlempar ke dinding, memuntahkan darah segar.

​"TIDAK!" Li Hua menjatuhkan pedangnya yang hancur dan berlari ke arah Tian Long.

​Selir Yue melihat kesempatan ini. Ia melompat dengan tangan yang telah berubah menjadi belati hitam tajam, mengincar punggung Li Hua.

​Pengorbanan Sang Pembuat Cermin

​Tepat sebelum serangan Yue mendarat, Mo Ran menerjang maju. Sang Pembuat Alat Surgawi itu memeluk Selir Yue dari belakang, menyeretnya menjauh dari Li Hua.

​"Li Hua! Gunakan pecahan pedang itu! Gabungkan dengan cermin perunggumu!" teriak Mo Ran.

​Yue menusukkan cakarnya ke perut Mo Ran, namun pria tua itu tidak melepaskan pelukannya. Ia menarik sebuah tuas rahasia di lantai menara yang merupakan bagian dari mekanisme pertahanan kuno yang ia bangun bertahun-tahun lalu.

​"Bawa Kaisar pergi! Biarkan tempat ini menjadi kuburan bagi sihir hitam ini!" Mo Ran tersenyum untuk terakhir kalinya ke arah Li Hua, sosok yang ia anggap seperti putrinya sendiri.

​Lantai menara mulai runtuh. Mo Ran, Selir Yue, dan Ibu Suri terjatuh ke dalam ruang hampa di bawah menara yang dipenuhi oleh energi penetral sihir.

​Pelukan di Tengah Reruntuhan

​Li Hua berhasil menarik Tian Long keluar dari menara tepat sebelum bangunan itu runtuh sepenuhnya. Mereka berdua terbaring di atas rumput taman istana, terengah-engah dan bersimbah darah.

​Mata emas Li Hua perlahan meredup, kembali menjadi warna hitam yang dalam dan penuh kelelahan. Penyatuan jiwa itu telah terputus karena hancurnya pedang, meninggalkan mereka berdua dalam keadaan sangat lemah namun hidup.

​Tian Long meraba wajah Li Hua. "Apakah... apakah sudah berakhir?"

​Li Hua menatap menara yang kini telah menjadi tumpukan batu. Ia tidak merasakan lagi kehadiran aura hitam Yue maupun ambisi dingin Ibu Suri. "Sudah berakhir, Tian Long. Tapi kita kehilangan Mo Ran..."

​Tiba-tiba, dari reruntuhan menara, sebuah cahaya kecil terbang ke arah Li Hua. Itu adalah pecahan terakhir dari cermin perunggu miliknya. Saat menyentuh tangan Li Hua, pecahan itu berubah menjadi sebuah liontin kecil berbentuk bunga melati.

​Fajar Baru

​Rakyat dan prajurit yang tadinya dipengaruhi oleh Sekta Pemurni Jiwa berdiri mematung melihat kehancuran menara. Saat Li Hua berdiri, dengan pakaian yang hancur dan wajah yang kotor, namun dengan martabat yang tak tergoyahkan, Master Zho mencoba membunyikan loncengnya lagi.

​Namun, lonceng itu tidak lagi bersuara. Kekuatan kebencian telah kalah oleh kekuatan pengorbanan.

​Rakyat mulai berlutut satu per satu. Bukan karena takut pada Mata Emas, tapi karena mereka melihat seorang wanita yang rela hancur demi menyelamatkan rajanya dan negaranya.

​Tian Long berdiri di samping Li Hua, memegang tangannya yang terluka. "Mulai hari ini, tidak akan ada lagi rahasia, tidak ada lagi klan yang bersembunyi di balik bayangan. Kita akan membangun kembali Kerajaan Li dengan tangan kita sendiri."

​Namun, saat mereka berjalan menuju istana utama, Li Hua melihat ke arah cakrawala. Di kejauhan, ia melihat seorang pria berjubah putih sang Penjaga Keseimbangan sedang mengangguk ke arahnya.

​Di tangan pria itu, terdapat sebuah gulungan baru. Nama "Li Hua" tidak lagi tertulis sebagai pengemis atau permaisuri pengganti, melainkan sebagai Pendiri Dinasti Cahaya.

1
EF Shahna
kaya nya bakal seru cerita selanjutnya
Dedeh Dian
Hem sangat sangat bagus sekali ceritanya... apalagi bagi AQ yg cepat tersentuh... makasih author
Rika Ashanty: sama-sama ka🙏👍terus jadi pembaca setia ya,maksih🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!