follow Ig 👉 dindin_812
- Novel ini sudah hadir dalam versi cetak, lebih rapi dan tentunya enak dibaca dan dipeluk kala rindu 🤭🤭🤭
Cerita ini mengandung unsur yang bisa bikin kamu nangis, tertawa, marah, baper juga sedih, jadi sebelum baca siapkan hati jiwa dan raga🤣
Tidak mencantumkan agama ya ....
Audrey Isvara tidak menyangka jika hidupnya jungkir balik tidak menentu. Dia baru saja kehilangan Ayah dan hampir kehilangan ibu, kemudian Audrey mendatangi seorang CEO muda bernama Ravindra Mahavir. Demi menyelamatkan ibu dari ambang kematian, Audrey menawarkan diri menjadi budak seumur hidup.
Namun, siapa sangka jika ternyata dirinya langsung memiliki suami hanya dalam hitungan hari, status pelayan yang ia sandang berganti menjadi nyonya besar istri CEO. Bagaimana itu bisa terjadi?
Pict from Pinterest, editing by Din Din
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon din din, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 Perang antar pelayan
Tentu saja Audrey tak tinggal diam, ia mendorong tubuh gadis yang tidak lebih besar darinya itu hingga terjerembab ke lantai, kini gantian Audrey yang berada di atas gadis itu. Ia gantian menampar kedua sisi wajah gadis pelayan tadi secara bergantian, ia tidak terima jika dirinya diperlukakan seperti itu, terlebih ia dikatai kupu malam dan Velaccur.
Pelayan satunya ikut geram karena Audrey berani melawan, ia menjambak surai panjang Audrey dengan sangat keras membuat gadis itu terjatuh kebelakang. Dua lawan satu, pasti kalian berpikir jika Audrey akan kalahkan?
"Kau berani melawanku?!" geram gadis pelayan tadi.
Kini Audrey ditahan oleh satu gadis pelayan yang mengunci kedua tangannya di belakang, sedangkan pelayan satunya siap-siap melayangkan tamparan lagi. Kenapa tidak ada yang melerai? 'Kan itu di lantai tiga, jadi sedikit pelayan yang ada di atas.
"Cuih ... memangnya aku takut!" ejek Audrey seraya meludah.
"Kau!! Dasar wanita penghibur! Seluruh keluargamu pasti juga sama! Bahkan ibumu juga, 'kan!" Hina pelayan itu siap melayangkan tamparan kearah Audrey.
Mendengar mamahnya disangkutpautkan tentu saja membuat gadis itu tidak tinggal diam, ia langsung mengangkat satu kakinya kemudian menendang gadis pelayan di depannya tepat mengenai perut membuat pelayan itu mngerang kesakitan dan tentu saja menarik perhatian pelayan lain yang ada di lantai lain.
Tak sampai disitu, saat pelayan yang mengunci tangannya terkejut melihat temannya kesakitan, Audrey menghantamkan belakang kepalanya tepat mengenai wajah terutama hidung pelayan tadi, hingga akhirnya pelayan tadi melepaskan tangan Audrey.
Akhirnya kedua pelayan itu meringis kesakitan, satu mengeluh sakit di perut, yang satu di wajah. Beberapa pelayan yang mendengar suara pekikan dan rintihan langsung berbondong naik ke lantai tiga termasuk Bu Metha. Mereka terkejut melihat kedua teman pelayan merintih, sedangkan Audrey meski wajahnya memerah karena tamparan dan ada sedikit darah di ujung bibirnya, ia masih berdiri tegap dengan napas terengah.
"Ada apa ini? Kenapa kalian berkerumun seperti ini?!" bentak Ravin yang baru datang.
Semua pelayan yang tadinya menyaksikan peperangan antar pelayan itu akhirnya menunduk ketika tuannya ada disana, kemudian mereka membubarkan diri kecuali Bu Metha.
Audrey yang mendengar suara Ravin langsung menoleh pemuda itu, matanya penuh amarah yang bercampur kesedihan. Ia tidak peduli jika tuannya itu marah bahkan menghukumnya karena ia telah menghajar dua pelayan yang telah menghinanya.
Ravin terkesiap melihat wajah Audrey yang merah dan sedikit lebam, bahkan ada sedikit darah di bibirnya. Belum juga rasa marahnya reda karena berdebat dengan si berondong, kini ia malah menyaksikan adegan perkelahian antara pelayan.
Pelayan yang perutnya ditendang Audrey tentu saja mengambil kesempatan itu untuk mengadu pada Ravin. Bagaimanapun dari sudut pandang sekarang, merekalah yang jadi korban.
"Tuan! Tolong beri keadilan bagi kami, lihat kelakuan bar-bar pelayan baru itu, dia menendang perutku dan membuat hidung teman saya juga berdarah-darah!" keluh gadis itu dengan sedikit senyum menyeringai ke arah Audrey.
Audrey tidak menundukan kepalanya sama sekali, ia menatap tajam Ravin yang sedari tadi juga menatap ke arahnya. Ia tidak mau dianggap lemah, karena itu akan membuatnya menjadi gadis yang mudah ditindas.
"Jadi seperti itu?" Ravin menatap pelayan yang mengadu kepada dirinya.
"Iya Tuan!" Dalam hati pelayan itu senang karena merasa yakin jika Ravin akan membela mereka.
"Oke, aku mengerti!" Ravin menoleh pada Bu Metha, wanita tua itu tahu maksud tuannya.
"Bu, beri mereka kompensasi. Selanjutnya Ibu tahu harus apa, 'kan?!" Senyum seringai bagai iblis muncul di wajah pemuda itu.
"Tentu." Bu Metha menganggukan kepala.
"Kalian ikut Bu Metha, pelayan baru yang kalian bilang bar-bar itu biar aku yang menghukumnya," ucap Ravin.
Kedua pelayan tadi tersenyum senang, di dalam pikiran mereka berkata jika Audrey pasti akan dihukum berat bahkan di keluarkan dari rumah itu. Setelah semua pelayan bubar dan kedua pelayan yang terluka tadi ikut bu Metha, kini tinggal Ravin yang masih menatap Audrey.
Gadis itu mencebik kesal mendengar Ravin ingin menghukumnya, ia berjalan cepat menuju kamarnya. "'Kan aku bilang apa? Dia itu main vonis, tidak mau tahu siapa yang salah terlebih dahulu, sekarang mau main hukum saja!" gerutu Audrey seraya mengusap ujung bibirnya dengan punggung tangannya.
Ravin mengambil langkah seribu mengejar Audrey, ia langsung menarik tangan gadis itu dan menyeretnya masuk ke kamar sebelum gadis itu masuk ke kamarnya sendiri. Audrey begitu terkejut, kini ia pasrah jika memang mau dihukum.
Ravin mendudukan tubuh Audrey di tepian ranjang, kemudian pemuda itu melepas jasnya tanpa berkata sepatah katapun.
"Ya kalau mau hukum! Hukum saja!" teriak Audrey seraya membuka kedua tangannya lebar dengan memejamkan mata.
Tentu saja ia tidak ingin melihat si adik kecil milik tuannya itu jika memang hukumannya adalah permainan di atas ranjang.
"Kamu ini ngomong apa?" Ravin menjitak kening Audrey keras, membuat gadis itu langsung membuka mata seraya mengusap keningnya yang kena jitak.
"Bukannya tadi bilang mau menghukumku?" tanya Audrey dengan nada rendah.
"Kapan?" tanya Ravin santai. Pemuda itu sibuk membuka laci dan mengambil kotak obat.
"Bukannya tadi bilang 'pelayan baru yang kalian bilang bar-bar itu biar aku yang menghukumnya'," ucap Audrey menirukan ucapan Ravin.
"Dasar kelinci bodoh!" Ravin menjitak kembali kening Audrey begitu ia sudah di hadapan gadis itu.
"Ouch ...." pekik Audrey kembali mengusap keningnya.
Ravin menarik kursi dan duduk berhadapan dengan gadis itu, ia membuka kotak serta mengambil kapas dan alkohol untuk membersihkan darah di ujung bibir Audrey. Gadis itu terperangah, ia sudah berpikir kalau akan dihukum dengan menyakitkan bahkan membuat sesuatu yang ia banggakan akan hilang, tapi kenyataannya semua yang ia pikirkan salah.
"Wajah sampai seperti ini, masih saja bersikap sok kuat! Memangnya kamu nggak mau nangis kayak dua pelayan tadi?!" tanya Ravin menatap mata Audrey.
"Buat apa? Bukankah menangis hanya akan membuatku semakin lemah dan gampang ditindas!" jawab Audrey mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan karena enggan manik matanya bertemu dengan mata si iblis tampan.
"Begitu? Bagus! Lalu kenapa kalian sampai berkelahi?" tanya Ravin dengan nada datar.
"Cih ... dapat pencerahan dari mana ini? Tiba-tiba jadi ramah dan juga akhirnya sadar jika duduk perkara masalah itu penting," gumam Audrey.
"Mereka mengataiku!" jawab Audrey yang masih mengedarkan pandangannya.
"Mengatai bagaimana?" tanya Ravin penasaran, tangannya masih sibuk membersihkan wajah lebam dan memerah gadis itu dengan kapas yang sudah di beri alkohol.
Audrey mengulum bibirnya, meski pelayan tadi benar tapi tak sepenuhnya benar juga. "Mereka mengataiku kupu malam, wanita penghibur dan Vellacurr, juga bilang aku merayap naik ke ranjang Anda."
Ravin membelalakan matanya mendengar jawaban Audrey, ia tidak menyangka jika dengan menjadikan gadis itu pelayan pribadinya malah membuat dirinya mendapat cacian seperti itu.
"Yang membuat aku lebih marah, mereka-." Audrey menjeda ucapannya, kini kelopak matanya menggenang ketika mengingat apa yang diucapkan oleh mulut pedas pelayan tadi.
"Apa?" Ravin penasaran.
*
*
*
*
*
*
Note Author:
Terima kasih buat PRDA othor Adinasya Mahila( Perserikatan readers duo Amazon) juga READERS lainnya yang telah terus stay di nopel receh aku. sebagai Othor remahan rempeyek, aku sangat bersyukur kalian telah Sudi mampir memberikan like dan komentar kalian. Namun jika kalian tidak suka cerita recehku, aku tetap berharap jika kalian mau bantu meski sekedar mendaratkan jempol kalian. udah gitu aja, Terima kasih 🙏🙏🙏🙏
Anak aku nomor 2 lelaki,lahiran juga Vacum, karena udah lemah, Dan sebelum lahiran gak ada selera utk makan apa pun..