COVER FROM PINTEREST
.
.
Dinda tidak mengingat apa yang terjadi pada dirinya, dia hanya mengingat bahwa cintanya bertepuk sebelah tangan dan tak hanya itu, dia masih mengingat jelas ketika pria yang dia cintai itu merenggut masa depannya. Namun dengan tatapan mata pria itu, Dinda bisa memastikan bahwa ada jutaan rahasia yang tidak dia ingat. Termasuk tentang bayi perempuan yang baru dia lahirkan. Bayi itu..., sangat mirip dengannya dan pria brengsek itu.
"Dia anak kita yang ke dua, Dinda," ucapnya dan mulai dari situ Dinda merasa semakin gila karena tidak bisa mengingat apapun.
Bagaimana dia bisa mempunyai anak ke dua sedangkan anak ke satu pun dia tidak mengingat siapa namanya.
PERHATIAN!
Cerita ini memiliki alur maju-mundur
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AzieraHill, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 11
Daniel POV
Sekarang, hari ini juga. Aku akan membalaskan dendam mantan kekasihku. Aku akan mengambil hak miliknya. Hak untuk dia tenang dalam kematiannya di dalam sebuah kedamaian, tapi sebelumnya aku akan membuat Belinda benar-benar menjadi seorang penjahat sungguhan. Seorang bandit pengedar barang terlarang dan juga pembunuh darah dingin itu akan mengakhiri hidupnya hari ini juga.
Kulihat mobil Belinda memasuki kawasan kasino. Cukup banyak pengawal yang menjaganya dan mereka terlihat sedang mengangkat sebuah barang ke dalam kasino. Mungkin itu barang peyelundupan yang dia sembuyikan di dalam kasino. Memang setiap rabu, Belinda menerima barang itu dan yang kutahu dia akan mengadakan penawaran di dalam sana. Beberapa kali aku lihat untuk memastikan. Belinda terlihat mendapatkan banyak uang dari hasil penjualannya.
“Bagaimana?”
Oh betapa kagetnya aku saat si bodoh itu muncul dari belakang tubuhku. Kudengar tawa dari belakang. Four menertawakanku yang kaget melihat kedatangannya secara tiba-tiba. Beberapa tim kepolisian lainnya pun terlihat sudah memegang senjatanya yang siap mereka todongkan pada Belinda.
“Apanya yang lucu?” Sergahku padanya dan Four menepuk bahuku pelan.
“Sudah kuduga kau memang tidak cocok jadi seorang detektif. Jadi, jangan sekali-kali bicara pada orang lain tentang pekerjaanmu menjadi detektif.”
“Hei..., kau harus tahu ini. Aku menjadi detektif hanya untuk menyelidiki wanita sialan itu. Kau kan tahu kalau aku ini seorang businessman,” kataku karena ya..., setelah mantan kekasihku meninggal. Aku sudah meninggalkan pekerjaanku yang menjadi seorang manager di perusaahaan mantan kekasihku karena Belinda menguasainya.
Kemudian aku mulai berusaha memperebutkan kekuasaan ini untuk hampir genap 2 tahun. Tahun pertama uangku sudah habis ludes untuk menghidupiku dan selanjutnya aku terlibat hutang dengan James Copper---Ayah Dinda. Karena itu aku membiarkan anaknya untuk tinggal selama dia bekerja di London dan aku sudah merusak hidup anaknya dengan hanya minuman memabukkan itu.
“Sudah, sudah, fokuslah pada target. Aku dan timku akan segera mengepung mereka. Kau bisa tunjukkan jalan?” bisiknya kemudian saat mobil lainnya mulai muncul dan menunjukkan seorang pria tua dengan tongkat di tangannya. Tongkat yang terlihat sangat antik dan tentunya sangat berharga.
Four terlihat mencegah siapa pun untuk bertindak. Kami diam sejenak sebelum mereka masuk ke dalam dengan pengawal yang ketat. “Sekarang,” kata Four dan aku berjalan dengan santainya seraya mengeluarkan senjataku dari balik jasku.
Aku masuk dan beberapa penjaga nampak siap dengan senjatanya. Kepolisian pun tampak sangat lincah dengan gerakan mereka. “Jangan bergerak, tunjukkan di mana wanita bernama Belinda itu,” kata Four begitu tegas hampir membuatku ingin tertawa jika mengingat bagaimana sifat sebenarnya.
Kami menyusuri tempat yang sudah terlihat sangat rusak. Bir dan juga bartender yang terlihat ikut terbakar membuatku mengingat kejadian hari itu. Saat aku akhirnya babak belur karena mereka pergoki sedang menyamar. Aku tak menyangka pengawalan Belinda sangat ketat. Untung mereka tak tahu siapa aku sebenarnya. Jadi, aku tak perlu menemui Belinda dan disekap ke dalam tahanan tempo lalu aku pernah mendekam.
Kami berhenti di sebuah tempat permainan kartu. Four nampak menekan punggung pengawal Belinda. Kemudian aku melihat Demian mulai menembak ke arah kami. “Jangan bergerak! Turunkan senjata kalian. Kalian ditangkap atas penyelundupan barang-barang terlarang dan Mrs. Belinda kau ditangkap atas pembunuhan yang terjadi pada tahun 2015. Kalian punya hak untuk diam dan memanggil pengacara.” Ungkap Four seraya menarik tangan Belinda dan memborgolnya.
Aku pun berjalan menuju Belinda. Dia menatapku geram dan aku tersenyum menarik dagunya. “Sayang sekali kau tidak sepintar yang aku pikirkan, Sayangku.” Belinda menatapku dengan amat sangat marah. Dia meludah dan membuatku tertawa melihatnya.
.
.
.JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENNYA ^^
TOP epribadeeeeehhhh ...👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍