Yurie Harielyn Nazeeran kehilangan ibunya di usia lima tahun. Kematian yang disebut karena sakit itu menyimpan kebenaran kelam—diracun oleh Agnesa, wanita yang dua hari kemudian menikahi ayahnya. Tak ada yang percaya pada kesaksian Yurie kecil, bahkan ayahnya sendiri memilih berpihak.
Sejak saat itu, Yurie hidup sebagai bayangan di rumahnya sendiri hingga di usia delapan belas tahun, ia dijodohkan demi uang sembilan miliar dari keluarga Reynard. Pernikahan itu menyeretnya ke dalam rangkaian misteri:
kematian, pengkhianatan, dan rahasia besar yang berpusat pada keluarga Nazeeran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azkyra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BONUS*
Tidak semua rahasia ingin ditemukan.
Sebagian hanya menunggu orang yang cukup keras kepala untuk mencarinya.
Yurie duduk sendirian di ruang perpustakaan, lampu meja menyala redup. Di hadapannya terbuka beberapa lembar salinan dokumen rumah sakit—bukan yang resmi, melainkan catatan kecil yang Kaiden dapatkan lewat jalur yang tidak tercatat. Tinta di atas kertas sudah pudar, sudut-sudutnya menguning, tapi tulisan tangan di sana terasa hidup.
Ia membaca ulang satu kalimat yang sama untuk kesekian kalinya. Pemberian cairan tambahan oleh pihak luar, tanpa rekomendasi medis.
Yurie menelan ludah.
Pihak luar
Ia memejamkan mata, membiarkan ingatan lama muncul tanpa diundang. Agnesa berdiri di sisi ranjang ibunya, tersenyum tipis, membawa gelas bening. “Supaya cepat pulih,” katanya waktu itu.
“Kenapa aku baru berani mengingat ini sekarang?” bisik Yurie pada dirinya sendiri.
Jawabannya sederhana dan menyakitkan:
karena dulu ia sendirian.
Pintu perpustakaan terbuka perlahan. Kaiden masuk tanpa suara, seolah tahu Yurie tidak ingin dikejutkan. Ia membawa dua cangkir teh, meletakkan salah satunya di sisi Yurie.
“Kau belum tidur,” katanya.
Yurie menggeleng. “Aku takut kalau aku tidur, potongan ini akan hilang.”
Kaiden duduk di kursi seberangnya. “Tidak akan. Kau sudah terlalu jauh untuk kembali.”
Yurie mengangkat satu dokumen. “Ini bukan bukti kuat. Hanya catatan aneh.”
“Semua kejahatan besar,” ujar Kaiden pelan,
“bermula dari keanehan kecil yang diabaikan.”
Yurie menatapnya. “Kematian Jayden juga begitu?”
Kaiden terdiam cukup lama sebelum menjawab. “Ya.”
Ia meraih map lain dan membukanya. Di dalamnya ada salinan laporan bandara—tanggal, jam, nama penumpang.
“Ini tentang Elif,” kata Kaiden. “Istri Jayden.”
Yurie mendekat, membaca cepat. “Dia lolos imigrasi… lalu hilang?”
“Tidak ada rekaman keluar bandara,” lanjut Kaiden. “Tidak ada penerbangan lanjutan. Tidak ada laporan kriminal yang jelas.”
“Seperti… dihapus,” gumam Yurie.
Kaiden mengangguk. “Persis.”
Keheningan turun, berat tapi tidak menekan. Dua teka-teki berdiri berdampingan di meja yang sama—Shella dan Elif. Dua perempuan, dua kisah, satu pola yang belum jelas.
“Kaiden,” ujar Yurie akhirnya, “kau pernah curiga pada keluargaku sejak awal?”
Kaiden tidak langsung menjawab. Ia menatap kertas-kertas itu, lalu berkata, “Aku curiga pada siapa pun yang diuntungkan dari kekacauan.”
Yurie tersenyum pahit. “Itu berarti… aku.”
Kaiden menatapnya tajam. “Tidak. Kau korban yang dijadikan alat.”
Kata korban itu menusuk, tapi juga melegakan. Untuk pertama kalinya, Yurie tidak merasa disalahkan.
......................
Di tempat lain, lampu ruang kerja rumah Nazeeran masih menyala.
Agnesa duduk di balik meja besar, membuka laci rahasia. Di dalamnya tersimpan sebuah flashdisk hitam kecil. Ia memutarnya di antara jari-jarinya, senyum tipis terbit di bibirnya.
“Selama ini aman,” gumamnya.
Pintu diketuk. Kayla masuk dengan wajah gelisah. “Mama, orang Reynard mulai bergerak.”
“Aku tahu.”
“Mereka ke rumah sakit. Dan ke arsip bandara.”
Agnesa tertawa pelan. “Biarkan mereka melihat permukaan. Jangan biarkan mereka menyelam.”
Kayla menggigit bibir. “Bagaimana kalau Yurie ingat?”
Agnesa berdiri, mendekat ke jendela. “Ingatan tanpa bukti hanya akan membuatnya ragu pada dirinya sendiri.”
Ia menoleh, tatapannya tajam. “Dan keraguan adalah senjata paling efektif.”
Kembali di rumah Reynard, malam makin larut. Yurie berdiri di depan papan kecil yang kini dipenuhi catatan—nama, tanggal, tempat. Benang merah tipis menghubungkan beberapa titik.
• Shella — rumah sakit — Agnesa
• Jayden — kecelakaan misterius — tekanan internal
• Elif — bandara — hilang tanpa jejak
“Ada satu titik yang belum kita sambungkan,” ujar Yurie.
Kaiden mengamati papan itu. “Devano.”
Yurie menoleh. “Kau yakin?”
Kaiden mengangguk. “Mereka tidak muncul di permukaan, tapi setiap jalur dana yang mencurigakan mengarah ke sana.”
“Berarti… keluargaku bukan pemain utama?”
“Mereka pion,” jawab Kaiden tenang. “Tapi pion yang rela mengorbankan siapa saja.”
Yurie menutup mata. “Ibuku.”
Kaiden tidak menyentuhnya. Ia tahu, ada luka yang harus dirasakan sendiri sebelum bisa dibagi.
“Ada satu hal lagi,” kata Kaiden kemudian.
“Tentang Elif.”
Yurie membuka mata. “Apa?”
“Ada saksi bandara yang ingat seorang perempuan hamil dibawa keluar lewat jalur khusus,” ujar Kaiden. “Jalur yang biasanya digunakan untuk tamu VVIP.”
Yurie mengerutkan kening. “Keluarga Devano?”
Kaiden tidak menjawab, tapi keheningan itu sudah cukup.
Malam semakin dalam. Yurie duduk di tepi ranjang, menatap tangannya sendiri. Tangannya tidak lagi gemetar seperti dulu. Ada rasa takut, tentu saja, tapi kini bercampur dengan sesuatu yang lebih kuat—tekad.
Kaiden berdiri di ambang pintu. “Kau yakin ingin terus?”
Yurie menatapnya. “Aku sudah hidup setengah mati terlalu lama. Jika kebenaran menyakitkan, biarlah. Setidaknya aku tahu untuk apa aku bertahan.”
Kaiden mengangguk. “Mulai sekarang, kita tidak hanya mencari jawaban. Kita melindungi dirimu.”
Yurie tersenyum kecil. “Aku tidak pernah membayangkan ada seseorang yang berkata begitu padaku.”
Kaiden menatapnya lama. “Aku tidak pernah membayangkan aku akan mengatakan itu pada siapa pun.”
Mereka saling memandang, tidak ada janji besar, tidak ada sentuhan dramatis. Hanya kesepakatan sunyi—bahwa mereka akan berjalan bersama, sejauh apa pun jalannya.
Di balik dinding yang jauh, seseorang menutup berkas terakhir.
“Biarkan mereka menyusun teka-teki,” ujar suara itu. “Selama mereka tidak tahu… potongan mana yang sebenarnya palsu.”
Lampu dimatikan.
Dan permainan pun berlanjut.