NovelToon NovelToon
Puteri Rahasia Sang Ratu

Puteri Rahasia Sang Ratu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno / Romansa Fantasi
Popularitas:7.9k
Nilai: 5
Nama Author: Suesant SW

Seorang ratu yang kehilangan mahkota karena fitnah dan seorang putri yang tumbuh dalam pengasingan tanpa mengetahui bahwa darahnya menyimpan kunci takhta.

Enam belas tahun kemudian, seorang dayang baru memasuki istana dengan wajah polos, tangan terampil, dan rahasia yang dapat mengguncang dua kerajaan. Ia datang bukan untuk mencari cinta.
Ia datang untuk membersihkan kembali nama ibunya, membongkar dosa masa lalu, dan mengambil kembali takhta yang dirampas.

Namun, takdir mempertemukannya dengan dua pangeran: seorang pewaris takhta yang kejam tetapi kesepian, dan seorang pangeran dari kerajaan musuh yang membuatnya merasakan cinta untuk pertama kalinya.
Ketika pernikahannya dengan putra mahkota diumumkan, sang kekasih menculiknya tepat pada malam pertama. Satu tindakan nekat itu memicu perang yang mengancam menghancurkan kedua kerajaan di tengah pertumpahan darah, rahasia kelahirannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Suesant SW, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12. Serupa Tapi bukan Asli

Pertanyaan-pertanyaan itu menghujani aula seperti anak panah yang dilepaskan berturut-turut. Beberapa pejabat mulai saling berpandangan. Untuk sesaat, celah kecil terbuka di dalam dinding tuduhan yang telah dibangun Qian Bei. Namun, lelaki itu tidak tampak terganggu.

“Semua hal itu dapat diperiksa, Permaisuri,” jawabnya. “Hamba tidak keberatan.”

Ia berkata demikian karena mengetahui bahwa orang-orang yang bertugas memeriksa barang-barang Shen Rui telah dipilih dengan cermat. Catatan penemuan surat telah disiapkan. Kesaksian para pengawal telah disusun. Bahkan waktu penemuan barang tersebut telah dicocokkan dengan laporan yang dibuat setelah kematian Shen Rui.

Kebohongan yang disiapkan dengan tergesa-gesa mungkin memiliki banyak celah.

Namun, kebohongan yang disusun oleh orang sabar, didukung oleh kekuasaan, dan disaksikan oleh orang-orang yang takut kehilangan kedudukan, sering kali terlihat jauh lebih meyakinkan daripada kebenaran. Wang Laoyin belum memiliki bukti untuk membongkar semuanya. Ia hanya memiliki ingatannya sendiri, ketajaman matanya, dan keyakinan bahwa ia tidak pernah menulis surat itu. Di hadapan kekuasaan, ketiganya terasa terlalu kecil.

Raja Han Quan mengambil surat dari tangan seorang kasim dan membacanya dengan wajah yang semakin muram. Dia sudah membacanya tadi tetapi dia masih ingin memastikan. Dia cukup mengenal tulisan istrinya itu dan di matanya tulisan itu benar-benar adalah hasil tulisan tangan Wang Laoyin.

Setiap kalimat seperti bara yang dilemparkan ke dalam pikirannya. Ia membaca kata-kata tentang kerinduan, pertemuan malam, dan rahasia yang disembunyikan di balik tirai kamar. Kata-kata itu menyentuh sesuatu yang lebih dalam daripada kemarahan seorang suami: rasa takut bahwa kehormatan keluarga kerajaan telah dipermalukan di hadapan orang-orang yang seharusnya tunduk kepadanya.

Selama bertahun-tahun, Wang Laoyin telah menjadi permaisuri yang dihormati. Ia mengatur urusan dalam istana dengan cermat, menjaga keseimbangan di antara para selir, dan tidak pernah mempermalukan keluarga kerajaan di hadapan para pejabat. Justru karena reputasinya begitu bersih, surat itu terasa seperti noda hitam yang sengaja ditumpahkan di atas kain sutra putih.

“ Permaisuri Wang Laoyin,” ujar Raja akhirnya, “Bentuk-bentuk huruf tulisan ini bukankah kamu mengenalinya dengan cukup jelas?”

“Hamba mengenali bentuk hurufnya, Yang Mulia. Namun, hamba bersumpah bahwa bukan hamba yang menulisnya.” Sanggah Wang Laoyin merasa gusar dengan cara suaminya yang tak bisa menyembunyikan rasa tidak percayanya pada istrinya sendiri

“Namamu tertulis di bagian akhir.”

“Nama hamba dapat ditulis oleh siapa saja.” Wang laoyin membela diri.

"Surat ini ditemukan pada barang milik Shen Rui.” Raja Han Quan berucap dengan nada berat.

“Barang miliknya dapat dipindahkan. Surat ini dapat diselipkan. Kesaksian dapat dibeli. Apakah Yang Mulia hendak menghukum hamba hanya karena sebuah kertas yang asal-usulnya belum dibuktikan? Apakah Yang Mulia sudah tidak lagi bisa melihat dengan adil?”

Raja Han Quan membanting surat itu ke meja kecil di samping singgasana.

“Jaga ucapanmu!”

Suara bentakannya membuat aula bergetar oleh keheningan yang mendadak. Wang Laoyin terdiam sesaat.

Bukan karena ia tidak mampu menjawab, melainkan karena ia baru menyadari bahwa Raja tidak lagi mendengarkannya sebagai seorang suami yang mengenal istrinya. Ia mendengarkannya sebagai seorang penguasa yang sedang berusaha memulihkan harga dirinya.

"Jangan bersikap tidak hormat di depan rajamu!" Wajah Raja Han Quan merah padam, Semerah bunga houyun.

Wang Laoyin terdiam, menahan nafas sesaat lalu menghembusnya perlahan supaya suaranya tidak tercekat karena luapan emosinya.

“Yang Mulia,” katanya lebih pelan, “selama bertahun-tahun, hamba menjaga kehormatan istana ini. Hamba berdiri di sisi Yang Mulia dalam perayaan, dalam upacara, dan ketika para pejabat berusaha mengguncang kedudukan takhta. Hamba tidak pernah meminta imbalan atas kesetiaan itu. Hamba hanya memohon satu hal sekarang: jangan biarkan kertas palsu menghapus seluruh tahun pengabdian hamba.” Tatapannya melembut, meski air mata mulai menggenang di sudut matanya.

“Pandanglah hamba, Yang Mulia. Apakah selama ini hamba pernah memberi alasan bagi siapa pun untuk meragukan kesetiaan hamba?” Lirih penuh permohonan suara Wang Laoyin. Raja Han Quan menatapnya cukup lama.

Untuk sesaat, ada sesuatu yang bergerak di balik matanya—keraguan, mungkin, atau kenangan lama yang belum sepenuhnya padam.

Ia mengingat Wang Laoyin yang dahulu berdiri di sampingnya ketika ia belum menjadi penguasa yang disegani. Ia mengingat bagaimana perempuan itu membantunya membaca laporan militer, menenangkan pertikaian antarkeluarga bangsawan, dan tetap berdiri tegak saat wabah pernah melanda bagian barat ibu kota.

Kemudian tiba-tiba ingatan itu berhadapan dengan sesuatu yang jauh lebih kuat: surat di atas meja, kematian Shen Rui, dan tatapan para pejabat yang menunggu keputusan sang Raja.

Di istana, kebenaran tidak selalu menang melawan kebohongan. Kadang-kadang, kebenaran hanya menjadi suara kecil yang tenggelam di bawah derap langkah orang-orang yang ingin mempertahankan kekuasaan.

“Aku akan memerintahkan pemeriksaan terhadap tulisan ini,” kata Raja akhirnya. “Namun, sampai asal-usul surat ini jelas, kau tidak boleh meninggalkan Paviliun Fengyi.”

Wang Laoyin memejamkan mata sejenak. Itu bukan keputusan yang membebaskannya. Itu hanya pengurungan yang diberi nama penyelidikan.

“Baik, Yang Mulia,” jawabnya, meskipun setiap kata terasa seperti duri yang harus ia telan. “Hamba akan menunggu hasil pemeriksaan.”

Ia menarik napas panjang, kemudian menatap Raja sekali lagi.

“Tetapi, jika suatu hari kebenaran terbukti dan Yang Mulia mengetahui bahwa hamba tidak bersalah, ingatlah hari ini. Ingatlah bahwa hamba pernah berdiri di hadapan Yang Mulia dan meminta keadilan, sementara Yang Mulia memilih untuk meragukan hamba.”

Wajah Raja Han Quan mengeras melihat sikap Wang Laoyin yang begitu keras menantangnya.

“Cukup!” Nada Suara raja Han Quan meninggi.

Tapi Wang Laoyin tidak mengindahkannya, dia langsung membungkuk, menekan kekecewaan yang merayapi hatinya.

Namun, sebelum berbalik, ia memandang Qian Bei sekali lagi. Tidak ada air mata di matanya sekarang. Yang tersisa hanyalah kemarahan dingin, kemarahan yang tidak lagi membutuhkan suara untuk menunjukkan betapa dalamnya luka yang ditorehkan.

Qian Bei membalas tatapannya dengan wajah tanpa cela.

Di antara mereka, surat palsu itu tergeletak di atas meja, tampak begitu tidak berbahaya—hanya selembar kertas dengan beberapa baris tinta.

Padahal, surat itu sedang berusaha merenggut sebuah mahkota dari kepala perempuan yang tidak pernah melakukan kesalahan.

Setelah Wang Laoyin dibawa kembali ke Paviliun Fengyi, Aula Qinzheng perlahan menjadi sunyi.

Raja Han Quan memerintahkan para pejabat meninggalkan aula, kecuali Qian Bei. Ketika pintu-pintu besar ditutup dan para pengawal mengambil posisi di luar, cahaya pagi yang masuk melalui jendela tinggi jatuh miring di atas meja tempat surat itu tergeletak.

Raja mengambilnya kembali.

“Qian Bei,” katanya tanpa mengangkat wajah, “menurutmu, apakah surat ini benar-benar ditulis oleh Permaisuri?”

Pejabat itu terdiam selama satu tarikan napas,

(Bersambung yaaaah....ikuti terus novel ini🥰 makasih udah baca)

1
Eka Burjo
oke lanjut
Eka Burjo
oke lanjut 👍
Suesant SW: siap lanjutttt
total 1 replies
Eka Burjo
lanjut
Eka Burjo
akhirnya selesai juga maratonku🤭
Suesant SW: mkasih bnyak dah marathon😄😄😄
total 1 replies
Eka Burjo
oke lanjut 👍
Rara
apa aku kedua thor
Aisyah Suyuti
good
ˡᵃⁿᵃ✰͜͡𝐯𐝃
semangat terus dengan karya² barunya Thor 💪💪💪💪💪
Sri Rahmawati
ibu yg bijak 😍😍
Sri Rahmawati
pertama ☝️☝️☝️
Deandra
lanjut thorrr
Eka Burjo
huhuhu aku ikutan 😭
Sri Rahmawati
/Angry/
Rara
😔😔😔😔😔
🌼EmeLBy🌼
lanjut
🌼EmeLBy🌼: Masih OL thor hihihihii
sama
total 2 replies
Sri Rahmawati
peluk dariku Yang Mulia 🤗🤗🤗
Sri Rahmawati
ku menangis 😭😭😭
Sri Rahmawati
aku maraton bacanya baru tau hari ini dan udh hbs satu pak tisu 😭😭😭
Sri Rahmawati
hadir Thor 🥰🥰
Suesant SW: makasih Kak Sri🥰🥰🥰🥰
total 1 replies
Rara
sediiih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!