Malam pembantaian Keluarga Ma menyisakan darah, puing, dan dendam mendalam di dada Ma Huang. Sebagai satu-satunya yang masih bertahan, ia mengambil keputusan gila: menempuh Jalur Darah Pemakan Bencana, sebuah kultivasi terlarang yang menggerogoti organ fisiknya demi menggenggam kekuatan membunuh tiada tanding.
Berbekal Pedang Tulang Hitam dan tubuh yang dialiri racun pekat, Ma Huang melangkah menembus lautan darah untuk membantai satu per satu siapaun yang telibat dalam tragedi tersebut. Dari pelataran tempa Kota Yunjiang hingga kegelapan Lembah Tengkorak yang dipenuhi racun alam, ia bertaruh nyawa demi merebut kembali Segel Besi Hitam, pusaka komando tiga ribu prajurit Serigala Hitam, serta kunci rahasia Makam Leluhur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 - Rantai Laut dan Hutan Akar
Gelombang air asin menerjang haluan sampan dengan hantaman yang memecah papan kayu bagian depan. Dua rantai besi raksasa berujung pasak tajam melintang kaku setinggi dua tombak di atas permukaan laut, menutup rapat seluruh celah sempit di antara tebing Celah Gigi Tengkorak.
Masing-masing mata rantai besi berukuran sebesar paha manusia dewasa, ditutupi kerak karat tebal bercampur lumut laut yang tajam. Gemuruh gelombang pasang menghantam karang jarum di bawahnya, menimbulkan pusaran air mendidih yang siap menelan perahu apa pun yang kehilangan arah.
Lu Gang menancapkan galah bambu kencang-kencang ke dasar dangkal, mencoba menahan laju perahu yang kian tak terkendali. "Tuan Muda! Rantai besi itu dikunci dari atas tebing! Perahu kita akan hancur berkeping-keping jika menabraknya!"
Master Han mendekap erat kotak kayu berukir naga di dadanya, meringkuk di bawah gulungan ombak yang membasahi seluruh tubuhnya. Mata kakek tua itu menatap kaku ke arah pasak-pasak besi tajam yang kian mendekat dalam hitungan detik.
Ma Huang melangkah ke ujung haluan perahu tanpa ucapan sedikit pun. Jubah birunya yang robek berkibar kaku ditiup angin laut yang membawa uap belerang dari arah lembah. Bahu kanannya yang hangus bekas luka panah membendung getaran hebat, memutihkan kulit di sekitar lehernya saat ia menegakkan punggung.
Sepasang matanya yang berkilat merah menatap titik sambungan paling rapuh di tengah bentangan rantai besi raksasa. Ia memusatkan lingkaran tenaga dalam di dalam Dantian barunya, memompa cairan racun Ular Hijau lurus ke sepanjang susunan meridian lengan kirinya.
Bilah Pedang Tulang Hitam mendadak memancar pekat. Hawa dingin membusukkan meluncur keluar dari pori-pori kulit Ma Huang, membentuk selubung kristal kehitaman yang melapisi baja pedang hingga mengeluarkan asap keasaman yang sangat membakar.
Tepat saat haluan sampan tinggal tiga jengkal dari benturan maut, Ma Huang menjejakkan kakinya kencang ke papan kayu. Tubuhnya melontar naik ke udara malam, melayang lurus menuju titik tengah rantai besi raksasa yang melintang.
Brak!
Dua telapak kaki Ma Huang menapak kaku di atas mata rantai besi yang dingin. Guncangan keras membuat luka di dadanya kembali terobek, menyemburkan cairan darah hitam yang langsung membeku di atas besi berkarat.
Ma Huang memutar Pedang Tulang Hitam dengan kedua tangannya yang bergetar. Dengan dorongan penuh dari seluruh tenaga dalam Inti Bencana, ia membenamkan bilah pedang hitam itu lurus ke celah sambungan dua mata rantai utama.
Jleb!
Bilah hitam menembus besi tua yang tebal. Hawa dingin korosif dari racun Ular Hijau menyembur keluar dari selubung pedang, merembes cepat menelusuri retakan mikro di dalam baja rantai yang lapuk oleh air garam.
Batu-batu karat menua di permukaan besi meletup keras. Suara desisan nyaring bergema saat asam racun melunakkan struktur molekul baja panas, mengubah logam keras menjadi rapuh dan berwarna kehitaman dalam hitungan tiga hembusan napas.
"Hancur!" jerit Ma Huang parau.
Ia menghentakkan lutut kirinya kencang ke gagang pedang yang tertancap, menyalurkan gelombang kejut tenaga dalam terakhir dari Dantiannya yang bergetar.
Krak! Duaggg!
Mata rantai raksasa itu terbelah dua. Sambungan besi berbobot ribuan kati itu putus secara mendadak, menimbulkan hentakan cambuk logam yang memukul permukaan air laut hingga membumbungkan gelombang setinggi tiga tombak.
Dua helai rantai raksasa yang terputus jatuh terhempas ke dalam lautan, menciptakan celah lebar di tengah Celah Gigi Tengkorak.
Sampan kayu Lu Gang meluncur kencang menembus celah air di bawah paha Ma Huang. Ma Huang melompat turun dari pecahan rantai yang tenggelam, mendarat telungkup di atas tumpukan karung di bagian belakang sampan.
Dorongan gelombang raksasa bekas jatuhnya rantai membawa sampan mereka melesat cepat melewati celah tebing, meluncur keluar dari perairan muara menuju kawasan perairan dalam Teluk Tengkorak.
Namun, arus bawah laut di balik Celah Gigi Tengkorak bergerak jauh lebih liar dari perkiraan mereka. Pusaran air mendidih berbau busuk menyeret sampan kecil itu lurus ke arah deretan karang tajam yang membentang di bibir pantai Hutan Akar Darah.
"Pegang tiang!" teriak Lu Gang seraya mencoba memutar arah galah bambunya yang patah.
Brak!
Lambung kayu sampan menghantam karang jarum hitam dengan benturan yang menghancurkan seluruh dinding perahu. Kayu-kayu lapuk itu pecah menjadi puluhan serpihan yang melayang di udara.
Ma Huang, Lu Gang, dan Master Han terlempar kencang melintasi permukaan air dangkal, jatuh terjerembab di atas hamparan lumpur hitam yang pekat di tepi pantai.
Keheningan malam mendadak menyelimuti kawasan itu, hanya diselingi oleh suara deburan ombak yang membentur sisa-sisa karang di kejauhan. Udara di sekeliling mereka terasa sangat berat, dipenuhi bau tanah busuk dan uap belerang yang menusuk hidung.
Ma Huang bangkit berdiri perlahan dari genangan lumpur asin. Pakaian birunya kini sepenuhnya tertutup oleh lumpur kehitaman bercampur darah kering. Ia mengusap wajahnya dengan punggung tangan kiri, meneliti sekeliling tempat pendaratan mereka.
Di hadapan mereka membentang Hutan Akar Darah yang rapat dan gelap. Pohon-pohon bakau raksasa berbatang hitam berdiri miring di atas lumpur, dengan getah merah kental menyerupai darah segar yang meleleh perlahan dari celah-celah kulit kayunya.
Master Han terbatuk-batuk kencang seraya memegangi dadanya yang sesak. Kakek tua itu mencoba berdiri bersandar pada akar pohon di sebelahnya, namun tangannya refleks ditarik kembali saat merasakan kulit kayunya licin dan membakar.
"Jangan sentuh batang pohon itu!" peringat Ma Huang dengan suara parau yang kaku.
Mata tajam Ma Huang memperhatikan daun-daun lebar yang meneteskan getah merah ke atas lumpur. Di tempat tetesan getah itu mendarat, asap tipis membumbung tinggi diiringi suara desisan halus yang melubangi tanah basah. Getah korosif dari Pohon Akar Darah.
Lu Gang membimbing Master Han menjauh dari jangkauan dahan rendah. Pria tua itu memeriksa tabung minyak di pinggangnya yang telah pecah terendam air laut. "Tuan Muda, uap di tempat ini membuat dada terasa sangat panas. Ada racun di dalam kabut ini."
Ma Huang menyipitkan matanya, menatap kabut tipis berwarna keabu-abuan yang mengapung melayang di antara celah-celah dahan pohon. Di bawah remang cahaya rembulan, butiran-butiran halus menyerupai serbuk spora tampak melayang acak di udara.
Spora Jamur Kabut Hitam.
Ma Huang menarik napas dalam-dalam, membiarkan butiran spora racun itu masuk ke dalam saluran pernapasan dan paru-parunya. Rasa gatal dan panas sempat menyengat dinding tenggorokannya, namun sirkulasi darah Jalur Darah Pemakan Bencana di dadanya langsung menyerap spora tersebut secara alami, mengubahnya menjadi bahan bakar tambahan bagi Inti Bencana di Dantiannya.
Ia melangkah mendekati Lu Gang dan Master Han, lalu mengeluarkan dua jarum perak kecil dari lipatan jubah dalamnya. Ma Huang menancapkan jarum-jarum itu ke titik meridian di bawah telinga kedua pengawal tuanya.
"Jarum ini akan mengunci pembuluh darah leher kalian selama tiga jam," terang Ma Huang singkat. "Itu akan mencegah spora kabut membakar jaringan paru-paru kalian."
Master Han menghembuskan napas yang kini terasa lebih ringan. Kakek tua itu merogoh saku dalamnya, memastikan kepingan perunggu hijau kunci makam masih tersimpan aman di dalam kain sutra yang terikat di pinggangnya.
"Kita berada di Zona Dua, Hutan Akar Darah," bisik Master Han seraya memandang ke arah kegelapan hutan di depan mereka. "Menurut petunjuk kertas kulit, jalan menuju Jurang Belerang berada di balik bentangan jalur lumpur ini."
Tiba-tiba, suara getaran halus bergema dari dahan-dahan pohon bakau di atas kepala mereka.
Srekk... srekk...
Serangkaian tali serat akar yang tersembunyi di balik lumut pohon tampak bergerak kencang secara tidak alami. Dahan-dahan kayu di atas mereka bergetar hebat, merontokkan ratusan butiran spora hitam ke udara di sekitar mereka.
Ma Huang mendongakkan kepalanya seketika. Sepasang matanya yang berkilat merah menembus kegelapan rimbunnya dahan pohon di atas.
Di antara sela-sela daun tebal, puluhan tabung bambu kuno berkarat tampak terikat pada kerangka kayu yang telah lapuk. Tabung-tabung itu terhubung lurus dengan tali serat akar yang baru saja terpicu oleh getaran pendaratan mereka di lumpur.
Mekanisme sumpit karat kuno milik penjaga Lembah Tengkorak telah aktif sepenuhnya.
"Tundukkan kepala kalian!" bentak Ma Huang sambil memutar Pedang Tulang Hitam di atas kepalanya.