Tiga tahun menikah, Arini hidup seperti pembantu di rumahnya sendiri.
Setiap hari ia diejek mertua karena belum juga hamil. Padahal, suaminya Bara Mahendra tidak pernah benar-benar menyentuhnya. Pernikahan mereka hanya formalitas bisnis.
Sampai di malam anniversary ke-3, Bara pulang.
Bukan dengan bunga. Tapi dengan seorang wanita hamil dan selembar surat cerai.
"Maaf, Arini. Kamu mandul. Aku butuh anak. Luna sudah mengandung anakku 2 bulan. Tanda tangani ini, aku beri kamu 500 juta."
Di malam hujan itu, Arini diusir dengan satu koper butut. Tidak ada yang membelanya.
Tapi Tuhan tidak tidur.
Di pinggir jalan, dalam keadaan hampir pingsan, Arini ditolong oleh Revan Aditya — CEO muda paling berkuasa di Jakarta yang terkenal dingin dan tak tersentuh wanita.
Dan Sebuah rahasia terungkap, Yang mandul bukan arini tapi bara.
arini kembali bukan lagi sebagai wanita terbuang yang menangis di meja makan tapi sebagai wanita elegan pemilik saham terbesar di perusahaan bara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mahrani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bulan Madu & Kehamilan Ajaib
Bali, 3 hari setelah pernikahan.
Kami tidak langsung bulan madu ke luar negeri. Revan bilang dia ingin kami menikmati waktu berdua dulu di villa pribadinya di Uluwatu, sebelum hiruk pikuk kantor mengejar kami lagi.
Villa itu indah sekali. Private pool menghadap langsung ke Samudra Hindia. Tidak ada siapa pun kecuali kami berdua dan Bi Ijah yang kami bawa dari Jakarta.
Malam itu, setelah makan malam romantis di tepi kolam, aku merasa mual yang luar biasa.
"Uekh..."
Aku berlari ke kamar mandi dan muntah.
Revan panik dan langsung menyusulku, mengusap punggungku.
"Sayang, kamu kenapa? Masuk angin? Tadi siang kamu makan apa?" tanyanya cemas sambil mengambilkan air putih.
Aku menggeleng. Aku juga tidak tahu kenapa. Sudah dua minggu ini aku sering merasa mual di pagi hari, mudah lelah, dan sensitif dengan bau-bauan. Aku pikir itu hanya karena stres persiapan pernikahan.
Tapi saat Revan mengambilkan air putih dan aku mencium bau parfumnya yang biasanya sangat kusukai, aku kembali mual.
"Revan... jauhkan parfum mu... bau..." kataku sambil menutup hidung.
Revan mengerutkan dahi. Sebagai seorang CEO yang cerdas, dia langsung menghubungkan titik-titiknya. Mual pagi hari. Lelah. Sensitif bau.
Dia menatapku dengan mata membelalak.
"Arini... jangan-jangan kamu..."
Aku juga membelalak menatapnya.
"Tidak mungkin... secepat ini?" bisikku.
Revan tanpa pikir panjang langsung menggendongku ala bridal style keluar dari kamar mandi, mengambil kunci mobil, dan berteriak memanggil Bi Ijah.
"Bi! Siapkan mobil! Kita ke rumah sakit sekarang!"
Di rumah sakit internasional di Jimbaran, kami menunggu hasil tes darah dengan jantung berdebar kencang. Tanganku dan tangan Revan saling menggenggam erat, basah karena keringat.
Dokter keluar dengan wajah tersenyum lebar, membawa sebuah amplop.
"Selamat, Pak Revan, Bu Arini," kata Dokter dengan senyum. "Hasilnya positif. Bu Arini hamil 5 minggu."
Dunia ku berhenti berputar.
Hamil.
Aku... hamil?
Wanita yang selama tiga tahun dibilang mandul tidak berguna oleh Bara dan ibu mertuanya, yang setiap malam menangis karena memohon seorang anak... kini hamil?
Air mataku tumpah deras. Aku menutup mulutku dengan kedua tanganku, tidak percaya.
Revan yang di sampingku juga membeku. Lalu dia memelukku erat sekali, mengangkatku dan memutar-mutar tubuhku di tengah koridor rumah sakit sambil berteriak bahagia.
"KITA HAMIL! SAYANG, KITA HAMIL! AKU JADI AYAH!" teriak Revan, tidak peduli semua perawat dan pasien menatapnya aneh. CEO dingin yang terkenal jutek itu, kini berteriak seperti anak kecil dapat hadiah.
Aku menangis di pelukannya. Menangis sejadi-jadinya.
"Revan... aku... aku tidak mandul... aku bisa punya anak..." bisikku di antara isak tangis.
Revan mengecup keningku berkali-kali. "Tentu saja kamu tidak mandul, sayang. Kamu sempurna. Kamu wanita paling sempurna di dunia ini. Bara yang bodoh itu yang tidak bisa melihat keajaiban di depan matanya."
Malam itu, kami tidak jadi kembali ke villa. Kami duduk di tepi pantai Jimbaran, menatap matahari terbenam, dengan hasil USG pertama yang masih berupa titik kecil di tanganku.
Revan meletakkan tangannya di atas perutku yang masih rata.
"Halo, Nak. Ini Ayah. Ayah janji akan menjadi ayah terbaik di dunia untukmu. Ayah janji tidak akan pernah membuat Mama mu menangis lagi," bisik Revan pada perutku.
Aku tersenyum sambil bersandar di bahunya.
Di atas langit Bali yang jingga, aku berbisik dalam hati.
Terima kasih, Tuhan. Terima kasih karena telah membuang Bara dari hidupku. Karena jika tidak, aku tidak akan pernah bertemu Revan dan tidak akan pernah mendapatkan keajaiban kecil ini.
Sementara itu, di sebuah kontrakan kecil di Jakarta yang bau dan pengap, Bara menerima telepon dari temannya.
"Bara, lo tau gak? Arini hamil! Hamil anak Revan! Berita nya ada di mana-mana! Gila, dulu lo bilang dia mandul kan?"
Telepon itu terjatuh dari tangan Bara.
Arini... hamil?
Wanita yang dia bilang mandul dan cacat selama tiga tahun, kini hamil dengan pria lain hanya dalam waktu sebulan menikah?
Bara tertawa. Tawa gila yang penuh penyesalan. Dia tertawa sambil menangis, membenturkan kepalanya ke dinding kontrakan.
Bukan Arini yang mandul. Tapi dia. Dia yang mandul. Dia yang cacat. Dan dia baru menyadarinya sekarang, saat semuanya sudah terlambat.