Karena suami dari putrinya miskin, seorang ayah rela menjual putrinya kepada pria lain untuk membayar hutang judinya. Tapi ayah brengsek itu tidak tau jika pria yang membeli putrinya adalah putra menantunya sendiri. Semua rasa bersalah dari perbuatan ayahnya itu ia tanggung sendiri kepada sang suami. Tapi herannya, suaminya tidak marah saat mengetahui jika istrinya dijual dan dihamili oleh pria lain. Apakah Gina Penelope akan memaafkan sang suami karena telah mempermainkannya? Dan bagaimana kehidupan rumah tangga Gina dan suaminya setelah kejadian satu malam dengan pria lain? Baca novel ini dan dukung untuk jadi favorit ya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SariRani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEMBALI KE KELUARGA
Kedua pasang mata yang dulu pernah saling pandang dengan cinta kini kembali bertemu.
Setelah 5 tahun berpisah, Abraham dan Stella kembali bertatap muka.
"Abraham"
"Stella"
Keduanya saling panggil dengan ragu.
Suara tangis anak perempuan itu mereda saat merasa lebih tenang dan tidak kaget.
Tiba tiba ada pria yang berdiri di samping Stella dan mengambil alih anak perempuan tersebut.
"Halo Abraham" sapa pria itu.
Abraham diam saja dan memberikan pandangan tajam kepada pria yang memanggilnya.
"Ada Yohanes dan Flora juga. Kalian masih bersama ternyata. 3 serangkai" celetuk pria itu.
"Ayo kita pergi saja, John" ajak Stella.
Pria yang bernama John itu memandang Abraham dengan tatapan meremehkan.
Stella menggandeng John lalu keluar cafe tanpa berkata apa apa lagi pada Abraham.
Yohanes dan Flora pun berdiri dibelakang Abraham yang membeku.
"Kamu masih belum move on dari Stella?" tanya Flora.
"Kasihan yang jadi istrimu, dia menjadi pelampiasan" lanjut Flora mengejek dan lebih dulu mencari tempat duduk.
Setidaknya perasaan patah hati tadi sedikit terbalaskan dengan tau kondisi Abraham bertemu mantan terindah.
Yohanes hanya mendesah pelan.
"Ada ada saja drama cinta di kehidupan Abraham" batinnya.
Lalu ketiganya duduk. Yohanes duduk sendiri, Abraham dan Flora duduk bersampingan.
Waiters datang untuk melayani mereka.
Abraham terlihat murung dan diam, tidak se semangat sebelumnya.
Flora yang sudah hafal pesanan kedua sahabatnya langsung memesan.
"Selera kalian sama kan? Aku pesankan" ucapnya.
Yohanes dan Abraham hanya mengangguk pasrah.
Waitersnya pergi dan mereka kembali bertiga.
"Sudahlah, Ham. Jangan dipikirkan soal Stella dan John tadi, merusak suasana makan siang kita saja" ujar Yohanes.
"Benar. Tadi aku yang badmood dan sekarang kamu yang badmood, apakah makan siang ini hanya Yohanes yang menikmati?" timpal Flora.
Abraham masih diam. Yohanes menatap Flora tajam memberi kode agar tidak asal berbicara.
"Kalian tau jika mereka kembali ke London?" tanya Abraham tiba tiba berbicara.
"Mana kita tau? Kita aja juga baru tau kalau mereka kembali kesini" jawab Flora.
"Apa yang dikatakan Flora benar. Kita tidak tau sebelumnya" tambah Yohanes.
Tidak ada senyum lagi di bibir Abraham.
Suasana menjadi canggung, hingga pesanan mereka datang.
Ketiganya menikmati makan siang, meskipun perasaan yang tidak karuan bagi Abraham.
Flora cukup senang di hatinya melihat Abraham seperti patah hati lagi.
"Hahaha, ya mungkin aku tidak bisa bersamanya, setidaknya istrinya sekarang pun tidak sepenuhnya memiliki hati Abraham yang masih stuck di Stella" batinnya.
Tidak ada percakapan lebih dari mereka, padahal jika biasanya mereka bertiga langsung ngobrol saat bertemu seperti ini.
Suasana semakin mencekam saat Charles dan Lily datang di cafe.
"Dad, Mom" panggil Abraham kaget saat melihat keduanya sudah berdiri didepannya.
Abraham langsung memberikan tatapan tajam kepada Flora disampingnya. Pasti bukan Yohanes yang cepu tapi Flora.
"Ikut daddy dan mommy pulang" ajak Charles tanpa basa basi.
"Aku masih makan siang" jawab Abraham.
Lily mendekat dan memeluk putra keduanya ini dengan erat.
"Mommy sangat merindukanmu, Abraham. Ayo kita pulang dan berbicara dengan baik" bisik wanita itu.
Mendengar suara ibunya yang ia rindukan membuat Abraham luluh.
"Baiklah. Tunggu aku 1 jam lagi, nanti aku akan pulang dengan sendirinya" ujar Abraham.
Pelukan Lily terlepas.
"Tidak. Kamu pulang sekarang dengan kami, Abraham Louis Alexander" paksa Charles mengintimidasi.
Abraham tidak ingin membuat keributan di cafe dan mempermalukan orang tuanya.
Ia pun berdiri lalu menatap tajam dan marah kepada Flora yang tersenyum tipis penuh kemenangan.
"Awas kau, Flora! Tunggu balasanku" arti tatapan Abraham kepada sahabat wanitanya itu.
Akhirnya Abraham mau pulang bersama Charles dan Lily.
Yohanes dan Flora berduaan di cafe.
"Kamu mengkhianati Abraham" celetuk Yohanes.
"Aku hanya membalas rasa sakit hatiku" balas Flora santai.
"Kamu tidak tau apa yang bisa Abraham lakukan jika marah beneran" ujar Yohanes.
"Apa yang bisa dia lakukan kepadaku? Mungkin ya dipecat saja dari perusahaan. Kita sudah bersahabat selama 10 tahun lebih, pasti dia memaafkanku karena hubungan kita" ucap Flora.
"Percaya diri banget kamu, Flo. Aku tidak akan membantumu jika nanti Abraham akan membuat masalah denganmu" sahut Yohanes.
Flora hanya bisa memberikan senyuman menyeringai. Ia percaya jika Abraham tidak akan berbuat macam macam kepadanya yang melebih batas.
Sedangkan Yohanes hanya geleng geleng kepala melihat perbuatan sahabat wanitanya ini.
Keduanya pun melanjutkan makan siang hingga selesai. Yohanes yang pada akhirnya membayar tagihan karena Abraham sudah pergi.
Diperjalanan, Charles, Lily dan Abraham tidak mengeluarkan suara dalam mobil yang dikemudikan oleh driver.
Hingga mereka sampai di kediaman Alexander.
Abraham menginjakkan lagi di rumah ini setelah 2 tahun pergi tanpa kabar.
"Abraham" panggil seorang kakek tua yang duduk di kursi roda.
"Kakek" sapa Abraham sambil memeluk kakeknya.
"Akhirnya kamu pulang juga" ucap pria tua itu.
"Ayah, jangan menyambutnya sebaik ini. Aku akan mengajarinya sesuatu atas konsekuensi yang sudah ia ambil dan mempermalukan keluarga kita" ucap Charles penuh kemarahan.
Lily tak bisa melawan suaminya.
Charles memang memiliki karakter tegas dan disiplin dengan ambisi.
Akhirnya cara mendidik anak anaknya juga cukup keras, kecuali kepada putrinya yang sangat ia sayangi.
Didikan militer ia lakukan kepada 2 anak laki lakinya, Abram dan Abraham.
Abram sebagai anak pertama mengikuti didikan militer ayahnya dengan baik, namun untuk Abraham gagal total.
"Ikut daddy ke ruangan kerja sekarang" perintah Charles.
Abraham yang sudah kembali pun tidak bisa menolak lagi.
Ada rasa rindu dengan rumah ini, namun jiwa pemberontaknya lebih besar.
Saat baru sampai ruang kerja sang ayah, tamparan langsung ia terima.
Plak!
Lalu pukulan di perut Abraham.
Bugh!
Abraham sampai terbatuk batuk.
"Kamu tau apa akibat dari perbuatan mu 2 tahun lalu hah? Daddy kehilangan investasi sebesar 50 juta Euro dari perusahaan Megaladon milik keluarga Wanderson" ucap Charles penuh kekesalan.
"Dan lagi, saingan ayah yang menyelamatkan nama baik keluarga kita. Pamanmu menikahkan Charlos dengan Bell hingga akhirnya 50 juta Euro itu jatuh ke perusahaan Glory Alexander Group" lanjutnya.
Abraham malah tersenyum menyeringai.
"Setidaknya keluarga Alexander tetap berjaya" sahutnya.
Plak!
Charles kembali menampar putra keduanya itu.
"Usiamu hampir 30 tahun tapi tidak bisa memberikan kontribusi apa apa untuk keluarga. Mau jadi apa kamu hah?" ucapnya.
"Aku mau jadi pria yang bebas dari anda, Tuan Charles. Aku tidak ingin menjadi hewan peliharaan anda" sindir Abraham.
Plak!
Lagi lagi Charles menampar Abraham hingga sudut bibir berdarah.
"Hahahhahaa...tampar aku terus, dad. Aku memang bukan putra kesayangan daddy, aku pun bukan anak kebanggaan daddy. Aku hanya anak buangan yang seharusnya tidak daddy lahirkan agar tidak buat malu" balas Abraham.
Charles semakin mendidih darahnya dibuat emosi oleh putra nakal nya ini.
Tapi melihar Abraham sudah bersimpuh didepannya dengan wajah merah serta terluka, Charles menghembuskan nafas kasar lalu berjalan di kursi miliknya.
"Berdirilah dan duduk didepan daddy untuk berbicara antara pria, Abraham" perintah Charles kemudian.
Abraham berusaha berdiri dan duduk didepan ayahnya sesuai perintah.
lanjut thor