Tubuh Elisa bergetar hebat di ambang pintu kamar hotel. Di depannya, seorang pria berdiri tegap menatapnya dingin. Asing. Berbahaya dan malam ini, pria itulah yang memegang nyawa ibunya.
Satu malam. Jika Elisa berhasil memuaskan pria itu, ibunya tetap hidup. Jika ia gagal, selang dan alat-alat medis ibunya akan dicabut.
Elisa tidak punya pilihan. Gadis lugu yang bahkan belum pernah pacaran itu harus menukar kesuciannya demi napas ibunya.
"Mandilah. Aku benci menyentuh perempuan kotor!"
Suara itu dingin, menghina, menusuk sampai tulang.
Demi selamatkan ibunya, Elisa terpaksa melakukan ini, hanya satu malam. Tak disangka pria itu menagihnya seumur hidup. Karena pria itu tidak hanya menginginkan tubuhnya. Dia menginginkan seluruh hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sept, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mati
BAB 30 - ISTRI POLOS TUAN GARRA
🍄🍄🍄
Seperti ditelan bumi, Elisa benar-benar menghilang tanpa jejak. Gadis hamil muda dengan baju OB kebesaran itu lenyap ditelan gelapnya Jakarta jam 2 pagi.
Gadis itu tidak ditemukan, meskipun sudah dicari di mana-mana. Tim suruhan Anggara sudah menyisir semua CCTV jalanan, terminal, stasiun, bahkan panti-panti dan rumah sakit lain. Hasilnya NIHIL.
Hendra langsung dipecat tidak hormat pagi itu juga, begitu juga dengan Bibi. Tuan Garra sangat murka pada keduanya, matanya merah seperti mau membunuh. Dia bahkan sempat mengamuk dan menuntut pihak rumah sakit RSCN atas kelalaiannya menjaga pasien VIP dengan membawa pengacara pribadinya.
Namun, berakhir dengan jalur damai. Pihak rumah sakit meminta maaf dan mengembalikan semua biaya. Karena status Elisa di berkas rumah sakit juga belum jelas. Bukan siapa-siapa Anggara secara hukum. Hanya tertulis sebagai "Nona Elisa, pasien hamil muda, penjamin Tuan Anggara". Tidak ada ikatan suami istri di KTP.
Satu bulan, dua bulan, tiga bulan, berlalu begitu saja dengan sangat lambat bagi Anggara. Jika bagi Elisa tiga bulan itu adalah ketenangannya, bagi Anggara tiga bulan itu adalah neraka.
Anggara tidak lelah mencari, dia kerahkan semua orang-orangnya, koneksinya, detektif swasta untuk mendapatkan Elisa, hidup atau mati. Foto Elisa disebar ke semua anak buahnya. "Cari sampai dapat!"
Jam 2 dini hari, di kediaman megah Garra yang sepi dan dingin.
Garra pulang dengan kondisi mabuk berat. Bau alkohol menyengat dari tubuhnya yang biasanya selalu wangi parfum mahal. Ia jalan sempoyongan, dasinya berantakan, kemejanya keluar, menuju kamar Elisa di lantai atas yang sudah tiga bulan kosong tidak berpenghuni.
Ia membuka pintu kamar itu dengan kasar, menatap tempat tidur yang masih kosong, rapi. Hatinya perih, marah dan emosi tiba-tiba bercampur jadi satu.
"Kenapa kamu pergi, Elisa," teriaknya seperti orang gila di kamar kosong itu.
Dengan emosi yang meluap, ia tarik bedcover putih itu dan melemparkannya ke lantai, merusak barang-barang di dalam ruangan itu. Vas bunga pecah.
"Gadis siallllan! Gadis pembangkang!"
Sadar-sadar sudah pagi, matahari sudah menyorot wajahnya. Dia ketiduran di lantai dingin kamar Elisa, memeluk guling Elisa yang masih ada sisa bau sabun gadis itu.
"Gadis brengsekkk ... akan aku cari kau sampai ke neraka sekalipun!" umpatnya sambil memegangi kepalanya yang pusing berat karena hangover dan kurang tidur.
Garra keluar dari kamar itu dengan langkah berat, balik ke kamarnya sendiri untuk mandi. Tak berapa lama kemudian, dua orang ART baru masuk kamar Elisa. Keduanya menghela napas berat melihat pemandangan yang sama setiap minggu.
"Lagi-lagi berantakan lagi, Mbak. Kayak kapal pecah," bisik ART 1.
"Iya, sepertinya bukan satu dua kali Tuan Garra mengoyak dan membuat berantakan kamar Nona Elisa kalau lagi mabuk," jawab ART 2 sambil mulai membereskan pecahan vas.
Mereka sudah hafal. Setiap Tuan Garra mabuk, pasti kamar inilah pelampiasannya.
Saat Garra dibuat pusing tujuh keliling karena kehilangan Elisa, gadis itu justru tinggal di tempat yang sangat aman dan nyaman, jauh dari hiruk pikuk kota.
Malam itu, setelah kabur dari rumah sakit, dia jalan di trotoar sepi dengan perut lapar dan kepala pusing. Saat akan menyebrang jalan besar tanpa melihat kanan kiri, sebuah mobil Mercy hitam hampir saja menabraknya. Tiiiit!
Elisa yang memang badannya lemas karena belum makan seharian dan hamil muda, langsung pingsan sesaat di tengah jalan.
Dia ditolong oleh orang yang hampir menabraknya itu. Seorang dokter spesialis anak yang terkenal. Duda tanpa anak, cerai mati karena istrinya meninggal karena kanker dua tahun lalu. Namanya Dokter Alfin Pratama, sosok pria berpendidikan, mapan, tampan dengan kacamata, dan sangat baik hati.
Dokter Alfin yang merasa bersalah hampir menabrak gadis hamil itu langsung membawanya ke klinik pribadinya. Setelah sadar dan dicek, janin Elisa masih selamat. Karena iba dan tidak tega melihat gadis muda hamil tanpa keluarga, dia tak hanya menolong Elisa, tapi juga menampung Elisa di salah satu rumah kebun miliknya.
Sebuah rumah lantai satu yang estetik, dengan halaman luas dan dipakai untuk berkebun secara modern hidroponik. Udaranya sejuk, jauh dari perkotaan dan polusi, di daerah Puncak yang tenang. Dokter Alfin paling sebulan sekali ke sana untuk cek kebun dan istirahat dari kerjaan rumah sakit.
Sampai tidak terasa, sudah tiga bulan lebih dia menampung Elisa. Gadis pendiam yang jarang bicara dan selalu melamun di depan jendela sambil mengelus perutnya yang mulai sedikit membuncit.
Sore itu, Dokter Alfin datang membawa kantong buah-buahan dan susu hamil.
"Elisa ... ambil ini. Makanlah yang banyak ... biar janin yang ada dalam kandungan mu selalu sehat dan kuat," kata dokter Alfin sambil duduk di sebelah Elisa di teras, menjaga jarak yang sopan.
"Terima kasih, Dok," ucap Elisa pelan, hampir berbisik. Ia bergeser sedikit, tidak mau duduk dekat-dekat dengan laki-laki. Traumanya pada Anggara masih sangat membekas.
Dokter berusia 35 tahun itu cuma tersenyum tipis penuh pengertian, Elisa sepertinya masih sangat trauma dengan laki-laki. Gadis itu belum banyak cerita tentang siapa ayah dari anaknya, tapi dokter Alfin yang berpengalaman sudah bisa menduga, pasti Elisa adalah korban dan hamil di luar nikah, lalu ditinggalkan.
"Jangan takut, Elisa. Kamu dan anakmu aman di sini. Anggap saja aku kakakmu sendiri. Tidak ada yang akan menyakitimu di sini," ucap Dokter Alfin tulus.
Elisa cuma mengangguk pelan. Tinggal di sini jauh lebih nyaman dan damai. Asal tidak melihat dan tidak mendengar nama Tuan Garra itu lagi, dia sudah sangat bersyukur bisa hidup tenang bersama calon bayinya.
"Elisa... boleh aku bertanya satu hal padamu? Jika tidak mau jawab, tidak apa-apa."
Elisa menoleh pada dokter Alfin. "Apa, Dok?" ucapnya lirih, seperti orang kurang makan.
"Mengenai ayah anak itu," kata dokter sambil melirik perut Elisa.
"Dia sudah mati, Dok."
Dokter langsung diam, tapi wajahnya tak percaya.
Di sebuah gedung tinggi, kantor Anggara. Pria itu sedang duduk di ruang meeting, mendadak Garra bersin-bersin. (Orangnya masih hidup, dibilang sudah almarhum. Elisa ....)
gagal kena serangan fajar ini hampir kena serangan setelah Isya 😂Ay ga coment ahhh takut dosa ,,,Tuan lagi di bekukan agar semua kenceng biar ga berisik!!!!!!! besok bangun Bobo panggilan nya ganti ya Elisa jangan Tuan tapi Den Kang Mas Garra,,, Pembaca jangan pada Traveloka ya,,🤣🤣
PK dokter di macetin dulu aje KK dept 🤭🤣🤣🤣
hemmmm yumii🤭🤭🤭🤭