NovelToon NovelToon
Kesatria Merah

Kesatria Merah

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Isekai / Reinkarnasi / Perperangan
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: PrinceArslan

Mati di medan perang modern, Alvaro sang prajurit pasukan khusus elit terlahir kembali di Aetheria—dunia yang dikuasai oleh sihir dan aura. Sialnya, ia terjebak dalam raga "Arya Denwick" Anak bangsawan 17 tahun berpenyakitan pewaris desa rawa miskin, yang baru saja didorong ke jurang kematian oleh Musuh yg tidak diketahui.
Tanpa "sistem" ajaib layaknya kisah pahlawan lain, Arya menolak takdir pecundangnya. Memadukan pernapasan yang ia ketahui di militer untuk memanipulasi energi aura dan mematikannya seni pedang dari Bumi, ia merakit ulang tubuh rusaknya.
dan menjadi penguasa sejati di kerajaan bahkan dunia tersebut!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PrinceArslan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10: Perhitungan, Baja, dan Pendaran Merah

Udara fajar di perbukitan terasa sangat dingin, menusuk hingga ke balik kemeja linen yang dikenakan Arya. Langit timur baru saja memancarkan semburat ungu kelabu ketika ia melangkah keluar dari pintu belakang kastil, menuju area yang dalam ingatan tubuh ini disebut sebagai lapangan latihan.

Namun, menyebut tempat itu sebagai 'lapangan latihan' adalah sebuah pujian yang berlebihan.

Area itu tak lebih dari sebidang tanah datar berdebu yang dibiarkan terbengkalai. Rumput liar tumbuh setinggi lutut di beberapa sudut. Di sisi kanan lapangan, terdapat rak senjata dari kayu yang sudah lapuk dan berayun pelan ditiup angin. Beberapa pedang baja tua berkarat tersandar acuh tak acuh di sana, berdampingan dengan tombak-tombak yang gagang kayunya mulai membusuk dan beberapa busur panah yang tali busurnya sudah kendur tak layak pakai. Tidak ada rak zirah, tidak ada batu asah, dan yang paling parah: tidak ada satu pun prajurit yang berjaga atau berlatih pagi ini.

Disiplin militer di Baroni Denwick ternyata lebih hancur dari yang ia perkirakan.

Arya menghela napas panjang, kepulan uap putih keluar dari mulutnya. Ia tidak membuang waktu untuk mengeluhkan keadaan. Jika fasilitasnya buruk, maka ia harus memaksimalkan apa yang ada.

Ia berjalan ke tengah lapangan dan memulai rutinitas pemanasan. Karena tubuhnya sama sekali tidak memiliki basis otot yang memadai, ia tidak melakukan gerakan berat yang berisiko merobek ligamen. Ia memulainya dengan peregangan dinamis ala militer: memutar persendian bahu, meregangkan otot paha belakang, pinggul, dan pergelangan kaki.

Setiap kali ia menggerakkan tubuhnya, otot-otot kecil yang tidak pernah dilatih itu langsung memprotes, mengirimkan rasa pegal yang menjalar. Namun, di sinilah keajaiban eksperimen semalam terbukti. Sambil melakukan peregangan, Arya menjaga ritme Lion Breathing-nya secara konstan. Empat detik menarik napas, empat detik menahan, dan seterusnya.

Setiap kali oksigen mengalir ke dalam darahnya, gumpalan aura berwarna merah pekat—crimson—yang bersemayam di ulu hatinya berdenyut pelan. Aura itu secara otomatis menyebar ke seluruh serat ototnya, melarutkan penumpukan asam laktat seketika, dan memberikan suplai energi baru. Tubuhnya tetap berkeringat, tetapi ia tidak merasa kelelahan sedikit pun. Ia seolah memiliki baterai internal yang tak terbatas selama paru-parunya terus bernapas dengan ritme tersebut.

Setelah merasa persendiannya cukup hangat, Arya berjalan menghampiri rak senjata yang lapuk itu.

Ia memilah beberapa bilah logam yang tersisa, sebelum akhirnya menarik sebuah pedang panjang (longsword) standar. Logamnya kusam dan mata pedangnya sudah sangat tumpul, bahkan ada beberapa bagian yang gompal. Beratnya sekitar satu setengah kilogram, sedikit tidak seimbang karena pommel (pemberat di pangkal gagang) yang mulai longgar.

"Cukup untuk pemanasan," gumamnya, mengayunkan pedang itu pelan untuk merasakan titik keseimbangannya.

Arya melangkah kembali ke tengah lapangan. Ia membuka kuda-kudanya, menempatkan kakinya dalam posisi diagonal yang kokoh. Pikirannya perlahan kembali ke masa lalu, memanggil ulang memori otot dan teori-teori bela diri pedang historis yang pernah ia pelajari. Di Bumi, ia adalah seorang praktisi Historical European Martial Arts (HEMA) yang sangat terobsesi dengan efisiensi gerakan.

Ia mulai dengan gerakan dasar: Enam Tebasan Standar (Six Standard Cuts).

Satu. Pedangnya mengayun diagonal dari bahu kanan ke pinggang kiri.

Dua. Balasan dari bahu kiri ke pinggang kanan.

Tiga dan Empat. Tebasan horizontal murni dari sisi luar dan dalam.

Lima dan Enam. Ayunan diagonal dari bawah ke atas.

Awalnya, gerakan Arya terasa agak kaku karena otot remaja ini belum terbiasa dengan beban logam. Namun, seiring berjalannya repetisi, ayunannya menjadi semakin mulus. Ia beralih melakukan Moulinet—putaran pedang mengandalkan pergelangan tangan untuk menjaga momentum bilah tanpa harus membuang tenaga bahu. Suara logam yang membelah udara pagi terdengar mendesing berirama.

Kemudian, ia mengubah gaya pijakannya. Alih-alih bergerak maju-mundur secara linear, Arya mulai menerapkan langkah melingkar dari seni pedang Spanyol, Verdadera Destreza.

Bela diri ini tidak mengandalkan tenaga kasar, melainkan geometri murni. Arya bergerak membentuk lingkaran imajiner di tanah, membayangkan serangan musuh datang dari depan. Alih-alih menangkis dengan keras, ia melangkah ke sudut luar yang aman, menjaga pedangnya tetap mengarah ke tenggorokan lawan imajinernya. Ia menerapkan prinsip dasar pengaturan jarak dan waktu: tangannya selalu bergerak sekian milidetik lebih dulu dari kakinya (waktu asli), memastikan ujung senjatanya tiba di target tepat ketika kakinya menapak.

Pikirannya menjadi sangat tenang, memasuki kondisi kesadaran penuh tanpa emosi yang berlebihan.

Kini tiba saatnya untuk ujian utama.

Sambil terus mempertahankan gerak melingkar Destreza dan menjaga ritme Lion Breathing, Arya mencoba memecah sedikit porsi aura dari ulu hatinya. Ia mengalirkan energi panas itu menyusuri lengan kanannya, melewati telapak tangannya, dan mendorongnya masuk ke dalam gagang pedang berkarat tersebut.

Reaksinya instan.

Bilah baja kusam itu mendadak mengeluarkan suara dengungan pelan layaknya garpu tala yang dipukul. Detik berikutnya, pendaran cahaya merah pekat (crimson) yang sangat tipis merambat menutupi seluruh permukaan pedang, dari pangkal hingga ke ujung bilah. Lapisan aura itu tidak meledak-ledak atau menyilaukan mata. Sebaliknya, aura itu terlihat sangat padat, menempel ketat di tepi logam layaknya kabut panas merah yang mengubah udara di sekitarnya menjadi sedikit beriak.

Sensasi yang dirasakan Arya sangat mencengangkan. Begitu pedang itu terlapisi aura, ia merasa logam mati di tangannya tiba-tiba menjadi perpanjangan dari sarafnya sendiri. Ia bahkan bisa merasakan hambatan angin saat bilahnya bergerak.

Di ujung lapangan, sekitar lima meter darinya, terdapat sebuah tiang latihan kayu ek tua yang sangat tebal—diameter setidaknya setara dengan paha orang dewasa. Tiang itu sudah menghitam karena cuaca, tapi kayunya luar biasa keras.

Arya menghentikan langkah melingkarnya. Ia menatap tiang kayu itu, mengevaluasi jarak secara matematis. Dua langkah, satu ayunan.

Ia memutuskan untuk tidak menggunakan serangan beruntun. Ia meminjam filosofi efisiensi mematikan dari seni pedang Jepang yang pernah ia kaji: satu tebasan mutlak untuk mengakhiri segalanya. Tidak ada gerakan berlebih, tidak ada tenaga yang terbuang.

Arya mengambil napas dalam-dalam, menahan oksigen di rongga dadanya.

Ia melesat ke depan. Tungkai kakinya mendorong tanah dengan presisi, melontarkan tubuhnya melewati jarak lima meter dalam sekejap mata. Tangannya bergerak lebih dulu. Ia memutar pinggulnya, menyalurkan momentum tubuhnya secara sempurna ke pergelangan tangan, dan mengayunkan longsword berlapis aura crimson itu dalam satu tebasan diagonal yang sangat bersih.

TRANG!

Tidak ada suara kayu terpotong. Yang terdengar justru suara logam berbenturan, disusul oleh ledakan kecil yang memekakkan telinga.

Arya menyelesaikan ayunannya dan berdiri diam dengan postur menyamping, ujung pedangnya terarah miring ke tanah.

Di belakangnya, tiang kayu ek yang sangat tebal itu diam selama dua detik penuh. Kemudian, garis merah tipis muncul membelah bagian tengah tiang tersebut. Dengan suara retakan yang keras, setengah bagian atas tiang itu meluncur jatuh, mendarat menghantam tanah berdebu.

Bekas potongannya benar-benar rata, seolah kayu sekeras batu itu baru saja diiris menggunakan pisau bedah panas. Namun, bukan itu yang membuat mata Arya sedikit melebar. Bagian bawah tiang yang masih tertanam di tanah tiba-tiba hancur meledak menjadi serpihan kayu tajam. Sisa-sisa energi aura merah yang tertinggal dari gesekan pedangnya rupanya memuai di dalam serat kayu dan meledakkannya dari dalam.

Tingkat kerusakannya luar biasa destruktif.

Arya menatap pedang di tangannya yang perlahan kehilangan pendaran merahnya, kembali menjadi sebatang logam berkarat biasa. Tangannya sama sekali tidak merasakan daya tolak (recoil) dari benturan kayu tersebut.

"Luar biasa," gumam Arya, tak bisa menutupi kekagumannya.

Eksperimennya sukses melampaui logika. Seni bela diri HEMA dan Destreza memang dirancang untuk membunuh secara efisien, namun gerakannya bergantung sepenuhnya pada daya potong bilah logam. Ketika anatomi geometri yang sempurna dari teknik Bumi itu disuntikkan dengan energi murni pemotong baja dari Aetheria, hasilnya adalah mesin pembunuh yang sempurna. Ia tidak membuang-buang aura untuk membuat ledakan besar secara acak; ia memadatkan aura itu ke dalam struktur ayunan yang paling efisien, sehingga daya hancurnya terkonsentrasi seratus persen pada target.

Bahkan dengan tubuh kurus berpenyakitan ini, satu ayunan yang tepat bisa membelah seorang prajurit berbaju zirah menjadi dua bagian.

Arya tersenyum tipis, merasa usahanya mempelajari buku-buku sejarah militer di kehidupan sebelumnya akhirnya menemukan panggung yang sepadan.

menyadari daya hancur yang luar biasa dari pedang berlapis aura itu, Arya sadar bahwa menunjukkan kekuatan secara terang-terangan adalah tindakakan bodoh. Ia pun menendang sisa-sisa tiang kayu yang hancur itu ke dalam semak rumput tinggi untuk menyembunyikannya, dan memutuskan untuk merahasiakan auranya.

1
palupi
semangat thor👍🥰
palupi
semakin seru...👍🥰
palupi
❤️
PrinceArslan: halo kak' Jika kaka suka karya ku.. aku akan merekomendasikan karya ku yang lain yaitu "Goblin Emperor" barangkali kaka tertarik terimakasih
total 1 replies
palupi
semakin seru 👍
palupi
👍
palupi
langsung tertarik ceritanya 🥰
👍
PrinceArslan: terima kasih 👍
total 1 replies
marsabat hindom
sangat bagus
PrinceArslan: terima kasih 🙏
total 1 replies
Sung Jin Woo
bagus
Akagami Shanks
suka cerita yg seperti ini 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!