Nayara tak pernah menyangka, pria yang dinikahinya dengan penuh cinta, justru tega mengkhianatinya.
Adrian berselingkuh, bahkan menghamili wanita lain, di belakang dirinya.
Di tengah luka dan pengkhianatan, hadir seorang pria yang mencintainya.
Rendra, pria yang mencintai Nayara dalam diam dan bersedia memberinya ketulusan, dan cinta yang tak pernah ia dapatkan dari suaminya sendiri.
Kini, Nayara dihadapkan pada pilihan yang menyakitkan: bertahan demi pernikahan yang telah dikhianati atau pergi bersama luka yang belum sembuh.
Sementara itu, ada hati lain yang menunggunya, berharap suatu hari Nayara mampu membuka kembali pintu cintanya.
Namun, ketika Nayara akhirnya menentukan pilihannya, siapa yang akan ia genggam, suami yang mengkhianatinya, atau pria yang mencintainya? Dan akankah Adrian rela kehilangan istri yang selama ini ia sia-siakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak_Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15: Pernikahan yang Kotor
____🌺
"Aku belum tahu harus bagaimana."
"Jadi, kamu bahkan belum memikirkan apa yang akan kamu lakukan terhadap anakmu sendiri?"
"Aku sedang berusaha mencari jalan keluar!"
Adrian berjalan mendekat dan mencoba meraih tangan istrinya.
Nayara langsung menepisnya. "Jangan sentuh aku."
Adrian membeku.
Untuk beberapa detik, ia hanya memandang tangan yang baru saja ditepis Nayara.
"Aku cuma ingin kita baik-baik lagi, Nay," katanya lirih. "Aku akan memutuskan hubunganku dengan Selena. Besok juga. Aku akan menyelesaikan masalah kehamilannya tanpa melibatkan kamu. Aku janji."
Nayara memandangnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Kamu masih tidak mengerti, ya, Mas?"
"Apa?"
"Masalahnya bukan cuma Selena."
Nayara meluruskan tubuhnya, melepaskan tangannya dari tepi meja konsol.
"Masalahnya adalah kamu. Kamu yang memutuskan untuk mengkhianati ku. Kamu yang memilih berbohong selama enam bulan. Dan sekarang, setelah semuanya terbongkar, kamu masih sibuk memikirkan bagaimana caranya supaya kamu tidak kehilangan apa pun."
"Nay, tolong. Aku mengakui semua kesalahanku. Beri aku kesempatan untuk memperbaikinya."
Adrian menatapnya dengan mata memerah. "Aku masih mencintaimu."
Kalimat itu membuat Nayara terdiam.
Dulu, mendengar Adrian mengatakan cinta mungkin cukup untuk meredakan kemarahannya. Dulu, satu kalimat sederhana dari pria itu bisa membuat Nayara kembali percaya bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Namun, malam ini, kata-kata itu terasa asing.
Bagaimana mungkin seseorang mengaku mencintai istrinya, sementara selama enam bulan ia memilih membagi cinta dan tidur dengan perempuan lain?
Nayara menelan sesak di tenggorokannya.
"Aku cuma punya satu pertanyaan lagi, Mas."
Adrian langsung mengangguk. "Tanya saja, Nay. Aku akan menjawabnya dengan jujur."
Nayara menarik napas dalam-dalam. Ia harus mengumpulkan seluruh keberanian yang tersisa untuk mengucapkan pertanyaan yang sejak tadi menghantui pikirannya.
"Selama enam bulan ini, kamu masih pulang ke rumah dan tidur di kasur yang sama denganku, kan?"
Adrian tidak menjawab.
"Kamu masih memelukku. Kamu masih mencium keningku sebelum tidur. Dan kamu masih meminta hakmu sebagai seorang suami kepadaku."
Wajah Adrian perlahan memucat.
Nayara menatapnya tanpa berkedip. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya jatuh, membasahi pipinya.
"Aku perlu tahu satu hal, Mas."
Suaranya bergetar, tetapi ia memaksa dirinya untuk melanjutkan.
"Selama kamu masih menjadi suamiku, selama aku masih percaya bahwa kamu setia sama aku, Mas …"
Nayara berhenti sejenak. Dadanya terasa begitu sakit hingga ia nyaris tidak sanggup menyelesaikan kalimatnya.
"Kamu juga tidur dengannya saat kamu masih tidur denganku?"
Keheningan kembali menyelimuti ruang tamu.
Adrian membelalak kecil. Bibirnya terbuka, tetapi tak satu pun kata keluar. Pandangannya bergerak turun, menghindari mata Nayara yang kini dipenuhi luka.
Pria itu hanya menunduk.
Nayara terdiam.
Tatapannya tertuju pada Adrian yang berdiri di hadapannya dengan kepala tertunduk. Pria itu tidak menjawab pertanyaannya. Tidak membantah, tidak pula memberikan penjelasan.
Namun, justru keheningan itulah yang menghancurkan sisa kepercayaan Nayara.
Jawaban itu sudah cukup jelas.
Selama enam bulan terakhir, ketika Adrian mengaku sibuk bekerja, pulang larut malam, atau bahkan tidak pulang sama sekali, pria itu ternyata membagi dirinya dengan perempuan lain.
Lebih menyakitkan lagi, Adrian masih bersikap seolah tidak ada yang salah dalam pernikahan mereka. Ia masih memeluk Nayara, masih tidur di sampingnya, bahkan masih menyentuhnya sebagai seorang suami.
Sementara itu, di luar sepengetahuan Nayara, ada perempuan lain yang juga mendapatkan bagian dari dirinya.
Nayara mengepalkan kedua tangannya. Ia berusaha menahan getaran yang menjalar hingga ke ujung jari.
"Jadi, selama ini kamu masih tidur denganku setelah kamu tidur dengan dia?" ujarnya terdengar lirih, nyaris seperti bisikan.
Adrian tetap diam.
Nayara tertawa kecil. Bukan karena ada sesuatu yang lucu, melainkan karena ia tidak tahu lagi harus melakukan apa selain menertawakan kebodohannya sendiri.
"Hebat, Mas."
Adrian mengangkat wajahnya. "Nayara, dengarkan aku dulu—"
"Tidak perlu, Mas?!"
Nayara berbalik, lalu berjalan menuju lemari pakaian. Ia membuka pintunya dan menarik sebuah koper dari bagian bawah. Matanya juga memerah
Adrian mengernyit melihat apa yang sedang dilakukan istrinya. "Nay! Kamu mau apa?"
Nayara tidak menjawab. Ia meletakkan koper di atas tempat tidur, kemudian mulai memasukkan beberapa potong pakaian ke dalamnya.
"Nayara!" panggil Adrian terdengar lebih keras.
Wanita itu tetap melanjutkan kegiatannya. Ia mengambil pakaian, melipatnya seadanya, lalu memasukkannya ke dalam koper. Setelah itu, ia meraih beberapa dokumen penting dan buku tabungannya dari laci.
Semua benda itu, ia masukkan.
Bukan karena ia masih ingin menjaga sesuatu dari pernikahan mereka, melainkan karena ia tahu dirinya harus mulai memikirkan masa depan.
Malam itu, ia tidak ingin pergi dengan tangan kosong dan bergantung pada belas kasihan siapa pun.
"Berhenti!" Adrian akhirnya meraih pergelangan tangannya.
Nayara menoleh tajam. "Lepaskan tanganmu."
"Nayara, kita belum selesai bicara!"
"Menurutku, semuanya sudah selesai sejak aku tahu kamu menghamili perempuan lain."
Rahang Adrian mengeras. "Aku bisa menjelaskan semuanya."
"Menjelaskan apa lagi?" Nayara menarik tangannya dengan paksa. "Kamu mau bilang kalau kamu tidak sengaja menghamilinya? Atau kamu mau bilang kalau semua ini terjadi karena kamu sedang stres?"
Adrian terdiam.
"Kalau begitu, aku sudah mendengar semuanya, Mas. Aku sudah mendengar cukup banyak alasan untuk membuatku sadar bahwa selama ini aku hanya membuang waktuku."
Nayara kembali memasukkan barang-barangnya ke dalam koper.
Adrian mengusap wajahnya dengan kasar. Ia terlihat frustrasi melihat istrinya benar-benar berniat pergi.
"Kamu tidak bisa pergi begitu saja!"
Nayara berhenti sejenak, kemudian menatapnya. "Kenapa? Kamu takut kehilangan istri yang selama ini selalu menunggumu di rumah?"
"Aku tidak bilang begitu."
"Lalu apa?"
Adrian mengembuskan napas panjang. “Pikirkan baik-baik sebelum kamu melakukan sesuatu yang akan kamu sesali.”
Nayara tersenyum getir.
"Lucu sekali. Kamu menyuruhku berpikir baik-baik, sementara kamu sendiri tidak pernah memikirkan perasaanku, sebelum mengkhianatiku."
"Nayara, ini bukan sesederhana yang kamu pikirkan." bela Adrian.
"Memang. Ternyata jauh lebih buruk daripada yang pernah kubayangkan."
Adrian terdiam beberapa saat. Kemudian, seolah baru menyadari sesuatu, ia melirik pintu kamar sebelum kembali menatap istrinya.
"Dengar, kita tidak perlu membuat masalah ini diketahui orang lain."
Nayara memandangnya tanpa berkedip. "Apa maksudmu, Mas?"
"Kita selesaikan semuanya di antara kita saja. Jangan sampai keluarga tahu tentang masalah ini."
Untuk beberapa detik, Nayara hanya menatap Adrian dengan tatapan tidak percaya.
Bahkan setelah semua yang dilakukannya, pria itu masih memikirkan bagaimana caranya menyembunyikan masalah tersebut.
"Jadi, itu yang kamu takutkan?" tanya Nayara pelan. "Keluarga kamu tahu, bahwa kamu berselingkuh?"
"Bukan begitu."
"Lalu bagaimana?"
Adrian mendekat selangkah. "Kamu tahu bagaimana keluargaku. Mama pasti akan marah besar. Reputasiku juga bisa hancur kalau masalah ini sampai keluar."
Nayara mengangguk perlahan.
Sekarang, ia mengerti.
Bagi Adrian, perselingkuhan itu bukan sekadar pengkhianatan terhadap istrinya. Itu juga ancaman terhadap nama baik dan kedudukannya.
Sementara bagi Nayara, semua yang terjadi telah menghancurkan kehidupan yang selama ini ia bangun bersama pria tersebut.
"Tenang saja, Mas ..." ucapnya, "Aku tidak akan berteriak-teriak di depan keluargamu. Aku juga tidak punya niat mempermalukan mu, di depan semua orang."
Adrian terlihat sedikit lega.
Namun, kalimat Nayara berikutnya membuat ekspresinya kembali menegang.
"Aku hanya ingin pergi dari rumah ini."
"Nayara!"
"Aku ingin pulang ke rumah Mama. Aku ingin menenangkan pikiranku dan menjauh darimu untuk sementara waktu."
"Tidak bisa!" jawaban Adrian spontan.
Nayara mengangkat alis. "Kenapa tidak bisa?"
"Kamu istriku!" balasnya.
Kalimat itu membuat Nayara terdiam sesaat. Kemudian, ia tertawa hambar. "Istrimu?"
Adrian menatapnya dengan napas memburu.
"Iya. Kamu istriku, Nayara. Kita sudah menikah. Kamu tidak bisa meninggalkan rumah ini begitu saja hanya karena masalah, sepele seperti ini."
Nayara menatap pria itu seolah baru saja melihat seseorang yang sama sekali asing baginya.
"Sepele? Sekarang kamu ingat kalau aku istrimu?"
Adrian terdiam.
"Ke mana saja kamu, ketika memilih untuk tidur dengan Selena? Ke mana saja kamu ketika berbohong kepadaku setiap hari? Sedangkan kamu tidur bersamanya, apa kamu masih ingat bahwa kamu punya seorang istri?" cecar Nayara.
"Nayara, aku mengaku salah!"
"Tapi kamu masih ingin mempertahankan semuanya, bukan?" cicitnya.
Adrian mengerutkan kening.
"Kamu ingin aku tetap tinggal di sini, tetap menjadi istrimu, tetap melayanimu seperti biasanya, dan tetap menutup mata terhadap apa yang sudah kamu lakukan?!"
"Aku tidak pernah memintamu untuk menutup mata!" suara Adrian berat
"Lalu apa yang kamu inginkan dariku?"
emang lu doang yang bisa 🤣🤣