Sejak ibunya meninggal, hidup Bima berubah menjadi neraka setelah ayahnya membawa istri baru dan anak tirinya yang egois, membuatnya diperlakukan seperti pesuruh dan orang asing di rumahnya sendiri.
Puncaknya, ia difitnah mencuri barang berharga dan diusir begitu saja tanpa ampun, membawa luka hati yang mendalam serta sebuah kotak peninggalan misterius dari mendiang ibunya.
Tak disangka, kotak rahasia itu menjadi kunci bagi Bima untuk bangkit dari titik terendah, bermetamorfosis menjadi sosok sukses dan berpengaruh besar yang siap membuat keluarga pembuangnya bertekuk lutut memohon pengampunan.
Bantu Cherlly dengan LIKE & SUBSCRIBE /IKUTI ya kak❤️❤️, gratis kok tapi sangat berarti biar bisa update tiap hari.
Satu Like👍 dari kalian = 100 semangat.🥰🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35
Mesin jet pribadi milik PT Cipta Sentosa meraung kencang membelah langit biru awan putih.
Suara dengungan turbin bergemuruh konstan di dalam kabin mewah berpenyejuk udara sejuk.
Brumm...
Pesawat melaju mulus di atas ketinggian sepuluh ribu kaki dari permukaan laut.
Bima duduk tenang di kursi kulit ergonomis sambil membaca dokumen laporan port pelabuhan Singapura.
Di seberangnya, Keisha duduk menyilang kaki dengan laptop menyala di atas meja lipat kecil.
Wanita itu mengetik dengan cepat tanpa mengalihkan pandangannya dari layar monitor.
"Perjalanan udara kita akan memakan waktu sekitar dua jam lagi, Tuan Bima," ucap Keisha memecah sunyi.
Bima menoleh sekilas dan menutup dokumen di tangannya dengan gerakan pelan.
"Aku tahu, jadwalku selalu tepat waktu tanpa ada keterlambatan," jawab Bima datar.
Keisha tersenyum tipis mendengar jawaban dingin dari direktur utama muda di depannya itu.
"Anda selalu terlihat kaku dan serius setiap saat, tidakkah sesekali ingin bersantai?" sindir Keisha halus.
"Aku tidak punya waktu untuk bersantai saat pesaing regional sedang mengincar celah kelemahan kita," balas Bima tajam.
Keisha menutup laptopnya dan menatap lurus ke dalam bola mata Bima dengan penuh minat.
"Itulah sebabnya saya yakin pilihan bekerja sama dengan Anda adalah keputusan paling tepat," kata Keisha meyakinkan.
"Jangan terburu-buru memuji, kita bahkan belum mendarat di pelabuhan tujuan," peringatkan Bima dingin.
"Saya tidak pernah salah menilai karakter pemimpin yang memiliki visi tajam seperti Anda," puji Keisha tenang.
Suasana kabin pesawat kembali hening sejenak diiringi suara desau angin luar.
Rian yang duduk agak di belakang berdehem pelan untuk mencairkan ketegangan di antara mereka berdua.
"Maaf mengganggu, Tuan Bima, tim operasional kita di Singapura sudah menunggu di landasan," lapor Rian.
"Bagus, pastikan kendaraan jemputan langsung membawa kita ke area pelabuhan utama," instruksi Bima cepat.
"Baik, Tuan, semua jadwal peninjauan lapangan sudah diatur sesuai rencana," jawab Rian patuh.
Pesawat jet pribadi itu mulai menurunkan ketinggian secara perlahan saat mendekati wilayah udara Singapura.
Bum...
Roda pesawat menyentuh landasan pacu bandara internasional dengan mulus.
Screett...
Suara gesekan ban pesawat mengerem kuat mengurangi laju kecepatan kendaraan mewah itu.
Tidak lama kemudian, pesawat berhenti sempurna di area hangar khusus VIP.
Klak...
Pintu kabin terbuka lebar menyambut udara hangat khas negara tropis.
Bima berdiri dari kursinya dan mengenakan jas hitam miliknya dengan rapi.
"Mari kita mulai babak baru ekspansi ini," ucap Bima melangkah keluar kabin.
Keisha dan Rian berjalan tepat di belakang Bima menuruni tangga pesawat.
Sebuah mobil sedan hitam mewah sudah terparkir rapi menunggu di tepi landasan.
Sreett...
Pintu mobil dibukakan oleh pengawal lokal yang bertugas menjemput mereka.
Bima masuk ke dalam kabin mobil disusul oleh Keisha dan Rian di bangku belakang.
Vroom...
Mobil melaju kencang meninggalkan area bandara menuju kawasan pelabuhan komersial utama.
Pemandangan gedung-gedung modern Singapura menyapa pandangan mereka sepanjang perjalanan tol.
"Pelabuhan utama kita terletak di sektor barat daya yang menjadi jalur transit kapal kargo internasional," jelas Keisha membuka peta digital.
"Bagaimana kondisi pengamanan dan otoritas setempat di sana?" tanya Bima serius.
"Otoritas pelabuhan cukup ketat, tapi kita sudah memegang izin prinsip dari kementerian perdagangan," jawab Keisha mantap.
Mobil akhirnya melambat dan memasuki gerbang utama kawasan pelabuhan laut yang sangat luas.
Krieet...
Pintu gerbang besi terbuka menyambut kedatangan rombongan direksi perusahaan.
Bima turun dari mobil dan memandangi aktivitas bongkar muat kontainer yang sangat sibuk di depan matanya.
Klara...
Suara crane raksasa mengangkat peti kemas baja berukuran besar di kejauhan.
Tiba-tiba langkah kaki Bima terhenti saat melihat sekelompok orang berjas abu-abu mendekat ke arah mereka.
Pria paruh baya berwajah arogan berjalan paling depan memimpin kelompok tersebut.
Pria itu adalah Tuan Tan, penguasa lama jalur logistik pelabuhan regional Singapura.
"Selamat datang di wilayah pelabuhanku, anak muda dari Indonesia," sapa Tuan Tan dengan nada menyindir.
Bima menyipitkan matanya menatap pria asing yang datang tanpa diundang itu.
"Wilayah pelabuhan ini milik otoritas negara, bukan milik pribadi keluargamu," balas Bima dingin.
Tuan Tan tertawa meremehkan mendengar ketegasan dari direktur muda yang baru menginjakkan kaki di negaranya.
"Anak ingusan sepertimu tidak akan bisa bertahan seminggu berbisnis di sini tanpa restuku," ancam Tuan Tan tajam.
Keisha maju satu langkah ke depan berdiri di samping Bima dengan tatapan tidak gentar.
"Tuan Tan, jaga ucapan Anda di hadapan direktur utama PT Cipta Sentosa," bela Keisha tegas.
Tuan Tan menatap Keisha dari atas sampai bawah dengan senyuman sinis yang menjijikkan.
"Wah, rupanya kamu membawa analis cantik untuk menemanimu bermain bisnis di sini, Bima?" ledek Tuan Tan kotor.
Sebelum Tuan Tan sempat melanjutkan kata-katanya, Bima sudah mencengkeram kerah jas pria tua itu dengan cepat.
Bugh!
Cengkeraman tangan Bima membuat Tuan Tan terdorong mundur beberapa langkah ke belakang.
"Jaga mulut kotor-mu atau aku pastikan pelabuhan ini kehilangan izin operasinya hari ini juga," ancam Bima dengan suara berat.
Wajah Tuan Tan langsung memerah padam menahan malu sekaligus amarah di hadapan anak buahnya.
"Keparat... beraninya kamu main kasar di wilayahku!" bentak Tuan Tan kalap.
"Silakan panggil semua premanmu, kita lihat siapa yang akan merangkak keluar dari pelabuhan ini," tantang Bima dingin.
Suasana di area pelabuhan mendadak menjadi sangat tegang dan panas.
Para anak buah Tuan Tan mulai merogoh jas mereka bersiap mengeluarkan senjata tajam.
Rian dan tim pengawal langsung sigap melindungi posisi Bima dan Keisha dari segala arah.
"Tuan Bima, kita bisa selesaikan ini lewat jalur hukum formal," bisik Rian mengingatkan.
Bima melepaskan cengkeraman tangannya dari kerah jas Tuan Tan dengan kasar.
Ia merapikan ujung bajunya sendiri sambil menatap tajam pria tua arogan di depannya.
"Ingat, kedatanganku ke sini bukan untuk meminta izinmu, tapi untuk mengambil alih pasar ini," tegas Bima mutlak.
Tuan Tan merapikan pakaiannya yang kusut dengan napas memburu penuh kebencian.
"Kamu akan menyesal telah menantangku, Bima! Kita lihat seberapa lama perusahaanku bisa menghancurkanmu!" ancam Tuan Tan berbalik pergi.
Ia bersama kelompoknya berjalan meninggalkan area dermaga dengan langkah penuh amarah.
Keisha menghela napas lega lalu menatap Bima dengan sorot mata penuh kekaguman.
"Tindakan Anda tadi sangat berisiko, tapi luar biasa mematikan mental lawan," puji Keisha tulus.
"Orang arogan seperti dia hanya paham bahasa kekuasaan, bukan basa-basi bisnis," jawab Bima tenang.
"Langkah awal kita di Singapura resmi dimulai dengan musuh baru yang berbahaya," ucap Rian cemas.
"Musuh baru justru membuktikan bahwa kita berada di jalur kemenangan yang benar," balas Bima mutlak.
Mereka bertiga kembali masuk ke dalam mobil mewah untuk melanjutkan peninjauan gudang pelabuhan.