NovelToon NovelToon
Nak, Ayo Kita Pergi, Tinggalkan Papa.

Nak, Ayo Kita Pergi, Tinggalkan Papa.

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Cintapertama
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Isti arisandi

Hari ini adalah ulang tahun Prastyo Bharata Utama. Mikhaila ingin membuat malam ulang tahun Pras berbeda dari biasanya. Ia telah menyiapkan kejutan yang selama ini mereka nantikan: sebuah test pack dengan dua garis merah. Di bungkus hadiah itu dengan rapi, lalu ia mengantarkannya ke kantor karena tak sabar menunggu Pras pulang.

Namun, kenyataan justru menghancurkan kebahagiaannya. Sore itu, Mikha mendapati seorang wanita tengah bermanja-manja di ruang kerja bersama suaminya. Hatinya remuk, bahkan ia tak sanggup mendorong pintu untuk meminta penjelasan. Mikha memilih pergi dan mengubah rencananya. Kali ini, ia ingin membuat Pras jatuh miskin dan hidup dalam penyesalan.



Ayo kita dukung rencana Mikhaila, biar lelaki tukang selingkuh itu jera.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isti arisandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

Mikha baru saja tiba di rumah ketika pertahanan dirinya akhirnya runtuh.

Sejak meninggalkan rumah Alena, ia berusaha menahan perasaan yang berkecamuk di dalam dadanya. Ia bahkan masih sempat menyapa beberapa orang di rumah dengan senyum tipis, seolah-olah tidak ada sesuatu yang sedang menghancurkan hatinya.

Namun, begitu pintu kamar tertutup, Mikha tidak sanggup lagi berpura-pura.

Ia meletakkan tas di atas meja rias, lalu duduk di tepi ranjang. Kedua tangannya menutupi wajah, sementara air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya mengalir tanpa bisa dibendung.

Alena.

Nama perempuan itu kembali memenuhi pikirannya.

Perempuan yang dicintai suaminya. Perempuan yang telah membuat Pras berani menjanjikan pernikahan lain, bahkan ketika dirinya masih berstatus sebagai istri lelaki itu.

Mikha tertawa getir di sela tangisnya.

Ternyata, selama ini ia bukan satu-satunya perempuan yang mendapatkan tempat di hati Pras. Bahkan, mungkin ada masa ketika suaminya lebih bersemangat membayangkan kehidupan bersama Alena daripada memikirkan kebahagiaan mereka yang telah dibangun selama tujuh tahun.

Ia mengusap pipinya, tetapi air mata kembali jatuh.

Yang paling menyakitkan bukanlah kenyataan bahwa Pras mencintai perempuan lain.

Melainkan kenyataan bahwa lelaki itu masih pulang ke rumah, masih tidur di sampingnya, masih memanggilnya istri, seolah-olah tidak ada sesuatu yang salah dengan semua kebohongan tersebut.

Bagaimana mungkin seseorang bisa begitu mudah membagi hatinya, sementara orang yang dikhianatinya harus menanggung seluruh rasa sakit sendirian?

Mikha memeluk bantal di pangkuannya.

Ia ingin marah. Ia ingin berteriak dan menanyakan alasan Pras tega melakukan semua itu kepadanya.

Namun, setiap kali membayangkan wajah suaminya, yang muncul justru kenangan tentang tujuh tahun kebersamaan mereka.

Kenangan yang kini terasa seperti sesuatu yang perlahan direnggut darinya.

Tok. Tok. Tok.

Ketukan di pintu membuat Mikha segera menghapus air matanya.

"Sayang, kamu di dalam?"

Suara lembut itu membuatnya menoleh.

"Mama?"

"Iya, Nak. Mama boleh masuk?"

"Boleh, Ma."

Beberapa saat kemudian, pintu kamar terbuka.

Ibu Pras muncul dengan kursi rodanya. Sejak kondisinya menurun, perempuan paruh baya itu memang lebih sering menggunakan kursi roda untuk berpindah dari kamar ke ruangan lain. Sesekali, seorang asisten rumah tangga membantunya, tetapi hari itu ia meminta untuk didorong sampai ke kamar Mikha.

Begitu melihat menantunya duduk di tepi ranjang dengan mata sembap, wajahnya langsung berubah.

"Mikha?"

Mikha buru-buru tersenyum.

"Iya, Ma. Kenapa?"

Mama mengamati wajahnya dengan saksama.

"Kamu menangis?"

Mikha terdiam sejenak sebelum menggeleng pelan.

"Nggak, Ma."

"Mata kamu merah begitu masih bilang nggak menangis?"

Mikha menunduk.

Ia tidak tahu harus menjawab apa.

Mama menggerakkan kursi rodanya mendekati ranjang. Tangannya yang mulai keriput terulur, menyentuh punggung tangan Mikha dengan lembut.

"Ada apa, Nak? Cerita sama Mama."

Mikha menggigit bibir bawahnya.

Ia ingin menceritakan semuanya. Ingin mengatakan bahwa suaminya telah membuat janji pernikahan dengan perempuan lain. Ingin mengungkapkan betapa hancurnya perasaannya setelah mendengar sendiri bagaimana Pras memperlakukan hubungan mereka.

Namun, ia mengurungkan niat itu.

Bagaimanapun, perempuan di hadapannya adalah ibu dari Pras. Ia tidak ingin membuat Mama terjebak di antara dirinya dan anak kandungnya sendiri.

"Nggak ada apa-apa, Ma. Mikha cuma sedang banyak pikiran."

"Banyak pikiran tentang apa?"

"Urusan kecil saja." Mikha memaksakan senyum. "Mama nggak perlu memikirkan. Nanti Mama ikut pusing."

Mama menghela napas pelan.

Ia sudah mengenal Mikha selama bertahun-tahun. Menantunya itu memang selalu berusaha menyembunyikan masalah agar orang lain tidak ikut terbebani.

Sejak awal pernikahan, Mikha dikenal sebagai perempuan yang ceria. Rumah yang semula terasa sepi sering kali dipenuhi suaranya. Ia rajin bercerita, suka bercanda, dan selalu berusaha membuat suasana menjadi menyenangkan.

Bahkan ketika kondisi Mama memburuk, Mikha tetap menjadi orang yang paling sering menemaninya.

Ia tidak pernah mengeluh ketika harus mengingatkan jadwal obat. Tidak pernah menunjukkan kejengkelan ketika Mama membutuhkan bantuan untuk melakukan hal-hal sederhana.

Karena itulah, melihat Mikha menangis seperti sekarang membuat hati Mama ikut terasa sakit.

"Mama sedih melihat kamu begini," ucapnya lirih.

Mikha mengangkat wajah.

"Kenapa, Ma?"

"Karena selama ini kamu selalu ceria. Kamu selalu tersenyum kalau bertemu Mama. Kalau Mama sedang sedih, kamu yang menghibur. Kalau Mama merasa kesepian, kamu yang menemani."

Mama berhenti sejenak, menatap mata menantunya yang kembali berkaca-kaca.

"Tapi hari ini, Mama malah melihat kamu menangis sendirian di kamar."

Mikha tidak sanggup menjawab.

Mama mengusap tangannya.

"Mikha, kamu itu bukan cuma menantu Mama. Kamu sudah Mama anggap seperti anak sendiri. Kalau ada masalah, jangan merasa harus menanggungnya sendirian."

Kalimat itu justru membuat air mata Mikha kembali mengalir.

Ia menunduk, berusaha menahan isak yang hampir lolos dari tenggorokannya.

Mama tidak memaksanya bercerita. Perempuan itu hanya duduk beberapa saat, menemani Mikha dalam keheningan, sebelum akhirnya menghela napas.

"Sudahlah. Kalau kamu belum mau cerita, tidak apa-apa. Tapi jangan dipendam terus, ya, Nak. Nanti kamu sendiri yang sakit."

Mikha mengangguk.

"Iya, Ma."

Mama mengusap kepala menantunya dengan penuh kasih sayang.

"Istirahatlah. Jangan terlalu banyak berpikir."

Setelah memastikan Mikha sedikit lebih tenang, Mama meminta bantuan untuk kembali ke kamarnya.

Mikha mengantarnya sampai pintu, lalu kembali duduk di ranjang setelah Mama pergi.

Kali ini, ia tidak menangis sekeras sebelumnya.

Namun, kata-kata Mama terus terngiang di kepalanya.

Kalau ada masalah, jangan merasa harus menanggungnya sendirian.

Seandainya Mama mengetahui semuanya, apakah perempuan itu masih akan mengatakan hal yang sama?

Mikha tidak tahu.

Ia hanya berharap suatu hari nanti, ketika kebenaran terungkap, Mama tidak ikut terluka karena pilihan yang dibuat oleh putranya sendiri.

Sesampainya di kamar, Mama meminta asisten rumah tangga membantunya duduk dengan nyaman. Setelah itu, ia meraih ponsel yang terletak di meja samping ranjang.

Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.

Ia tidak pernah melihat Mikha menangis seperti tadi tanpa alasan yang jelas. Bahkan ketika menghadapi kesulitan dalam mengurus rumah, menantu kesayangannya itu biasanya tetap bisa tersenyum.

Mama merasa pasti ada sesuatu yang sedang terjadi.

Dan orang pertama yang terlintas dalam pikirannya adalah Pras.

Ia segera menghubungi putranya.

Panggilan itu baru diangkat setelah beberapa dering.

"Halo, Ma?"

"Pras, kamu sedang sibuk?"

"Masih ada pekerjaan sedikit. Kenapa, Ma?"

Mama menarik napas sebelum bertanya, "Kamu sudah melakukan kesalahan kepada Mikha?"

Di seberang sana, Pras langsung terdiam.

"Apa maksud Mama?"

"Mama baru saja ke kamar Mikha. Dia menangis."

Pras yang sedang duduk di ruang kerjanya langsung menegakkan tubuh.

"Mikha menangis?"

"Iya. Matanya merah, wajahnya sembap. Waktu Mama tanya kenapa, dia bilang cuma banyak pikiran. Tapi Mama tahu dia sedang menyembunyikan sesuatu."

Pras mengerutkan kening.

Ia tidak menyangka Mikha akan menangis.

Beberapa hari terakhir, memang ada banyak hal yang membuat istrinya bersikap berbeda. Namun, ia mengira Mikha hanya sedang lelah atau memikirkan sesuatu yang tidak ingin dibicarakannya.

"Tentu aku nggak melakukan kesalahan apa-apa, Ma," jawabnya cepat. "Aku justru sedang berusaha membuat Mikha bahagia."

"Benarkah?"

"Iya. Akhir-akhir ini aku memenuhi keinginannya. Apa yang dia minta, sebisa mungkin aku berikan."

Mama terdiam sesaat.

"Kalau begitu, teruskan."

Pras mengernyit.

"Maksud Mama?"

"Terus bahagiakan istrimu. Jangan sampai dia menangis lagi karena merasa tidak diperhatikan. Perempuan itu sudah banyak melakukan sesuatu untuk keluarga ini. Mama tahu betul bagaimana dia merawat Mama selama ini."

Pras menyandarkan punggungnya.

"Aku tahu, Ma."

"Kalau kamu tahu, jangan sampai kamu membuatnya merasa sendirian. Istri itu bukan cuma perlu diberi uang atau barang. Dia juga perlu merasa dicintai, dihargai, dan ditemani."

Pras terdiam.

Entah mengapa, ucapan ibunya membuat dadanya terasa sesak.

Ia teringat bagaimana Mikha belakangan ini tidak lagi banyak meminta perhatiannya. Istrinya justru terlihat sibuk dengan urusannya sendiri, bahkan terkadang tidak bertanya ketika ia pulang terlambat.

Dulu, Pras sering merasa perhatian Mikha berlebihan.

Sekarang, ia justru merasa kehilangan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan.

"Baik, Ma. Aku akan berusaha membuat Mikha bahagia."

"Bagus. Mama tidak ingin melihat dia menangis lagi."

Panggilan itu seharusnya berakhir sampai di sana. Namun, sebelum Mama menutup telepon, Pras kembali berbicara.

"Ma, sebenarnya aku agak heran dengan Mikha akhir-akhir ini."

"Heran kenapa?"

"Dia berubah. Bulan ini dia sering sekali membeli barang mahal. Tas, pakaian, perhiasan, bahkan beberapa barang yang sebelumnya nggak pernah dia inginkan."

Mama terdiam mendengarkan.

"Padahal, dulu dia selalu bilang lebih baik uangnya ditabung. Dia sering mengingatkan aku supaya nggak boros. Tapi sekarang, setiap kali melihat sesuatu yang disukai, dia langsung ingin membelinya."

Pras mengusap dagunya.

"Aku bukannya keberatan, Ma. Aku mampu membelikannya. Hanya saja, perubahan itu terasa mendadak."

Mama justru tersenyum kecil.

"Memangnya kenapa kalau dia ingin membeli barang mahal?"

"Bukan begitu."

"Pras, selama kamu mampu, berikan saja apa yang istrimu inginkan."

"Tapi, Ma—"

"Dengarkan Mama dulu."

Pras pun terdiam.

"Selama ini, Mikha sudah banyak berkorban. Bisa jadi dia terlalu lama menahan keinginannya karena lebih memikirkan masa depan kalian. Kalau sekarang dia ingin menikmati hasil kerja keras suaminya, apa salahnya?"

Pras tidak langsung menjawab.

Mama melanjutkan dengan suara lembut, tetapi tegas.

"Rezeki suami itu jangan cuma disimpan untuk dirinya sendiri. Selagi mampu, bahagiakan istri. Jangan pelit kepada perempuan yang sudah menemani kamu bertahun-tahun."

"Tapi kalau barangnya terlalu mahal?"

"Kalau memang kamu mampu membelinya tanpa mengabaikan kebutuhan keluarga, berikan saja. Mama percaya, suami yang memperlakukan istrinya dengan baik akan menemukan banyak keberkahan dalam hidupnya."

Pras menunduk.

Nasihat itu membuatnya kembali memikirkan perubahan Mikha.

Dahulu, istrinya selalu mengutamakan tabungan mereka. Bahkan, ketika ia menawarkan hadiah mahal, Mikha sering kali memilih sesuatu yang lebih sederhana.

Namun, sekarang perempuan itu seperti sedang berusaha menikmati uangnya tanpa banyak pertimbangan.

Pras tidak tahu apa yang membuat Mikha berubah.

Ia tidak menyadari bahwa di balik keinginan-keinginan tersebut, istrinya sedang berusaha memastikan bahwa dirinya dan anak mereka tidak akan kehilangan masa depan jika pernikahan mereka benar-benar berakhir.

"Jangan cuma memberikan barang, Pras," tambah Mama. "Luangkan waktu untuknya. Ajak dia bicara. Tanyakan apa yang dia rasakan. Kadang-kadang, yang dibutuhkan perempuan bukan hadiah, melainkan kepastian bahwa suaminya masih menganggap dia berharga."

Pras menelan ludah.

"Iya, Ma. Aku mengerti."

"Bagus. Mama percaya kamu bisa menjaga istrimu."

Setelah panggilan berakhir, Pras tetap duduk diam di kursinya.

Ia memandangi ponsel yang masih berada di tangannya, kemudian membuka percakapan dengan Mikha.

Jarinya sempat mengetik sebuah pesan, menanyakan apa yang sedang dilakukan istrinya.

Namun, ia menghapusnya kembali.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Pras merasa tidak yakin harus berkata apa kepada perempuan yang telah menjadi istrinya selama tujuh tahun.

Ia ingin membahagiakan Mikha.

Ia ingin melihat istrinya kembali tersenyum seperti dahulu.

Namun, di saat yang sama, ia masih menyimpan janji kepada Alena. Janji yang belum ia batalkan dan rencana pernikahan yang tetap ingin ia wujudkan.

Pras menghela napas panjang.

Ia belum memahami bahwa keinginan untuk mempertahankan dua perempuan tidak akan menyelesaikan persoalan yang sedang dihadapinya.

Sementara itu, di kamar lain, Mikha kembali memandangi ponselnya.

Nama Pras muncul di layar, tetapi kali ini ia tidak segera mengangkatnya ketika telepon itu berdering.

Ia hanya menatap nama suaminya dengan mata yang masih terasa panas.

Dahulu, satu panggilan dari Pras sudah cukup membuatnya tersenyum.

Sekarang, bahkan suara lelaki itu pun belum tentu mampu menenangkan hatinya.

Mikha akhirnya mengangkat telepon setelah deringan berikutnya.

"Halo, Mas?"

Di seberang sana, Pras terdiam sesaat sebelum menjawab.

"Kamu sudah makan, Sayang?"

Pertanyaan sederhana itu membuat Mikha memejamkan mata.

Dulu, ia mungkin akan menjawab panjang lebar, lalu bercerita tentang apa saja yang terjadi sepanjang hari.

Namun, sekarang ia hanya berkata pelan, "Sudah."

"Kamu kenapa? Suara kamu berbeda."

"Nggak apa-apa. Aku cuma capek."

Pras ingin bertanya lebih jauh, tetapi Mikha sudah lebih dahulu berkata bahwa ia ingin beristirahat.

Panggilan pun berakhir.

Mikha meletakkan ponselnya di samping bantal, lalu menatap langit-langit kamar.

Ia masih mencintai Pras. Itulah kenyataan yang paling sulit diterimanya.

"Apakah kamu ingin kita liburan?" Tanya Pras lagiyang tahu Mikha masih belum tidur.

1
Ma Em
Ayo Mikha jgn sampai pelakor yg menikmati hartanya Pras ambil semua yg Pras punya biar si Alena gigit jari dan Mikha jadi janda kaya .
Sri Widiyarti
kutunggu penyesalanmu Pras...
ArchaBeryl
kak kenapa kemrin gak up
hari ini 4 bab ya kak
penasaran
menanti pembalasan istri sah
dan penyesalan suaminya 🤭🤭
Sari Nilam
mikha terlalu main hati . kelamaan ambil.keputusan
Sari Nilam
saran aja thor, mungkin jangan.terlalu lama kebohongan ditutupi
Sari Nilam
bagus suka gayamu pelakormah dipites aja
Sari Nilam
gaskeun mikhahadapi pelakor dengan elegan
Sari Nilam
bagus setelah itu pergilah janga menunda2 lagi
Sari Nilam
ayo mikha pergi sekarang ...biarkan.pras merasa bebas untuk.menikahi sepupu maut.
Sari Nilam
sepupu maut ini
Sari Nilam
harus pintar n cerdik sana laki2 selingkuh
Sari Nilam
pekakor gak tahu malu
Sari Nilam
kalau tabu suami selingkuh tinggalin aja
Sari Nilam
sedih
Sari Nilam
jadi deg2 an..ada apa ya
sunaryati jarum
Nanti setelah Mikha pergi bawa anakmu dalam kandungannya dan tahu sifat asli Alena baru tahu rasa.Mikha segera pergi saja,Mikha sebelum kandungan kamu terlihat
Sari Nilam: serakah ..pras serakah dan.egois.
total 1 replies
Dinda Putri
lanjut
sunaryati jarum
Mampir
Ma Em
Mikha kamu hebat berani membuat pelakor tdk bisa berkutik buat pelakor iri sama Mikha biar dia tersiksa karena mengharapkan sesuatu dari suami orang .
Sri Widiyarti
lanjut thor ditunggu up-nya 🌹
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!