NovelToon NovelToon
Kembali Menemukan Cinta

Kembali Menemukan Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:306
Nilai: 5
Nama Author: bammoon

**"Bagaimana jika seseorang yang ingin kau sembuhkan justru menjadi alasan hatimu sendiri terluka?"**

Setiap orang memiliki masa lalu yang ingin dilupakan. Namun, tidak semua orang mampu melepaskan kenangan yang pernah membuatnya bahagia.

Begitu pula dengan seorang lelaki yang masih terjebak dalam penyesalan masa lalunya. Di balik sikap dingin dan tatapan kosongnya, tersimpan sebuah kisah cinta yang belum selesai. Ia terus menunggu seseorang yang entah akan kembali atau tidak, seolah waktu berhenti sejak hari ketika ia kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya.

Hingga suatu hari, seorang murid baru datang ke sekolahnya.

Gadis pendiam yang awalnya hanya ingin menjalani kehidupan sekolah dengan tenang itu tanpa sengaja menaruh rasa penasaran pada sosok lelaki yang selalu terlihat menyendiri.

"Aku datang karena pena dengan kisahmu. Namun tanpa sadar, aku justru ingin menjadi bagian dari kisah yang baru dalam hidupmu"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bammoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perasaan yang sulit di mengerti

Satu bulan kemudian...

Waktu berlalu begitu cepat. Festival sekolah yang sebelumnya menyita hampir seluruh waktu para siswa kini hanya menyisakan beberapa foto yang terpajang di papan pengumuman. Kegiatan belajar kembali berjalan seperti biasa, meskipun sesekali sekolah masih mengadakan perlombaan kecil dan kegiatan ekstrakurikuler menjelang akhir semester.

Selama satu bulan terakhir, banyak hal berubah dalam keseharian Hikari. Dia mulai terbiasa dengan lingkungan sekolah barunya, memiliki lebih banyak teman, dan tidak lagi merasa canggung ketika harus bergabung dalam kegiatan kelas. Hubungannya dengan Neta juga semakin dekat. Keduanya hampir selalu menghabiskan waktu istirahat bersama, meskipun terkadang Neta lebih memilih pergi bersama teman-temannya yang lain.

Sementara itu, Arsen masih menjadi Arsen yang sama. Laki-laki itu seolah tidak pernah kehabisan alasan untuk menghampiri Hikari. Kadang dia datang membawa makanan, meminjam catatan yang sebenarnya bisa diperoleh dari teman sekelasnya, atau sekadar mengganggu Hikari ketika sedang duduk di kantin.

Hikari sudah beberapa kali meminta Arsen mengurangi kebiasaannya tersebut. Namun, laki-laki itu selalu menanggapinya dengan candaan. Meskipun demikian, Arsen tidak pernah benar-benar memaksanya ketika Hikari menolak ajakan atau memilih pergi bersama Neta.

Berbeda dengan Arsen yang terang-terangan menunjukkan perhatian, Keiran justru tetap sulit ditebak.

Selama sebulan terakhir, Hikari cukup sering bertemu dengannya. Terkadang mereka berpapasan di koridor, bertemu di kantin, atau tanpa sengaja berada di taman sekolah pada waktu yang sama. Hikari biasanya menjadi orang pertama yang menyapa, sedangkan Keiran hanya membalas dengan anggukan atau jawaban singkat.

Anehnya, Hikari tidak pernah merasa bosan.

Justru semakin lama mengenal Keiran, semakin sering dia menemukan hal-hal kecil yang membuatnya ingin berada di dekat laki-laki itu.

Seperti pagi ini.

Hikari sedang duduk di bangkunya bersama Neta ketika menyadari bahwa buku latihan matematikanya tertinggal di rumah. Dia sudah memeriksa seluruh isi tas, tetapi buku tersebut benar-benar tidak ada.

"Net, aku lupa bawa buku latihan."

Neta yang sedang mengerjakan tugas langsung menoleh.

"Serius? Hari ini dikumpulin, lho."

"Iya, aku tahu."

Hikari mengembuskan napas panjang. Dia ingat sudah menyelesaikan tugas tersebut semalam, tetapi kemungkinan besar meninggalkannya di atas meja belajar.

Neta menawarkan agar Hikari menjelaskan kepada guru setelah pelajaran dimulai. Namun, Hikari tetap merasa sedikit kesal kepada dirinya sendiri.

Ketika jam istirahat tiba, dia berjalan menuju perpustakaan untuk mencari beberapa materi yang dibutuhkan dalam tugas berikutnya. Di tengah perjalanan, dia berpapasan dengan Keiran yang baru keluar dari ruang kelasnya.

"Keiran!"

Laki-laki itu menoleh.

"Apa?"

Hikari menghampirinya dengan langkah sedikit terburu-buru.

"Kamu mau ke mana?"

"Kantin."

"Oh."

Keiran memperhatikan wajah Hikari sebentar.

"Kenapa?"

"Nggak apa-apa."

"Terus?"

Hikari tertawa kecil.

"Cuma mau nyapa."

Keiran menggeleng, kemudian kembali berjalan. Namun, setelah beberapa langkah, dia menyadari Hikari tidak mengikutinya seperti biasanya.

"Lo nggak ke kantin?"

"Nggak. Aku mau ke perpustakaan."

Keiran mengangguk.

Hikari kemudian berpamitan dan melanjutkan perjalanan. Namun, baru beberapa langkah, suara Keiran kembali terdengar.

"Hikari."

Gadis itu menoleh.

"Kenapa?"

"Lo belum makan, kan?"

Hikari terdiam sesaat.

"Belum."

"Makan dulu."

"Aku mau cari buku sebentar."

"Perpustakaannya nggak bakal pindah."

Hikari langsung tertawa mendengar jawaban tersebut.

"Iya, iya."

Keiran tidak menunggu lebih lama. Dia kembali berjalan menuju kantin, sementara Hikari akhirnya memutuskan mengikutinya.

Mereka tidak banyak berbicara selama perjalanan. Namun, Hikari justru merasa senang karena Keiran mengingatkannya untuk makan.

Hal sederhana seperti itu sudah cukup membuat suasana hatinya membaik.

Siang harinya, Hikari kembali ke kelas bersama Neta setelah menyelesaikan pelajaran olahraga. Keduanya terlihat sedikit kelelahan karena guru meminta mereka melakukan beberapa latihan sebelum pertandingan antarkelas yang akan diadakan minggu depan.

Neta langsung menjatuhkan tubuhnya ke kursi.

"Capek banget."

Hikari tertawa kecil sambil mengambil botol minum.

"Padahal tadi kamu semangat banget."

"Itu sebelum disuruh lari."

Hikari kembali tertawa. Dia kemudian duduk di sebelah Neta dan mulai membereskan buku pelajaran yang berserakan di atas meja.

Tidak lama kemudian, ponselnya bergetar.

Sebuah pesan dari Arsen muncul di layar.

Hikari, nanti pulang sekolah ada waktu?

Hikari membaca pesan tersebut sebelum membalas.

Kenapa?

Temenin gue beli perlengkapan buat lomba kelas.

Hikari mengerutkan kening.

Kenapa nggak sama teman kelas kamu?

Balasan datang hampir seketika.

Karna gue maunya sama lo.

Hikari mengembuskan napas pelan.

Neta yang duduk di sampingnya melirik layar ponsel tersebut, kemudian langsung tertawa.

"Arsen lagi?"

Hikari mengangguk pasrah.

"Dia ngajak aku beli perlengkapan."

"Terus kamu mau?"

"Nggak. Aku udah janji sama Bi Sumi mau pulang cepat."

Hikari segera membalas pesan Arsen dengan penolakan yang sopan. Laki-laki itu sempat mengirim beberapa pesan bercanda, tetapi akhirnya mengatakan bahwa dia akan pergi bersama teman sekelasnya.

Neta memperhatikan Hikari yang meletakkan ponsel.

"Arsen masih suka sama kamu, ya?"

Hikari mengangkat bahu.

"Aku nggak tahu."

"Dia udah jelas banget, Hikari."

"Mungkin."

Neta terdiam sebentar sebelum tiba-tiba bertanya.

"Kalau kamu sendiri suka sama siapa?"

Pertanyaan tersebut membuat Hikari menghentikan gerakan tangannya.

Dia menoleh kepada Neta.

"Kenapa tiba-tiba nanya begitu?"

"Penasaran aja."

Hikari tidak segera menjawab.

Entah mengapa, wajah Keiran tiba-tiba muncul dalam pikirannya.

Dia teringat bagaimana laki-laki itu sering bersikap tidak peduli, tetapi selalu memperhatikan hal-hal kecil. Cara Keiran berbicara yang terkadang ketus, tatapannya yang sulit dimengerti, dan kebiasaannya membantu tanpa banyak penjelasan.

Hikari segera menggeleng kecil.

"Nggak ada."

Neta menyipitkan mata.

"Yakin?"

"Iya."

Meskipun demikian, Hikari sendiri tidak benar-benar yakin dengan jawabannya.

Sore itu, Keiran sedang berada di lapangan basket bersama beberapa temannya. Latihan baru saja selesai, dan sebagian besar anggota tim mulai meninggalkan lapangan.

Keiran duduk di bangku panjang sambil mengeringkan keringat menggunakan handuk kecil. Di sampingnya terdapat tas dan botol minum yang hampir kosong.

Fio yang sejak tadi menunggu di pinggir lapangan menghampirinya.

"Kei, lo pulang sekarang?"

"Sebentar."

Fio mengangguk, kemudian duduk di ujung bangku.

Mereka sempat membicarakan pertandingan basket yang akan diadakan minggu depan. Fio mengatakan bahwa beberapa siswa sudah mulai membuat poster dukungan untuk tim kelas mereka, sementara Keiran hanya menanggapi seperlunya.

Namun, percakapan itu terhenti ketika ponsel Keiran tiba-tiba bergetar.

Laki-laki itu mengambil ponselnya dari dalam tas.

Awalnya, ekspresinya tidak berubah. Namun, begitu melihat nama yang muncul di layar, gerakan tangannya langsung terhenti.

Fio yang duduk di sampingnya menyadari perubahan tersebut.

"Kenapa?"

Keiran tidak menjawab.

Dia hanya menatap layar ponsel selama beberapa saat, seolah sedang memastikan bahwa dirinya tidak salah melihat.

Panggilan tersebut terus berdering.

Akhirnya, Keiran berdiri dan berjalan menjauh dari bangku.

Fio memperhatikan kepergiannya dengan sedikit heran.

Keiran biasanya tidak terlalu memedulikan panggilan telepon ketika sedang bersama teman-temannya. Namun, kali ini laki-laki itu terlihat begitu terburu-buru.

Setelah sampai di dekat lorong yang sepi, Keiran akhirnya mengangkat panggilan tersebut.

"Halo?"

Awalnya, ekspresi Keiran terlihat sedikit berubah. Ada senyuman tipis yang muncul di sudut bibirnya ketika mendengar suara seseorang dari seberang telepon. Bahkan tatapannya yang biasanya dingin terlihat sedikit lebih hidup.

Namun, senyuman itu tidak bertahan lama.

Entah apa yang dikatakan orang tersebut, wajah Keiran perlahan berubah. Senyuman kecilnya menghilang, digantikan ekspresi terkejut yang sulit disembunyikan.

"Apa maksud kamu?"

Suaranya terdengar pelan, tetapi penuh tekanan.

Keiran terdiam, mendengarkan penjelasan dari seberang telepon. Semakin lama, wajahnya semakin pucat. Tangannya mencengkeram ponsel lebih erat, sementara rahangnya mengeras menahan emosi.

"Jangan bercanda."

Kali ini suaranya terdengar bergetar. Ada kemarahan, kesedihan, dan kekecewaan yang bercampur menjadi satu. Sesuatu yang semula membuatnya merasa senang kini justru menghancurkan harapan yang sempat muncul dalam dirinya.

Keiran ingin mengatakan sesuatu lagi, tetapi kata-katanya seolah tertahan di tenggorokan.

Dia hanya berdiri mematung, mendengarkan suara dari seberang telepon dengan tatapan kosong. Perlahan, matanya mulai memerah, meskipun dia berusaha keras mempertahankan ketenangannya.

Ketika panggilan itu berakhir, Keiran tidak langsung menurunkan ponselnya.

Dia masih berdiri di tempat yang sama, seolah belum mampu menerima apa yang baru saja didengarnya.

Perasaan senang yang muncul beberapa saat lalu telah lenyap sepenuhnya, menyisakan kesedihan dan kemarahan yang tidak tahu harus dilampiaskan kepada siapa.

Keiran akhirnya menurunkan tangannya perlahan. Dia menunduk, memejamkan mata beberapa saat, kemudian mengembuskan napas panjang.

Namun, ketika kembali mengangkat wajah, tidak ada lagi senyuman yang tersisa.

Hanya ekspresi dingin yang berusaha menutupi kekecewaan begitu dalam.

Fio mulai merasa khawatir ketika Keiran tidak juga kembali.

Dia akhirnya berdiri dan berjalan menuju lorong tempat laki-laki itu menerima telepon.

"Kei?"

Keiran menoleh.

Fio langsung menyadari ada sesuatu yang tidak beres.

Wajah Keiran terlihat pucat, sementara tatapannya tampak berbeda dari beberapa menit sebelumnya.

"Lo kenapa?"

"Nggak apa-apa."

"Kei, muka lo pucat."

"Gue bilang nggak apa-apa."

Nada suaranya terdengar lebih keras daripada biasanya.

Fio terdiam sesaat.

Dia sudah cukup lama mengenal Keiran untuk mengetahui bahwa laki-laki itu sedang berusaha menyembunyikan sesuatu.

"Siapa yang nelepon?"

Keiran memasukkan ponselnya ke dalam saku.

"Bukan urusan lo."

Fio mengerutkan kening.

"Gue cuma nanya."

"Ya udah, nggak usah nanya."

Keiran berjalan melewatinya tanpa menunggu jawaban.

Fio berbalik, memperhatikan punggung laki-laki itu dengan ekspresi khawatir.

Dia sebenarnya ingin mengejar Keiran, tetapi akhirnya mengurungkan niat.

Ada sesuatu dalam cara Keiran berbicara tadi yang membuatnya merasa bahwa laki-laki itu sedang menghadapi persoalan serius.

Dan Fio memiliki firasat buruk mengenai perubahan tersebut.

Keesokan harinya, Hikari kembali bertemu Keiran di koridor sekolah.

Saat itu dia baru saja keluar dari perpustakaan sambil membawa dua buku pinjaman. Ketika melihat Keiran berjalan sendirian dari arah tangga, Hikari langsung tersenyum.

"Keiran!"

Laki-laki itu tidak menoleh.

Hikari sempat mengira Keiran tidak mendengar panggilannya. Dia kemudian mempercepat langkah hingga berhasil menyusulnya.

"Keiran, tunggu."

Keiran akhirnya berhenti.

"Apa?"

Hikari sedikit terkejut mendengar nada suaranya.

Biasanya Keiran memang berbicara singkat, tetapi kali ini terdengar jauh lebih dingin.

"Kamu mau ke kelas?"

"Iya."

"Oh. Aku juga mau balik."

Keiran tidak menjawab.

Dia kembali berjalan, membuat Hikari harus menyesuaikan langkahnya agar tidak tertinggal.

Hikari sempat memperhatikan wajah laki-laki itu. Keiran terlihat kurang tidur. Matanya sedikit lelah, sementara ekspresinya sama sekali tidak menunjukkan keinginan untuk berbicara.

"Kamu sakit?" tanya Hikari akhirnya.

"Nggak."

"Tapi kamu kelihatan capek."

"Gue baik-baik aja."

Hikari terdiam sebentar.

Dia sebenarnya ingin bertanya lebih jauh, tetapi sikap Keiran membuatnya ragu.

Ketika mereka sampai di persimpangan koridor, Keiran tiba-tiba berhenti.

"Lo nggak perlu ngikutin gue terus."

Hikari membeku.

"Aku..."

"Gue mau ke kelas."

Setelah mengatakan itu, Keiran langsung berbalik dan berjalan meninggalkannya.

Hikari tetap berdiri di tempatnya selama beberapa saat.

Dia tidak menyangka Keiran akan berbicara seperti itu. Padahal, dia hanya ingin menanyakan keadaannya.

Namun, Hikari mencoba berpikir bahwa mungkin Keiran sedang memiliki masalah.

Dia akhirnya melanjutkan perjalanan menuju kelas tanpa mengejarnya lagi.

Saat jam istirahat, Hikari duduk bersama Neta di kantin. Gadis itu terlihat sedikit lebih diam daripada biasanya.

Neta yang menyadari perubahan tersebut segera menoleh.

"Kamu kenapa?"

Hikari menggeleng.

"Nggak apa-apa."

"Yakin?"

Hikari mengangguk.

Dia tidak ingin menceritakan percakapannya dengan Keiran tadi pagi. Bagaimanapun, dia sendiri belum memahami alasan laki-laki itu tiba-tiba bersikap begitu dingin.

Namun, ketika sedang makan, Hikari tanpa sengaja melihat Keiran berjalan melewati kantin bersama beberapa temannya.

Untuk sesaat, dia ingin memanggilnya.

Akan tetapi, ingatan mengenai perkataan Keiran tadi pagi membuatnya mengurungkan niat.

Hikari hanya memperhatikan laki-laki itu dari kejauhan.

Keiran berjalan tanpa menoleh ke arahnya.

Neta mengikuti arah pandangan Hikari, kemudian kembali memperhatikan sahabatnya.

"Hikari, kamu ada masalah sama Keiran?"

Hikari sedikit terkejut.

"Nggak."

"Terus kenapa dari tadi lihat ke sana?"

Hikari menundukkan wajah.

"Nggak tahu."

Jawaban tersebut membuat Neta terdiam.

Dia tidak lagi bertanya, memilih membiarkan Hikari menyelesaikan makanannya dengan tenang.

Sementara itu, Keiran yang sudah berjalan cukup jauh tiba-tiba menghentikan langkahnya ketika salah satu temannya memanggil dari belakang.

Dia menoleh sebentar.

Namun, sebelum kembali berjalan, pandangannya tanpa sengaja tertuju ke arah meja tempat Hikari duduk.

Gadis itu sedang berbicara dengan Neta.

Keiran memperhatikannya selama beberapa detik.

Ada sesuatu yang membuatnya ingin kembali menghampiri Hikari dan mengatakan bahwa dirinya tidak bermaksud berbicara kasar tadi pagi.

Namun, keinginan tersebut segera ditepisnya.

Dia kembali berjalan bersama teman-temannya.

Pikirannya masih terlalu kacau untuk menghadapi siapa pun.

Terlebih Hikari.

Gadis yang perlahan mulai terbiasa hadir dalam kesehariannya, tetapi kini justru menjadi seseorang yang ingin dijauhinya.

Bukan karena Hikari melakukan kesalahan.

Melainkan karena Keiran sendiri belum mampu menghadapi sesuatu yang baru saja kembali mengusik kehidupannya.

Dan tanpa disadarinya, sikap tersebut mulai melukai seseorang yang sebenarnya tidak mengetahui apa-apa.

1
Paw_chan🐾
wah
Im Human
lanjut penasaran banget
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!