Dave adalah mimpi buruk di perusahaan propertinya: dingin, arogan, dan tanpa ampun memecat karyawan yang gagal mencapai target. Namun, ketika bisnis keluarganya merosot, sang ayah murka dan mencopot jabatannya. Sebagai hukuman, Dave dipaksa bekerja dari nol di perusahaan pamannya dan merasakan kerasnya dunia bawah.
Di sanalah ia bertemu Emma, gadis lembut dan pekerja keras yang banting tulang menjadi kurir pengantar pizza. Di balik senyumnya, Emma memikul beban berat: merawat dua adiknya yang masih SD dan menghindari teror ayahnya yang seorang penjudi kronis.
Pertemuan dua dunia yang bertolak belakang ini awalnya diwarnai ego tinggi Dave. Namun, kegigihan dan ketulusan Emma perlahan meruntuhkan arogansi sang mantan CEO. Ketika seorang bos yang terbiasa di atas harus belajar arti hidup dari seorang kurir pizza, mampukah cinta tumbuh di antara luka masa lalu dan tekanan keluarga mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon B.E.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#Bab 16
Lift membawa Dave dan Emma menuju lantai lima belas. Di kedua tangan Dave telah siap lima kotak pizza yang masih hangat untuk diantar ke pelanggan.
"Kita antar lima kotak ini, ke lima unit dilantai lima belas : unit dua ratus tujuh puluh sembilan, dua ratus delapan puluh, dua ratus delapan puluh empat, dua ratus delapan puluh lima, dan dua ratus delapan puluh delapan," ucap Emma sambil menatap ponsel pengantaran didalam lift.
"Iya," jawab singkat Dave yang berdiri disamping Emma.
Entah kenapa jawaban singkat pria itu membuat Emma heran. Sejak bertemu Dave, ia belum pernah mendengar jawaban pria itu sangat singkat. Biasanya ia akan sedikit sombong bahwa dirinya mampu melakukannya dengan benar atau Dave akan memintanya memberi contoh yang membuat terjadinya drama sebelum pengantaran.
Emma sadar. Setelah obrolan terakhir di perjalanan, Dave terlihat lebih banyak diam dan menjawab seperlunya.
"Dave, apakah ada yang sedang kamu pikirkan ?" tanya Emma sedikit canggung.
"Tidak ada," jawab Dave. "Memangnya kenapa ?" lanjutnya.
"Tidak apa-apa. Aku hanya heran saja, sejak obrolan di perjalanan tadi kamu lebih banyak diam."
"Memangnya aku harus bagaimana ?" Dave menoleh ke Emma yang tinggi badannya selisih dua puluh sentimeter lebih rendah dari dirinya.
Emma sedikit salah tingkah dengan reaksi pria disampingnya. "Ya...agak berbeda saja. Tapi bagus kalau kamu tidak banyak bicara. Jadi bisa fokus ke pekerjaan," jawabnya.
Akhirnya pintu lift terbuka. Mereka telah sampai dilantai lima belas.
"Lebih baik, kamu jangan terlalu memikirkan perubahan sikapku," ucap Dave. "Sekarang bantu aku mengantarkan pizza-pizza ini," lanjutnya. Ia lalu melangkah keluar. Emma pun mengikutinya dari belakang.
Seperti pengantaran yang terakhir kali, Emma akan mengetuk pintu, lalu ia akan menjauh sambil mengawasi Dave yang berhadapan dengan pelanggan.
"Biarkan aku sendiri yang mengetuk pintunya," ucap Dave. Ia tampak serius tidak seperti hari kemarin yang tenang dan santai. Emma pun langsung menarik tangannya—mengurungkan niat untuk mengetuk pintu.
"Baiklah kalau begitu. Ingat ya Dave, kamu—"
"Aku tahu. Aku harus ramah," sahut Dave yang menyebabkan Emma terhenti berkata. "Kali ini, aku tidak akan mengecewakanmu," lanjutnya. Ia terlihat meyakinkan.
Akhirnya Emma berdiri lebih menjauh dari Dave. Walaupun sesaat tadi ia tampak percaya dengan pria itu, tapi saat ini muncul keraguan dihatinya. Ia tak terlalu memikirkan keraguannya terlalu dalam, lebih baik ia tetap berpikir positif.
Dave menghela napas sejenak. Ia lalu mengetuk pintu. Tidak lama kemudian pintu terbuka. Seorang pria yang umurnya sekitar empat puluh delapan tahun berdiri di depannya.
"Selamat pagi. Pengantaran Hudson's pizza," ucap Dave dengan berusaha ramah. Tak lupa ia juga tersenyum, walaupun senyuman itu masih kaku.
Pria di unit dua ratus tujuh puluh sembilan itu, mengambil kotak pizza tumpukan paling atas di kedua tangan Dave. "Ternyata masih hangat," ucap pria itu.
"Selamat menikmati dan terima kasih," kata Dave sedikit gugup. Ia juga berusaha tetap terlihat sopan dan ramah, walaupun hatinya sedikit menolak usahanya itu.
Pintu unit itu pun tertutup. Dave segera bernapas lega. Tak disangka ia berhasil bersikap ramah dengan orang lain. Entah kemana hilangnya sikap angkuh dan arogannya.
Emma yang sejak tadi berdiri beberapa langkah dari Dave tampak bingung dengan situasi yang sedang ia hadapi. Tiada angin yang berhembus, tiba-tiba Dave yang ia anggap pria tersombong di dunia bisa bersikap ramah pada orang lain.
"Aku tidak salah lihat kan, Dave," kata Emma. "Kamu akhirnya bisa bersikap ramah," lanjutnya.
"Sudah. Tidak perlu dibahas. Sekarang kita lanjutkan pengantaran selanjutnya," jawab Dave. Ia berjalan menuju unit dua ratus delapan puluh. Emma mengikutinya. Ia masih tak percaya dengan perubahan sikap Dave.
Pengantaran di unit-unit berikutnya, Dave masih menunjukkan sikap ramahnya pada pelanggan. Emma yang terdiam dan terus mengawasinya, hanya bisa menatap pria itu dengan penuh tanda tanya. Apa yang menyebabkan Dave tiba-tiba jadi lebih ramah dan sopan ?.
...----------------...
Semua pizza pengantaran gelombang pertama berhasil diantarkan tanpa drama seperti di hari pertama. Hari ini, Dave menunjukkan perkembangan yang signifikan. Ia bersikap ramah dan mampu mengatakan terima kasih, sama-sama dan maaf bila terlambat diantar.
Karena pengantaran gelombang pertama di hari kedua ini tanpa drama, Dave dan Emma bisa lebih lama untuk beristirahat. Mereka sedang duduk dikursi panjang taman, di bawah bayangan pohon yang sangat teduh.
Dave duduk termenung sambil menatap danau ditengah taman. Ada beberapa angsa yang berenang disana. Sementara Emma baru saja selesai membeli roti es krim di mobil van yang tidak jauh dari danau.
"Dave, aku belikan kamu satu," kata Emma sambil memberikan roti es krim.
"Dalam rangka apa kamu tiba-tiba membelikanku itu ?" kata Dave. Ia tak sekalipun memalingkan wajah dari dua angsa ditengah danau.
Emma duduk di kursi. Ia ambil sedikit jarak dari Dave yang masih termenung. "Kemarin kamu sudah membelikanku es krim. Sekarang giliranku yang membelikanmu," ucap Emma. "Terimalah Dave. Aku sudah rela mengantri hanya untuk membelikanmu ini," lanjutnya.
Dave memalingkan wajah ke roti es krim yang diserahkan Emma. Ia lalu menerimanya. "Terima kasih," ucapnya.
Emma mulai memakan roti es krim. "Walaupun kamu tidak mau aku membahas perubahan sikapmu, tapi rasanya aku ingin sekali menanyakan. Kenapa kamu dalam sekejap bisa berubah ramah ?" ucapnya. "Dan baru saja kamu bisa bilang terima kasih. Ucapan yang sulit kamu katakan," lanjutnya.
Dave menghela napas. "Lebih baik kamu lupakan soal sikapku kemarin. Aku ingin kamu mengingat sikapku yang saat ini," jawabnya. Ia belum memakan roti es krim ditangannya yang mulai mencair.
"Memangnya kenapa ?"
"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin orang lain terbiasa menganggapku ramah dan lupa kalau aku pernah sombong."
Aku tahu, sepertinya Dave sudah sadar pada dirinya. Batin Emma saat menatap Dave yang kembali termenung menatap ke danau.
Tidak aku sangka. Penjelasanku di perjalanan tadi pagi, mampu menyadarkan Dave. Batin perempuan itu lagi.
Dave masih melamun, sepertinya ia benar-benar sudah menyadari dirinya yang selalu sombong dan arogan.
"Baiklah. Aku akan lupakan sosok Dave yang aku kenal kemarin," ucap Emma. "Dari mulai sombongnya, angkuhnya dan tidak tahu dirinya akan aku hapus dari ingatanku," lanjutnya. Dave tampak menatapnya sesaat dengan senyum tipis sebelum kembali memandang ke arah danau.
"Sekarang daripada roti es krim ditanganmu cair, lebih baik kamu makan segera," kata Emma.
Perlahan Dave pun menikmati es krim yang dibelikan rekannya itu. Emma yang melihatnya sangat lega, karena perjuangannya mengantri es krim dihargai oleh pria itu.
Tidak lama kemudian, roti es krim selesai dimakan. Rasanya segar dan nyaman sekali dinikmati saat siang hari yang panas ini.
"Kita masih ada waktu satu jam," kata Emma sambil memandang jam tangannya. "Aku akui pengantaran pizzamu jauh lebih baik dari kemarin. Tapi, satu hal yang masih belum kamu pelajari," lanjutnya.
"Apa itu ?" tanya Dave bingung.
"Kamu belum belajar mengendarai skuter," ucap Emma. "Kita gunakan waktu setengah jam, untukmu belajar mengendarainya," lanjutnya.