Bima Arka Pradipta , anak dari keluarga sederhana di pinggiran Manado. Keras kepala, tidak banyak bicara di luar lapangan tapi meledak-ledak di dalam lapangan. Hamstring putus , pensiun umur 34 tahun. Dikenal karena tendangan bebas melengkungnya dan loyalitasnya sama tim. Dari anak kampung yang main bola pakai kaki ayam -> ditolak akademi karena dianggap terlalu emosional -> bangkit setelah cedera parah di musim hujan -> jadi kapten yang mengangkat tim degradasi jadi juara.
"Bukan tentang seberapa keras kau terjatuh, tapi seberapa lama kau tetap berdiri di tengah hujan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SelToon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19 U-20 - Piala Dunia U-20 , Timnas Senior & Perahu Baru Bernama Sinar Bima
Umur 19 tahun.
Bima bukan lagi anak Tuminting yang minta kasbon 10 juta. Gajinya di Persija Senior sekarang Rp 75 juta per bulan. Sudah beli rumah petak untuk Ibu dan Bapak di Tuminting , bukan lagi rumah panggung yang bocor. Atapnya seng baru , bukan kaleng bekas.
Tapi Sinar Mira tetap hilang. Sudah jadi bagang di Bitung. Bima pernah mencoba untuk mencari , tapi orang Bitung bilang sudah tenggelam kena badai pada tahun yang lalu.
Piala Dunia U-20 2027 di Indonesia. Tuan rumah. Bima masuk skuad.
Pelatih timnas U-20 , Coach Indra Sjafri , panggil Bima. Bukan sebagai sayap , bukan sebagai no 10. Tapi sebagai no 6. Gelandang bertahan yang bisa melakukan tendangan bebas . Seperti Andrea Pirlo.
"Bima , kamu tidak perlu berlari banyak. Kamu cukup jadi otaknya saja."
Di Piala Dunia U-20 , Indonesia satu grup dengan Argentina , Spanyol , dan Panama.
Match pertama vs Panama di GBK. Bima cetak gol tendangan bebas 29 meter. Indonesia menang dengan skor 1-0.
Match kedua vs Spanyol. Kalah dengan skor 2-0. Bima main 90 menit. Dapat pujian dari Marca Spanyol "El Pescador" ( Nelayan dari Manado yang tendangannya seperti angin.)
Match ketiga vs Argentina. Butuh seri untuk bisa lolos. Di menit ke 92 , Indonesia mendapatkan tendangan bebas 31 meter. Paling jauh seumur hidup Bima.
Bima mundur 6 langkah. Paling jauh.
Dia tendang. Bola kena tiang. Keluar. Indonesia kalah dengan skor 1-0. Gugur.
Tapi nama Bima naik ke dunia. Agen dari Jepang , J2 League , datang : Ventforet Kofu mau beli Bima dengan harga Rp 3 Miliar.
Persija tolak. "Bima untuk timnas senior."
2 bulan setelah Piala Dunia U-20 , umur 19 tahun 6 bulan , Bima dipanggil menjadi pemain timnas senior. Pelatih Shin Tae Yong yang balik lagi untuk periode ketiga.
Debut Senior vs Vietnam di My Dinh. Di menit ke 75 masuk. Kasih assist untuk Rafael Struick. Indonesia menang dengan skor 1-0 di Hanoi. Pertama kali menang di Hanoi setelah 20 tahun.
Bonus Timnas Senior : Rp 100 juta.
Bima tidak pakai uang itu untuk beli mobil. Tidak untuk beli iPhone 17.
Dia pulang ke Tuminting. Pertama kali pulang setelah 2 tahun di Jakarta.
Dia bawa tukang kayu dari Bitung. Tukang kayu yang dulu bikin Sinar Mira tahun 1998 untuk Bapak.
Bima bilang "Om , bikin perahu baru. Lebih besar dari Sinar Mira. 12 meter."
Tukang kayu tanya "Nama perahunya apa ?"
Bima melihat Bapak yang sekarang jalannya pakai tongkat , tapi masih bisa ke masjid.
"Namanya Sinar Bima."
Perahu baru itu butuh biaya sebesar Rp 120 juta. Dari uang bonus timnas senior + tabungan.
Perahu itu tidak untuk melaut. Bima suruh taruh di depan rumah petak baru Ibu dan Bapak. Di darat. Jadi museum beneran. Di atas perahu itu , dia taruh bola jelek yang dulu di dalam Sinar Mira. Bola yang sudah tidak bisa dipompa. Bola yang dulu disembunyikan oleh Joshua.
Dan di dalam perahu itu , dia taruh kemeja kancing 2 Bapak yang sudah wangi laundry , tidak bau laut lagi. Dilipat rapi. Dan jersey Persija no 47 debutnya. Dan jersey timnas U-20 no 6 Piala Dunia. Dan jersey timnas senior no 8 debut vs Vietnam.
Di papan perahu , dia tulis pakai cat putih
Sinar Bima - Dari Tuminting untuk Indonesia.
Janji umur 8 tahun di atas perahu yang bocor sudah lunas
Malam itu , di atas perahu baru yang tidak pernah kena air laut itu , Bima , Bapak , Ibu , Joshua yang sekarang main di liga 2 untuk Sulut United , dan Yudi yang masih jadi kernet , duduk bersama makan tinutuan.
Bapak tidak bisa melaut lagi. Kakinya sakit. Tapi Bapak bilang
"Bima , dulu kita tambal perahu dengan hati. Sekarang hati kita sudah jadi perahu."
Bima melihat ke laut Tuminting yang gelap. Lampu bagang jauh di tengah laut.
Dia tahu , besok dia harus balik ke Jakarta. Latihan timnas senior untuk Kualifikasi Piala Dunia 2030.
Tapi pada malam itu , dia adalah anak Tuminting lagi. Anak yang pernah janji di atas perahu yang bocor saat berumur 8 tahun.
Janji itu lunas. Bukan dengan uang. Tapi dengan perahu baru yang tidak perlu dijual.
#####################################
Cukup sampai disini dulu ya , besok lanjut lagi. Semoga suka , jangan lupa berikan saran , like , dan hadiahnya
Happy reading