NovelToon NovelToon
Dua Wajah Cinta

Dua Wajah Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Demi memenuhi permintaan terakhir Dewi—sahabatnya yang berjuang melawan kanker—Gladys rela menikahi Raka, suami Dewi. Namun, pernikahan tanpa cinta itu membawanya pada kesepian mendalam, sebab hati Raka tetap tertambat sepenuhnya pada almarhumah istrinya.
Mencari pelarian dari rumah tangga yang hampa, Gladys membuka sebuah kafe. Di sana, ia bertemu dengan Praduta, seorang pria berparas tampan yang mengagumi kopi buatannya. Di balik kesan pertama yang sekilas penuh godaan, Gladys melihat ketulusan dalam diri Praduta. Kedekatan yang hangat itu perlahan berubah menjadi benih-benih cinta—sebuah perasaan yang tak seharusnya hadir di tengah ikatan pernikahannya.
Namun, Gladys tidak menyadari bahwa Praduta menyimpan rahasia kelam: kehadiran pria itu bukanlah sebuah kebetulan, melainkan bagian dari dendam masa lalu terhadap keluarga Raka. Kini, Gladys terjebak di persimpangan jalan yang menyiksa—harus memilih antara kesetiaan pada janji pernikahan atau cinta terlarang yang memberi kebahagiaan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Jam di dinding baru menunjukkan pukul empat pagi ketika kesunyian malam perlahan pudar digantikan oleh fajar yang mulai merayap.

Gladys sudah terbangun lebih awal dengan semangat baru yang menggelora di dadanya.

Hari ini adalah hari pertama pembukaan DeGla Cafe—langkah awal mewujudkan impian yang dulu ia rajut bersama almarhumah Dewi.

Dengan langkah ringan namun telaten, Gladys langsung bergerak menuju dapur.

Ia mulai meracik bahan-bahan segar, memotong bumbu, hingga memasak sarapan hangat untuk suami dan mertuanya sebelum ia berangkat menuju ruko.

Pagi ini, ia memilih menyajikan menu spesial: nasi goreng udang dengan aroma rempah yang menggugah selera.

Di balik kesibukannya memasak, ada sejumput harapan kecil yang menyelinap di dalam hati Gladys.

Walau pernikahan mereka dibalut dinginnya keterasingan, ia diam-diam berharap Raka mau sedikit membuka diri dan meluangkan waktu sejenak untuk hadir menyaksikan hari pertamanya membuka bisnis impian.

Tak lama kemudian, aroma masakan yang harum memenuhi area ruang makan.

Papa Devandra dan Raka bergiliran tiba di meja makan.

Gladys menyambut mereka dengan senyuman hangat, lalu dengan cekatan menyendokkan nasi goreng udang ke atas piring masing-masing.

Suasana sarapan pagi itu terasa begitu hening, hanya ditemani dentingan sendok dan piring yang beradu.

Memanfaatkan momen tersebut, Gladys memberanikan diri untuk bersuara. Dengan nada lembut dan penuh kehati-hatian, ia menatap suaminya.

"Mas Raka," panggil Gladys pelan. Raka mendongak sekilas, menatapnya dengan pandangan datar tanpa ekspresi.

"Hari ini, DeGla Cafe mulai buka. Kalau kamu ada waktu luang, apa kamu mau datang sebentar ke Jalan Ahmad Yani untuk melihatnya?"

Harapan yang sempat berpijar di dada Gladys seketika runtuh dalam sekejap.

Tanpa memandang wajah Gladys sedikit pun, Raka langsung menolak undangan tersebut dengan dingin dan acuh.

"Tidak," jawab Raka tandas. Suaranya terdengar dingin menusuk hati.

"Waktuku terlalu berharga untuk dihabiskan pada hal-hal yang tidak penting seperti itu. Ingat posisimu, Gladys. Jangan lupa dengan batas-batas dan kewajibanmu di rumah ini, bukan mengurus hal di luar kendaliku."

Ucapan itu meluncur begitu saja tanpa ada secercah pun rasa iba.

Luka yang menumpuk di dadanya kini tak sanggup lagi ditahan.

Gladys hanya bisa menganggukkan kepalanya pelan, menerima penolakan pahit itu dengan senyum getir.

Namun, pertahanannya runtuh; setetes air mata hangat lolos begitu saja, menetes membasahi pipinya yang mulus di hadapan piring makannya yang belum tersentuh.

Raka menyapu bibirnya perlahan dengan serbet kain di tangan, lalu melemparnya di sebelah piring yang masih menyisakan makanan.

Tanpa secercah rasa bersalah di wajahnya, pria itu bangkit dari kursi dengan gerakan tegas.

Ia melirik sekilas ke arah Gladys yang masih menunduk dengan mata basah, lalu berucap dengan nada dingin yang menyayat hati, "Tidak usah menangis seperti anak kecil."

"Raka! Dia istrimu!" bentak Papa Devandra geram, spontan berdiri dari kursi utamanya dengan napas memburu menatap kelakuan putranya yang kelewat batas.

Namun, Raka sama sekali tidak menghiraukan kemarahan papanya.

Pria itu bergeming, memasang wajah acuh tak acuh, lalu membalikkan badan tanpa membuang waktu sedetik pun.

Ia melangkah keluar rumah menuju halaman, masuk ke dalam mobil mewahnya, dan melaju meninggalkan pekarangan menuju perusahaan.

Di ruang makan yang mendadak terasa hampa itu, Papa Devandra menghela napas panjang dengan dada naik turun menahan emosi.

Ia lantas melangkah mendekati menantunya, mengusap pundak Gladys dengan penuh kelembutan.

"Yang sabar ya, Nak. Maafkan Raka," ucap Papa Devandra lirih.

Gladys mendongak, menyeka sisa air matanya dengan senyum yang dipaksakan tabah.

"Tidak apa-apa, Pa. Gladys mengerti. Gladys harus segera bersiap berangkat ke kafe sekarang."

Sebelum melangkah keluar rumah, Gladys menyempatkan diri untuk menghampiri Papa Devandra yang masih duduk di ruang tengah.

Dengan takzim, ia meraih tangan sang mertua dan mencium punggung tangannya dengan penuh hormat.

Melihat mata Gladys yang masih menyisakan sedikit jejak kemerahan dan kaca-kaca, Papa Devandra menatapnya dengan binar penuh kasih sayang.

Pria paruh baya itu menggenggam tangan menantunya sejenak, memberikan kata-kata penguat serta senyuman hangat yang menenangkan.

"Semangat ya, Nak. Papa yakin kafe kamu pasti akan sukses besar," ucap Papa Devandra tulus.

"Jangan dengarkan perkataan Raka tadi. Papa sangat bangga sama kamu, Gladys."

Kehangatan dari sang mertua seketika meringankan beban di dada Gladys.

Ia mengangguk mantap, lalu pamit untuk segera berangkat bersama Pak Minto yang sudah menunggunya di mobil.

Di dalam perjalanan menuju Jalan Ahmad Yani, suasana di dalam kabin mobil terasa sunyi.

Pak Minto, yang sejak tadi mengamati dari spion tengah dan menyadari kesedihan di wajah majikannya, perlahan mengulurkan tangan memberikan selembar tisu bersih ke kursi belakang.

"Silakan, Bu," ucap Pak Minto ramah.

Gladys tersenyum tipis, menerima tisu itu dan menyeka sisa-sisa air mata di pipinya.

"Terima kasih, Pak Minto."

Pak Minto kembali fokus menyetir, lalu berucap pelan dengan nada penuh kehati-hatian, berusaha mencairkan suasana.

"Maaf, Bu, bukan maksud saya lancang mencampuri urusan keluarga. Tapi, Den Raka sebenarnya baik, Bu. Hanya saja, cara beliau menunjukkan perhatian memang tidak seperti orang kebanyakan."

Gladys menatap ke luar jendela, meresapi setiap kata dari sopir paruh baya yang sudah lama mengabdi di keluarga itu.

Ia kembali teringat betapa dinginnya perlakuan Raka, namun di sisi lain, ia juga tahu pria itu tidak pernah benar-benar menghentikannya atau melarangnya secara mutlak.

Gladys menganggukkan kepalanya pelan, menyimpan sejuta tanya sekaligus tekad baru di dalam hatinya.

Mobil yang dikemudikan Pak Minto akhirnya menepi dengan mulus di depan bangunan ruko dua lantai di Jalan Ahmad Yani.

Di teras depan, seorang gadis muda berpenampilan rapi dengan rambut dikuncir kuda sudah berdiri menunggu.

Begitu pintu mobil terbuka, gadis itu melangkah mendekat dan menyambut Gladys dengan senyuman ramah.

"Selamat pagi, Bu Gladys. Saya Kirana, putrinya Pak Minto," perkenalannya sopan sambil menyalami tangan Gladys.

"Ah, Kirana. Selamat pagi, senang sekali kamu bisa datang membantu," balas Gladys tersenyum hangat.

"Yuk, kita masuk dan bersiap-siap. Hari ini hari pertama grand opening kita."

Namun, saat Gladys hendak melangkah mendekati pintu kaca dan merapikan area depan kafe bersama Kirana, langkahnya mendadak terhenti.

Manik matanya bertaut pada sesosok pria tinggi tegap yang sudah berdiri santai di teras kafe.

Pria berpenampilan kasual dan penuh percaya diri itu menatapnya dengan senyuman khas yang amat ia kenal—pria yang kemarin membuat kepalanya terbentur meja.

Pria itu melipat kedua tangannya di dada, menatap Gladys dari atas sampai bawah dengan sorot mata yang menyelidik namun jenaka.

"Kenapa matamu bengkak begitu?" tanya Praduta langsung, nada suaranya terdengar begitu akrab seolah mereka sudah kenal lama.

"Masih pusing kepala kamu gara-gara benturan kemarin?"

Gladys langsung menggelengkan kepalanya, mengerutkan kening tidak menyangka akan kembali bertemu dengan pelanggan usil ini di hari pertamanya membuka kafe.

"Mau apa kamu ke sini?" tanya Gladys ketus, melipat tangan di dada.

"Aku masih sibuk bersiap-siap untuk pembukaan kafe ini. Belum buka!"

Praduta justru tersenyum makin lebar, melangkah mendekat tanpa menghiraukan tatapan heran dari Kirana dan Pak Minto di dekatnya.

"Kalau begitu, saya pelanggan pertamanya," jawab Praduta santai.

"Aku mau pesan Americano double shot."

Mendengar pesanan yang begitu pekat di pagi hari buta untuk ukuran orang yang baru membuka kafe, Gladys langsung mendengus tidak percaya.

Tanpa sadar, jemarinya terulur dan menyentil kening Praduta dengan cukup keras.

Cethak!

"Mau bunuh diri, hah? Pagi-pagi pesan Americano double shot!" gerutu Gladys jengkel.

Alih-alih marah, Praduta justru meringis kecil sambil memegang keningnya yang disentil, lalu tertawa renyah. Sikap santai dan berani itu justru membuat Gladys kian salah tingkah.

"Ampun, galak banget," canda Praduta, lalu mengulurkan sebelah tangannya dengan sopan ke hadapan Gladys.

"Kenalin, panggil aku Praduta."

Gladys menatap uluran tangan itu sesaat, lalu mendongak menatap wajah Praduta yang tersenyum teduh.Dengan ragu, Gladys menerima uluran tangan itu sekadar bersalaman singkat.

"Dan kamu?" tanya Praduta lembut, seolah sengaja ingin mendengar langsung dari bibir wanita itu.

Gladys menarik tangannya pelan. "Aku Gladys."

"Boleh aku membantumu?" tanya Praduta dengan nada tulus yang diselipi binar usil di matanya.

Gladys mengerjap, menatap pria di hadapannya dengan sebelah alis terangkat.

"Membantuku? Apa kamu tidak kerja?"

Praduta tertawa kecil, menikmati kebingungan di wajah wanita itu.

Dengan santai, ia memasukkan kedua tangan ke dalam saku celananya.

"Pekerjaanku fleksibel. Aku seorang boxer," jawab Praduta dengan nada bangga terselubung.

Mendengar kata tersebut, otak Gladys langsung memprosesnya ke artian lain dalam bahasa Indonesia sehari-hari.

Tanpa sadar, mata Gladys membelalak lebar, wajahnya merona merah karena kaget sekaligus salah tingkah mendengar pengakuan blak-blakan yang dianggapnya tidak senonoh itu.

"Boxer? Celana dalam lelaki?!" seru Gladys spontan, langsung menutup mulutnya dengan sebelah tangan karena malu.

Seketika itu juga, tawa Praduta pecah. Pria itu tertawa terbahak-bahak hingga bahunya bergetar, merasa terhibur luar biasa melihat kepolosan dan reaksi kaget Gladys yang begitu natural.

"Astaga," Praduta menyeka sudut matanya yang sedikit berair karena terlalu kencang tertawa.

"Bukan itu maksudku, Gladys! Maksudku atlet boxing—petinju! Bukan pakaian dalam pria."

Mendengar penjelasan itu, pipi Gladys yang tadinya memerah kini makin terasa panas menahan malu. Ingin rasanya ia menghilang dari sana detik itu juga akibat salah paham yang begitu memalukan.

Di sudut lain, Pak Minto dan Kirana yang berdiri tidak jauh hanya bisa saling melirik sambil menahan senyum melihat interaksi yang mendadak cair di depan kafe tersebut.

1
nining cahyaningrum
akur jelas cerita bagud
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!