Terbuang saat bayi dan nyaris tewas di Hutan Terlarang, Hu Jin tumbuh tanpa mengetahui identitas aslinya sebagai Putra Mahkota Kerajaan Timur.
Ditolak oleh dunia dan diasuh oleh Dewi Es dari Sekte Teratai, Hu Jin bangkit membuktikan dirinya melalui Tulang Kaisar Langit—bakat mitologi yang mengguncang semesta. Namun, alih-alih menjadi alat politik sekte, ia memilih pergi menantang alam liar demi membebaskan gurunya dan merebut kembali takdir yang dirampas!
Mampukah pangeran yang terbuang ini menaklukkan benua dan kembali sebagai Dewa Pedang Es Kuno?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan di Paviliun Terlarang
Ibu kota Kerajaan Timur berdiri megah di balik benteng granit hitam yang menjulang tinggi, namun keagungannya terasa hampa. Udara kota dipenuhi suasana kelam yang menekan dada. Bendera-bendera kerajaan berkibar kusam dan sobek. Toko-toko di sepanjang lorong utama tutup lebih cepat, sementara para pedagang memilih mengunci pintu rapat-rapat.
Di bawah naungan rembulan suram, kelompok prajurit berzirah besi hitam berjalan hilir mudik dengan langkah kasar, memungut pajak paksa dari rakyat kecil yang ketakutan.
Hu Jin melangkah menyusuri jalanan batu pualam yang sepi. Jubah pengembara abu-abunya melambai perlahan ditiup angin malam, sementara topi jerami menutupi paruh atas wajahnya. Dari balik bayang-bayang topi, mata hitam jernih Hu Jin berkilat dingin menyaksikan penindasan di depan matanya. Seorang pedagang roti tua diseret dari kedainya hanya karena kekurangan dua keping perak, sementara anak perempuannya menangis histeris memohon belas kasihan.
Dada Hu Jin bergemuruh pelan. Nasihat dari gurunya, Qian Renxue, serta wejangan tulus dari nenek di Desa Mawar Putih bergema kembali: kekuatan sejati ada untuk melindungi yang lemah, bukan untuk menindas.
Namun, Hu Jin sadar bahwa memukuli beberapa prajurit di jalanan hanya menyelesaikan masalah permukaan. Untuk menghentikan penderitaan ini, ia harus memotong akar kejahatannya. Dan akar itu berada tepat di pusat Kerajaan Timur: Istana Kekaisaran.
Malam makin larut saat awan hitam tebal berarak menutupi rembulan.
Hu Jin berdiri di atas atap bangunan tertinggi yang menghadap langsung ke benteng istana bagian dalam. Dari ketinggian ini, ia melihat obor pengawal melintas secara berkala di sepanjang dinding pertahanan. Mengalirkan dorongan Qi dari Seni Pedang Sembilan Es Kuno, Hu Jin menyamarkan seluruh hawa keberadaan dan denyut jantungnya, menyatu sempurna dengan kepekatannya malam.
SRET
Bagaikan sehelai bulu yang tertiup angin, Hu Jin melompat rendah, meluncur menembus kegelapan dan menyeberangi parit istana tanpa menimbulkan riak air sedikit pun.
Ajaibnya, ketika tubuhnya menembus lapisan tirai Array pelindung tingkat tinggi yang melingkupi seluruh istana, formasi sihir kuno itu tidak memicu alarm atau meluncurkan serangan balasan. Array suci Klan Hu yang ditinggalkan para leluhur secara alami mengenali getaran energi murni dan darah kekaisaran yang mengalir di pembuluh darah Hu Jin. Formasi itu justru melunak, menyambut sang pangeran kembali ke rumahnya.
Hu Jin menyusuri lorong batu yang sepi dengan keahlian luar biasa, melewati barisan pengawal tanpa terdeteksi. Mengikuti bisikan insting serta getaran energi Qi di jiwanya, langkah kaki Hu Jin membawanya ke wilayah paling terisolasi di belakang istana—Paviliun Meditasi Terlarang.
Bangunan kayu tua itu tampak memprihatinkan. Pintu gerbangnya terkunci oleh tiga gembok besi yang karatan, sementara dinding-dindingnya ditumbuhi lumut dan diselimuti debu tebal. Tampak jelas tempat ini telah diabaikan bertahun-tahun.
Hu Jin berdiri di depan pintu kayu berat tersebut. Ia mengulurkan tangan, mendorongnya perlahan.
CREAK...
Engsel pintu berderit nyaring memecah keheningan. Ruangan di dalam terasa hangat namun sangat lembap, dipenuhi aroma minyak dupa yang telah terbakar habis. Di tengah ruangan gelap yang hanya diterangi satu sumbu lilin redup, duduk bersila seorang pria paruh baya bertubuh amat kurus.
Pria itu mengenakan pakaian kebesaran raja yang sudah kusam dan sobek di beberapa bagian. Rambut peraknya yang panjang terurai berantakan menutupi bahunya yang rapuh.
Ia adalah Raja Hu Yan—penguasa tertinggi Kerajaan Timur yang kini telah asing dari dunia, tenggelam dalam depresi dan duka sejak kehilangan istri tercinta dan putra tunggalnya belasan tahun lalu.
Begitu mata Hu Jin tertuju pada sosok pria di hadapannya, dada pemuda itu mendadak bergetar hebat. Jantungnya berdegup kencang secara tak terkendali. Aliran darahnya mendidih secara alami, membawa gelombang kehangatan yang asing sekaligus rasa sakit yang teramat mendalam.
Raja Hu Yan tidak bergerak dari duduknya. Matanya yang terpejam perlahan terbuka, menampilkan manik mata yang redup dan kehilangan semangat hidup. Suaranya terdengar amat serak dan tanpa kehidupan.
"Siapa pun kau... entah kau prajurit utusan Zhao Feng atau pembunuh bayaran dari luar... cabutlah nyawaku sekarang. Pria tua ini sudah tidak memiliki alasan lagi untuk bernapas di dunia yang dingin ini..."
Hu Jin tidak menjawab. Ia melangkah mendekat secara perlahan di atas lantai kayu yang berdebu. Ia tidak menarik pedang hitam di punggungnya. Sebaliknya, dari dalam cincin penyimpanannya, Jepit Teratai Emas yang ia dapatkan dari lelang di Kota Seribu Pedang mendadak bereaksi dahsyat!
SZZZT
Pusaka itu melayang keluar dari cincin penyimpanan Hu Jin secara otomatis! Jepit Teratai Emas itu memancarkan kilauan cahaya keemasan murni yang membakar kegelapan ruangan meditasi, menerangi setiap sudut dinding yang berdebu.
Raja Hu Yan terperanjat dari duduknya. Matanya yang redup kini membelalak lebar bagaikan dihantam petir! Pria tua itu bergetar hebat dari ujung kepala hingga ujung kaki. Ia menatap tak percaya pada Jepit Teratai Emas milik almarhum istrinya, Lin Xue, yang kini mengapung anggun di udara.
"I-itu... Jepit rambut milik Xue-er?!" raung Raja Hu Yan dengan suara pecah dan serak, air mata mendadak merebak di sudut matanya.
Sebelum Raja Hu Yan sempat mencerna apa yang terjadi, cahaya emas dari pusaka tersebut meluncur mendatar dan menyatu lurus ke dalam Dantian Hu Jin. Seketika, sinar keemasan Tulang Kaisar membubung tinggi dari tubuh pemuda berusia tiga belas tahun itu! Aura agung yang sangat murni memancar keluar, membentuk bayangan naga emas yang membentangkan sayapnya di belakang punggung Hu Jin!
Raja Hu Yan tersungkur jatuh ke lantai. Pria perkasa yang dulu ditakuti di medan perang itu kini merangkak mendekati Hu Jin dengan jemari gemetar dan air mata yang menetes deras membasahi pipinya yang tirus.
Ia mendongak, menatap garis wajah Hu Jin di bawah temaram cahaya emas—sebuah perpaduan sempurna antara ketegasan rahang dirinya dan keanggunan mata Lin Xue.
"Aura ini... Tulang Kaisar... dan darah kekaisaran yang begitu murni ini..." bibir Raja Hu Yan bergetar hebat. "Kau... kau adalah anakku?! Hu Jin... putraku yang hilang?!"
Hu Jin menatap pria yang kini berlutut terisak di depan kakinya. Di dalam keheningan ruangan terlarang itu, rahasia darah sang pangeran terbuang akhirnya terkuak sepenuhnya di hadapan sang ayah kandung.