Siapa sangka, Sindi Permata gadis cantik anak miliarder yang penampilannya selalu anggun dan kelihatan lemah lembut ternyata punya sisi gelap yang bikin bulu kuduk merinding. Sindi adalah Ratu Mafia yang memimpin dunia hitam dengan tangan besi. Nggak ada yang berani macam-macam sama dia.
Tapi, sehebat-hebatnya Sindi menaklukan dunia luar, dia akhirnya takluk juga pasrah waktu disuruh nikah paksa sama papanya.
Suaminya adalah Mike Sanjaya, dokter muda jenius yang terkenal dingin, kaku, dan judesnya minta ampun. Masalahnya bukan cuma sifat Mike yang kayak es batu, tapi cowok itu udah punya pacar kesayangan: Putri Adisti, seorang perawat manis yang selama ini jadi ratu di hati Mike, begitu resmi jadi suami-istri, Mike langsung pasang tembok tinggi. Dia terang-terangan nunjukkin kalau pernikahan mereka cuma formalitas dan nggak ada tempat buat Sindi di hatinya. Mike bahkan masih sering nemenin dan merhatiin Putri adisti.
akankah pernikahan mereka bertahan??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 15 Ratu mafia istri dokter dingin
Suara rekaman dari ponsel Sindi berputar jelas di antara dinginnya angin malam di balkon. Namun, Bukannya percaya, raut wajah Mike justru berubah keras, matanya menatap Sindi dengan penuh penolakan.
"Nggak mungkin!" sentak Mike, langsung menepis tangan Sindi yang memegang ponsel.
"Kamu pasti udah merekayasa suara ini! Kamu bayar preman-preman itu buat fitnah Putri, kan?! Apalagi yang nggak bisa kamu beli pake uang dan kekuasaan keluarga kamu, Sindi?!"
Sindi menarik kembali tangannya dengan tenang. Senyum sinis di bibirnya tak pudar sedikit pun, justru tatapan matanya menatap Mike dengan pandangan mengasihani.
"Ternyata rasa cintamu itu bukan cuma bikin kamu dingin, tapi juga bikin kamu buta dan tuli ya, Mas?" bisik Sindi pelan, mengandangkan rekaman di ponselnya kembali ke saku gaun.
"Yaudah kalau nggak percaya. Aku cuma ngasih tahu biar kamu nggak makin kelihatan bodoh di mata orang lain."
Sebelum Mike sempat membalas, pintu balkon terbuka. Ibunda Mike memanggil mereka berdua karena acara makan malam keluarga sudah selesai dan para tamu lain mulai berpamitan.
Setelah seluruh rangkaian acara makan malam mewah itu berakhir, mereka berdua pun berpamitan untuk pulang.
Di lobi depan mansion utama Sanjaya, ibunda Mike menggenggam erat kedua tangan Sindi sambil menatap putranya hangat.
"Mike, tolong jaga baik-baik istrimu ini ya. Sindi ini menantu yang sangat luar biasa," ucap sang mama penuh kelembutan.
Namun, Mike sama sekali tidak memedulikan ucapan mamanya. Tanpa sepatah kata pun atau senyuman, ia berbalik dingin dan langsung berjalan lebar masuk ke dalam mobil limosin yang sudah menunggu.
Melihat kelakuan putranya, sang mama hanya bisa menghela napas pasrah. Sindi yang mengerti situasi langsung tersenyum manis memaklumi, memegang tangan mertuanya dengan santun.
"Pa, Ma... Sindi balik dulu ya," ucap Sindi pamit dengan nada suara yang sangat halus dan santun.
"Iya sayang, kalian hati-hati di jalan ya. Lain kali Mama dan Papa yang bakal berkunjung ke rumah kalian," sahut ibunda Mike dengan wajah berbinar.
"Iya, Ma. Sindi tunggu kedatangannya," balas Sindi anggun sebelum akhirnya membungkuk sopan dan menyusul masuk ke dalam mobil.
Selama perjalanan dari rumah utama Sanjaya menuju mansion mereka, suasana di dalam kabin mobil terasa begitu mencekam. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Mike maupun Sindi.
Mike menatap lurus keluar jendela dengan rahang terkatup kencang, menahan berkecamuknya emosi di dadanya, sementara Sindi duduk santai menyandarkan punggungnya sambil sesekali menggeser layar ponsel.
Sesampainya di halaman mansion mereka, begitu mobil berhenti sempurna, Sindi langsung membuka pintu mobil sendiri dan melangkah keluar tanpa menunggu dibukakan pintu oleh sopir. Ia berjalan anggun masuk ke dalam mansion tanpa melirik Mike sedikit pun.
Begitu Sindi menghilang di balik pintu utama, Mike yang masih berada di dalam kabin langsung mengetuk kaca pembatas sopir dengan kasar.
"Pak, putar balik sekarang. Kita ke daerah kontrakan Putri," perintah Mike tegas dengan suara menahan amarah.
"Baik, Tuan Mike," jawab sang sopir yang segera memutar arah kendaraan.
Perjalanan malam menuju kawasan kontrakan sederhana tempat tinggal Putri terasa sangat panjang bagi Mike. Bayangan rekaman suara tadi sore terus berputar di kepalanya bagaikan kaset rusak, berbenturan dengan rasa percayanya pada Putri.
Sesampainya di depan kontrakan Putri yang sepi, Mike langsung melompat keluar dari mobil. Ia melangkah lebar, menggedor pintu kayu kontrakan itu tanpa sabar.
Klek.
Pintu terbuka, memperlihatkan Putri yang mengenakan pakaian santai. Wajahnya yang tadi agak mengantuk mendadak berubah berbinar melihat kedatangan Mike.
"Mike? Kamu datang malam-malam begini? Ada apa—"
Tanpa basa-basi atau menyapa sedikit pun, Mike menerobos masuk ke dalam ruangan sempit itu dan menatap lurus ke dalam mata Putri.
"Putri, apa benar penculikan kemarin kamu sendiri yang suruh para preman itu untuk menculikmu?" tanya Mike to the point, suaranya dingin menuntut jawaban.
Tubuh Putri mendadak kaku seketika. Raut wajahnya berubah pucat pasi, bola matanya bergerak gelisah melirik ke kanan dan ke kiri.
"M-maksud kamu apa, Sayang? Aku... aku beneran diculik kemarin..." jawab Putri dengan suara terbata-bata, mencoba memegang lengan Mike.
"Putri! Jawab yang jujur!" bentak Mike keras. Untuk pertama kalinya selama tiga tahun mereka berhubungan, Mike membentak Putri dengan suara melengking penuh amarah.
Mendengar bentakan kasar itu, pertahanan Putri langsung runtuh. Kedua matanya berkaca-kaca, dan detik berikutnya air matanya menetes deras membasahi pipinya. Putri menunduk dalam-dalam, tubuhnya gemetaran hebat.
"Mike... aku... aku minta maaf sama kamu..." tangis Putri pecah, suaranya parau menahan rasa bersalah. "Aku lakuin ini supaya... supaya aku tidak dipandang enteng sama keluargamu..."
Darah Mike seakan berhenti mengalir. Dadanya terasa sangat sesak mendengar pengakuan jujur yang keluar langsung dari mulut wanita yang selama ini ia lindungi mati-matian.
"Tapi nggak gini juga caranya, Putri Adisti!" tegas Mike, tangannya mengepal erat di samping tubuhnya.
"Kamu tahu betapa paniknya aku kemarin?! Aku serahkan satu miliar cuma-cuma demi kamu!"
Putri makin menangis histeris, tangisannya menjadi-jadi memecah keheningan malam. Ia berlutut di depan Mike, memegang ujung kemeja Mike dengan penuh penyesalan.
"Aku cuma mau membuktikan ke papamu kalau aku juga bisa bersanding dengan kamu, Mike!" jerit Putri terisak-isak.
"Aku mau kamu melindungi aku dan bikin Papa kamu sadar kalau kamu butuh aku!"
"Tapi nggak harus begini, Put! Aku sampe khawatir setengah mati sama keselamatan kamu!" balas Mike dengan suara bergetar, rasa kecewa yang luar biasa mendalam menghantam ulu hatinya.
"Aku minta maaf sama kamu, Sayang... Aku nggak ada maksud lain dan..." Putri menangis sesenggukan lagi, napasnya memburu dan patah-patah saat mencoba melanjutkan bicaranya. "...dan aku merasa insecure dengan posisi Sindi sebagai anak miliarder, sedangkan aku hanya orang biasa..."
Mike mematung di tempatnya. Kalimat terakhir Putri seolah menjadi hantaman keras yang membuat pikirannya makin kacau. Ia menatap wanita di depannya yang menangis tersungkur di lantai, merasa emosi dan kecewanya bercampur aduk menjadi satu kehampaan yang luar biasa.
Saat Mike masih berdiri membisu memandangi Putri yang menangis terisak, dari balik jendela kaca kontrakan yang agak gelap di seberang jalan...
Sebuah lensa kamera jarak jauh kembali berkelepak pelan dalam kegelapan. Seorang pria berjaket hitam tersenyum tipis sambil menekan tombol perekam, merekam seluruh momen pertengkaran dan pengakuan jujur Putri dari luar secara sempurna.
Pria itu menempelkan earpiece di telinganya. "Nona Sindi, seperti dugaan Anda. Dokter Mike sudah mendatangi kontrakan perawat itu. bukti sudah berhasil kami amankan."
Di ujung telepon dari dalam kamar mewahnya, Sindi yang sedang duduk santai sambil menyesap teh hangat terkekeh pelan.
"Bagus sekali," jawab Sindi dengan nada suara yang luar biasa dingin dan puas.
"Simpan bukti itu baik-baik. Jangan biarkan Dokter Mike mengetahuinya kalau kamu sedang membututinya." sindi berkata dengan senyum misteriusnya.
Bersambung......
hmmm ad kemungkinan klo putri anggota klan red dragon gx sih ,, yg nyamar buat deketin mike🤔🤔🤔🤭🤭🤭😁😁
makin seruu cerita ny ,,
bibir ny minta di kepang dua ,, 😒😒😒
gx Mike gx musuh ny ,, ad aj yg cari gara2 ,,
duuuh sindii ,, segera berantas semua musuh mu ,,