Season kedua ini akan berfokus pada persiapan Yang Zhen dalam menghadapi ancaman invasi skala penuh dari Sekte Pedang Langit ibu kota yang berniat merebut energi Jiwa Iblis Darah Kuno.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Jenderal Zhao mendengus pelan, merasa Master Sektenya terlalu melebih-lebihkan kekuatan seorang pemuda desa.
"Anda terlalu khawatir, Master Sekte," komentar Jenderal Zhao dengan senyum meremehkan.
"Tiga tetua tadi hanyalah orang tua bangka yang terlalu lama duduk bermeditasi di atas gunung."
Jenderal Zhao menepuk dada zirahnya hingga berbunyi nyaring.
Klang.
"Beri saya izin untuk pergi ke Kota Awan Merah malam ini juga," pinta sang jenderal dengan mata menyala-nyala.
"Saya akan menghancurkan formasi gravitasi itu dan membawa kepala Yang Zhen ke hadapan Anda."
Jian Tian tertawa pelan mendengar semangat tempur dari bawahan terbaiknya tersebut.
Hahaha.
"Aku memang berniat mengirimmu ke sana, Jenderal Zhao," jawab Jian Tian dengan nada puas.
"Tapi kau tidak akan pergi ke sana dengan tangan kosong."
Master Sekte itu merogoh saku jubah peraknya dan mengeluarkan sebuah jimat batu berwarna kuning keemasan.
Sring.
Batu itu memancarkan aura elemen tanah yang sangat padat dan stabil.
"Tangkap ini," perintah Jian Tian melemparkan batu tersebut ke arah jenderalnya.
Hap.
Jenderal Zhao menangkap batu itu dengan mudah, namun ia langsung merasakan berat tubuhnya mendadak berkurang drastis.
"Batu apa ini, Master Sekte? Tubuhku terasa seringan bulu angsa," tanya Jenderal Zhao dengan wajah heran.
"Itu adalah Artefak Penolak Massa peninggalan leluhur sekte kita," jelas Jian Tian bersandar ke kursinya.
"Artefak itu akan menolak segala bentuk perubahan gravitasi dalam radius tiga meter dari tubuhmu."
Jenderal Zhao membelalakkan matanya, menyadari betapa berharganya benda di tangannya ini.
"Dengan benda ini, formasi gravitasi pemuda itu tidak akan ada gunanya sama sekali saat melawanku!" seru Jenderal Zhao kegirangan.
"Tepat sekali," sahut Jian Tian dengan senyum licik yang sangat mengerikan.
"Aku ingin kau pergi ke sana besok pagi untuk menguji batasan asli dari formasi pertahanan mereka."
Jian Tian menunjuk lurus ke arah sang jenderal.
"Tugasmu bukan untuk membunuhnya, tapi untuk menghancurkan mentalnya dan memancingnya keluar dari istana."
"Aku ingin melihat apakah pemuda itu memiliki kartu truf lain selain formasi rongsokan tersebut."
Jenderal Zhao menundukkan kepalanya dalam-dalam menerima perintah mutlak tersebut.
"Sesuai perintah Anda, Master Sekte," jawab Jenderal Zhao penuh keyakinan.
"Saya akan membuat pemuda sombong itu berlutut memohon ampun di depan gerbang istananya sendiri."
Sang jenderal segera berbalik dan berjalan keluar dari aula utama untuk mempersiapkan perjalanannya ke wilayah utara.
Setelah Jenderal Zhao pergi, Jian Tian kembali terdiam sendirian di dalam aula yang luas itu.
"Pemuda bernama Yang Zhen ini muncul entah dari mana dan langsung mendominasi seluruh wilayah utara," gumam Jian Tian pada dirinya sendiri.
Pria paruh baya itu merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan lonjakan kekuatan yang terlalu instan tersebut.
"Aku tidak bisa hanya mengandalkan laporan dari bawahan bodoh."
Jian Tian mengangkat tangan kirinya dan melakukan beberapa segel tangan yang rumit.
Wush.
Sebuah cermin perunggu berbentuk bundar tiba-tiba melayang keluar dari balik singgasananya.
Cermin itu adalah Cermin Pengintai Langit, sebuah artefak tingkat Langit yang bisa melihat kejadian dari jarak ratusan mil.
"Mari kita lihat wajah iblis kecil yang berani menantang kekuasaan ibu kota ini," bisik Jian Tian mengalirkan energi ke cermin tersebut.
Ngiing.
Permukaan cermin perunggu itu mulai beriak layaknya permukaan air dan memancarkan cahaya biru.
Gambar buram di cermin itu perlahan mulai fokus, menampilkan pemandangan dari atas Kota Awan Merah.
Fokus cermin itu terus menurun, menembus atap Istana Penguasa Kota hingga ke pelataran belakang yang sepi.
Di dalam cermin itu, terlihat sosok Yang Zhen yang sedang duduk bermeditasi di atas tanah bersila.
Pemuda itu tidak bergerak sedikit pun, matanya terpejam rapat menikmati aliran energi di sekitarnya.
"Jadi ini wajah tikus desa itu," ejek Jian Tian tersenyum sinis menatap cerminnya.
"Dia terlihat masih sangat muda. Kultivasinya bahkan baru menyentuh Tahap Inti Emas."
Jian Tian merasa sedikit kecewa karena musuh yang menghancurkan tiga tetuanya ternyata terlihat sangat biasa saja.
Namun, tepat saat Jian Tian hendak mengubah fokus cermin ke area lain, sebuah kejadian mengerikan terjadi.
Di dalam cermin itu, Yang Zhen yang tadinya memejamkan mata tiba-tiba membuka matanya lebar-lebar.
Mata hitam pemuda itu memancarkan kilatan cahaya emas yang langsung menembus layar cermin.
Sring.
Meskipun terpisah jarak ratusan mil, Yang Zhen menatap tepat ke arah sudut pandang cermin tersebut seolah ia berdiri di depan Jian Tian.
"Apakah kau menikmati pertunjukannya, Tuan Pengintip?" suara Yang Zhen tiba-tiba bergema langsung dari dalam permukaan cermin.
Jian Tian langsung terlonjak dari singgasananya dengan wajah pucat pasi.
"B-bagaimana mungkin dia bisa menyadari keberadaan cermin ini?!" seru Jian Tian dengan jantung berdebar kencang.
Di dalam cermin, Yang Zhen hanya tersenyum iblis dan menjentikkan jarinya ke arah langit.
Trak.
Seketika itu juga, permukaan Cermin Pengintai Langit di hadapan Jian Tian langsung retak hebat.
Krak krak krak.
"Singkirkan mata busukmu dari istanaku," ancam suara Yang Zhen sebelum cermin itu akhirnya meledak.
Prang.
Serpihan kaca perunggu berhamburan ke segala arah, menggores pipi kanan Master Sekte tersebut.
Jian Tian berdiri mematung menatap singgasananya yang kini dipenuhi serpihan kaca tajam.
Setetes darah segar mengalir perlahan dari goresan kecil di pipinya.
Tes.
Pria arogan yang menguasai ibu kota itu baru saja merasakan teror sesungguhnya dari pemuda perbatasan yang belum pernah ia temui secara langsung.
Genderang perang telah resmi ditabuh, dan bayangan kematian dari Kota Awan Merah kini mulai merayap menghantui pikiran sang Master Sekte.