Dicampakkan Aris karena dianggap tidak selevel, Aura memilih balas dendam paling elegan: Menikahi Hendra (38th), ayah Aris yang tampan dan kaya raya.
Kini, sang mantan harus tunduk di bawah kekuasaan ibu tiri barunya.
"Dulu kamu menginjakku, Aris. Sekarang, panggil aku Ibu!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DUTA MISTERIUS
“Clara? Siapa yang mengutus kamu ke sini?”
—
Suara Hendra terdengar begitu dingin dan menekan di tengah bisingnya ballroom Hotel Grand Hyatt. Pria berusia tiga puluh delapan tahun itu berdiri tegap, merangkul pinggang Aura dengan sangat protektif. Mata cokelat gelapnya yang tajam meneliti sosok wanita muda di hadapannya dari atas ke bawah.
—
Clara tersenyum tipis—sebuah senyuman elegan yang sangat terlatih. Ia membetulkan posisi tas genggam mewahnya, lalu menatap Hendra dan Aura secara bergantian dengan pandangan yang sulit diartikan.
—
“Saya diutus langsung oleh konsorsium pemegang saham internasional di Singapura, Pak Hendra,” terang Clara santai namun berbobot. “Mulai malam ini, saya bertugas sebagai pengawas independen untuk memastikan stabilitas Fahreza Group di bawah kepemimpinan Anda dan Nyonya Aura.”
—
Aura yang berdiri anggun di samping Hendra tidak menunjukkan kepanikan sedikit pun. Gaun sutra hijau zamrud yang melambai lembut membingkai indah perutnya yang membuncit di usia kehamilan empat bulan.
—
Aura mengulas senyuman paling mematikan di bibirnya, menatap Clara lurus-lurus.
—
“Pengawas independen?” ulang Aura dengan suara selembut sutra yang jernih. “Atau cuma suruhan dari Paman Danu buat mencoba mengusik kedudukan saya dan suami saya?”
—
Raut wajah Clara sempat membeku sejenak, terkejut oleh ketajaman intuisi Aura yang langsung menyasar ke inti masalah. Namun dengan cepat, Clara kembali menguasai diri.
—
“Nyonya Aura sangat kritis,” puji Clara dengan nada bersahabat yang dibuat-buat. “Tapi saya datang ke sini murni untuk urusan profesionalisme bisnis. Saya berharap kita bisa bekerja sama dengan baik mulai besok di kantor pusat.”
—
Hendra menatap Clara dengan pandangan membunuh khas sang penguasa.
—
“Di Fahreza Group, keputusan tertinggi ada di tangan saya dan istri saya,” tegas Hendra tanpa kompromi. “Kalau kamu berani melakukan satu saja pergerakan yang merugikan Aura... saya tidak akan segan-segan mendepak kamu dan konsorsiummu keluar dari negara ini.”
—
Tanpa menunggu balasan dari Clara, Hendra membimbing Aura melangkah pergi melewati wanita itu, menyapa para tamu undangan lain dengan wibawa mutlak yang tak tertandingi.
—
—
Malam harinya di kamar utama kediaman Fahreza.
—
Suasana kamar terasa sangat hangat dan tenang usai acara Gala Dinner selesai. Pendar lampu temaram menyinari Aura yang sedang duduk di tepi ranjang king-size, mengusap pelan perut membuncitnya.
—
Hendra melangkah keluar dari ruang rias, hanya mengenakan piyama hitam panjang. Pria matang itu berjalan mendekat, lalu berlutut di depan Aura dan mengecup perut istrinya dengan lembut.
—
“Kamu capek, Sayang?” bisik Hendra penuh kehangatan.
—
Aura tersenyum manis, membelai rambut hitam suaminya. “Sedikit, Mas. Tapi aku lebih memikirkan kehadiran Clara tadi.”
—
Hendra mendongak, menatap mata jernih istrinya dengan binar rasa cinta yang mendalam.
—
“Kamu tidak perlu khawatir soal Clara atau Paman Danu,” janji Hendra mantap. “Saya sudah perintahkan tim intelijen pribadi untuk mengawasi setiap langkah Clara dua puluh empat jam. Tidak ada satu orang pun yang boleh menyentuh Ratu dan calon pangeran saya.”
—
Aura tertawa pelan, menyandarkan kepalanya di dada bidang Hendra yang hangat. Rasa aman yang diberikan suaminya seketika mengikis seluruh keraguan di dalam dadanya.
—
—
Keesokan harinya di Gedung Fahreza Tower.
—
Aura melangkah anggun menyusuri lorong lantai empat puluh lima, didampingi dua sekretaris pribadinya. Namun, langkah kakinya terhenti ketika melihat pintu ruang kerjanya sudah terbuka.
—
Di dalam ruang kerja Aura, Clara sedang berdiri di dekat meja kerja mahoni, memegang sebuah map dokumen tebal dan menatap papan nama emas Nyonya Aura Fahreza - Komisaris Utama dengan senyuman yang sulit diartikan.
—
Aura melangkah masuk dengan tenang, melipat kedua tangannya di dada.
—
“Permisi, Clara... Siapa yang memberi kamu izin masuk ke ruang kerja saya tanpa ketukan?”