Valeska Aurelia punya tiga prinsip hidup: habiskan uang, tabrak aturan, dan jangan pernah dengarkan orang lain.
Sebagai putri tunggal konglomerat ternama, Valeska terbiasa hidup bak ratu yang tak tersentuh hukum. Pesta malam, mobil sport, dan deretan kartu kredit tanpa limit adalah makanan sehari-harinya.
Sampai dalam semalam, sebuah skandal besar menghancurkan bisnis keluarganya. Ayahnya dipenjara, aset disita, dan semua kartu kreditnya diblokir. Valeska yang kemarin dipuja-puja kini terdepak dari istananya dan terpaksa angkat kaki hanya dengan membawa satu koper berisi barang-barang tak berguna.
Dari kamar seluas lapangan basket ke kontrakan sempit yang airnya sering mati, Valeska dipaksa menghadapi kenyataan pahit: dia tidak tahu cara menyapu, kaget melihat harga mi instan, dan harus mencari uang sendiri.
Mampukah si Nona Muda yang ugal-ugalan ini bertahan hidup tanpa uang sepeser pun, atau gengsi setinggi langitnya justru bikin hidupnya makin berantakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BUNGA LYONA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Rahasia Keluarga Jena
Valeska memiringkan kepalanya sedikit, merapikan helai rambutnya yang agak berantakan, lalu sengaja memasang raut wajah paling rapuh dan menyedihkan yang pernah dia punya. Dia menatap Elang dengan mata sayu yang mulai berair, mengabaikan kehadiran Caca sepenuhnya.
"Elang..." panggil Valeska dengan suara yang dibuat amat pelan, bergetar, dan penuh keputusasaan. "Kepala gue... mendadak pusing banget lagi. Dada gue juga sesak..."
Valeska memegang pelipisnya dengan jemari tangannya yang masih terkelupas kasar, lalu berpura-pura hendak ambruk miring ke sisi kasur.
Dia sengaja melakukan itu. Valeska ingin melihat Caca cemburu, kepanasan, atau setidaknya menunjukkan raut wajah kesal karena perhatian Elang teralih sepenuhnya pada cewek lain di depannya. Valeska ingin merusak dinamika manis di antara mereka.
Namun, reaksi yang terjadi justru di luar dugaan Valeska.
"Eh! Kak Valeska!" pekik Caca kaget.
Bukannya Elang yang panik duluan, justru Caca yang bergerak paling cepat. Cewek berseragam SMA dengan kardigan krem itu langsung berlutut di samping kasur kapuk Valeska. Dengan raut wajah yang murni cemas tanpa ada setitik pun prasangka buruk, Caca menahan bahu Valeska agar tidak jatuh.
"Kak Elang! Tolongin, Kak! Kak Valeska mukanya pucat banget, ini badannya hangat lagi!" panggil Caca panik pada Elang, lalu dengan sigap membetulkan posisi bantal Valeska.
Caca meraih kain kompresan di dalam baskom, memerasnya cepat-cepat, lalu menempelkannya sangat hati-hati di dahi Valeska. Jemari Caca yang halus dan hangat mengusap pelan pelipis Valeska yang basah oleh keringat dingin.
"Kak Valeska tidur tiduran aja dulu, jangan dipaksa duduk," bisik Caca penuh perhatian, suaranya tulus dan lembut sekali. "Pusingnya parah ya, Kak? Caca ambilkan air hangat ya? Atau mau Caca suapin supnya sekarang?"
Valeska membeku total di atas kasurnya. Matanya membelalak kecil menatap wajah Caca yang berada hanya beberapa senti dari mukanya. Tidak ada kilatan cemburu, tidak ada tatapan curiga, dan tidak ada rasa benci di mata Caca. Yang ada hanyalah rasa kasihan dan kepedulian yang begitu murni dari seorang cewek polos yang sama sekali tidak tahu bahwa dirinya baru saja berusaha dimanipulasi.
Elang yang berdiri di dekat pintu menggeleng-gelengkan kepala, menyandarkan bahunya di kusen kayu sambil menatap Valeska dengan sorot mata yang seolah bisa membaca seluruh taktik licik itu.
"Dia emang masih lemas, Ca," kata Elang pelan, nada suaranya datar namun terdengar menyindir halus arah permainan Valeska. "Biarin dia istirahat dulu."
Valeska menelan ludahnya yang terasa sangat pahit. Niatnya untuk memanas-manasi Caca justru membuat dirinya sendiri merasa seperti penjahat paling kotor dan menjijikkan di ruangan itu. Kebaikan polos Caca menghantamnya jauh lebih keras daripada makian Jena di sekolah.
Valeska perlahan memalingkan wajahnya ke arah dinding, menepis tangan Caca secara halus dengan sisa-sisa keangkuhannya yang mendadak terasa sangat murahan.
"Gue... gue enggak apa-apa," cicit Valeska parau, suaranya hampir tak terdengar. "Kalian... mending pergi aja."
Caca menatap Valeska dengan raut cemas yang belum juga hilang, lalu memiringkan kepalanya ragu. "Tapi Kak Valeska beneran enggak apa-apa? Supnya masih hangat banget lho, Kak. Beneran enggak mau Caca suapin dua-tiga sendok dulu?"
Valeska memejamkan matanya rapat-rapat, mengepalkan jemarinya di atas kain sarung. Kehangatan yang ditunjukkan Caca terasa seperti sembilu yang menyayat rasa percaya dirinya.
"Enggak usah, Ca," sela Elang pelan dari pintu. Cowok itu melangkah mendekat, lalu menepuk bahu Caca lembut. "Paham kan kalau orang lagi sakit tuh butuh ketenangan? Biarin dia istirahat."
"Tapi Kak Elang, kasihan Kak Valeska kalau ditinggal sendirian pas lagi pusing begini..." bisik Caca sambil menoleh ke Elang, matanya berkaca-kaca penuh simpati.
"Nanti Nek Izah juga balik dari pasar kok," balas Elang menenangkan. Cowok itu beralih menatap Valeska, sorot matanya dingin. "Uang dari Mas Bayu udah gue taro di meja. Makanannya dihabiskan. Jangan bikin orang lain panik cuma gara-gara tingkah lo."
Valeska menahan napasnya, tidak berani membalas tatapan Elang. Rasanya malu setengah mati.
"Ya udah deh..." Caca akhirnya berdiri pasrah, merapikan letak kardigannya. Dia menatap Valeska sekali lagi dengan senyum tulus. "Caca sama Kak Elang pamit dulu ya, Kak Valeska. Caca doain semoga besok Kak Valeska udah sembuh total dan bisa sekolah lagi. Permisi ya, Kak..."
"Yuk, Ca," ajak Elang.
Saat langkah kaki mereka berdua perlahan menjauh dan deru mesin motor Elang terdengar meninggalkan area kontrakan Gang Mawar, kesunyian kembali menyergap ruangan sempit itu.
Valeska perlahan membuka matanya, menatap langit-langit kontrakan yang kusam. Dia menarik napas panjang yang terasa menyiksa di dada, lalu melirik ke arah rantang makanan dan amplop cokelat di atas meja kecil.
"Kenapa sih..." bisik Valeska parau pada dirinya sendiri, air matanya menetas satu per satu membasahi bantal kusamnya. "Kenapa cewek itu harus sejujur dan sebaik itu...? Kenapa dia enggak jahat aja sekalian biar gue enggak ngerasa kayak manusia paling busuk di dunia ini?!"
Valeska meremas bantalnya kencang-kencang, menangis tanpa suara dalam penyesalan yang membakar kalbunya. Rencananya gagal total, meninggalkan rasa hina yang makin menenggelamkan jiwanya di dasar keputusasaan.
***
Hari Senin tiba. Valeska berdiri di depan cermin retak kontrakannya, mengoleskan bedak tipis dan polesan pemerah bibir seadanya untuk memoles wajah pucat sisa demamnya. Dia menarik napas panjang, menegakkan bahunya, lalu melangkah keluar. Tidak ada lagi Valeska yang merintih atau menunduk pasrah. Ratu yang runtuh itu memilih memakai topeng keangkuhannya kembali sebagai perisai.
Begitu kakinya memijak koridor SMA Nusantara, tatapan dingin dan tajam langsung memancar dari matanya. Suasana koridor yang tadinya ramai mendadak agak hening saat Valeska berjalan melewati kerumunan siswa dengan kepala tegak.
Langkahnya terhenti tepat di depan mading utama. Tiga sosok yang sangat familiar sudah berdiri menghadangnya: Jena, Giselle, dan Clarissa.
Giselle dan Clarissa langsung melangkah maju, memotong jalan Valeska. Wajah mereka berdua tampak serba salah dan memendam rasa bersalah yang amat sangat sejak kejadian di ruang TU hari Jumat lalu.
"Val, tunggu sebentar!" panggil Clarissa dengan suara pelan, matanya menatap Valeska cemas. "Gue sama Giselle masih mau ngomong soal yang kemarin."
"Iya, Val," timpal Giselle cepat, meraih pergelangan tangan Valeska namun langsung ditepis kasar oleh cewek itu. "Kita berdua beneran masih kekeh mau bantuin lo talangin SPP. Kita kagak tega lihat lo dikeluarkan dari sekolah cuma gara-gara masalah uang. Tolong terima bantuan kita, Val..."
Valeska menyunggingkan senyum sinis yang amat dingin, menatap Giselle dan Clarissa satu per satu dengan pandangan meremehkan.
"Berapa kali gue harus bilang?" cetus Valeska dengan suara ketus dan tajam. "Gak usah sok peduli sama hidup gue. Simpan uang kasihan kalian itu. Lagipula... bukannya sekarang kalian udah punya ketua baru? Kan udah ada Jena sebagai ketua Velvet Sovereign?"
Mendengar namanya disebut dengan nada menyindir begitu telak, Jena yang sedari tadi berdiri bersedekap di belakang langsung tersentak. Mukanya memerah padam, merasa tersinggung hebat seolah-olah Valeska baru saja menudingnya sebagai benalu perusak persahabatan mereka.
Jena melangkah maju dengan emosi yang meledak-ledak, menuding muka Valeska dengan jarinya.
"Maksud lo apa sebut-sebut nama gue, hah?!" bentak Jena dengan suara melengking, membuat perhatian anak-anak di sepanjang koridor langsung tertuju pada mereka. "Lo pikir gue mau merebut posisi lo?! Jangan sok suci ya, Valeska! Lo itu cuma sampah anak koruptor yang kebetulan lagi kasihan aja makanya Giselle sama Clarissa mau bantuin! Udah miskin, kagak tahu diri, masih aja belagu!"
Tawa sinis meluncur halus dari bibir Valeska. Dia sama sekali tidak gentar oleh gertakan Jena. Melangkah satu tindak mendekati Jena, Valeska menundukkan kepalanya sedikit, menatap lurus ke dalam manik mata Jena yang mulai gemetaran.
"Gue belagu karena gue punya harga diri, Jen," bisik Valeska tenang namun suaranya menggema tajam di koridor yang mendadak hening. "Beda sama lo... yang sibuk nampil sempurna di sekolah, padahal keluarga lo sendiri busuknya sampai ke akar."
Deg.
Muka Jena seketika memucat. "A-apa maksud lo?!"
"Mau gue sebutin di depan anak-anak sekolahan sekarang?" lanjut Valeska dengan senyum kemenangan yang amat mematikan. "Mau gue bongkar rahasia kelam keluarga lo? Soal Papa lo yang ternyata punya istri simpanan dan anak haram di luar kota? Atau soal Mama lo yang tiap malam nangis-nangis di kamar karena perusahaan properti keluarga lo sebenarnya lagi terancam bangkrut dan ketutup utang judi?"
"Valeska, tutup mulut lo!" jerit Jena histeris, suaranya bergetar hebat bercampur rasa panik luar biasa.
Anak-anak di koridor mulai berbisik-bisik heboh, saling melempar pandangan kaget mendengar fakta panas yang baru saja dilontarkan Valeska. Giselle dan Clarissa bahkan sampai melotot tak percaya menatap Jena yang kini berdiri membeku dengan bibir gemetaran.
"Kenapa? Takut rahasia keluarga terpandang lo terbongkar?" cibir Valeska pedas, menepuk-nepuk bahu Jena yang kaku. "Ingat ya, Jen... Dulu pas kita masih sahabatan, lo yang paling rajin curhat dan nangis-nangis ke gue soal kebusukan keluarga lo itu. Jadi jangan pernah sekali-kali pamer kesempurnaan di depan gue, kalau pondasi rumah lo sendiri sebenarnya udah mau roboh."
Jena bungkam seribu bahasa. Wajahnya yang tadi garang kini memerah penuh rasa malu yang teramat sangat. Dia menunduk dalam-dalam di depan puluhan pasang mata yang menontonnya.
Valeska membenarkan letak tali tas sekolahnya, menatap Jena, Giselle, dan Clarissa untuk yang terakhir kalinya dengan kepala terangkat tinggi.
"Satu hal lagi yang harus kalian ingat," pangkas Valeska dingin sebelum melangkah mendahului mereka. "Gue mungkin emang jatuh ke dasar selokan sekarang... tapi mahkota gue kagak pernah berpindah ke kepala cewek murahan kayak kalian."
Dengan langkah mantap dan angkuh, Valeska melenggang pergi membelah kerumunan siswa yang membisu, meninggalkan Jena yang berdiri mematung menahan malu dan kekalahan telak di tengah koridor sekolah.