NovelToon NovelToon
Calon Istri Nomor 33

Calon Istri Nomor 33

Status: tamat
Genre:Ibu Tiri / Tamat
Popularitas:1M
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

32 wanita menyerah. Vivi adalah calon istri nomor 33.

Menikah dengan duda beranak lima seharusnya menjadi solusi bagi dirinya yang divonis tak bisa punya anak sejak muda.

Namun tidak ada yang memberitahunya bahwa lima anak Pak Baskara telah bersekutu untuk mengusir setiap wanita yang mencoba menggantikan posisi ibu mereka. Akankah Vivi bertahan, atau menjadi nama berikutnya dalam daftar kegagalan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

2

“Bu,” suara Vivi pelan, “aku belum tahu orangnya seperti apa. Anak-anaknya juga, katanya mereka sulit menerima orang baru.”

Ibunya mengibaskan tangan kecil, seolah itu bukan masalah besar. “Namanya juga anak-anak. Kalau kamu sabar, pasti bisa.”

Vivi menoleh ke ayahnya, mencari sesuatu, dukungan, pertimbangan, atau setidaknya jeda dari tekanan yang mulai terasa mengisi ruangan.

Ayahnya masih diam. Tangannya perlahan menyentuh gelas teh yang sudah dingin. Tatapannya tidak pada Vivi, tapi ke arah meja, seperti sedang memikirkan sesuatu yang jauh lebih berat dari sekadar lamaran.

“Pak…” Vivi memanggil pelan.

Ayahnya menghela napas panjang. “Kamu mau kerja di sana terus?” tanyanya akhirnya, datar.

Vivi terdiam. Pertanyaan itu bukan benar-benar pertanyaan. Lebih seperti pengingat.

Ibunya langsung menyela lagi, lebih lembut kali ini tapi tetap tegas. “Kita tidak akan selalu ada, Vi.” Ibunya melanjutkan, “Kakak-kakakmu sudah punya keluarga. Kamu tinggal di sini dengan kami terus. Kalau kami sudah tidak ada nanti, kamu mau bagaimana?”

Ayahnya akhirnya berbicara lagi, lebih pelan dari sebelumnya. “Kalau kamu tanya, bapak tidak akan menyuruh kamu atau melarang kamu.” Ia berhenti sejenak. “Tapi kamu juga tidak boleh hidup hanya karena takut kehilangan pekerjaan.”

Vivi menunduk. Di antara ibunya yang terlalu yakin, dan ayahnya yang terlalu diam, Vivi merasa satu hal yang sama-sama mereka tidak lihat bahwa keputusan ini bukan sekadar tentang menikah atau tidak. Tapi tentang memasuki hidup orang lain yang bahkan belum ia kenal dengan harga dirinya, masa depannya, dan ketakutannya sendiri masih berdiri di garis yang sama. Dan malam itu, Vivi belum menjawab apa pun. Tapi untuk pertama kalinya, ia benar-benar sadar apa pun yang ia pilih, tidak akan ada yang benar-benar ringan.

***

Vivi akhirnya bertemu Baskara pada hari yang ditentukan oleh Bu Mega. Ia datang dengan perasaan yang sulit dijelaskan, antara gugup, canggung, dan sedikit pasrah. Dalam bayangannya, seorang duda dengan lima anak tentu sudah cukup tua, mungkin lelah, mungkin sudah kehilangan banyak hal dari hidupnya. Namun bayangan itu runtuh bahkan sebelum ia sempat menyusunnya dengan benar. Pria yang berdiri di hadapannya tidak terlihat seperti sosok yang ia bayangkan.

Baskara Mahendra. Usianya tidak jauh berbeda darinya, mungkin sekitar tiga tahun diatas Vivi. Wajahnya tegas, tapi masih menyimpan ketampanan yang tidak bisa disembunyikan. Posturnya rapi, berwibawa, namun ada sesuatu yang membuatnya tampak jauh, seperti seseorang yang secara fisik hadir, tapi pikirannya entah berada di tempat lain. Vivi sempat ragu melangkah.

“Vivi Anindita?” suara Baskara terdengar datar, hampir formal.

Vivi mengangguk cepat. “Iya.”

Tidak ada senyum penyambut. Tidak ada basa-basi hangat. Hanya tatapan singkat yang terasa seperti penilaian, bukan perkenalan. Baskara menunjuk kursi di seberang meja kecil itu. “Silakan duduk.”

Vivi duduk dengan hati-hati, merapikan tangannya di atas lutut. Ruangan itu sunyi, terlalu rapi untuk disebut rumah, terlalu dingin untuk disebut hangat. Beberapa detik berlalu tanpa kata. Akhirnya Vivi memberanikan diri membuka percakapan, meski suaranya pelan. “Aku… Vivi. Guru di yayasan.”

Baskara mengangguk kecil. “Aku tahu.”

Vivi menatap pria di depannya secara diam-diam. Dari dekat, ia semakin menyadari sesuatu yang tidak sesuai dengan bayangannya. Baskara bukan pria tua yang lelah karena usia, tetapi pria muda yang lelah karena sesuatu yang lebih dalam. Bukan tubuhnya yang berat. Tapi matanya. Seolah ia membawa sesuatu yang belum selesai. “Aku minta maaf kalau situasi ini terasa,” Vivi berhenti sejenak, mencari kata yang tepat.

Baskara menggeleng pelan. “Bukan tidak biasa,” jawabnya singkat. “Hanya tidak perlu dibicarakan terlalu lama.”

Kalimat itu membuat Vivi terdiam. Bukan karena kasar. Tapi karena dingin. Seolah percakapan ini bukan sesuatu yang penting baginya. Vivi menarik napas pelan, mencoba tetap tenang. “Bu Mega bilang… kamu membutuhkan seseorang untuk anak-anakmu.”

Untuk pertama kalinya, ekspresi Baskara sedikit berubah. Bukan menjadi lebih hangat. Tapi lebih berat. “Anak-anak tidak butuh orang baru,” jawabnya datar.

Vivi berkedip. “Lalu?”

Baskara menatapnya lama. Untuk sesaat, ada sesuatu yang melintas di matanya, bukan marah, bukan juga benci, tapi sesuatu yang tertahan terlalu lama. “Yang mereka butuhkan sudah tidak ada,” katanya pelan.

Vivi menangkap kata-kata itu dengan hati-hati. “istri kamu?” tanyanya akhirnya, hampir berbisik.

Baskara tidak langsung menjawab. Namun ketika ia mengangguk kecil, gerakan itu terasa seperti membuka pintu ke ruangan yang tidak ingin ia masuki kembali.

“Sudah lama?” tanya Vivi lagi, lebih hati-hati. Meski ia sudah diceritakan garis besarnya, tetapi Vivi merasa perlu untuk membahasnya lagi dengan orangnya langsung.

“Tidak cukup lama untuk dilupakan,” jawab Baskara singkat. Kalimat itu menggantung di udara.

Vivi menunduk sedikit, merasa percakapan ini bukan lagi tentang dirinya atau pernikahan yang ditawarkan, tapi tentang seseorang yang masih hidup di dalam ingatan pria di depannya.

Baskara bersandar ke kursinya, menatap jauh ke arah jendela. “Aku tidak tahu kenapa ibu saya memilih kamu,” ucapnya akhirnya. “Tapi kalau kamu berharap ini akan menjadi keluarga yang hangat… kamu salah tempat.”

Vivi mengangkat kepala. Ada dorongan kecil dalam dirinya untuk bertanya lebih jauh, tapi ia menahan diri. Karena untuk pertama kalinya sejak tawaran itu datang, ia menyadari sesuatu yang jauh lebih jelas, Masalahnya bukan hanya lima anak yang menolak ibu baru. Masalahnya adalah seorang ayah yang belum pernah benar-benar melepaskan istrinya yang sudah tiada. Dan Vivi, tanpa ia sadari, baru saja melangkah ke dalam rumah yang masih penuh dengan seseorang yang tidak terlihat tapi belum pergi.

Vivi menarik napas panjang sebelum akhirnya bicara lagi. Kalimat sebelumnya masih menggantung di antara mereka, tentang istri Baskara yang belum bisa dilepaskan, tentang rumah yang dingin, tentang dua orang asing yang dipaksa duduk di meja yang sama. Namun Vivi tahu, kalau ia tidak jujur sekarang, semuanya akan semakin kabur. “Aku… sebelum kita lanjut ke arah yang lebih serius, aku harus jujur tentang kondisiku.”

Baskara menoleh sedikit. Tidak menyela.

Vivi merapatkan jemarinya di atas lutut, berusaha menjaga suaranya tetap stabil. “Menjelang usia dua puluh, aku pernah didiagnosis oleh dokter bahwa aku tidak akan bisa punya anak.” Vivi melanjutkan, lebih pelan. “Aku tidak terlalu paham istilah medisnya. Waktu itu aku hanya diberi tahu kalau ada masalah yang membuat kemungkinan aku hamil hampir tidak ada.” Ia menatap Baskara sekilas, lalu cepat kembali menunduk. “Tapi semua suratnya ada. Semua hasil pemeriksaan juga masih aku simpan. Kalau kamu mau lihat, aku bisa tunjukkan.” Suaranya sedikit bergetar, tapi ia memaksa tetap lanjut. “Jadi… dengan kondisi seperti itu, aku ingin tanya langsung.” Vivi menarik napas. “Apa kamu tidak keberatan?”

1
Evy
Seharusnya Baskara terus terang tentang masalah yayasan.. sebelum mengambil keputusan juga istri barunya harus tau dulu.walaupun Vivi selalu bisa menerima...tapi dia jiga punya hati yang harus dijaga..
Evy
Harusnya anak anak disekolah kan disekolah umum saja .
biar bisa berinteraksi dengan lingkungan..
Rosyani Rini
ini racun nya datang
Rosyani Rini
teman nya ini bijak banget
Rosyani Rini
terlalu sibuk kerja nih si Ayah jadi anaknya ga ada kemistri
Rosyani Rini
ohhh ipar adalah maut ini,lahhh
Rosyani Rini
ehhhh pantesan istrinya meninggal...cape ngurus rumah tangga sendirian...ga ada pembantu kah
Evy
Horang kaya yang menzolimi diri sendiri..sudah tau ada kesibukan karena kematian Nek Mega..masa sih mengerjakan sendiri semua urusan konsumsi..bisa kan panggil pembantu harian untuk meringankan beban pekerjaan... cerita nya sih oke..bagus...tapi tidak masuk akal..
Ummee
apakah dokter sinta berbohong ttg kondisi Vivi?
Evy
Definisi orang kaya yang ini gimana sih..masa rumah Segede gaban tidak ada pembantu..aneh banget...lagian anak sebanyak itu tak ada baby sitter.. walaupun sering ganti2 ART dan baby sitter karena anak2.tapi tak mungkin tidak ada kan...
Evy
Gila banget minum obat yang diresepkan Dokter Sinta selama 10tahun...masih untung gak kena gagal ginjal karena minum obat yang tidak seharusnya diminum...
Evy
Kenapa Dokter Sinta mencurigakan ya...apa dulu mantan pacar Ayahnya Vivi yang masih belum move on..jadi dendam tersirat...
Evy
Nanti juga pasti Vivi akan punya anak sendiri....harinya yang tulus.. pasti akan dimudahkan untuk memiliki keturunan dari suaminya.
Evy
Masa sih rumah mewah gak ada ART nya ..mustahil kan...
Evy
Pasti anak perempuan yang paling kecil yang lebih dulu luluh..
Evy
Banyak nya anak Pak Duda..
Hana
orang kaya punya segalanya, punya 5 anak gk ada art?? janggal
Atik Marwati
ceritanya bagus banget penuh perjuangan dan cinta yang tulus🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Deera__
astaga muridnya Yuan nggak tuh /Sly/😌😬🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Deera__
NGOMONG , CERITA, JUJUR BICARA KE ISTRIMU BASKARA /Curse//Curse//Curse//Curse//Curse//Curse//Curse//Curse//Curse//Curse//Curse//Curse//Curse/ NGERTI GK SIIH /Scream//Scream//Scream//Cry//Cry//Curse//Curse//Curse/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!