32 wanita menyerah. Vivi adalah calon istri nomor 33.
Menikah dengan duda beranak lima seharusnya menjadi solusi bagi dirinya yang divonis tak bisa punya anak sejak muda.
Namun tidak ada yang memberitahunya bahwa lima anak Pak Baskara telah bersekutu untuk mengusir setiap wanita yang mencoba menggantikan posisi ibu mereka. Akankah Vivi bertahan, atau menjadi nama berikutnya dalam daftar kegagalan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2
“Bu,” suara Vivi pelan, “aku belum tahu orangnya seperti apa. Anak-anaknya juga, katanya mereka sulit menerima orang baru.”
Ibunya mengibaskan tangan kecil, seolah itu bukan masalah besar. “Namanya juga anak-anak. Kalau kamu sabar, pasti bisa.”
Vivi menoleh ke ayahnya, mencari sesuatu, dukungan, pertimbangan, atau setidaknya jeda dari tekanan yang mulai terasa mengisi ruangan.
Ayahnya masih diam. Tangannya perlahan menyentuh gelas teh yang sudah dingin. Tatapannya tidak pada Vivi, tapi ke arah meja, seperti sedang memikirkan sesuatu yang jauh lebih berat dari sekadar lamaran.
“Pak…” Vivi memanggil pelan.
Ayahnya menghela napas panjang. “Kamu mau kerja di sana terus?” tanyanya akhirnya, datar.
Vivi terdiam. Pertanyaan itu bukan benar-benar pertanyaan. Lebih seperti pengingat.
Ibunya langsung menyela lagi, lebih lembut kali ini tapi tetap tegas. “Kita tidak akan selalu ada, Vi.” Ibunya melanjutkan, “Kakak-kakakmu sudah punya keluarga. Kamu tinggal di sini dengan kami terus. Kalau kami sudah tidak ada nanti, kamu mau bagaimana?”
Ayahnya akhirnya berbicara lagi, lebih pelan dari sebelumnya. “Kalau kamu tanya, bapak tidak akan menyuruh kamu atau melarang kamu.” Ia berhenti sejenak. “Tapi kamu juga tidak boleh hidup hanya karena takut kehilangan pekerjaan.”
Vivi menunduk. Di antara ibunya yang terlalu yakin, dan ayahnya yang terlalu diam, Vivi merasa satu hal yang sama-sama mereka tidak lihat bahwa keputusan ini bukan sekadar tentang menikah atau tidak. Tapi tentang memasuki hidup orang lain yang bahkan belum ia kenal dengan harga dirinya, masa depannya, dan ketakutannya sendiri masih berdiri di garis yang sama. Dan malam itu, Vivi belum menjawab apa pun. Tapi untuk pertama kalinya, ia benar-benar sadar apa pun yang ia pilih, tidak akan ada yang benar-benar ringan.
***
Vivi akhirnya bertemu Baskara pada hari yang ditentukan oleh Bu Mega. Ia datang dengan perasaan yang sulit dijelaskan, antara gugup, canggung, dan sedikit pasrah. Dalam bayangannya, seorang duda dengan lima anak tentu sudah cukup tua, mungkin lelah, mungkin sudah kehilangan banyak hal dari hidupnya. Namun bayangan itu runtuh bahkan sebelum ia sempat menyusunnya dengan benar. Pria yang berdiri di hadapannya tidak terlihat seperti sosok yang ia bayangkan.
Baskara Mahendra. Usianya tidak jauh berbeda darinya, mungkin sekitar tiga tahun diatas Vivi. Wajahnya tegas, tapi masih menyimpan ketampanan yang tidak bisa disembunyikan. Posturnya rapi, berwibawa, namun ada sesuatu yang membuatnya tampak jauh, seperti seseorang yang secara fisik hadir, tapi pikirannya entah berada di tempat lain. Vivi sempat ragu melangkah.
“Vivi Anindita?” suara Baskara terdengar datar, hampir formal.
Vivi mengangguk cepat. “Iya.”
Tidak ada senyum penyambut. Tidak ada basa-basi hangat. Hanya tatapan singkat yang terasa seperti penilaian, bukan perkenalan. Baskara menunjuk kursi di seberang meja kecil itu. “Silakan duduk.”
Vivi duduk dengan hati-hati, merapikan tangannya di atas lutut. Ruangan itu sunyi, terlalu rapi untuk disebut rumah, terlalu dingin untuk disebut hangat. Beberapa detik berlalu tanpa kata. Akhirnya Vivi memberanikan diri membuka percakapan, meski suaranya pelan. “Aku… Vivi. Guru di yayasan.”
Baskara mengangguk kecil. “Aku tahu.”
Vivi menatap pria di depannya secara diam-diam. Dari dekat, ia semakin menyadari sesuatu yang tidak sesuai dengan bayangannya. Baskara bukan pria tua yang lelah karena usia, tetapi pria muda yang lelah karena sesuatu yang lebih dalam. Bukan tubuhnya yang berat. Tapi matanya. Seolah ia membawa sesuatu yang belum selesai. “Aku minta maaf kalau situasi ini terasa,” Vivi berhenti sejenak, mencari kata yang tepat.
Baskara menggeleng pelan. “Bukan tidak biasa,” jawabnya singkat. “Hanya tidak perlu dibicarakan terlalu lama.”
Kalimat itu membuat Vivi terdiam. Bukan karena kasar. Tapi karena dingin. Seolah percakapan ini bukan sesuatu yang penting baginya. Vivi menarik napas pelan, mencoba tetap tenang. “Bu Mega bilang… kamu membutuhkan seseorang untuk anak-anakmu.”
Untuk pertama kalinya, ekspresi Baskara sedikit berubah. Bukan menjadi lebih hangat. Tapi lebih berat. “Anak-anak tidak butuh orang baru,” jawabnya datar.
Vivi berkedip. “Lalu?”
Baskara menatapnya lama. Untuk sesaat, ada sesuatu yang melintas di matanya, bukan marah, bukan juga benci, tapi sesuatu yang tertahan terlalu lama. “Yang mereka butuhkan sudah tidak ada,” katanya pelan.
Vivi menangkap kata-kata itu dengan hati-hati. “istri kamu?” tanyanya akhirnya, hampir berbisik.
Baskara tidak langsung menjawab. Namun ketika ia mengangguk kecil, gerakan itu terasa seperti membuka pintu ke ruangan yang tidak ingin ia masuki kembali.
“Sudah lama?” tanya Vivi lagi, lebih hati-hati. Meski ia sudah diceritakan garis besarnya, tetapi Vivi merasa perlu untuk membahasnya lagi dengan orangnya langsung.
“Tidak cukup lama untuk dilupakan,” jawab Baskara singkat. Kalimat itu menggantung di udara.
Vivi menunduk sedikit, merasa percakapan ini bukan lagi tentang dirinya atau pernikahan yang ditawarkan, tapi tentang seseorang yang masih hidup di dalam ingatan pria di depannya.
Baskara bersandar ke kursinya, menatap jauh ke arah jendela. “Aku tidak tahu kenapa ibu saya memilih kamu,” ucapnya akhirnya. “Tapi kalau kamu berharap ini akan menjadi keluarga yang hangat… kamu salah tempat.”
Vivi mengangkat kepala. Ada dorongan kecil dalam dirinya untuk bertanya lebih jauh, tapi ia menahan diri. Karena untuk pertama kalinya sejak tawaran itu datang, ia menyadari sesuatu yang jauh lebih jelas, Masalahnya bukan hanya lima anak yang menolak ibu baru. Masalahnya adalah seorang ayah yang belum pernah benar-benar melepaskan istrinya yang sudah tiada. Dan Vivi, tanpa ia sadari, baru saja melangkah ke dalam rumah yang masih penuh dengan seseorang yang tidak terlihat tapi belum pergi.
Vivi menarik napas panjang sebelum akhirnya bicara lagi. Kalimat sebelumnya masih menggantung di antara mereka, tentang istri Baskara yang belum bisa dilepaskan, tentang rumah yang dingin, tentang dua orang asing yang dipaksa duduk di meja yang sama. Namun Vivi tahu, kalau ia tidak jujur sekarang, semuanya akan semakin kabur. “Aku… sebelum kita lanjut ke arah yang lebih serius, aku harus jujur tentang kondisiku.”
Baskara menoleh sedikit. Tidak menyela.
Vivi merapatkan jemarinya di atas lutut, berusaha menjaga suaranya tetap stabil. “Menjelang usia dua puluh, aku pernah didiagnosis oleh dokter bahwa aku tidak akan bisa punya anak.” Vivi melanjutkan, lebih pelan. “Aku tidak terlalu paham istilah medisnya. Waktu itu aku hanya diberi tahu kalau ada masalah yang membuat kemungkinan aku hamil hampir tidak ada.” Ia menatap Baskara sekilas, lalu cepat kembali menunduk. “Tapi semua suratnya ada. Semua hasil pemeriksaan juga masih aku simpan. Kalau kamu mau lihat, aku bisa tunjukkan.” Suaranya sedikit bergetar, tapi ia memaksa tetap lanjut. “Jadi… dengan kondisi seperti itu, aku ingin tanya langsung.” Vivi menarik napas. “Apa kamu tidak keberatan?”
demi keluarga mantan mertua dia malah mengkhianati amanah ibu sendiri,,
bloon banget
baskara sebagai suami tidak menjalankan amanah dgn baik