Tujuh belas tahun Yao Conti hidup dalam penyamaran, bernapas hanya untuk satu tujuan: menuntut balas atas pembantaian keluarganya di Milan. Langkahnya membawanya menembus jantung kekuasaan keluarga Moretti, tempat ia bertemu Gerald Moretti—Don muda yang dingin, tajam, dan tidak pernah membiarkan siapa pun mendekatinya.
Bagi Yao, Gerald adalah kunci menuju pembunuh ayahnya. Bagi Gerald, Yao adalah teka-teki berbahaya yang memikat sekaligus mengancam wilayahnya. Di tengah benturan intrik politik lima keluarga mafia Italia hingga ancaman persekutuan gelap yang membentang ke Hong Kong, batas antara taktik dan perasaan perlahan mengabur.
Saat rahasia paling kelam tentang malam pembantaian itu akhirnya terkuak, mereka dipaksa memilih: menuntaskan dendam yang diwariskan oleh orang tua mereka, atau menyelamatkan cinta yang terlahir di atas tanah bersimbah darah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yao na, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11 — Bayangan yang Kembali
Mereka kembali ke Milan tiga hari kemudian, dan kedamaian yang mereka temukan di Taormina segera hancur berkeping-keping oleh kenyataan yang menunggu.
Marco menghubungi Yao dengan suara panik begitu ia mengaktifkan kembali ponselnya. "Yao, di mana saja kau? Aku sudah mencoba menghubungimu selama dua hari!"
"Aku sedang... di luar kota," jawab Yao, merasa bersalah karena mengabaikan misinya demi beberapa hari kebahagiaan pribadi. "Ada apa?"
"Enzo," kata Marco tegang. "Dia menghubungi seseorang di Jenewa, menanyakan tentangmu dan Sofia. Aku pikir dia sudah tahu identitas aslimu, Yao. Kalian berdua dalam bahaya."
Darah Yao membeku. "Bagaimana kau tahu ini?"
"Aku punya kontak di dalam jaringan informan Enzo. Dia sudah mengonfirmasi identitasmu beberapa hari lalu. Dan yang lebih buruk — dia menghubungi seseorang dari keluarga Russo. Aku tidak tahu apa rencananya, tapi ini tidak baik, Yao. Kau harus segera pergi dari Milan."
"Aku tidak bisa pergi sekarang," jawab Yao, pikirannya berkecamuk. "Bukan sebelum aku menyelesaikan ini."
"Yao, dengarkan aku—"
"Aku harus pergi, Marco. Nanti kuhubungi lagi." Yao mengakhiri panggilan, tangannya gemetar.
Ia bergegas pulang, menemukan Sofia sudah menunggunya dengan wajah pucat. "Ada yang mendatangi apartemen ini kemarin," kata Sofia begitu Yao masuk. "Seorang pria, mengaku dari perusahaan gas, tapi aku yakin dia sedang mengawasi kita."
"Enzo," bisik Yao, ketakutan mulai menjalar di dadanya. "Dia tahu."
Malam itu, Yao tidak bisa tidur, pikirannya berkecamuk antara ketakutan akan keselamatan Sofia dan dirinya sendiri, dan kebingungan tentang bagaimana ia harus menghadapi Gerald sekarang — pria yang mulai ia cintai, tapi juga cucu dari dendam yang telah lama ia rencanakan.
Keesokan paginya, ia menerima pesan dari Gerald: "Ayah mengadakan pertemuan darurat malam ini. Sesuatu tentang Russo yang mengancam wilayah kita. Aku ingin kau ada di sana, di sisiku."
Yao menatap pesan itu lama, menyadari bahwa apa pun yang direncanakan Enzo mungkin akan terungkap malam itu — dan bahwa ia harus memutuskan, sekali dan untuk selamanya, di sisi mana ia sebenarnya berdiri.
Ia menghabiskan sisa hari itu bersiap dengan cermat, memeriksa kembali pisau lipatnya, mengingatkan dirinya sendiri tentang setiap rute pelarian dari mansion Moretti yang telah ia pelajari selama berbulan-bulan terakhir. Jika Enzo benar-benar berencana mengungkap identitasnya malam ini, ia harus siap menghadapi segala kemungkinan — termasuk kemungkinan bahwa ia tidak akan keluar dari mansion itu hidup-hidup.
Sofia membantunya bersiap dengan tangan yang gemetar, meski berusaha menyembunyikannya — gemetar yang sama, Yao tahu tanpa perlu bertanya, yang pernah dirasakan Sofia bertahun-tahun lalu, malam ketika suaminya sendiri tidak pernah pulang dari perang wilayah yang serupa. "Bawalah ini," katanya, menyerahkan sebuah bros perak kecil berbentuk bunga anggrek — perhiasan terakhir milik ibu Yao yang berhasil mereka selamatkan. "Untuk keberuntungan. Dan untuk mengingatkanmu dari mana kau berasal, apa pun yang terjadi malam ini."
Yao menyematkan bros itu di dekat bahunya, menggenggam tangan Sofia erat sebelum pergi. "Jika sesuatu terjadi padaku—"
"Tidak ada yang akan terjadi," potong Sofia tegas, meski matanya berkaca-kaca. "Kau adalah putri Ferdinand Conti. Kau lebih kuat dari yang kau sadari."
Perjalanan menuju mansion Moretti terasa lebih panjang dari biasanya, setiap lampu jalan yang mereka lewati terasa seperti hitungan mundur menuju sesuatu yang tidak bisa ia hindari lagi. Yao menatap keluar jendela taksi, mengingat kembali setiap momen sejak malam pertama ia melangkah ke Ombra — setiap kebohongan, setiap kebenaran yang perlahan terungkap, setiap detik yang membawanya semakin dekat pada pria yang seharusnya ia benci.
Apa pun yang terjadi malam ini,* pikirnya, *aku tidak menyesali satu pun momen yang telah kulalui bersamanya.