NovelToon NovelToon
Istri Kontrak Dokter Dingin

Istri Kontrak Dokter Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Dydy_ailee

Amora terjebak dalam lilitan utang dan tak punya banyak pilihan ketika Damian, seorang dokter bedah tampan, kaya, dan dingin, menawarkan pernikahan kontrak dengan bayaran yang mampu menyelesaikan semua masalahnya.
Syaratnya sederhana: menikah, tinggal serumah, dan jangan pernah jatuh cinta.
Bagi Damian, Amora hanya istri sementara. Bagi Amora, Damian hanyalah jalan keluar dari kesulitan hidupnya.
Namun tinggal bersama perlahan membuat hubungan mereka berubah. Terlebih ketika masa lalu Damian, penolakan sang ibu, dan perasaan yang semakin sulit disembunyikan mulai menguji kesepakatan mereka.
Bagaimana jika pernikahan yang awalnya hanya sebuah kontrak justru berubah menjadi cinta yang nyata?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dydy_ailee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB-16 Makan Malam

Jam menunjukkan pukul sepuluh malam. Lampu kafe mulai dimatikan satu per satu, tanda bahwa operasional hari ini berakhir sudah. Amora keluar sambil menenteng jaket dan tas kecilnya, wajahnya lelah tapi tetap ceria seperti biasa.

“Akhirnya, selesai juga. Kaki kayaknya bisa copot nih,” gumamnya pelan sambil berjalan ke arah motornya yang terparkir tepat di samping pagar rumah sakit.

Namun baru beberapa langkah, suara klakson pelan membuatnya menoleh. Sebuah mobil sedan hitam yang sangat dikenalnya berhenti tak jauh dari tempatnya berdiri. Kaca jendela mobil turun pelan, menampilkan wajah dingin seorang pria dengan jas dokter setengah terbuka.

“Dokter Damian?” Amora menyipitkan mata. “Lho, Anda belum pulang?”

Damian memiringkan kepala sedikit. “Harusnya aku yang bertanya. Kamu belum pulang?”

Amora nyengir, menghampiri. “Lah ya iyalah, baru tutup tuh kafe. Lembur demi sesuap nasi padang.”

Damian membuka pintu mobilnya. “Naik. Aku antar pulang.”

Amora menatapnya bingung. “Hah? Seriusan nih? Jangan-jangan Dokter mau culik saya buat dijadiin kelinci percobaan ya?”

Damian menghela napas pendek. “Masuk, Amora. Jangan banyak drama.”

“Siap, Mas Dokter.” Amora langsung masuk dan duduk manis, meninggalkan motor bututnya begitu saja di kafe. Begitu pintu tertutup, ia langsung bersandar nyaman. “Wah, AC-nya lebih adem dari kulkas rumah aku.”

Damian menahan senyum sambil melajukan mobil pelan keluar area kafe. Suasana jalanan tak terlalu ramai. Hanya gemerlap lampu kota menemani perjalanan mereka.

“Tumben banget Dokter muncul pas jam segini. Banyak jadwal operasi ya, Dok?”

Damian mengangguk. “Kebetulan iya. Ditambah baru keluar dari ruang jaga. Lihat kamu keluar bareng kafe, ya sudah sekalian.”

“Eeeh? Dokter ngintipin saya ya?” Amora melirik geli. “Wah jangan-jangan Dokter sudah mulai sayang sama saya nih.”

Damian melirik sekilas. “Kita sedang pura-pura pacaran. Harusnya kamu mulai biasakan dengan skenario ini.”

Amora nyengir. “Skenario apa? Yang berujung baper?”

Damian tak menjawab. Tapi Amora tetap dengan cengiran khasnya, tak pernah kapok menggoda.

“Eh Dok… besok latihan lagi tidak? Saya harus latihan manggil Dokter apa nih? Sayang? Beb? Honey? Sweety? atau Yang?”

“Jangan aneh-aneh. Cukup ‘Mas’ aja. Dan biasakan mulai sekarang. Lalu, jangan terlalu formal saat bicara,” jawab Damian datar, tapi jelas ada nada geli tersembunyi.

“Oke, Mas Dokter!” Amora menjawab ceria. “Saya… Eh, aku janji tidak akan lebay, asal kamu juga jangan nyuekin aku depan orang. Nanti orang mikir kita beneran lagi musuhan.”

Damian mengangguk pelan. “Besok siang aku free. Aku kenalin kamu sama orang-orang kantorku. Sekaligus kita latihan interaksi.”

“Siap, kapten.” Amora menatap Damian sebentar. “Eh, Mas… makasih ya. Hari ini kamu tidak membuatku kesal.”

Damian tersenyum tipis. “Besok jangan harap semudah ini.”

Amora mendesis. “Duh, ketusnya kumat lagi.”

“Eh tapi, Mas. Harusnya tidak usah perkenalan ke teman kantor. Saya, eh aku malu. Mereka semua tahu kalau aku ini cuman pelayan kafe. Yang ada Dokter, eh Mas Damian dibully lagi. Toh, pura-puranya di depan mama Mas saja. Jadi, aku rasa tidak usah deh.”

Damian mencoba mencerna ucapan Amora. “Oke, baiklah. Aku khawatir saja kalau Mama banyak tanya. Tapi, bagus juga. Nanti yang ada semakin rumit. Bukan aku yang dibully tapi kamu. Kamu pasti dianggap habis dukunin aku.”

“Iya deh, apalagi mukaku pas-pasan dan kismin lagi. Sudah pasti aku pelet tuh si Dokter Damian,” balas Amora dengan nada ketus. Damian hanya mengangkat sudut bibirnya.

Mobil terus melaju perlahan, mengantar malam yang diam-diam mulai menyusun kisah baru di antara mereka.

Suasana dalam mobil mendadak hening. Hanya suara musik pelan dari radio yang terdengar. Tapi tak lama kemudian—krukkk—bunyi perut keroncongan Amora terdengar begitu jelas. Amora langsung membeku di tempatnya, matanya melebar.

Damian menoleh sejenak. Alisnya terangkat. “Itu… perutmu?”

Amora nyengir malu. “Ehehe… iya. Maaf ya, Mas Dokter. Aku lupa belum makan. Tadi niatnya makan di kafe, tapi malah kelamaan ngerjain closing-an.”

Damian menahan tawa, tapi sudut bibirnya terangkat. “Sudah hampir jam sebelas malam, kamu belum makan sejak kapan?”

Amora mengangkat dua jarinya, “Sejak siang tadi sih.”

Damian menatapnya sejenak, lalu memutar setir dan berbelok ke arah berbeda. Amora langsung duduk tegak.

“Lho? Ini bukan jalan ke rumahku!”

“Kita cari makan dulu,” jawab Damian datar.

Amora membelalak. “Seriusan? Dokter… Eh Mas Damian, mau traktir aku?”

“Daripada kamu pingsan di mobilku dan bikin heboh, mending isi perut dulu.”

Amora langsung bersorak pelan sambil menggoyangkan bahunya. “Yes! Tuhan baik banget! Doaku langsung dikabulin!”

Damian menggeleng pelan, tapi senyum tak bisa disembunyikan di wajahnya. Damian menghentikan mobil di depan sebuah warung tenda yang masih ramai. Bau gorengan dan mie rebus langsung menyeruak ketika Amora membuka pintu mobil.

“Warung tenda?” Amora tampak kaget. “Aku kira kamu bakal bawa aku ke restoran bintang lima, gitu.”

Damian mematikan mesin. “Kamu yang lapar. Bukan aku. Dan tempat ini buka sampai larut malam. Cocok buat orang-orang kelaparan mendadak sepertimu.”

Amora nyengir. “Mas Damian, kamu tuh… kalau ngomong suka nyakitin tapi ngasih solusi. Bikin bingung, deh.” Amora mulai semakin mendalami perannya. Ia tidak secanggung biasanya.

Mereka duduk di bangku plastik panjang. Seorang ibu-ibu datang menghampiri dengan buku menu. Amora langsung ambil alih.

“Satu mie goreng pakai telur dadar, es teh manis, dan satu gorengan campur ya, Bu.”

Damian mengangkat alis. “Kamu yakin kuat makan semua itu?”

Amora menatap Damian seolah tersinggung. “Mas, aku tuh wanita kuat. Kalau urusan makan, jangan pernah meragukan aku.”

Damian hanya mengangguk tipis. “Oke. Aku pesan kopi saja.”

Tak butuh waktu lama, pesanan mereka datang. Amora langsung menyatukan tangan dan berbisik pelan, “Bismillah…”

Lalu, tanpa malu-malu, ia mulai menyantap mie goreng dengan ekspresi bahagia luar biasa. Damian memperhatikan diam-diam, agak heran sekaligus tak bisa menahan senyum melihat ekspresi polos dan puas Amora. Satu kata, UNIK.

“Kamu selalu makan dengan ekspresi kayak lagi shooting iklan mie instan?” tanya Damian.

Amora berhenti sejenak, menoleh dengan mie yang masih nyangkut di bibirnya. “Memang kenapa? Biar makanan juga merasa dihargai. Lagian, ini enak banget, tahu!”

Damian memutar bola matanya. “Kamu unik.”

Amora mengangkat alis sambil terus mengunyah. “Unik? Itu pujian kan? Harusnya Mas Dokter bilang aku imut juga sekalian.”

Damian menyesap kopinya tanpa menanggapi. Tapi jelas pipinya menegang sedikit. Entah karena tahan tawa atau karena mulai terbiasa dengan kehadiran gadis itu yang terlalu penuh warna.

Amora menatap Damian lekat-lekat, lalu berkata setengah bercanda, “Mas, kamu tuh kayak nasi padang. Dari luar kelihatan biasa aja. Tapi begitu digali... siapa sangka ada rendangnya.”

Damian mendongak, memandangi Amora sebentar lalu akhirnya tertawa pelan. “Kamu tuh, ngomong apa sih.”

“Terserah Mas mau ngerti atau enggak, yang penting aku kenyang sekarang,” kata Amora sambil memasukkan sisa gorengan terakhir ke mulutnya.

Damian menggeleng, lalu diam-diam membayar semuanya.

1
Suhartini hartini
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!