"""Kalau kakak tidak mau, aku saja yang nikah!""
Safira nekad menawarkan diri sebagai pengganti kakaknya untuk menikahi Arga. Bukan karena cinta, tapi demi bebas dari neraka berkedok rumah.
Seumur hidup, Safira diperlakukan seperti budak oleh keluarganya sehingga ketika Arga datang dengan mobil tua dan pakaian sederhana untuk melamar kakaknya yang matre, Safira tahu ini kesempatannya. Tidak peduli bila keluarganya dan orang-orang menghinanya menikahi pria miskin, yang penting ia bebas!
Tapi, adakah yang bisa menjelaskan mengapa tiba-tiba suaminya dipanggil bos dan mertuanya trending di sosial media?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11
Bab 11 - Waktu Kamu Selingkuh, Kamu Izin?
Safira pikir pertemuan di toko cincin selesai di parkiran.
Ternyata tidak.
Dua hari kemudian, ia dan Arga kembali ke mal yang sama untuk mengambil cincin yang sudah diukir. Safira sengaja memilih jam siang, saat pengunjung tidak terlalu ramai. Ia ingin masuk, mengambil cincin, membayar sisa biaya, lalu pergi ke toko bahan.
Rencana sederhana itu rusak ketika Dimas muncul di depan toko perhiasan.
Sendirian.
Tanpa Rania.
Safira langsung berhenti.
Arga yang berjalan di sampingnya ikut berhenti. "Kamu kenal?"
"Dimas."
Nama itu cukup.
Arga menatap lelaki di depan mereka dengan wajah datar.
Dimas memakai kemeja rapi dan jam tangan yang sengaja dipamerkan. Ia tersenyum kepada Safira, tetapi senyum itu tidak sampai ke mata.
"Safa, aku perlu bicara."
"Kalau soal pekerjaan, kirim email. Kalau soal pribadi, tidak ada yang perlu dibicarakan."
"Kamu benar-benar berubah."
"Kalimat itu sudah sering dipakai. Cari yang baru."
Dimas menatap Arga sebentar, lalu kembali kepada Safira. "Aku cuma ingin tanya, kenapa kamu menikah secepat itu tanpa memberi tahu aku?"
Safira hampir tertawa.
Beberapa orang yang lewat mulai melambat karena suara Dimas cukup keras.
"Mas Dimas, kita sudah tidak punya hubungan."
"Menurutmu. Tapi menurutku, semuanya belum selesai."
Safira menarik napas. "Kamu pacaran dengan Kak Rania."
"Itu terjadi setelah hubungan kita renggang."
"Renggang karena kamu mulai jalan dengan dia."
Dimas mengeraskan rahang. "Safa, jangan bicara seperti itu di tempat umum."
"Kamu yang menghentikanku di tempat umum."
Arga melangkah sedikit lebih dekat ke Safira. "Kalau tidak ada yang jelas, kami pergi."
Dimas menatap Arga. "Saya bicara dengan Safa."
"Safa istri saya."
"Saya tahu. Justru itu yang saya sayangkan." Dimas tertawa pendek. "Dia menikah karena emosi. Karena ingin membalas Rania dan saya."
Safira merasa sesuatu di dadanya yang dulu mudah sakit kini lebih tenang.
"Kalau aku ingin membalas, aku akan melakukannya lebih awal."
"Kamu masih marah."
"Aku pernah marah. Sekarang tidak terlalu."
"Jangan bohong. Kamu menikah dengan pria yang baru dikenal karena ingin membuatku menyesal."
Arga menatap Safira. Ia tidak bicara. Ia memberi ruang.
Safira menghargai itu.
"Mas Dimas," katanya pelan, "aku menikah karena aku memilih. Bukan karena kamu."
Wajah Dimas memerah.
"Kita dulu punya rencana."
"Kita dulu punya janji. Kamu juga punya pilihan untuk menjaga janji itu. Kamu memilih Kak Rania."
"Aku bisa jelaskan."
"Jelaskan pada Kak Rania. Dia yang sekarang perlu mendengar penjelasanmu."
Beberapa pengunjung berhenti terang-terangan. Ada yang berbisik. Seorang ibu menarik anaknya menjauh tetapi tetap menoleh.
Dimas menyadari posisinya buruk. Ia menurunkan suara, tetapi kata-katanya menjadi lebih tajam.
"Kamu pikir suamimu bisa memberimu hidup seperti yang aku bisa? Aku tahu keluarga Santoso. Aku tahu mimpimu. Kamu ingin punya butik besar, ingin ikut fashion show, ingin jadi desainer yang dikenal. Lelaki ini bisa apa?"
Safira menatap Arga.
Arga tetap tenang. Tidak tersinggung. Atau ia terlalu pandai menyembunyikan.
Safira menatap Dimas lagi.
"Dia bisa berdiri di sampingku tanpa membuatku merasa kecil."
Dimas terdiam.
"Itu saja sudah lebih banyak dari yang pernah kamu lakukan."
Orang-orang mulai berbisik lebih keras.
Dimas kehilangan kendali. "Aku selingkuh karena kamu terlalu sibuk dengan kerjaanmu. Kamu selalu capek, selalu bau kain, selalu bicara soal jahitan. Rania lebih mengerti posisiku."
Safira mengangguk pelan.
"Akhirnya jujur juga."
Dimas sadar ia salah bicara.
Safira mengambil ponsel, menekan layar.
Suara Dimas keluar jelas dari rekaman yang ia mulai sejak lelaki itu mendekat.
`Aku selingkuh karena kamu terlalu sibuk dengan kerjaanmu...`
Wajah Dimas pucat.
"Safa, hapus."
"Kenapa? Kamu kan cuma menjelaskan."
"Hapus!"
Tangannya bergerak hendak merebut ponsel.
Arga menangkap pergelangan tangannya.
Gerakan itu cepat. Tidak kasar, tetapi cukup kuat membuat Dimas meringis.
"Jangan sentuh istri saya."
Suara Arga rendah.
Di balik ketenangan itu, ada sesuatu yang membuat orang-orang di sekitar ikut diam.
Dimas mencoba menarik tangan. "Lepas."
Arga melepasnya setelah memastikan ia mundur.
Saat itu Rania datang tergesa-gesa. Entah siapa yang mengabari, wajahnya tegang dan napasnya tidak teratur.
"Dimas! Safa! Apa-apaan ini?"
Safira menatap kakaknya. "Tanya calon suamimu."
Rania melihat ponsel di tangan Safira. "Apa itu?"
Safira memutar rekaman dari awal.
Suara Dimas yang mempertanyakan pernikahan Safira, mengaku hubungan dengan Rania dimulai saat hubungan dengan Safira belum selesai, lalu alasan selingkuhnya, terdengar cukup jelas.
Rania berdiri kaku.
"Dim?"
Dimas panik. "Rekaman itu dipotong. Dia sengaja memancing."
Safira memasukkan ponsel ke tas. "Aku tidak perlu memancing orang yang memang mudah tergelincir."
Rania menatap Safira dengan mata merah. "Kamu puas mempermalukan aku?"
"Kak, aku sudah lama dipermalukan. Bedanya, hari ini aku tidak diam."
Rania seperti hendak menangis, tetapi gengsinya menahan.
Arga memegang ringan punggung Safira. "Kita ambil cincin."
Sentuhan itu singkat, tetapi Safira merasa punggungnya lebih kuat.
Mereka masuk toko, meninggalkan Dimas dan Rania dalam bisik-bisik pengunjung.
Penjaga toko menyerahkan kotak cincin dengan wajah pura-pura tidak tahu apa yang baru terjadi.
"Ukirannya sudah selesai, Mbak."
Safira membuka kotak.
Di bagian dalam cincin tertulis kecil: `A & S`.
Sederhana.
Namun setelah keributan di luar, ukiran itu terasa seperti garis batas.
Antara masa lalu dan sekarang.
Arga memasangkan cincin itu ke jarinya lagi.
"Pas?"
Safira mengangguk.
"Kamu baik-baik saja?"
"Iya."
"Kamu yakin?"
Safira melihat ke luar toko. Rania dan Dimas masih berdebat pelan. Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa perlu menyelamatkan siapa pun dari akibat pilihan mereka sendiri.
"Aku cuma heran."
"Heran apa?"
"Dulu aku takut sekali kalau mereka marah. Sekarang ternyata marah mereka tidak membunuhku."
Arga menatapnya lama.
"Kamu tidak harus takut lagi."
Safira ingin percaya kalimat itu.
Mungkin belum sepenuhnya.
Tapi hari ini, ia percaya sedikit lebih banyak daripada kemarin.
Di parkiran, Arga membuka pintu mobil. Sebelum masuk, Safira menatapnya.
"Mas Arga."
"Hm?"
"Terima kasih karena tidak bicara menggantikanku tadi."
"Itu pertarunganmu. Saya hanya memastikan tidak ada yang menyentuhmu."
Safira tersenyum.
"Kamu mulai terdengar seperti suami sungguhan."
Arga menatapnya dengan mata gelap yang tenang.
"Saya memang suami sungguhan."
Safira masuk ke mobil cepat-cepat sebelum wajahnya semakin panas.
Di belakang mereka, Dimas masih memanggil namanya.
Kali ini Safira tidak menoleh.
Ada jalan yang memang tidak perlu dilihat lagi setelah ditinggalkan.
Di perjalanan pulang, Safira baru menyadari lututnya lemas. Selama di mal ia berdiri tegak karena terlalu banyak mata melihat. Begitu duduk di mobil, keberanian itu perlahan turun, menyisakan tubuh yang dingin.
Arga menepi di depan minimarket.
"Aku tidak minta apa-apa," kata Safira.
"Saya tahu."
Ia turun, lalu kembali membawa air mineral dan cokelat kecil.
Safira menatap cokelat itu. "Aku bukan anak-anak."
"Orang dewasa juga boleh makan cokelat setelah bertengkar dengan mantan."
Safira ingin menyangkal kata mantan, tetapi memang itulah Dimas. Masa lalu yang pernah ia anggap masa depan.
Ia membuka cokelat, menggigit sedikit.
"Manis."
"Bagus."
"Kamu beli yang paling murah?"
"Saya beli yang paling dekat dengan kasir."
Safira tertawa pelan. Ketegangan di dadanya mengendur.
Arga kembali menjalankan mobil. "Kamu tahu apa yang paling membuat dia marah?"
"Apa?"
"Bukan karena kamu menikah. Tapi karena kamu berhenti meminta dia memilihmu."
Safira diam.
Kalimat itu mengenai tempat yang selama ini tidak ingin ia sentuh. Dulu, mungkin benar. Ia menunggu Dimas sadar. Menunggu Rania merasa bersalah. Menunggu Ratna membelanya.
Hari ini ia tidak menunggu.
Dan ternyata, orang yang kehilangan penonton bisa lebih marah daripada orang yang kehilangan cinta.
Saat sampai di rumah, Safira mengirim rekaman utuh kepada Nadia seperti yang disarankan. Ia juga menulis kronologi singkat, tanpa kata-kata emosional, hanya waktu, tempat, saksi, dan kejadian.
Arga membaca dari samping.
"Kamu menulis rapi sekali."
"Kalau aku pakai emosi, nanti aku sendiri yang bingung."
"Itu strategi bagus."
Safira menekan tombol kirim. "Aku belajar dari pengacara."
"Dan dari hidup."
Safira menatapnya, lalu mengangguk pelan.
Hidup memang guru yang keras.
Tapi kali ini, ia tidak datang ke kelas sendirian.