Hidup Kayna memang sudah hancur, ayahnya sangat membencinya karna sudah membuat ibunya meninggal saat melahirkannya.
Oleh sebab itu, di usianya yang genap 20 tahun.. ia memutuskan mengakhiri hidupnya agar bisa merasakan reinkarnasi ke keluarga yang ia harapkan akan mencintainya, namun..
"Astaga.. kenapa aku harus menjadi tokoh antagonis yang akan mati di tangan tunanganku sendiri?"
Kayna yang kesal karna terlempar ke novel memutuskan untuk bunuh diri sebelum tunangannya yang membunuhnya.
Lalu, apakah rencananya akan berjalan mulus?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Ketenangan di kamar batu pualam itu tidak bertahan lama.
Keesokan paginya, Kayna sedang mencoba menghitung berapa lama ia bisa menahan napas di bawah air dari kendi minum (perkiraan: tiga menit sebelum Adrian menendang kendi itu sampai pecah), ketika suara langkah kaki berat terdengar dari luar kamar. Bukan langkah kaki Rosa yang tergesa-gesa, melainkan langkah kaki seseorang yang terbiasa diinjak-injak oleh orang lain.
Pintu kamar tidak diketuk. Pintu itu didorong terbuka dengan kasar hingga menghantam dinding.
"Di mana anak tidak berguna itu?!"
Suara itu.
Tubuh Kayna membeku. Jantungnya, yang tadinya berdetak santai karena rencana pembunuhan diri, tiba-tiba berpacu liar. Suara itu... suara yang terdengar seperti gesekan amplas kasar di atas kaca. Suara yang selama dua puluh tahun di kehidupan pertamanya terus memberitahunya bahwa ia adalah sebuah kesalahan.
Seorang pria paruh baya dengan rambut yang mulai menipis dan wajah yang keras melangkah masuk. Ia mengenakan pakaian mewah berlapis bulu, namun auranya memancarkan kekejaman yang telanjang.
Marquis Ardent. Ayah dari tubuh yang kini ditempati Kayna.
Adrian langsung berdiri dari kursinya, alisnya berkerut dalam. "Marquis Ardent. Aku tidak mengizinkanmu masuk ke kamarku. Dan aku tidak menyangka seorang kepala rumah akan datang tanpa diundang hanya untuk memaki putrinya sendiri."
"Putri?" Marquis Ardent mendengus, menatap Adrian dengan tatapan meremehkan sebelum matanya beralih ke Kayna. Tatapan itu... ya Tuhan, tatapan itu persis seperti ayah di kehidupan pertamanya. Penuh dengan kebencian yang pekat, seolah kehadiran Kayna adalah bau busuk yang harus segera dihilangkan.
"Kau menyebut sampah ini putriku?" Marquis Ardent melangkah maju, mengabaikan sang Pangeran Mahkota. Ia berhenti tepat di depan Kayna yang masih duduk di tepi dipan. "Dia adalah kutukan. Dia adalah alasan istriku mati saat melahirkannya. Dan sekarang, dia mempermalukan keluarga Ardent dengan mencoba bunuh diri seperti pengecut setelah mendorong gadis rendahan itu!"
Di kehidupan aslinya, Kayna akan menangis. Kayna yang asli akan memohon, akan berteriak bahwa ia tidak melakukannya, akan mencengkeram kaki ayahnya sambil bersumpah akan menjadi anak yang baik.
Tapi ini bukan Kayna yang asli. Dan Kayna yang sekarang... sudah mati rasa.
Kayna mendongak, menatap wajah pria itu dengan tatapan datar yang sama saat ia menatap roti panggang yang keras.
"Kalau begitu, Ayah," ucap Kayna, suaranya terdengar sangat tenang, nyaris menyenangkan. "Gantung saja aku. Atau potong kepalaku. Aku tidak keberatan. Sebenarnya, aku sedang mencari cara untuk mati. Kalau Ayah bisa melakukannya sekarang, aku akan sangat berterima kasih. Tolong gunakan tali yang baru, yang di gudang sudah berjamur dan mungkin menyebabkan infeksi tetanus sebelum aku mati."
Hening.
Marquis Ardent terkesiap, mulutnya sedikit terbuka. Ia jelas tidak mengharapkan reaksi ini. Kayla yang ia kenal akan histeris, menangis, dan memohon ampun. Wanita di hadapannya ini justru sedang... memberikan instruksi teknis untuk eksekusinya.
"Kau... kau gila," geram Marquis Ardent, wajahnya memerah karena marah. "Kau pikir ini lelucon?! Kau pikir dengan bertingkah seperti orang sinting aku akan memaafkanmu?!"
"Aku tidak butuh maafmu, Ayah. Aku hanya butuh tali gantung," balas Kayna datar. Ia menoleh ke arah Adrian. "Tuan Duke, tolong bilang pada Ayahku untuk mempercepat prosesnya. Aku janji tidak akan melawan."
Adrian tidak bergerak.
Pria berambut perak itu berdiri di antara Kayna dan ayahnya, tapi tubuhnya tidak menghadap Kayna. Ia menghadap Marquis Ardent. Dan untuk pertama kalinya sejak Kayna mengenalnya, tatapan dingin Adrian bukan ditujukan pada Kayna. Tatapan itu ditujukan pada Marquis Ardent.
Suhu di ruangan batu pualam itu seolah turun sepuluh derajat.
"Aku pikir," ucap Adrian, suaranya sangat pelan, namun bergema dengan otoritas yang mutlak, "aku sudah mendengar cukup banyak."
Marquis Ardent menatap Adrian, sedikit terintimidasi oleh aura membunuh yang tiba-tiba menguar dari sang Pangeran Mahkota. "Yang Mulia... putriku ini telah melakukan kejahatan. Dia harus.."
"Dia adalah tunanganku," potong Adrian. Suaranya kini terdengar seperti baja yang digesekkan pada batu. "Dan selama dia berada di bawah atapku, di dalam kamarku, dia berada di bawah perlindunganku."
..gagal terus🤣