"Aku mengejarmu karena mengira kamu adalah malaikat penyelamatku. Ternyata, kamu hanyalah luka paling berdarah yang sengaja aku pelihara."
Selama dua tahun di SMA Taruna Bakti, Rian Pratama rela menjadi budak cinta demi Keysha Mariela, sang kapten cheerleader. Rian tulus, ia hanya ingin membalas budak kebaikan gadis yang ia kira telah menolongnya di malam ibunya meninggal dunia. Namun, ketulusan Rian dibanting hancur di pesta ulang tahun Keysha. Di depan ratusan mata, Keysha menolaknya mentah-mentah demi Marvel, cowok idaman sekolah, sambil menertawakan kemiskinan Rian.
Di titik terendah saat Rian ingin mengakhiri segalanya, Ziva Zakiyah datang. Cewek genius, manipulatif, dan terkenal 'cegil' (cewek gila) ini membawa satu misi: balas dendam.
Ziva tahu rahasia besar yang disembunyikan Keysha, dan dia siap mengubah Rian yang polos menjadi pangeran berdarah dingin untuk menghancurkan Keysha dan Marvel.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tabur Tuai 34.
Suara riuh gemuruh di dalam GOR masih menyengat telinga, tetapi bagi Keysha, segalanya terdengar seperti dengung lalat yang mengganggu.
Pengumuman bahwa SMA Taruna Bakti keluar sebagai juara pertama kompetisi cheerleader tingkat provinsi seharusnya menjadi puncak kejayaannya.
Medali emas sudah melingkar di lehernya.
Senyum palsu sudah dia pamerkan di depan kamera fotografer. Namun, kakinya yang terkilir akibat salah menumpu tadi kalah sakit dengan dadanya yang terasa seperti dihantam godam.
Begitu sesi foto bersama selesai, Keysha langsung berjalan pincang meninggalkan keriangan timnya. Dia menolak dipapah. Dia butuh ruang kosong untuk bernapas.
Langkah kakinya membawa Keysha ke koridor belakang GOR yang sepi, jalur menuju ruang ganti VIP yang biasanya hanya dilewati panitia. Suasana di sini remang-remang, kontras dengan kilauan lampu sorot di lapangan tadi. Keysha bersandar di dinding koridor, memejamkan mata sembari memegangi dadanya yang sesak.
Kenapa jadi kayak gini? batinnya menjerit.
Dia adalah Keysha. Ratu sekolah. Cewek yang harusnya diinginkan semua orang.
Tapi hari ini, di hari puncaknya, Marvel merangkul cewek lain, dan Rian—cowok yang biasanya memujanya bak dewi—justru memakai kaos bertuliskan nama Ziva di depan ribuan mata. Keysha merasa seperti badut yang sedang ditertawakan oleh semesta.
"Marvel, ih! Jangan di sini, nanti ada yang lihat!"
Sebuah suara pekikan manja yang tertahan tiba-tiba memecah keheningan koridor.
Keysha membeku. Jantungnya melewatkan satu ketukan. Suara itu berasal dari balik belokan koridor yang menuju gudang penyimpanan matras. Itu suara cewek. Dan nama yang dipanggil... Marvel.
Keysha menahan napas. Dengan langkah pelan yang diusahakan tanpa suara meski pergelangan kakinya berdenyut nyeri, dia mendekati sudut belokan. Dia mengintip dari balik pilar beton.
Di sana, di bawah remang lampu kuning yang berkedip, dua orang sedang berdiri sangat dekat.
Itu Marvel. Masih dengan jaket bomber hitamnya yang mahal. Dan cewek itu... kapten cheerleader dari sekolah saingan yang tadi siang dirangkul Marvel di parkiran. Namanya Clara. Seragam cheerleader-nya yang ketat tampak kusut. Marvel sedang menyudutkan Clara ke dinding, kedua tangannya mengunci tubuh cewek itu, sementara wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter.
"Kenapa kalau ada yang lihat? Biar semua orang tahu lo punya gue sekarang," bisik Marvel, suaranya berat, terdengar frustrasi tapi penuh tuntutan. Gaya arogan Marvel yang biasanya membuat Keysha bertekuk lutut, kini justru terlihat begitu menjijikkan.
Clara tertawa kecil, jemari lentiknya yang berkuteks merah menyapu dada Marvel, lalu naik ke rahang cowok itu. "Bukannya lo masih punya pacar? Si kapten Taruna Bakti yang sok kecantikan itu? Dia baru aja menang, lho. Nggak mau lo samperin?"
Marvel mendengus remeh. Senyum sinisnya terulas, tipe senyuman yang sama dengan yang dia berikan pada Keysha dari jendela ruang ganti tadi pagi.
"Keysha? Dia cuma masa lalu. Gue bosan sama cewek yang cuma peduli sama reputasi dan hobi nuntut ini-itu," kata Marvel dingin, tanpa beban sedikit pun. "Lagian, bokap gue lagi potong semua fasilitas gue karena nilai gue turun. Gue butuh cewek yang bisa bikin gue seneng, bukan cewek ribet kayak dia yang egoisnya selangit."
BOOM.
Kata-kata Marvel menembus jantung Keysha seperti belati berkarat. Sakitnya luar biasa hingga membuat Keysha limbung.
Selama ini, dia bertahan menghadapi sikap dingin Marvel karena dia pikir Marvel hanya sedang stres akibat tekanan papanya. Dia mencoba maklum. Tapi ternyata? Dia hanya dianggap beban yang membosankan.
"Oh, ya? Jadi sekarang lo milih gue?" Clara berbisik menggoda. Dia menjinjitkan kakinya, mengikis jarak, dan sedetik kemudian, bibirnya menyatu dengan bibir Marvel.
Marvel tidak menolak. Cowok itu justru membalas lumatan Clara dengan kasar, menyalurkan seluruh rasa frustrasinya hari ini ke dalam ciuman panas di belakang panggung itu.
Melihat pemandangan menjijikkan itu, sesuatu di dalam diri Keysha pecah. Rasa sedih, panik, dan minder yang merongrongnya sejak tadi mendadak menguap, digantikan oleh kemarahan murni yang membakar darahnya.
Egonya yang hancur menuntut pembalasan. Keysha tidak akan membiarkan dirinya diinjak-injak sampai ke dasar.
Dengan dahi berurat dan mata yang memerah sempurna, Keysha keluar dari persembunyiannya. Langkah kakinya sengaja dihentakkan keras.
Plak!
Suara langkahnya membuat tautan bibir Marvel dan Clara terlepas mendadak. Keduanya menoleh dengan wajah terkejut.
Namun, sebelum Marvel sempat bersuara atau Clara sempat membenarkan letak bajunya, Keysha sudah melesat maju seperti badai.
PLAAKKKK!
Satu tamparan keras mendarat telak di pipi kanan Marvel. Sentuhan kulit yang beradu itu menimbulkan suara dentuman yang menggema di koridor sepi. Kepala Marvel terlempar ke samping. Sudut bibirnya langsung memerah.
"Keysha?!" Marvel memekik, matanya membelalak tak percaya sambil memegangi pipinya yang terasa panas membara.
Belum sempat Marvel pulih dari keterkejutannya, Keysha langsung berbalik menatap Clara yang melongo ketakutan.
PLAAKKKK!
Satu tamparan yang tidak kalah keras dan bertenaga mendarat di pipi kiri Clara. Kekuatan tangan Keysha yang terlatih sebagai atlet membuat Clara terpekik nyaring dan terhuyung hingga menabrak tumpukan matras di belakangnya. Riasan wajah Clara yang menor langsung rusak oleh bekas merah pola telapak tangan Keysha.
"Lo... cewek gila!" jerit Clara sambil menangis, memegangi pipinya yang berdenyut nyeri.
Keysha berdiri tegak di depan mereka berdua. Napasnya memburu, dadanya naik turun dengan cepat. Medali emas yang mengalung di lehernya berdenting pelan, menjadi saksi bisu kemurkaannya.
Air mata akhirnya menetes di pipi Keysha, tetapi tidak ada lagi kelemahan di sana. Yang ada hanyalah tatapan benci dan harga diri yang setinggi langit.
"Gila?" Keysha tertawa hambar, suaranya bergetar hebat namun terdengar begitu tajam menembus tulang. Dia menunjuk Marvel dan Clara bergantian dengan jari telunjuknya yang gemetar.
"Kalian berdua yang menjijikkan! Lo, Marvel... lo pikir lo siapa bisa buang gue kayak sampah setelah semua hal yang gue maklumi dari lo?! Dan lo, cewek binal," tatapan Keysha menghunus Clara yang masih bersimpuh di lantai, "ambil cowok ini. Ambil cowok bangkrut yang asetnya disita bokapnya sendiri. Kalian berdua cocok banget. Sama-sama sampah!"
Marvel mengepalkan tangannya, wajahnya merah padam antara menahan sakit dan malu yang luar biasa. "Keysha, jaga mulut lo—"
"Gue nggak akan pernah mau lihat muka kalian lagi!" potong Keysha dengan teriakan parau yang memecah malam.
......................
...****************...
Tbc,