Pernikahan impian yang dibayangkan Naya berubah menjadi takdir nekad saat ia terpaksa naik ke pelaminan, menggantikan sang kakak yang kabur tepat sehari sebelum akad. demi menyelamatkan kehormatan keluarganya, Naya pasrah mengikat janji suci dengan pria asing yang bahkan tak pernah ia bayangkan.
Namun, kejutan sebenarnya baru dimulai saat tirai malam pertama tersingkap. Pria yang kini sah menjadi suaminya adalah Raka Mahendra—CEO dingin dan arogan yang pernah memanjatkan penderitaan di hidup Naya dengan memecatnya secara sesepihak di depan umum. Pernikahan atas dasar kesepakatan enam bulan pun dimulai dengan kebencian yang masih membakar dada.
Di tengah perang dingin satu atap, benteng pertahanan Raka perlahan runtuh. Sikap ketusnya berganti perhatian samar yang membuat hati Naya berdesir.
Bagaimana keseruan rumah tangga instan yang mereka jalani ??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fikafiky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pasangan Aliansi
Keheningan kembali menyergap kabin mobil. Naya menatap Raka dengan pandangan yang bercampur aduk. Ada rasa syok, sedih, marah, namun di atas semua itu ... ada rasa kebingungan yang teramat besar.
"Pesan singkat tadi ..." gumam Naya pelan, teringat pada ancaman di ponsel Raka. "...siapa yang mengutak-atik hal ini sekarang?"
"Dalang sebenarnya," jawab Raka dengan mata yang menyipit tajam penuh ketegangan. "Dia tahu aku mulai mendekati kebenaran. Dia tahu kamu sekarang berada di penthouse-ku. Dia mencoba menakut-nakutiku agar melepaskanmu sebelum kita menemukan bukti itu."
Raka memutar tubuhnya penuh, meraih kedua bahu Naya dengan genggaman yang kuat namun hangat. "Dengar, Naya. Pernikahan kontrak ini ... awal mulanya memang sarat akan manipulasi dan paksaan. Aku memanfaatkan situasi kaburnya Kania untuk menahannya di sisiku. Tapi demi Tuhan, aku tidak pernah berniat mencelakakanmu atau keluargamu."
Naya menatap mata elang Raka. Di dalam iris hitam yang biasa memancarkan keangkuhan itu, Naya kini melihat ketulusan yang murni, rasa bersalah yang mendalam, dan rasa tanggung jawab yang amat besar.
"Apakah ... apakah Anda memanfaatkan saya, Pak Raka?" tanya Naya berbisik, menyuarakan ketakutan terbesarnya.
Raka menatap Naya dalam-dalam.
"Awalnya, ya. Kamu hanyalah sebuah alat untuk mencapai keadilan atas kematian pamanku. Tapi..."
Raka menghentikan kalimatnya. Tangannya perlahan naik, mengusap sisa air mata di pipi Naya dengan jemarinya yang hangat. Sentuhan itu begitu lembut, begitu kontras dengan reputasinya sebagai CEO dingin yang kejam.
"...tapi melihat keberanianmu, ketulusanmu merawat keluargamu, dan kehangatan yang kamu bawa ke dalam hidupku yang sepi beberapa hari ini ... aku sadar bahwa kamu bukan sekadar alat, Naya. Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun menyulitkanmu lagi."
Dada Naya bergemuruh hebat. Hati kecilnya yang selama ini tertutup oleh benteng rasa benci dan prasangka buruk mulai runtuh sepenuhnya. Pria arogan di hadapannya ini bukanlah monster, ia hanyalah seorang anak yang terluka oleh masa lalu, sama seperti dirinya.
"Jadi," Naya berusaha tersenyum tipis meski matanya masih basah, "kita berdua sebenarnya adalah korban dari dalang yang sama?"
Raka menyunggingkan senyum tipis, sebuah senyuman langka yang terasa sangat menenangkan. "Bisa dibilang begitu. Kita terjebak di dalam kapal yang sama."
"Kalau begitu ..." Naya menarik napas panjang, menguatkan hatinya. "...saya akan bantu Anda menemukan bukti itu. Saya ingat ada satu kotak kayu tua milik Ayah yang disimpan Ibu di gudang rumah lama kami di Bogor. Ayah selalu menguncinya dan tidak pernah mengizinkan siapa pun menyentuhnya."
Mata Raka berbinar terang. "Kotak kayu tua?"
"Ya. Tapi rumah itu sudah lama kosong dan terkunci," kata Naya. "Kita harus ke sana kalau mau memastikannya."
"Besok akhir pekan," sahut Raka cepat. "Kita ke Bogor besok pagi."
Raka melepaskan genggamannya dari bahu Naya, lalu menyalakan kembali mesin mobil. Sedan hitam itu kembali melaju membelah jalanan malam, namun suasana di dalam kabin tidak lagi dipenuhi oleh rasa benci atau ketakutan.
Ada sebuah benang tak kasatmata yang kini terikat erat di antara mereka, sebuah aliansi rahasia yang dilandasi oleh luka masa lalu yang sama.
Satu jam kemudian, mereka tiba di penthouse.
Suasana apartemen terasa hangat dan menenangkan saat lampu-lampu otomatis menyala.
Naya yang merasa tubuhnya sangat lelah usai gejolak emosi malam ini melangkah menuju kamarnya. Namun sebelum ia menyentuh gagang pintu, suara Raka menghentikannya dari arah area dapur.
"Naya."
Naya menoleh. Raka sedang berdiri di sana, memegang dua gelas cangkir berisi susu hangat yang mengepulkan asap.
"Minum ini sebelum tidur," kata Raka seraya menyodorkan salah satu cangkir pada Naya. "Supaya kamu bisa tidur nyenyak. Hari ini ... pasti sangat berat untukmu."
Naya menerima cangkir hangat itu. Uap manis susu cokelat menyapa penciumannya. Ia menatap Raka, mendapati pria itu juga sedang menatapnya dengan pendar mata yang amat hangat dan penuh perhatian.
"Terima kasih, Pak Raka," ucap Naya tulus.
"Jangan panggil aku Pak Raka kalau kita sedang di rumah," potong Raka pelan. Pria itu menyesap susunya sedikit. "Panggil Raka saja. Bukankah kita ini 'pasangan aliansi' sekarang?"
Naya terkekeh pelan, rasa canggung di antara mereka menguap begitu saja. "Baiklah ... Raka."
Mendengar namanya disebut begitu lembut dari bibir Naya, sudut bibir Raka terangkat naik. "Selamat malam, Naya. Tidurlah yang nyenyak. Besok akan jadi hari yang panjang."
"Selamat malam, Raka."
Naya melangkah masuk ke dalam kamarnya, menutup pintu pelan, lalu menyandarkan punggungnya ke pintu kayu tersebut. Ia menggenggam cangkir susu hangat di tangannya, membiarkan kehangatan cairan itu meresap ke dalam tubuhnya. Untuk pertama kalinya sejak kesepakatan gila ini dimulai, Naya merasa dadanya begitu lapang dan aman.
Di balik pintu, Raka berdiri sejenak menatap pintu kamar Naya yang tertutup. Pria itu menyentuh dadanya sendiri, merasakan detak jantungnya yang berdegup kencang secara tidak wajar.
Raka mengepalkan tangannya. Siapa pun yang mencoba menyakiti Naya atau menghancurkan bukti itu... aku bersumpah tidak akan membiarkan mereka lolos.
Pagi harinya, cahaya matahari menyelinap melalui celah tirai kamar Naya. Perempuan itu terbangun ketika alarm ponselnya berbunyi. Setelah meregangkan tubuh, ia segera teringat pada rencana mereka untuk pergi ke Bogor.
Naya bergegas mandi dan mengenakan blus putih serta celana panjang hitam. Rambutnya diikat sederhana, sementara sebuah tas kecil berisi barang-barang penting sudah tersampir di bahunya.
Begitu keluar kamar, aroma kopi menyeruak dari dapur.
Raka sudah duduk di meja makan dengan kemeja hitam berlengan yang digulung hingga siku. Di hadapannya terdapat dua cangkir kopi dan sepiring roti panggang.
"Kamu sudah bangun?" tanyanya sambil melirik Naya.
Naya mengangguk. "Kita jadi berangkat sekarang?"
"Tentu. Aku sudah meminta sopir menyiapkan mobil, tetapi aku ingin menyetir sendiri."
Naya menarik kursi, lalu duduk di hadapannya. "Memangnya tidak merepotkan? Perjalanan ke Bogor lumayan jauh."
Raka mengangkat sebelah alis. "Kamu sedang mengkhawatirkanku?"
"Bukan begitu! Saya hanya tidak mau merepotkan orang lain."
"Katanya semalam kita sudah menjadi pasangan aliansi. Kenapa sekarang kembali memanggilku saya dan Anda?"
Naya terdiam, lalu mendengus kecil. "Baiklah, Raka. Puas?"
Raka tersenyum tipis. "Lumayan."
Naya mengambil sepotong roti, menyembunyikan senyum yang hampir muncul di bibirnya.
Namun, ketika Raka mengeluarkan sebuah foto lama dari map hitam yang dibawanya, suasana santai itu perlahan berubah serius.
"Ini foto paman yang meninggal dalam kecelakaan dua belas tahun lalu," jelas Raka. "Sebelum meninggal, beliau sempat mengatakan bahwa ada seseorang di perusahaan yang menyalahgunakan kekuasaan."
Naya memperhatikan foto tersebut dengan saksama. Tiba-tiba, matanya membelalak.
"Tunggu ... saya pernah melihat pria ini!"
Raka langsung menegakkan tubuhnya.
"Di mana?"
Naya menelan ludah, berusaha mengingat.
"Dia pernah datang ke rumah kami bersama Ayah. Kalau tidak salah, Ayah memanggilnya Pak Surya."
Wajah Raka seketika menegang.
Surya adalah mantan direktur keuangan perusahaan yang menghilang setelah kecelakaan pamannya.
"Naya," ucap Raka serius, "sepertinya kotak kayu milik ayahmu menyimpan sesuatu yang jauh lebih besar daripada yang kita bayangkan."
Naya menggenggam cangkir kopinya erat-erat.
Dan tanpa mereka sadari, perjalanan menuju rumah lama di Bogor itu mungkin akan membuka rahasia yang selama bertahun-tahun sengaja dikubur seseorang.