NovelToon NovelToon
Isteri Tersembunyi Sang Pewaris

Isteri Tersembunyi Sang Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:911
Nilai: 5
Nama Author: christinsenia seranica

Takdir mempertemukan Andien, gadis desa polos, dengan Carlo, pewaris konglomerat yang sekarat akibat pengkhianatan. Usai merawatnya hingga pulih, Andien dinikahi Carlo secara rahasia di desa—tanpa tahu bahwa di kota, Carlo sudah memiliki istri sah bernama Laras, seorang dokter muda berprestasi dengan karier yang gemilang.


Kehidupan Andien seketika berubah menjadi neraka saat Carlo membawanya ke kota dan menyembunyikannya sebagai "orang luar". Di balik kemewahan, Andien harus menelan pahitnya dituduh sebagai pengganggu, sementara Carlo bersikap dingin di depan publik demi menjaga nama baik dan posisinya di mata Laras. Namun, saat Laras yang cerdas mulai mencium aroma pengkhianatan di rumah tangganya, permainan rahasia Carlo terancam hancur. Akankah ketulusan Andien menang, atau ia hanya menjadi bayangan di tengah ambisi dan pernikahan megah Carlo?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon christinsenia seranica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13 Suara yang Menentukan

Laras tidak tidur selama tiga puluh enam jam, dan anehnya, ia tidak merasa lelah. Yang ia rasakan adalah kejernihan dingin, seperti udara pagi setelah badai.

Percakapannya dengan Carlo di ruang rawat berlangsung hampir dua jam. Carlo tak menyela dan tak membela diri. Ia menjawab semua pertanyaan Laras, yang paling kecil sekalipun: kapan ia membeli cincin, apa yang ia katakan pada penghulu, apakah ia pernah membandingkan dua perempuan itu di kepalanya. Untuk pertanyaan terakhir, ia diam lama sebelum menjawab, "Pernah. Dan aku membenci diriku karena itu."

Jawaban itu tidak menyembuhkan apa pun. Tetapi untuk pertama kalinya dalam dua tahun, Laras mendengar sesuatu yang bukan hasil perhitungan.

"Aku belum memutuskan soal kita," katanya di akhir percakapan, sambil merapikan selimut Carlo dengan gerakan dokter, bukan istri. "Tapi besok ada RUPS, dan aku tidak akan membiarkan Hendra menang dari balik jeruji. Kamu akan hadir."

"Aku baru dioperasi, Laras."

"Dokternya aku. Aku sudah bicara dengan dokter bedahmu. Kursi roda, infus portabel, dan dua jam saja." Ia berdiri. "Setelah itu, kamu boleh jadi pasien lagi."

---

Jumat pagi, lantai dua puluh dua gedung Prasetia Group dipenuhi bisik-bisik.

Kabar penangkapan Hendra Subroto sudah menyebar sejak Kamis malam. Para komisaris duduk di sekeliling meja oval raksasa dengan wajah tegang, sebagian menghindari tatapan satu sama lain. Dua kursi kosong di sisi kiri meja milik orang-orang yang tadi pagi mengajukan pengunduran diri lewat surel.

Pintu ganda terbuka. Carlo masuk dengan kursi roda yang didorong Laras, lengan kirinya dibalut kain gendong, wajahnya pucat tetapi tegak. Ruangan hening seketika.

"Selamat pagi," kata Carlo. Suaranya serak, tetapi terdengar jelas sampai sudut ruangan. "Maaf terlambat. Saya baru keluar dari ruang operasi."

Di ujung meja, seorang pria tua berjas abu-abu dengan wajah keras dan alis putih lebat menatap mereka tanpa ekspresi. Hartono Prameswari, ayah Laras, pemegang dua puluh persen saham dewan, orang yang suaranya dibicarakan semua orang sejak seminggu terakhir.

Ia tak menyapa putrinya, bahkan tak menoleh pada menantunya. Ia hanya mengetukkan jari sekali di atas map di depannya.

Rapat dibuka. Seorang notaris membacakan agenda dengan suara monoton: laporan keuangan, pergantian direktur operasional, dan mosi tidak percaya terhadap presiden direktur yang diajukan oleh tiga komisaris atas nama "ketidakstabilan kepemimpinan dan skandal pribadi".

Kata *skandal pribadi* membuat beberapa orang saling melirik. Laras merasakan jemarinya mengencang di pegangan kursi roda.

"Sebelum pemungutan suara," kata Hartono tiba-tiba, "saya ingin bicara."

Semua kepala menoleh.

---

"Saya sudah menjadi pemegang saham perusahaan ini sejak sebelum sebagian dari Anda lulus sekolah," ujar Hartono pelan, mengusap alisnya. "Saya mengenal ayah Carlo hampir empat puluh tahun. Saya tahu betapa kerasnya ia menjaga nama baik keluarganya."

Ia menatap Carlo untuk pertama kalinya.

"Dua hari lalu, putri saya datang ke rumah saya tengah malam. Ia menceritakan segalanya. Tentang kebohongan. Tentang perempuan lain. Tentang pernikahan yang disembunyikan di sebuah desa."

Ruangan seperti menahan napas. Wajah Carlo tak berubah, tetapi Laras melihat buku-buku jarinya memutih di lengan kursi.

"Dan saya menyaksikan sesuatu yang tak saya duga," lanjut Hartono. "Putri saya tidak menangis. Tidak marah. Ia duduk di ruang tamu saya seperti dokter yang menyampaikan hasil biopsi. Lalu ia berkata, *Ayah, ada satu hal yang harus Ayah dengar sebelum menilai Carlo. Dia pembohong, tapi dia bukan pengkhianat perusahaan.*"

Laras menatap lurus ke depan, menolak bertemu mata siapa pun.

"Saya bertanya, apa bedanya? Dan putri saya menjawab, *Bedanya, dia berbohong untuk melindungi orang, bukan untuk mengambil keuntungan.* Saya tidak yakin saya setuju." Ia mengetuk map di depannya. "Tetapi saya orang tua yang sudah cukup lama hidup untuk tahu bahwa manusia jarang bersih. Yang penting adalah apa yang mereka lakukan ketika kebohongannya terbongkar."

Ia membuka map itu dan mengeluarkan selembar kertas.

"Ini salinan rekaman percakapan Hendra Subroto yang diserahkan putri saya kepada kejaksaan. Saya sudah mendengarnya tiga kali. Hendra mengakui perannya dalam percobaan pembunuhan terhadap presiden direktur kita. Dan ia melakukannya bukan karena dendam, melainkan untuk mengendalikan perusahaan ini."

Beberapa komisaris menunduk. Salah satu dari tiga yang mengajukan mosi tampak mengeluarkan saputangan, mengelap keningnya.

"Mosi tidak percaya ini," kata Hartono, suaranya tiba-tiba keras, "diajukan oleh orang-orang yang dekat dengan Hendra. Saya tidak akan menyebut nama. Tapi saya akan mencatat siapa yang mengangkat tangan mendukungnya."

Keheningan berikutnya begitu pekat sampai bunyi pendingin ruangan terdengar jelas.

Notaris berdeham gugup. "Pemungutan suara... kita lanjutkan?"

"Lanjutkan," kata Hartono. "Suara saya, dua puluh persen, menolak mosi."

Sembilan orang di meja. Satu per satu tangan terangkat atau tidak terangkat. Laras menghitung dalam hati, kebiasaan lama, dan pada hitungan ketujuh ia tahu hasilnya. Mosi itu gagal. Satu-satunya tangan yang mendukungnya hanyalah milik komisaris yang mengelap kening tadi, naik setengah, lalu turun lagi dengan malu.

Notaris mengetuk palu kecilnya. "Mosi ditolak. Saudara Carlo Prasetia tetap menjabat sebagai presiden direktur."

Tak ada tepuk tangan. Hanya embusan napas lega yang bergelombang, seperti ruangan yang akhirnya diizinkan bernapas.

---

Di koridor depan lift, Carlo mengulurkan tangan kanannya.

"Terima kasih."

Laras menatap tangan itu tanpa menyambutnya. "Bukan aku yang menyelamatkanmu. Ayahku, rekaman Andien, dan kebetulan bahwa Hendra terlalu sombong untuk menyadari ada yang menguping. Aku hanya merangkainya."

"Kamu tetap merangkainya."

"Aku melakukannya bukan untukmu." Laras akhirnya menatap matanya. "Aku melakukannya karena aku tidak mau belasan ribu karyawan kehilangan pekerjaan gara-gara dua orang tua yang rakus. Dan karena Andien dan ibunya tidak pantas jadi korban."

"Aku tahu."

"Jangan bilang kamu tahu." Nada Laras tidak marah, hanya lelah. "Aku sudah mendengar *aku tahu* terlalu sering dari mulutmu."

Carlo tak menjawab.

"Aku akan tinggal di rumah ibuku beberapa minggu," lanjut Laras. "Bukan untuk menghukummu. Aku perlu tempat untuk memikirkan apakah aku masih ingin menjadi istri seseorang yang bahkan tidak percaya aku cukup kuat untuk mendengar kebenaran."

Bahu Carlo merosot. "Kamu pantas mendapatkan pilihan itu."

"Aku tahu." Laras tersenyum samar, pahit. "Dan kamu juga perlu memikirkan apa yang akan kamu lakukan tentang Andien. Bukan sebagai rahasia, bukan sebagai kesalahan yang disembunyikan. Sebagai manusia yang kamu nikahi."

"Dia sudah pulang ke desanya."

"Aku tahu. Dia meneleponku semalam." Laras mundur satu langkah. "Dia bertanya apakah aku baik-baik saja. Setelah semua yang terjadi, dia bertanya apakah aku baik-baik saja."

Carlo memejamkan mata.

"Perempuan seperti itu tidak boleh kamu sia-siakan, Carlo. Entah kamu memilihnya, memilihku, atau tidak memilih siapa pun. Kamu berutang kejujuran padanya, dan itu tidak bisa dibayar dengan uang atau janji."

Pintu lift terbuka. Laras masuk lebih dulu dan menekan tombol lobi tanpa menoleh.

---

Di Desa Karang Sewu, sore itu langit berwarna jingga.

Andien duduk di bale-bale depan gubuk, mengupas singkong di pangkuannya. Bu Rukmini di sampingnya, jauh lebih sehat dari terakhir kali, mengaduk jamu dengan gerakan yang akrab.

"Kamu tidak bercerita banyak sejak pulang, Nduk."

"Dien sudah cerita semuanya, Bu."

"Kamu cerita kejadiannya. Belum cerita perasaanmu."

Andien tersenyum kecil. Ia menatap tikungan jalan tempat dulu seorang pria berkemeja basah menghilang dan kembali dengan mobil hitam.

"Dien bingung, Bu. Dien masih cinta, tapi Dien juga tahu cinta saja tidak cukup."

"Tidak, memang tidak." Bu Rukmini menepuk lututnya. "Cinta itu seperti benih. Tidak tumbuh kalau tanahnya penuh batu."

"Dan kalau Mas Carlo mau membersihkan batunya?"

"Maka kita lihat apakah ia sungguh-sungguh, atau hanya pandai berbicara." Bu Rukmini menatap putrinya lembut. "Tapi sambil menunggu, jangan lupa hidupmu sendiri. Kamu bilang ingin punya warung."

Andien tertawa pelan, air mata menggenang. "Dien lupa, Bu."

"Ingat lagi."

Ponsel hitam di saku roknya bergetar. Pesan dari Laras:

*RUPS selesai. Carlo tetap memimpin. Hendra akan diadili. Kamu aman. Dan Andien, aku sedang berpikir keras soal rumah kosong di Menteng itu. Aku merasa rumah itu bisa jadi sesuatu yang lain. Nanti kita bicara.*

Andien membacanya dua kali, lalu menatap langit yang makin jingga.

Ia tak tahu apa yang dimaksud Laras. Tetapi di dalam dadanya, di tempat yang dulu dipenuhi rasa takut, tumbuh sesuatu yang belum bernama.

Ia menaruh ponsel di bale-bale dan kembali mengupas singkong. Di kejauhan, di balik hamparan sawah yang mulai menguning, terdengar deru mesin mobil yang makin mendekat.

Bu Rukmini menoleh. Andien mengangkat wajah.

Mobil hitam itu berhenti di ujung jalan desa.

---

*Bersambung ke Bab 14...*

1
Renjana
menunggu😊
mampir juga di karyaku "Rotinya Manis, Rin! ya
Renjana
bagus ni
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!