NovelToon NovelToon
Pernikahan Kontrak Dengan Ceo Dingin Mantan Kaka Iparku

Pernikahan Kontrak Dengan Ceo Dingin Mantan Kaka Iparku

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Atha Diyuta

Alena tidak pernah menyangka akan dinikahi oleh Aditya Pradana, CEO dingin yang juga mantan kakak iparnya.

Tujuannya satu: menjadi ibu untuk Sean, anak tiri berandal yang membencinya setengah mati.

Sean melakukan segala cara untuk mengusir Alena.

Balapan liar, berkelahi, membolos.

Tapi Alena yang berjilbab ini tidak takut.

Ia lawan balik Sean di arena balap dan di lapangan futsal.

Hingga Sean diam-diam kagum dan berbisik, "Siapa sebenarnya kamu, Bunda?"

Di sisi lain, Aditya Pradana yang dibantu Rendra, mulai menyadari...

Adik iparnya yang dulu pendiam itu, kini menjadi wanita yang tidak bisa ia lepaskan.

Pernikahan kontrak ini, apakah akan berakhir dengan cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atha Diyuta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12

Pagi itu rumah keluarga Pradana terlihat damai setelah malam sebelumnya Aditya pulang diam-diam dan makan indomie di karpet perpustakaan bersama Alena dan Sean putra semata wayangnya.

Jam 07.00 pagi, Alena sudah bangun lebih awal, ia membuatkan sarapan spesial untuk dua pahlawannya. Nasi goreng spesial dengan telur mata sapi, sosis bakar, dan nugget untuk sarapan putranya yang hendak ke sekolah dan kopi hitam tanpa gula kesukaan Aditya.

Suasana meja makan pagi itu tidak lagi dingin dan canggung seperti biasanya. Aditya duduk di kursi kepala keluarga, masih dengan wajah datarnya yang cool, tapi sesekali matanya melirik Alena yang sedang menuangkan kopi untuknya. Sementara Sean duduk di samping Alena, masih dengan rambut gondrong berantakan khas baru bangun, tapi wajahnya cerah karena semalam ia tidur nyenyak setelah Ayahnya pulang.

"Pak, kopinya sudah saya buatkan, hitam tanpa gula, seperti biasa," kata Alena lembut sambil meletakkan cangkir kopi di depan Aditya.

Aditya hanya mengangguk pelan. "Hmm."

Sean yang melihat interaksi canggung itu hanya senyum-senyum sendiri sambil makan nasi goreng dengan lahap. "Bunda, nasi gorengnya enak banget! boleh nambah ya Bunda!"

Tepat jam 08.15 pagi, saat mereka sedang sarapan dengan damai, bel rumah berbunyi keras. Ting tong ting tong.

Bi Ijah, ART senior keluarga Pradana yang sudah 10 tahun bekerja, berlari kecil membuka gerbang.

Di luar gerbang, berdiri seorang kurir bunga dengan seragam merah, membawa sebuah buket bunga mawar merah yang SANGAT BESAR, sangat jumbo, sekitar 50 tangkai mawar merah segar yang masih ada embunnya, dibungkus kertas hitam elegan dan pita merah, wangi semerbak.

"Permisi, apakah benar ini rumah Ibu Alena Pradana? Ada kiriman bunga untuk Ibu Alena Pradana," kata kurir itu dengan sopan.

Bi Ijah yang melihat bunga sebesar itu langsung kaget dan berteriak dari gerbang. "Bu Alena! Bu! Ada bunga! Besar sekali Bu! Untuk Ibu!"

Alena yang sedang di ruang makan langsung berdiri. "Bunga? Untuk saya? Dari siapa Bi?"

Aditya dan sean juga langsung menoleh bersamaan ke arah gerbang.

Bi Ijah membawa masuk buket bunga jumbo itu dengan susah payah karena sangat besar dan berat. Ia meletakkannya di meja tamu. Wangi mawar merah langsung memenuhi seluruh ruang tamu keluarga Pradana.

Alena mendekat, wajahnya bingung. Ada kartu kecil berwarna putih di tengah buket itu.

Sean yang kepo nya tingkat dewa khas remaja, langsung mengambil kartu itu lebih dulu sebelum bundanya. "Sini Bunda, aku yang bacain!"

Sean membuka kartu itu dan membaca dengan suara keras.

"Untuk Alena Putri yang cantik, bidadari kampus yang tidak pernah bisa aku lupakan selama 4 tahun. Senang sekali bisa bertemu kamu lagi kemarin di Grand Lucky. Kamu makin cantik, makin anggun. Maaf kemarin aku lancang pegang tangan kamu. Aku kangen kamu, Len. Boleh aku minta kesempatan kedua untuk mengenal kamu lagi? Aku tunggu jawaban kamu di cafe aku. - Rizky Pratama, Rizky Coffee Space Senopati. 0812-xxxx-xxxx"_

Hening.

Alena tertegun dari mana Rizky mendapatkan alamat rumahnya,padahal dia tidak pernah memberitahukan alamat rumahnya kepada Rizky.

Ruang makan yang tadinya hangat, langsung membeku seperti es di kutub utara. Suhu ruangan turun drastis 10 derajat.

Sean yang membaca kartu itu langsung menutup mulutnya dengan tangan, matanya melot melihat ke arah Ayahnya. "Anjir..."

Alena wajahnya langsung pucat pasi, tangannya gemetar. "Rizky..."

Dan Aditya ?

Aditya yang sedang memegang cangkir kopi hitamnya, tangannya mengepal begitu keras sampai cangkir kopi keramik mahal itu RETAK. Kopi hitam tumpah sedikit ke taplak meja putih.

Matanya yang tadinya datar, kini merah membara. Rahangnya mengeras sampai ototnya terlihat. Napasnya memburu.

Tanpa berkata satu kata pun, Aditya berdiri dengan sangat pelan. Kursinya terdorong ke belakang dengan suara berdecit keras.

Ia berjalan pelan ke arah buket bunga mawar merah jumbo 50 tangkai itu.

Semua orang di rumah itu diam. Bi Ijah diam ketakutan di pojok. Alena diam menahan napas. Sean diam tidak berani bergerak.

Aditya menatap buket itu dengan tatapan dingin yang mematikan. Tatapan CEO yang bisa membuat semua direkturnya gemetar.

Lalu, dengan satu gerakan cepat dan kasar, Aditya mengambil buket bunga jumbo itu dan MEMBANTINGNYA ke tempat sampah besar di sudut ruang tamu dengan sangat keras!

BRAKK!

Bunga-bunga mawar merah yang indah itu hancur, kelopaknya rontok bertebaran di lantai marmer putih. Vas kaca pecah. Air tumpah.

"ADITYA!" Alena teriak kaget.

Sean juga kaget "Ayah!"

Aditya menoleh ke arah Alena, matanya merah, suaranya dingin tapi bergetar karena menahan amarah yang meledak-ledak.

"Jadi ini laki-laki yang pegang tangan kamu kemarin di supermarket? Rizky Pratama? Anak orang kaya? Kapten basket? Idola cewek-cewek? Yang ngejar-ngejar kamu 4 tahun? HAH?!"

Suara Aditya meledak, membuat Alena mundur selangkah.

"Bukan Pak, bukan seperti itu Pak, saya sudah tolak dia Pak, saya sudah bilang saya sudah menikah, saya istri keluarga Pradana Pak!" Alena menjelaskan dengan panik, air matanya mau menetes.

"SUDAH TOLAK? SUDAH TOLAK TAPI MASIH BERANI KIRIM BUNGA 50 TANGKAI KE RUMAH SAYA?! KE RUMAH KELUARGA PRADANA?! DI DEPAN ANAK SAYA?! DI DEPAN SUAMI KAMU?! DIA PIKIR KAMU ITU APA?! PEREMPUAN YANG BISA DIBELI DENGAN BUNGA MURAHAN SEPERTI ITU?!" Aditya membentak, suaranya menggema di seluruh rumah megah itu.

Sean yang melihat Bundanya dibentak, langsung berdiri dan membela. Meskipun ia takut sama Ayahnya, tapi ia tidak tega melihat Bundanya dibentak karena salah paham.

"Ayah! Jangan bentak Bunda! Bunda gak salah! Bunda sudah tolak cowok itu kemarin di supermarket! Bunda bilang Bunda harus jaga perasaan suami Bunda! Bunda setia sama Ayah! Sean jadi saksi! Pak Rendra juga jadi saksi! Cowok itu aja yang gatel! Jangan bentak Bunda dong Ayah!"

Aditya menatap Sean yang berani membela Alena di depan mukanya. Anak yang dulu selalu diam dan takut padanya, sekarang berani membela Bunda sambungnya.

Dada Aditya bergemuruh keras. Antara cemburu, marah, dan malu karena ditentang anaknya sendiri.

Ia menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri. Ia memejamkan mata 5 detik.

Lalu ia membuka mata, menatap Alena yang sudah menangis pelan di samping Sean.

"Alena, dengerin saya baik-baik," kata Aditya dengan suara yang masih dingin tapi sudah lebih pelan, lebih terkontrol. "Mulai hari ini, detik ini, kamu tidak boleh lagi ke supermarket sendirian. Kalau mau belanja, bilang sama Rendra, atau bilang sama saya, saya yang antar. Kedua, nomor HP kamu ganti. Ganti nomor baru. Nomor lama buang. Ketiga, kalau laki-laki sialan bernama Rizky Pratama itu masih berani hubungi kamu, masih berani kirim bunga, masih berani datang ke rumah Pradana ini, saya akan tutup cafe nya, saya akan bikin dia bangkrut, saya akan usir dia dari Jakarta. Kamu mengerti?"

Alena yang menangis hanya mengangguk pelan. "Iya Pak, mengerti Pak."

Aditya menatap Sean. "Sean, kamu jaga Bunda kamu. Kalau ada laki-laki mencurigakan mendekati Bunda kamu, kamu lapor Ayah. Kamu sudah 17 tahun, sudah besar, sudah harus bisa jaga Bunda kamu. Mengerti kamu, Sean Pradana?"

Sean langsung mengangguk tegak seperti tentara. "Siap Ayah! Sean akan jaga Bunda! Sean gak akan biarin cowok lain deketin Bunda! Sean janji!"

Aditya mengangguk puas. Lalu ia mengambil jasnya dan tas kerjanya.

"Saya berangkat ke kantor. Hari ini saya ada rapat penting. Bi Ijah , bersihkan bunga sialan itu, buang jauh-jauh, saya gak mau lihat satu kelopak pun di rumah ini. Dan sore ini kita lanjut belajar UTBK, Sean. Ayah akan temani."

Setelah mengatakan itu, Aditya keluar rumah dengan langkah besar, membanting pintu mobil Porsche nya dengan keras.

Di dalam rumah, Alena dan Sean saling bertatapan.

Sean memeluk Alena yang masih menangis. "Bunda jangan nangis ya, Ayah itu cemburu Bunda, Ayah sayang Bunda makanya marah begitu. Kalau Ayah gak sayang, Ayah gak akan marah liat bunga itu."

Alena mengangguk di pelukan Sean . "Bunda tahu Sean, Bunda tahu Ayah kamu cemburu."

Di luar, di dalam mobil Porsche nya yang masih parkir di depan gerbang, Aditya tidak langsung pergi. Ia duduk diam, meninju setir mobilnya dengan keras.

"Rizky Pratama... berani-beraninya kamu kirim bunga ke istri saya... istri keluarga Pradana... kamu cari mati..."

Ia langsung menelpon Rendra.

"Rendra, kamu selidiki cafe Rizky Coffee Space di Senopati. Saya mau tahu pemiliknya, omsetnya, izinnya lengkap atau tidak. Saya mau tutup cafe itu hari ini juga. Dan cari tahu rumah laki-laki itu. Saya mau datangi dia."

Aditya Pradana benar-benar uring-uringan, cemburu buta tingkat dewa, posesif tingkat akhir.

BERSAMBUNG...

1
Atha Diyuta
trimakasih kk😊
Rian Moontero
mampiiirrr👍👍
Atha Diyuta
Karya terbaruku bantu ramaikan teman-teman ☺️☺️
Atha Diyuta: oke siap ka diperbaiki trimakasih kk ☺️☺️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!